Suara Di Kepala Sang Rival

Suara Di Kepala Sang Rival
Bab 28: Pertarungan Pertama


__ADS_3

‘Wow…’ Mefras menunjukkan rasa kagumnya akan ukuran babi hutan itu.


Verite tidak menyalahkannya, bahkan Verite pun terkejut ketika melihat ukuran babi hutan ini, tidak yang seperti dikatakan babi ini bukanlah sedikit lebih besar dari manusia, babi ini jauh lebih besar dari mereka.


Jika dibandingkan babi hutan ini berukuran dengan sebuah pondok kecil yang roboh, tidak menyangka bapaknya Datura ragu mereka akan dapat mengalahkan babi ini dan dia juga khawatir jika Helian dapat mengalahkannya.


Helian mengatakan pada mereka bahwa dia akan mencoba melawan babi hutan ini sendiri dan Verite mulai meragukan kewarasan Helian sebelum Regulus mengatakan dia tidak punya keinginan untuk ikut campur dengan misi Helian sama sekali.


‘Regulus mungkin bilang dia tidak akan ikut campur tetapi faktanya dia ikut datang kesini berarti dia merasa peduli dengan Helian, aku menebak dia membawa kita kesini untuk mengawasi Helian dan hanya ikut campur jika Heelian butuh bantuan.’ Mefras memberi dugaannya, ‘Tentunya ini hanya perkiraanku saja, ku tidak mengenal Regulus cukup baik untuk menebak perilakunya dengan pasti.’ Dia tambahkan.


Mendengar itu Verite hanya bisa pasrah dan siap siap jika hal akan mulai bermasalah, paling tidak  Helian bisa mengatakan dia akan meminta tolong jika dia tidak bisa mengalahkan babi hutan ini.


Untungnya semua warga desa ini sudah mengurung diri di rumah mereka termasuk Datura yang Regulus suruh pulang dan mengunci pintu jadi Verite tidak perlu khawatirkan akan pengamat menjadi korban pertarungan mereka.


Helian mulai menyerangnya, dia menarik busur panahnya dan mulai membidik, Verite bisa melihat mana yang mengalir di anak panah di tangan Helian.


Babi hutan itu mulai memakan tanaman yang tidak dia sentuh di serangannya sebelumnya, Verite menarik nafas ketika dia melihat babi hutan itu menjadi lebih besar tepat di depan matanya.


Sepertinya omongan ayahnya Datura tidak salah, sebelumnya babi ini hanya berukuran seperti manusia biasa tetapi setelah makan dia tumbuh menjadi lebih besar.


ini gawat, jika mereka tidak mengalahkannya sekarang maka ada kemungkinan besar binatang ini akan menjadi jauh lebih besar lagi.


Helian melepaskan tangannya dan anak panah itu terbang dan menancap tepat di mata bab itu, pekikan babi itu terdengar di seluruh hutan, anak panah Helian masih menancap di matanya.


Babi itu menyadari keberadaan Helian dan tanpa menghabiskan waktu sama sekali menyeruduk ke arahnya.


Helian meloncat ke atas dan mendarat di belakang binatang itu, dengan menggunakan kemampuannya sebagai seorang Thaumaturgist dia dapat meningkatkan kemampuan tubuhnya cukup untuk melakukan gerakan atletik yang terlihat di luar kemampuan manusia.

__ADS_1


di tangannya terdapat tombak yang memiliki dua sisi extra, tombak ini sering digunakan untuk memburu babi liar di hutan tetapi Verite tidak yakin ukurannya pas.


Tidak menghabiskan waktu binatang liar itu sekali lagi mencoba menyerbuk Helian, ingin merubahnya menjadi sate kebab, kali ini Helian menahan posisinya, mengacungkan tombaknya ke arah serudukan babi hutan itu.


Mata tombaknya bertemu dengan kepala binatang itu, tubuhnya yang keras membelokan dan menancap ke sisi kepala babi itu, Helian menahan tombaknya dan melambatkan serudukannya tetapi tidak lama mereka beradu gagang tombak yang terbuat dari kayu itu patah dan memaksa Helian untuk menghindar.


Mereka sekali lagi berhadapan mata ke mata, Helian mencabut pedang yang disimpan disisinya dan mulai sekali mulai beradu.


Selagi mengawasi pertarungan ini Verite merasa tidak  enakan, dia teringat dengan bulu yang dia temui dan dia merasa ada seekor monster yang tercampur dengan kasus ini.


Verite menandakan kepada Regulus dia akan bergerak, Verite pergi meninggalkan Helian yang masih bertarung dengan babi hutan dan Regulus yang mengawasinya.


Apa yang akan menjadi buruk bisa menjadi lebih buruk, tidak lama dari keputusan Verite untuk meninggalkan Helian dan pergi kembali ke desa Verite mendengar jeritan yang terdengar seperti suara burung dan tepat di depannya adalah seekor monster.


Monster ini berbentuk seperti burung besar yang berbulu biru kehitaman, warnanya hampir tersamar sepenuhnya di kegelapan malam, mungkin karena itu Verite dan yang lain tidak menyadari monster ini menyelip dari pandangan mereka, karena warna bulunya yang bersama dan pandangan  mereka yang terfokus ke babi hutan raksasa itu.


Untungnya Verite bisa menyadarinya sebelum monster ini dapat menyerang rumah warga, dia bisa merasakan pandangan warga warga yang mengawasi mereka dari jendela rumah mereka, jeritan monster itu sudah membuat mereka sadar akan serangan ini.


Monster itu sekali lagi menjerit dan Verite meloncat, menghindari muntahan cairan yang membakar tanah, di usahanya untuk menghindar Verite menjatuhkan konstruk Mefras yang dia bawa di tas punggungnya.


Verite mendekat, melumuri tinjunya dengan mana api hingga terbakar dan mencoba mengakhiri pertarungan ini dengan satu pukulan, mengincar wajah monster itu.


Tetapi kenyataan tidak mendukung khayalan Verite karena burung itu mengepak sayapnya dan memperlambat Verite, kakinya berayun ayun dan membuat Verite mundur, menghindari cakar tajam yang dapat membelah kayu.


Verite berpikir untuk menyerangnya dari jarak jauh tetapi dia ingat bahwa dia berdiri di tengah desa yang dipenuhi rumah rumah yang terbuat dari kayu.


‘Pertarungan’ mereka terdiri dari Verite mengejar monster ini dan monster ini berusaha menghindari serangan Verite.

__ADS_1


Biarpun ukurannya yang sebesar manusia monster burung ini memiliki kecepatan yang tidak ditunjukkan oleh tubuhnya yang besar dan bulat, konflik mereka sudah menyebabkan beberapa properti warga hancur dan hampir melukai orang orang, tapi untungnya Verite dapat memaksanya mundur sebelum monster itu dapat mencapai warga yang berlari karena kehancuran tempat tinggal Mereka.


Ini juga membuat Verite yakin bahwa monster ini menyerang dengan keinginan untuk membunuh manusia, tapi yang membuatnya bingung kenapa dia tidak menyerang bersama dengan babi hutan itu?


Verite tidak bisa memikirkan ini dengan panjang karena dia harus menghindari patukan paruh burung yang memiliki gigi itu.


Verite harus mengakhiri pertarungan ini dengan cepat, karena tidak hannya semakin lama pertarungan ini terbawa maka lebih banyak warga yang akan berada dalam bahaya tetapi jumlah mana Verite juga semakin terkuras karena dia terus menggunakan mana untuk memperkuat tubuhnya supaya Verite dapat  bereaksi ketika monster itu menyerangnya.


Pertukaran mereka berlanjut sampai salah satu serangan itu berhasil menembus pandangan Verite dan paruh tajam itu akan memutuskan leher Verite.


kehidupan pendeknya berkedip di matanya tetapi sebelum paruh monster itu menyentuhnya monster burung itu mundur balik seakan akan ada yang mengenainya.


Konstruk Mefras yang jatuh dari tas punggung Verite berpegang menutupi mata monster itu, bertahan melawan ayunan monster yang mencoba melepasnya dari kepalanya.


‘Sekarang Verite!’ Verite mendengar teriakan Mefras, tidak mengambil kesempatan lagi Verite meloncat, mendorong monster itu hingga terbalik.


Verite menduduki lehernya, monster itu mencoba melepaskan dirinya tetapi Verite dengan tubuhnya yang diperkuat oleh mana berhasil menahannya.


Dengan sekejap tinju Verite memanas, dia mulai memukuli kepala burung itu yang masih mendapat konstruk Mefras menempel padanya


Verite mula memukulnya.


Satu pukulan…


Dua pukulan…


Tiga Pukulan…

__ADS_1


Verite tidak tahu seberapa banyak dia memukul monster itu, tetapi dia tidak berhenti dan terus melakukannya, bunyi ledakan tinjunya terdengar ke seluruh desa, dia terus melakukannya sampai dia tidak memiliki mana lagi dan monster itu tidak bergerak sama sekali.


Verite menurunkan tangannya dan melihat lubang di mana kepala monster  itu sebelumnya berada.


__ADS_2