
Aku tau, kehidupan takkan selamanya sama. Pasti ada kesuksesan dibalik kesusahan, pasti ada kesusahan dibalik kesenangan seseorang. Kita tak bisa menilai orang dari luarnya saja, jika perlu nilailah dia dari dalam.
***
Aku, Dilara. Anak dari Pak Husein dan Buk Ani, ibuku Buk Ani, sudah lama tiada. Sudah hampir 4 tahun kepergiannya, hidup kami bagai tak bernyawa. Kesepian, kesunyian, dan kesendirian kini telah kami rasakan.
Kepahitan yang teramat, masuk merambat ke dalam hidup kami. Tak ada candaan, tak ada tawa. Semua hilang bagai angin berlalu, semenjak kepergian Ibu kesusahan terus melanda hidup kami.
Setengah tahun kepergian Ibu, Ayah menikah lagi. Tak ada yang dapat mencegah dirinya untuk menikah lagi, alasan dia ingin menikah adalah agar ada yang mengurus dirinya. Kami biarkan dia berkarya, mulai saat itu tak kami pikirkan lagi keadaannya.
Dia sudah ada yang mengurus, lalu apa gunanya kami berada disampingnya jika tak dihargai? Dia pergi bersenang-senang dengan seseorang itu dan pulang membawa kesusahan. Apa pantas disebut sebagai seorang Ayah?
Ku akui, Ayah adalah manusia terbaik di dunia ini. Tak ada Ayah yang sebaik dirinya, lalu apa dia sudah terlalu dibutakan oleh hasrat? Alasan menikah lagi hanya karena ingin diurus, bukanlah hal yang tepat.
Aku tau alasan dia yang sebenarnya, HASRAT! Aku dan kakakku sudah tau semuanya.
Aku dan Kak Pipit, adalah anak dari Buk Ani dan Pak Husein. Kak Pipit sudah menyelesaikan kuliahnya sekarang, hanya tinggal mencari pekerjaan saja. Sedangkan aku, aku masih duduk dibangku SMP kelas 9, dan sebentar lagi aku akan naik ke jenjang SMA.
***
Sudah tahun ke 5 Ayah menikah. Selama itu juga Tak ada perubahan pada rumah kami. Sepertinya rasa bahagia sementara akan mati.
Aku sekarang sudah kelas 12 dan sebentar lagi aku akan tamat. Juga Kak Pipit yang sudah menjadi salah satu pegawai bank di kota sebelah. Aku sering dilanda kesepian dirumah, rasanya seperti hidup sendirian. Ayah dan seseorang itu, selalu keluar dan pulang pukul 22:00 malam.
Sungguh, seseorang itu membawa sembilu luka di kehidupan kami. Aku kerap sekali tak diberi uang saku saat berangkat ke sekolah, aku juga jalan kaki ke sekolah. Tak pernah diantar oleh Ayah. Ingin berbicara tapi, mereka menganggapku sedang melawan padanya.
"Kau jangan melawan, sudah baik kukasih makan!" sahut Dia.
"Saya bukannya melawan, Bu. Hanya saja saya ingin diberi uang saku oleh Ayah." sahutku pelan.
"Enak aja, kerja sana biar dapat uang! Gausah minta-minta sama orang tua, menjadi beban orang tua aja taunya." katanya sambil berlalu pergi.
__ADS_1
Ya, dia ibu tiriku. Sudah lama perlakuannya seperti itu padaku tapi, Ayah hanya diam saja. Dilubuk hatiku, ada luka yang sedang menganga. Tidakkah dia kasihan melihat diriku yang sudah kurus kering seperti ini?
Aku selalu membersihkan rumah, hingga tak ada celah bagiku untuk keluar bermain dengan temanku. Disekolah tak ada satu pun yang bermain denganku, hanya satu orang yang mau berteman denganku. Asdira, dialah yang mau berteman denganku.
Nasibku dan nasibnya sama. Bedanya dia sudah tak memiliki kedua orang tua. Dia hanya tinggal dengan bibinya saja, hampir setiap hari Dira harus mencari makan sendiri. Didalam hati, aku masih bersyukur karena orang tuaku masih memberiku makan.
Tak papa jika tak diberi uang saku, yang terpenting perutku terisi jika sudah pulang sekolah. Aku tak makan masakan Ibu tiri itu, aku masak sendiri, membersihkan rumah sendiri, dan melakukan semuanya sendirian.
Aku tak ingin selalu menjadi beban Kak Pipit, kusembunyikan sementara semuanya hingga kisah ini akan terkuak dengan sendirinya. Kak Pipit hanya tau, jika aku tak diopen oleh mereka berdua. Tentang kasarnya mulut Ibu tiri, ia tak tau.
***
Perlahan kuterima rasa sakit ini, aku hanya bisa bersabar dan berharap pada Allah Swt. Aku sadar, aku jauh dari jalan Allah Swt. Aku salah, aku tak selalu ingat pada Allah Swt, aku hanya teringat pada Allah Swt jika aku sedang kesusahan.
Maafkanlah aku ya Allah, aku salah, aku sadar. Bimbinglah aku agar lebih dekat denganmu ya Allah, bimbinglah aku agar tetap dijalanmu ya Allah.
***
Hanya Kak Pipit yang datang ke acara kelulusanku. Hanya dia harapanku, dan hanya dialah keluargaku saat ini. Sebenarnya aku masih mempunyai 2 nenek tapi, rumah nenekku sangat jauh dari tempat tinggalku.
Aku pulang dengan nilai yang terkantong. Aku bertekad akan kuliah dengan uangku sendiri, aku berjanji takkan menyusahkan orang disekitarku.
Kak Pipit sudah sukses sekarang, bahkan dia menawarkan agar aku masuk ke Universitas ternama dikota sebelah. Aku awalnya tak menginginkan itu tapi, Kak Pipit sudah duluan mendaftarkanku.
Aku mengambil jurusan Akutansi, sama dengan jurusan Kak Pipit dulunya. Saat dia kuliah, Ibu masih ada dan Ayah masih sangat menyayangi kami. Ayah membiayai dia kuliah sampai dengan selesai, dan sekarang Kak Pipit sukses.
Falshback...
Disaat akhir kuliah, Kak Pipit mengalami kesusahan dan dia meminta bantuan Ayah. Berupa uang.
"Yah, bisakah aku meminta uang untuk bayar biaya kuliah?" tanya Kak Pipit ragu-ragu.
__ADS_1
"Tidak ada uang!" sahut Ayah datar.
"Tapi, aku hanya membutuhkan sekitar 3jt saja, Yah." kata Kak Pipit lagi.
"Tidak ada." jawab Ayah masih datar.
Ayah bekerja di salah satu rumah sakit dikota kami. Ayah menjabat bagian Manager, apa mungkin Ayah benar-benar tak punya uang? Rasanya tidak mungkin Ayah tak memiliki uang.
Kak Pipit tak berhenti disitu saja, dia tetap berusaha minta pada Ayah.
"Yah, kumohon. Kuliahku sudah diakhir dan aku membutuhkan uang itu." ucapnya memelas.
"AKU SUDAH BILANG TAK ADA, TAK ADA, DAN TAK ADA PIPIT! APA KAU TULI HAH?" sahut Ayah berteriak marah.
"Ba-baiklah." kata Kak Pipit ketakutan, sambil berlalu pergi.
"Jadi anak susah banget diatur!" kata Ayah mengomel diruang kerjanya.
Dan mulai saat itu aku melihat bahwa Kak Pipit pergi pagi dan pulang malam, aku penasaran lalu menghampirinya dan bertanya.
"Kak, darimana saja kamu beberapa hari ini?" tanyaku padanya yang sedang makan masakanku.
"Kau janji ya, jangan bilang pada siapa pun?" katanya.
"Baiklah, Kak. Aku berjanji." ucapku.
"Hem, A-aku bekerja Dil." katanya kemudian yang membuatku terkejut.
"K-kau bekerja Kak?" tanyaku memastikan.
"Iya, Dil. Aku bekerja sebagai pelayan cafe tapi, itu hanya sementara saja. Aku hanya ingin mencari uang untuk biaya kuliahku yang tinggal sebentar lagi." sahutnya datar.
__ADS_1