Suara Di Kepala Sang Rival

Suara Di Kepala Sang Rival
Bab 19: Tawaran (Part 2)


__ADS_3

“Apakah kamu akan pindah Verite?”


Caena bertanya kepada Verite, sepertinya dia mendengar pembicaraan Verite dengan Duke Bloome.


“Aku belum tahu.” Bilang Verite. “Aku masih ingin memikirkannya.”


“Apa yang kamu pikirkan?” Caena bertanya, dia terlihat penasaran.


“Beberapa hal. Seperti apakah aku mau pindah atau apakah aku mau berpisah denganmu.” Jawab Verite.


“Aww Verite, aku tidak tahu kamu begitu suka dengan aku.” Caena memeluk Verite dari belakang. “Tapi kenapa kamu tidak boleh menemuiku jika kamu pindah?” Caena bertanya.


“...”


Verite terdiam, Duke Bloome hanya mengajaknya tinggal di tempatnya, dia tidak pernah bilang dia tidak bisa mengunjungi Blooming Bud.


Caena melihat Verite menepuk Dahinya, “Kamu lupa bertanya ya?” Bilang Caena, melepaskan pelukannya.


“Iya, aku merasa bodoh sekarang.” Verite masih mengkerut dahinya.


‘Kan sudah kubilang, kamu harus tanya detailnya kalau tidak kamu bisa menyesal.’ Bilang Mefras, di terdengar menahan tertawanya.


‘Shush kamu, kamu hanya diam saja ketika aku masuk dalam ke salah pahaman ini.’ Verite mengirimkan gambaran tatapan yang membakar ke Mefras.


‘Ouch panas hahaha.’


Mendengar Mefras yang tidak merasa bersalah Verite mulai mengacuhkannya dan mulai berbicara dengan Caena.


“Ngomong ngomong Caena, kamu tahu tidak dimana Duke Bloome tinggal? Aku ingin memeriksanya jika bisa.” Verite bertanya, jika dia akan tinggal di tempat yang baru paling tidak dia bisa melakukan survey terlebih dahulu, dia bahkan tidak tahu Duke Bloome tinggal dimana, dia membutuhkan lebih banyak informasi untuk membuat keputusan yang benar.


“Ah sekarang kamu menyebutkan itu… Aku tidak tahu dimana Duke Bloome tinggal.” Caena menjawab, “Rasanya aneh kita tidak tahu dimana pemilik kota kita ini tinggal.” Dia bilang.


“Aku rasa itu tidak begitu aneh, kota Azalea adalah kota yang besar.” Verite berpikir. “Aku akan bertanya kepada Pak Jardi saja nanti.” Verite memutuskan.


“Kalau begitu aku mau ikut Verite.” Bilang Caena.


“Huh kenapa?” Verite bertanya.


“Aku penasaran tempat tinggal penguasa kota kita seperti apa dan aku ingin tahu dimana kamu akan tinggal juga jadi aku bisa mengunjungimu jika kamu tidak repot.” Caena menjelaskan.

__ADS_1


“Ah tentu saja Caena, jika aku memutuskan untuk menerimanya aku akan senang jika kamu mengunjungi ku, kamu adalah temanku.” Verite bilang.


‘Mempunyai teman yang peduli padamu itu bagus.’ Mefras bilang, ‘Apalagi teman seperti Caena yang mengambil inisiatif untuk tetap memiliki kontak denganmu setelah kamu pindah adalah hal yang langkah.’


Verite merasakan sebagian kecil penyesalan di perkataan Mefras.


“Baiklah, hari ini sudah mulai gelap, kita akan bertanya dengan Pak Jardi besok, dan kalau dekat kita akan mengunjungi rumah Duke Bloome.” Verite memutuskan.


****************


Esok harinya Verite dan Caena mendatangi kantor Pak Jardi, masuk ke dalam ruangan itu mereka melihat Pak Jardi mengambil segelas air dari mesin pendingin yang Verite buat dan meminumnya, ia sepertinya menikmati segelas air dingin itu.


Menyadari bahwa Verite sudah berdiri di kantornya dia menaruh gelasnya di meja kerjanya dan kemudian duduk di kursinya.


“Verite and Caena, ada apa?” Pak Jardi bertanya. “Apakah kalian ingin mengecek mesin pendinginnya?”


“Iya dan tidak Pak.” Bilang Verite. “Bagaimana mesinnya?” Verite bertanya lebih dahulu.


“Fungsional,” Jawab Pak Jardi “Aku mulai menambahkan isinya hari ini dan aku belum melihat sesuatu yang dapat membahayakan dari mesin ini.” Pak Jardi melihat mesin yang dia gunakan, “Aku yakin jika kamu menjualnya kamu akan mendapat banyak uang.”


“Iya, itulah rencanaku jika kita melewati tahap percobaan keamanannya maka aku akan menjualnya dan skemanya ke Duke Bloome karena dia menawarkannya padaku.” Bilang Verite.


“hahaha…’ Verite dan Caena tertawa canggung, mereka tidak tahu bagaimana menanggapi pengurus Blooming Bud komplain tentang penguasa kota mereka.


“Bicara soal Duke Bloome ada hal yang ingin kutanyakan,” Lanjut Verite, “Dimana lokasi Duke Bloome tinggal?” Dia menanyakan alasan dia datang kesini.


“Ah tempat tinggal Duke Bloome, iya aku tahu dimana mansion tempat dia tinggal, aku rasa kalian tidak pernah melewatinya saat melakukan pekerjaan kalian.” Pak Jardi Bilang.


“Huh, apakah tempat itu dekat dengan Bloom and Gloom?” Caena bertanya.


“Jika dibilang dekat jawabannya adalah tidak tetapi kamu bisa berjalan dari sana ke tempat Duke Bloome.” Jelas Pak Jardi.


“Ah itu menjelaskan kenapa aku bertemu dengannya di jalan.” Verite mengingat pertemuan pertama mereka, Duke Bloome yang menunjukan uangnya dengan lalai.


Atau mungkin itu bukan kelalaian tetapi rasa percaya diri kana dia biasa menghajar semua preman yang mau mencoba merampoknya.


“Akan aku tunjukkan arahnya” Pak Jardi mengambil sebuah kertas dan mulai menggambar di atasnya.


“Dari Bloom and Gloom kamu bisa melewati tempat ini dan menggunakan jalan ini” Pak Jardi memberikan peta gambarannya dan menunjukan arah ke tempat Duke Bloome.

__ADS_1


Verite memperhatikan petunjuknya, sepertinya jalan yang dilalui tidak terlalu rumit.


‘Aku rindu sama gps.’ Mefras tiba tiba berkomentar.


‘Gps?’Verite bertanya.


‘Iya, dasarnya itu adalah peta yang bisa menunjukan lokasi dan lokasi tujuan kamu, jika kamu bergerak lokasimu di peta juka akan bergerak.’ Mefras menjelaskan.


‘Ah menarik,  mungkin aku bisa membuatnya.’


‘Tolong buat konstruk bicaraku terlebih dahulu.’ Mefras memohon, dia tidak memiliki kemampuan bicara saat mengendalikan konstruk benar benar membatasi cara komunikasinya.


“Verite kamu baik baik saja?” Caena bertanya, sepertinya komunikasi Verite dan Mefras membuatnya kehilangan konsentrasi di dunia nyata dan membuatnya terlihat seperti orang yang melamun.


“Ah iya, aku tidak apa apa,” Bilang Verite.”Baiklah, sekarang kita sudah tahu dimana tempat tinggal Duke Bloome, ayo kita pergi Caena.” Verite keluar dari kantor Pak jardi tapi tidak  sebelum berterima kasih atas bantuannya.


Pak jardi melambai saat mereka pergi.


*************


Verite dan Caena berjalan menuju mansion Duke Bloome, mereka berjalan melewati pasar yang ramai seperti biasa, sambil berjalan Caena berbicara dengan Verite dan bertanya:


“Verite, belakangan ini kamu agak sering melamun ya?” Caena bilang.


“Huh, Apa maksudmu?” Verite bertanya biarpun dia sudah tahu jawaban Caena.


“Kamu tidak tahu?” Tanya Caena, terkejut bahwa Verite tidak menyadarinya, “Aku sering melihat terkadang kalau kamu berbicara dengan orang kamu tiba tiba terdiam dan tidak memperhatikan omongan orang itu, seperti perhatianmu  ada di tempat lain.”


‘Waduh, sepertinya pembicaraan kita menarik perhatian ya Verite?’ Mefras memulai berbicara


“Lihat Kan, matamu sepertinya kehilangan fokus.” Bilang Caena, sepertinya dia menyadari ketika Mefras mulai berbicara.


“Iya, terkadang pikiranku melayang,” Alas Verite. “Aku masih tidak apa apa kok.” Verite mencoba menenangkan Caena.


“Kalau kamu mau bicara aku selalu siap untuk mendengarkan.” Bilang Caena, terlihat Khawatir dengan Verite.


Sebelum Verite bisa menjawab ada orang yang berlari menerobos dari belakangnya dan mendorong Caena dan Verite kesamping.


“Tolong! Pencuri!” Verite mendengar teriakan dari belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2