
“Master itu…”Poppy berhenti sebelum menyebutkan kalimatnya karena mereka telah sampai.
“Ini, aku kira tempat ini akan lebih megah dari yang kubayangkan.” Bilang Caena, melihat mansion Duke Bloome.
Verite merasakan hal yang sama, tempat ini tidak bisa dibilang kecil tetapi juga tidak bisa di panggil tempat yang cocok untuk sebagai tempat tinggal seorang Duke.
Mansion Duke Bloome terlihat seperti gedung empat lantai dan berbentuk persegi empat sempurna tanpa memiliki atap sama sekali, gedung ini tersamar dengan gedung gedung yang lebih kecil lainnya.
‘Tempat ini mengingatkanku dengan sebuah kantor.’ Bilang Mefras, dia juga mengira mansion Duke Bloome akan terlihat seperti istana megah yang memiliki kebun seluas lapangan bola tapi yang dia dapat adalah ruangan kantor yang terlihat profesional, “Aku rasa itu cocok dengan karakternya yang serius.
“Tidak seperti yang kalian duga ya?” Poppy bertanya, dia sepertinya mengira reaksi ini.
“Iya, aku lebih mengira sebuah istana dengan kebun selebar lapangan ketika aku mendengar mansion.” Verite bilang dengan jujur Caena juga mengangguk.
“Iya, Duke Caena punya mansion seperti itu juga tapi dia tidak tinggal di sana dan hanya menggunakannya untuk menyambut tamu dari luar saja, dia bilang tinggal di sana jauh lebih merepotkan daripada tinggal disini.” Poppy menjelaskan.
‘Orang kaya…’ Mefras bilang, entah kenapa Verite bisa merasakan frustasi dari kalimatnya.
“Oh iya, Poppy, tentang murid Duke Bloome yang sebelumnya apa yang kamu mau katakan?” Verite bertanya, dia tidak lupa alasannya datang kesini.
“Ah Master Regulus, dia agak-”
*Boom!*
Sekali lagi Poppy terpotong, kali ini dengan suara ledakan yang berasal dari Duke Bloome mansion, Verite bisa melihat sebuah lubang di dinding mansion itu yang tidak ada di sana sebelumnya.
Asap keluar dari lubang di dinding itu dan mulai khawatir, dia menoleh ke Poppy dan bertanya.
“Itu adalah hal yang mau aku katakan.” Bilang Poppy, dia sepertinya tidak terkejut ataupun takut sama sekali, seakan akan hal seperti ini adalah kegiatan sehari hari di mansion Duke Bloome.
“Ini adalah hal yang biasa terjadi?” Caena bertanya yang Verite pikirkan.
“Iya, Master Regulus sering melakukan percobaanya yang kasar, ledakan ledakan seperti itu sering terjadi dan kadang kadang kami diserang oleh konstruk yang dia buat.” Bilang Poppy.
“Diserang oleh konstruk?” Verite bertanya, Konstruk yang bergerak sendiri adalah hal yang langkah, Verite dapat ‘mencapai’ itu bukan karena kemampuannya tetapi karena dia memasukkan kesadaran Mefras kedalamnya.
__ADS_1
“Apakah kamu punya kemampuan Thaumaturgy Poppy?” Caena bertanya.
“Aku memiliki cukup pengetahuan untuk melakukan tugasku sebagai assistant tetapi aku tidak bisa melakukan hal hal praktikal seperti yang dilakukan Verite.” Poppy menjelaskan sebelum menggelengkan kepalanya dan mencoba masuk lewat pintu masuk utama gedung itu.
“Apakah kamu yakin itu aman?” Verite bertanya, mendengar ceritanya tentang konstruk mengamuk sebelumnya dia merasa tidak tega membiarkan Poppy mau sendirian.
“Kita sudah berbicara beberapa saat, aku rasa para pekerja di dalam sudah mengatasinya.” Bilang Poppy, tidak lama dari dia berkata itu sesuatu meloncat dari lubang yang berada di dinding mansion.
Sesuatu itu mendarat di depan Verite dan dia bisa mendengar teriakan “Cepat! tangkap! Cepat! sebelum dia lari ke kota!”
Verite mengawasi ‘hal’ yang jatuh di depannya, dengan cepat dia mengetahui barang itu adalah sebuah konstruk berukuran cukup besar, mungkin lebih tinggi dari pak Jardi.
Satu satu matanya mengawasi Verite seakan akan mengawasi sebuah ancaman, badan kurusnya berkedut dengan cara tidak beres membuat Verite merasa tidak nyaman.
“Hey kalian! Jangan bergerak! Jangan melakukan apa apa!” Verite mendengar suara teriakan dari lubang di mana konstruk ini keluar.
Caena dan Poppy tidak bergerak, sepertinya mereka menyadari bahwa makhluk ini akan meloncat jika mereka sebanyak menggerakkan jari saja.
Verite tidak bisa diam saja, dia memulai mengalirkan mana ke seluruh tubuhnya bersiap siap untuk menyelamatkan Caena atau Poppy jika makhluk ini memutuskan untuk menerkam mereka.
Seperti merasakan pergerakan Verite konstruk itu meloncat kepadanya bersiap untuk menerkam dan menabraknya.
Verite mengelak tebasan tangan konstruk itu, tangan yang terbuat dari kayu itu tidak akan fatal jika mengenai Verite tetapi itu masih akan sangat menyakitkan.
Verite masih menghindari serangan serangan konstruk ini yang tidak lambat sedikitpun, dia pikir pemilik konstruk ini akan memutuskan supply mana yang menggerakkan konstruk ini tapi sepertinya itu tidak akan terjadi.
Verite mulai mengalirkan mana yang dia miliki ke tangannya, buntut api mulai timbul dari tangannya, mengawasi konstruk yang sudah berada di udara, siap menerkam Verite.
Verite menghempaskan tinjunya, kepalan tangan berapinya bertemu dengan wajah bermata satu konstruk itu dan Boom! ledakan tinju Verite mengirim dirinya dan konstruk itu melayang di udara,
Verite mendarat dengan kakinya, mengawasi konstruk yang telah jatuh itu.
‘Apakah sudah selesai?’ Pikir Verite, melihat konstruk yang terbaring di tanah itu.
__ADS_1
‘Belum!’ Jawab Mefras.
seperti yang dia bilang konstruk itu mulai berdiri dengan bunyi berderit Verite bisa melihat untaian Mana dari bagian yang Verite pukul.
‘Siap Siap!” Mefras memperingatkan saat Konstruk itu mulai meloncat, bagian belakangnya terbuka, mengeluarkan arus Mana yang begitu besar.
Verite mulai merasa bahaya yang konstruk ini keluarkan, manusia biasa tidak akan bisa melawan konstruk ini, dia mungkin harus menggunakan seluruh kekuatannya dan menghancurkannya.
Verite mulai mengalirkan mana kembali ke tubuhnya, ini adalah pertarungan pertama yang Verite alami, dia harap dia tidak mengacaukannya.
Konstruk itu sekali lagi mencoba menerkam Verite, tangannya berubah menjadi sebuah alat tajam yang akan memotong Verite.
Verite bersiap untuk menghancurkan konstruk itu, tinjunya terbakar dengan api berwarna biru, sekali lagi Verite mengayunkan tinjunya.
*Boom!*
Suara ledakan terdengar sekali lagi, tetapi ledakan ini tidak berasal dari tinju api Verite, ledakan itu berasal dari sebuah tombak raksasa yang jatuh tepat di atas konstruk mengamuk itu.
Menembus belakang pundaknya dan lantai batu keras di bawahnya.
Lebih mengejutkannya lagi di atas tombak raksasa itu adalah seorang manusia, lelaki yang sepertinya tidak jauh lebih tua dari Verite menunggak dirinya dengan pegangan tombaknya.
Dia menurunkan kakinya sampai menyentuh tanah, rambut emas yang di ikat gaya kuncir kuda itu mengepul di udara, mata emasnya menatap Verite.
“Maaf,” Dia bilang kepada Verite, “Aku tidak mengira ada yang seorang Thaumaturgist berjalan di wilayah ini.”
‘Hahaha, orang ini rival karakter 101.’ Mefras tertawa di kepala Verite.
Ujung bibir Verite naik ke atas ketika mendengar omongan Mefras, dia cukup menunjukkan banyak cerita dan film kepada Verite dia bisa seseorang yang terlihat seperti rival karakter.
“Verite! Kamu baik baik saja?” Caena berlari mendekat, terlihat sangat khawatir dengan Verite.
Sedangkan Poppy berlari ke ‘orang yang terlihat seperti rival’ itu dan berkata
“Master Regulus!”
__ADS_1
*****