Suara Di Kepala Sang Rival

Suara Di Kepala Sang Rival
Bab 41: Penyerangan


__ADS_3

Helian adalah seorang yang tenang dan bertanggung jawab paling tidak dia berpikir dirinya adalah orang yang tenang dan bertanggung jawab, dia melakukan tugas tugas yang diberikan oleh guild petualang dengan rapi dan profesional.


Dan itulah hal dia lakukan hari ini, Helian menjalani misi guild petualang yang dia lakukan seperti biasanya, hari ini tugasnya adalah tugas yang simpel, hanya mengambil kargo dari desa kecil yang berada di timur kota Azalea. 


Dijalan orang orang menyapa Helian, mereka sudah mengenal Helian karena pekerjaan yang dia lakukan dan itu membuatnya merasa bangga, dia bukan Verite yang bisa membuat penemuan yang mengubah cara orang hidup tetapi Helian rasa yang dia lakukan juga adalah hal yang bermakna.


Helian pergi ke desa kecil di timur itu dengan berlari, dia menggunakan sihir Thaumaturgy anginnya untuk memperkuat  tubuhnya dan mempercepat gerakannya, Miss Gloom dan Duke Bloome bilang dia memiliki bakat untuk Thaumaturgy tetapi itu tidak terasa nyata ketika orang seperti Verite ada di sekitarnya.


Jika Helian pikir Verite membuat Helian tidak sombong, dengan kemampuannya yang terus tumbuh dan penemuan yang dia buat Verite menekan bahwa ada orang yang jauh lebih besar dari Helian.


Hal itulah yang membuat Helian berpikir lebih dalam tentang masa depannya, apa  yang dia akan lakukan ketika dia mencapai umur yang bisa disebut dewasa? 


Duke Bloome sudah mengatakan bahwa dia memilih apa yang dia inginkan dan dia harus memikirkannya dengan baik baik, tanpa dinodai emosi kemarahan atau balas dendam…


Jika ditanya jika dia mempunyai rasa dendam dengan orang itu dia tidak bisa menjawab karena biarpun yang orang itu lakukan adalah hal yang berhubungan erat dengan nya di tidak menyaksikannya dengan matanya sendiri dan dia tidak punya hubungan erat dengan korban biarpun dia memiliki hubungan darah yang disebut kental.


Itu seperti jika seseorang diberitahu bahwa keluarganya yang dia tidak pernah temui dan berbicara sama sekali telah meninggal, mereka tidak akan tahu bagaimana cara bereaksi dengan kabar itu, reaksi yang mungkin terjadi adalah "Ah sayang ya." Mereka merasa tidak enak karena mereka tahu itu keluarga mereka tetapi mereka tidak merasa sedih karena orang ini sama sekali tidak ada di kehidupan mereka sebelumnya jadi kabar kematian mereka sama saja dengan kabar kematian orang yang tidak dikenal, Helian tahu itu adalah hal yang buruk tetapi dia tidak mempunyai perasaan yang personal terhadapnya.


Ini bukan saatnya itu memikirkan itu juga, Helian masih butuh untuk menyelesaikan pekerjaannya, dengan kecepatannya yang diperkuat oleh sihir angin dia sampai ke desa terpencil itu dalam waktu yang singkat.


Masuk ke desa itu mengingatkan Helian dengan desa teratai yang dulu, beberapa rumah kecil dan area perkebunan tetapi sepertinya desa ini masih memiliki banyak orang dewasa dibandingkan dengan desa itu.


Helian dengan sigap langsung bertanya kepada warga, meminta untuk diantarkan ke rumah kepala desa. 


Para warga itu dengan sopan menunjukan arah ke tempat tujuannya, seperti biasa rumah kepala desa adalah rumah terbesar  di desa, Helian masuk ke rumah itu dan mengantarkan barang yang diperlukan oleh kepala desa, menurunkannya dari pundaknya.


Barang Barang di dalam tas besar yang Helian bawa adalah supply dan bantuan kebutuhan kebutuhan dasar yang diminta oleh kepala desa kepada Duke Bloome, dari yang Helian baca mereka meminta bantuan karena panen yang gagal.


"Terimakasih telah membawa bantuan kepada kami." Kepala Desa mengatakan, "Sayangnya kami tidak bisa memberimu apa apa." Dia bilang.

__ADS_1


“Tidak usah repot repot, petualang akan membayar ku.” Helian menjawab, tentunya bayarannya tidak akan besar karena ini pekerjaan ini sama saja dengan sedekah tetapi dia tidak mengatakan itu, lagi pula dia tidak mengambil pekerjaan ini untuk pujian.


Kepala desa itu tersenyum. “Kamu adalah anak yang baik ya, aku harap harap kamu selamat di jalan, ada beberapa orang di desa yang mengatakan mereka melihat bayangan gelap yang mungkin adalah beruang atau bahkan monster.”


Helian mendengar itu bertanya, “Monster? Apa kalian akan baik baik saja?” Helian bertanya.


“Kamu tidak perlu khawatir, para lelaki disini cukup berpengalaman dalam melawan beruang.” Kepala desa meyakinkan.


“baiklah." Helian mengangguk. "Aku akan berhati hati." Helian berkata, keluar dari rumah kepala desa.


Helian bisa langsung pulang ke kota Azalea jika dia mau, misinya telah selesai dan dia tidak ada urusan lagi disini tetapi perkataan kepala desa tentang bayangan hitam membuatnya tertarik, tentunya jika itu adalah beruang saja dia bisa meninggalkannya ke orang desa tetapi jika itu adalah monster maka situasinya akan jauh berbeda.


Helian memutuskan untuk bertanya tentang monster itu kepada warga desa.


“Monster? Bayangan hitam?”


“Ah iya,seingat ku bayangan itu terlihat ke timur desa ini.”


Helian mengambil jawaban dari para warga dan menemukan arah dimana monster itu terlihat, dia memutuskan untuk pergi ke tempat dimana monster itu terlihat.


Helian bergerak dengan cepat dan mencapai tempat dimana monster itu dalam waktu yang singkat, tempat yang dia berada sekarang adalah tempat dimana para warga mendapatkan kayu untuk kebutuhan sehari hari mereka, Helian dapat melihat tunggul pohon segar yang baru dipotong.


Helian tidak segera menemukan bayangan hitam yang disebut sebut warga itu jadi dia mengambil waktu untuk berkeliling wilayah sekitar.


Dijalan dia menemukan bangkai bangkai binatang berkeliaran di tanah, dia mengikuti jejak pembunuhan ini ke sebuah gua yang gelap.


Helian merasa dia adalah orang yang cukup berani, dia dapat bertarung dan membahayakan dirinya selagi berpikir  dengan tenang.


Tetapi Helian bukanlah orang cukup bodoh untuk memasuki gua yang gelap tanpa menggunakan alat penerang.

__ADS_1


Untungnya Helian membawa barang yang tepat, sebuah obor portable yang sekali lagi Verite buat, dia menggunakan batu mana yang dikelilingi material seperti kaca, memfokuskan cahaya ke arah depan.


Dengan alat ini dia memperkuat nyalinya dan masuk ke dalam gua gelap itu.


Helian berjalan dengan hati hati,suara air menetes mengisi gua ini, dinding batu yang lembab dan lantai yang licin mengingatkan Helian untuk berhati hati ketika dia melangkah, dia tidak mau terpeleset dan mati konyol.


Tidak lama berjalan Helian disambut dengan bau buntang yang menyengat, dia menutup hidungnya, terus melangkah ke depan.


Tidak lama lagi berjalan, melewati bau bangkai dan lantai basah mencapai makhluk yang dia cari.


Dan dugaan Helian benar, bayangan hitam yang dilihat para warga adalah monster. Monster yang sedang memakan bangkai sebuah beruang, monster itu memiliki sisik kadal tetapi badan yang berbentuk seperti kelabang, ukurannya kurang lebih tiga meter, tidak heran lagi warga berpikir mahluk ini adalah beruang.


Makhluk itu menoleh ke arah Helian, sadar akan keberadaannya.


Helian mempersiapkan diri untuk bertarung.


*****


Helian kembali ke kota Azalea, membawa bangkai monster kelabang yang dia lawan, Helian membasminya dengan waktu yang cukup singkat tetapi dia hampir kehabisan mana yang dia miliki setelah menggunakannya untuk menembus sisik monster kelabang yang kuat.


Helian memperhatikan bahwa hanya dirinya yang berjalan di jalan ini, Kota Azalea memang mulai sunyi ketika malam tiba tetapi tidak sesunyi ini, kesunyiannya membuat Helian curiga dan kecurigaannya segera dipenuhi ketika sebuah bola yang memiliki sumbu mendarat di depan wajahnya.


*Boom!*


Helian dengan sigap menggunakan sisa mana yang dia punya untuk membuat perisai angin, mengarahkan energi ledakan menjauh darinya, meninggalkannya berdiri di tengah lubang besar yang ledakan itu buat.


“Aku tidak menyangka kamu bisa melakukan Thaumaturgy Helian Sunsworth.” Helian mendengar nama yang hanya dia sendiri tahu.


Di depan Helian berdiri seseorang berjubah ungu.

__ADS_1


__ADS_2