Suara Di Kepala Sang Rival

Suara Di Kepala Sang Rival
Bab 6: Rutinitas


__ADS_3

Hari esoknya Verite mulai bangun lebih awal karena dia ingin melatih kemampuan sihir Thaumaturgy miliknya sebelum dia lanjut pergi bekerja, dia membaca formula yang tertera di buku dengan lebih teliti dan memulai berlatih sihir sihir yang tertera di buku itu.


Dalam waktu berlatih mereka menemukan beberapa hal, yaitu Verite tidak bisa menggunakan elemen selain elemen api dan kedua Verite benar benar pandai dalam menggunakan elemen tersebut.


Mefras juga mencoba untuk memasuk ruang yang pernah dia datangi saat Verite membuka arus Mana miliknya tetapi dia tidak bisa mencapai tempat apapun yang dia dilakukan, dia ambil bahwa ini berarti Verite belum siap menggunakan elemen lain, atau mungkin tubuhnya tidak bisa mengendalikannya karena itu dia tidak bisa membangunkan Pathway lainnya.


Mefras mengawasi Verite melatih dirinya sendiri, dia melakukan perhitungan formula sihir dengan cepat, seperti seseorang yang menyelesaikan masalah matematika tanpa menulis rumus, tetapi melakukan ini sepertinya menguras tenaga Verite yang lebih dan membuatnya lelah sesaat.


Sekarang dia mengawasi Verite tidak hanya membelok belokan bola api, tapi juga mengatur ukurannya dan suhu warnanya Verite juga mencoba mencari seberapa jauh dia bisa mengirim sihirnya sebelum sihir itu padam, dari yang dilihatnya cukup jauh.


Disinilah Mefras berharap dia punya kemampuan untuk menghitung jarak hanya dari sebuah pandangan seperti karakter di komik silat, biarlah begitu dia rasa Verite bisa dengan mudah mengalahkan orang dewasa di dunianya.


Tidak banyak orang yang bisa mengalahkan anak kecil yang memilki senjata semburan api yang di pakai petugas militer, orang yang bisa melakukan itu pastinya bukan orang manusia biasa, atau paling tidak mereka memiliki sebuah keunggulan sendiri. Mefras Mengira seberapa kuat orang dewasa di dunia ini.


Orang orang dunia sudah terbiasa melawan monster, mungkin mereka mempunyai kekuatan lebih dari orang biasa dunia Mefras dan jika yang dilihat Mefras adalah standar untuk gadis berumur delapan tahun di dunia ini dugaannya pasti benar, karena anak berumur delapan tahun tidak mungkin bisa membawa barang barang yang di bawa Verite.


Selagi Mefras berpikir sepertinya Verite sudah hampir selesai membereskan hasil latihannya, dia membersihkan rumput rumput yang terbakar, dan mengambil bukunya yang di lantai, dan membersihkan alat alat tulis yang dia gunakan.


Selain melatih apinya Verite juga mempelajari ilmu untuk pengimbuan ilmu itu mencakup kemampuan mengimbui sebuah elemen atau mana ke sebuah objek dan juga hal yang harus di hitungan saat membuat Thaumaturgy Konstruk, dia harus mengukir formula dengan tangannya sendiri, dia belajar dengan menuliskan formula formula itu di kayu bakar.


Setelah selesai membereskan bukunya dia juga mengambil buku Thaumaturgy untuk formula yang terletak di lantai, dia mungkin bisa membaca ini selagi bekerja, Verite masuk kembali ke dalam Blooming Bud dan bersiap untuk berangkat.


"Verite!" suara seorang wanita memanggil Verite.


Verite melihat ke belakang dan menemui seseorang yang dia kenal, gadis berambut hijau keriting yang memakai pakaian yang dengan Verite.


'Temanmu?'Tanya Mefras.


Gadis ini adalah Caena, teman sekamar Verite dan orang yang dia kenal sejak lama.


"Ah Caena ada apa?" Verite bertanya.


"Ada apa?" Caena bertanya dengan ekspresi yang tidak senang. "Ada apa? Kamu menghilang selama dua hari itu apa. Kamu ngapain?" Dia bertanya.


'Ah iya, aku benar benar membawamu keliling setelah aku masuk di kepalamu ya.' Bilang Mefras, merasa malu.


"Ah aku hanya melakukan pekerjaan dari Pa jardi Caena, tidak banyak." Jelas Verite, dia tidak menemui teman sekamarnya selama dua hari bukanlah hal yang normal.

__ADS_1


"Bekerja ya bekerja, tapi pulang malam banngun pagi kamu seperti seorang petani beranak dua belas, itu gak sehat Verite, kamu butuh istirahat." Bilang Caena.


"Iya iya aku tahu, bagaimana kalau kita jalan jalan pas aku libur tiga hari nanti?" Dia ingat Mefras pernah bilang padanya bahwa kehidupan sosial itu penting dan Verite setuju apalagi karena Caena adalah teman sekamarnya.


'Iya, kehidupan  sehari hari itu penting, jangan lupa menjaganya.'


"Janji ya?" Bilang Caena, mengajukan jari kelingkingnya.


"Janji." Verite menerimanya.


Verite mengucapkan selamat tinggal kepada Caena, dia berjalan ke ruang pak Jardi dan menemukan bahwa Helian sudah pegi mendahuluinya ke Bloom and Gloom.


"Oh Verite kamu datang awal." Bilang Pak Jardi.


"Iya pak, aku agak bangun pagi, aku kesini mau melapor." Jawab Verite.


"Aku pergi duluan ya pak, sampai ketemu lagi di sana Verite." Helian pamit keluar, meninggalkan Verite dan Pak Jardi berdua.


"Ah iya Verite Miss Gloom suka pada hasil kerjamu, dia bahkan memintamu secara langsung, biasanya orang yang ku kirim kesitu keluar dalam sehari, karena mereka tertekan akan banyaknya hal yang di lakukan dalam pekerjaan itu." Bilang Pak Jardi.


"Ah aku mengerti apa yang mereka alami." Setuju Verite.


"Ngomong Ngomong aku dengar dari Miss Bloom kamu ingin membuat sebuah Thaumaturgy konstruk?" Tanya Pak Jardi.


"Iya pak." Jawab Verite.


"Kamu bisa memahat kayu?" Tanya pak Jardi.


"Tidak pak" Jawab Verite.


'Oh iya, kita harus memahatnya untuk membuat sebuah konstruk.' Mefras baru ingat tentang itu, ini bukanlah dunia modern, Verite tidak bisa membeli boneka kayu di toko online, dia harus melakukannya sendiri, itulah kenapa Verite membeli kayu mentah.


"Itu adalah hal yang ingin ku pelajari juga pak, aku akan melakukannya sambil belajar." Bilang Verite.


"Ah baiklah, kalau kamu butuh bantuan datang saja langsung ke sini, aku punya cukup pengalaman memahat untuk mengajarimu."


"Iya pak, kalau aku butuh bantuan aku pasti akan datang kesini." Jawab Verite."Itu saja ya pak? Aku akan pergi sekarang."Verite pamit, dia sudah melaporkan kepergiannya, saatnya untuk bekerja.

__ADS_1


"Baiklah, hati hati dijalan." Bilang Pak Jardi.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Verite berjalan ke Bloom and Gloom sendirian karena Helian sudah pergi mendahuluinya, sepertinya pekerjaannya agak berbeda dengan Verite karena dia harus datang lebih awal dan dia tidak sepertinya melakukan itu hanya untuk menghindari Verite.


Selagi berpikir Verite menyadari ada seorang yang terlihat seperti bangsawan yang berjalan di didepannya, dia memiliki rambut berwarna merah terang yang di sisir ke belakang, umurnya tidak terlihat lebih dari tiga puluh tahun.


Dia mengawasi paman bangsawan yang berjalan di didepannya dan memperhatikan kantung tas sampingnya agak terbuka, menunjukkan kantong uangnya yang berisi uang yang terlalu banyak untuk Verite hitung, Verite berpikir jika dia harus memberi tahu orang itu atau tidak, hal seperti ini bisa memancing orang jujur untuk melakukan kejahatan dan membuat keributan yang dapat di cegah.


Verite mengenali tatapan tatapan buas yang tajam dari beberapa orang sekeliling dan keputusannya terkunci, dia berjalan ke depan gentleman itu dan menghentikannya.


"Paman, kantong tasmu terbuka." Verite peringatkan orang, sekaligus mata mata yang mengincar tas bapak ini mengelak dengan sekejap seperti kesempatan mereka dalam uang mudah.


"Ah iya, aku tidak sadar, terimakasih nak." Bapak itu tersenyum.


"Iya tidak apa apa, paman harus lebih berhati hati kalau membawa barang berharga, kadang kadang yang hanya seseorang butuhkan untuk melakukan kejahatan adalah kesempatan." Verite ingatkan.


'Iya om, dengerin nih bang Napi.' Mefras bercanda biarpun dia tahu orang ini tidak bisa mendengarnya, sementara itu Verite hanya menahan matanya untuk tidak bergulung dengan candaan Mefras yang hanya dia tahu konteksnya.


'Mefras aku lagi bicara.' Verite komplain.


'Maaf.'


Paman itu kembali berjalan setelah menutup tasnya dengan rapat, sepertinya tujuan perjalan mereka adalah tempat yang sama karena sudah beberapa menit berjalan tetapi mereka masih belum berpisah.


Dan seperti yang diduga setelah berjalan beberapa lama kemudian Verite dan paman itu sampai di toko Bloom and Gloom.


"Oh kamu mau kesini juga ya nak?" Tanya paman itu. "Kamu tidak terlihat seperti orang yang belajar Thaumaturgy." Bilangnya.


"Tidak, aku hanya bekerja sambilan disini." Jawab Verite.


"Ah, tapi yang ku dengar banyak orang yang tidak tahan di tempat ini." Bilang paman itu.


"Aku tahu mengapa." Setuju Verite.


Mereka masuk ke dalam toko, ayunan pintu Bloom and Gloom membuat bel yang terletak di atas pintu berbunyi, memberi tahukan pemilik toko bahwa seseorang sudah masuk ke dalam toko.

__ADS_1


"Oh kamu akhirnya datang Verite." Miss Gloom yang melihat Verite masuk bilang, matanya kemudian berpindah ke paman yang masuk setelah Verite.


"Ah Duke Bloome, senang melihatmu disini."


__ADS_2