
Pagi yang kutunggu-tunggu, akhirnya tiba. Dengan suasana yang cerah dan udara yang sangat dingin, aku memaksakan mataku untuk bangun. Adzan subuh berkumandang, segera ku langkahkan kaki menuju kamar mandi lalu berwudhu'.
Selesai berwudhu', aku mulai membacakan lafadz Allah satu persatu.
'Assalamualaikum warahmatullah
Assalamualaikum warahmatullah'
Selesai.
Saatnya membangunkan, Dira si pemalas bangun pagi.
"Dira, ayo bangun dan shalat subuh dulu!" panggilku.
"Hemm, baiklah." sahutnya sambil mengumpulkan nyawa.
"Cepatlah! Shalat subuh terlebih dahulu, aku akan menyiapkan sarapan." kataku, lalu aku langsung membuka pintu dan berjalan ke arah dapur.
Sesampainya di dapur yang berukuran lumayan besar ini, terdapat banyak sekali alat memasak. Bahkan, sangat sangat lengkap.
Aku berjalan ke arah lemari pendingin alias kulkas, lalu membuka dan memeriksa apa yang ada di dalamnya.
Terdapat banyak sekali jenis sayuran, buah-buahan dan daging. Ehm, aku jadi bingung mau masak apa hari ini. Setelah lama berpikir, aku akan membuat sarapan pagi yang simple saja, yaitu nasi goreng.
Entah berapa lama aku berkutat di dapur, sampai akhirnya jam menunjukkan pukul 8 pagi.
"Selesai!" seruku semangat. Karena hari ini aku dan Dira akan mencari pekerjaan, maka aku harus bersemangat di pagi yang cerah ini.
"Dila, ayo cepat kita sarapan dulu!l teriakku dari arah meja makan.
Tak berapa lama, keluarlah Dira dengan pakaian santainya.
"Kau memasak, Dila?" tanya Dira.
"C'k, pertanyaan konyol. Ayo cepat, kita duduk lalu makan!" sahutku.
"Ehm, baiklah. Terima kasihh sahabatku sayang!" ucap Dira bersemangat.
"hem, iya sama-sama sahabat pemalasku!" sahutku semringah.
Dira hanya tertawa, lalu memakan sarapan paginya dengan tenang.
"Dil, kita jadi kan cari pekerjaan hari ini?" tanya Dira di sela-sela makannya.
"Tentu saja! Aku dan kau akan mencari pekerjaan hari ini, oleh karena itu kita harus bersemangat. Mudah-mudahan, kerepotan kita membuahkan hasil yang memuaskan." kataku.
"Baiklah, Dila. Ayo cepat habiskan sarapanmu, lalu bersiaplah!" suruh Dira, dan aku hanya menganggukkan kepalaku.
***
Aku dan Dira kini tengah bersiap, kami memakai pakaian terbaik yang kami punya.
"Apa kau punya baju yang paling terbaik, Dira?" tanyaku.
"Tidak, Dil. Aku hanya membawa baju dari Indonesia, dan itu pun tidak ada yang bagus. Tidak penting bagus atau tidaknya Dil, yang terpenting sekali kerapian dan kebersihan seorang karyawan" jelas Dira yang membuatku mengerti.
"Ouh ya, oke. Aku salut dengan kata-katamu, Dir." kataku.
__ADS_1
"Haha, hanya sepenggal saja kau sudah salut, apa lagi jika semua." ujarnya sambil tertawa.
Seperti inilah hari-hari kami, dipenuhi candaan dan tawaan yang menurutku sangat menyenangkan.
***
30 menit kemudian, kami sudah siap. Wanita memang seperti itu, jika sudah merias diri pastilah sampai puluhan menit.
"Ready, Dil?" tanya Dira.
"Ready, Dir. Ayo, kita jalan kaki saja. Jalan kaki itu sehat, dan juga menghemat keuangan kita." kataku sambil tertawa.
"Baiklah sahabat, iritku. Ayo!"
Akhirnya kami keluar dari kamar, dan mengunci pintu kamar tersebut. Sampai ke pintu depan, kami pun menguncinya. Takut, jika nanti ada orang yang tak dikenal masuk ke sini.
"Kau sudah mengunci semuanya, Dir?" tanyaku.
"Sudah, dan ini kuncinya." sahut Dira, lalu memberikanku semua kunci.
"Ijazah dan semua perlengkapan melamar sudah siap?" tanyaku lagi untuk memastikan.
"Siap, Dil. Kau ini, kan sudah dari Indo sana kita menyiapkannya!" kata Dira kesal.
"Heheh, lupa aku. Ayo!"
***
Kantor pertama, kami mencoba berkomunikasi dengan sang receptionistnya.
"Oke, terima kasih!" jawabku.
Beberapa memit kemudian, datanglah Belly.
"Maaf, Nona. Manager utama sedang tidak berada di kantor, dan mungkin anda bisa kembali nanti setelah jam makan siang!" ucap Belly sambil menangkupkan kedua tangannya.
"No problem, saya mengerti itu. Terima kasih, dan saya akan kembali setelah jam makan siang nanti!" sahut Dira kali ini. Tumben, bisa bahasa inggris.
Akhirnya kami keluar dari kantor besar tersebut, nama kantor itu adalah Brata Group. Aku kurang tau siapa itu Brata, seperti nama orang Indonesia.
"Apa kita pulang dulu, Dil?" tanya Dira.
"Mungkin, kita tak tau mau kemana dan juga udara disini sangatlah panas, Dir." jawabku.
"Baiklah, kita pulang dulu." sahut Dira.
Kami bercanda dan tertawa bersama saat diperjalanan. Jalan kaki bukanlah hal yang buruk, ini sangat seru.
15 menit kemudian, sampailah kami di rumah. Aku merogoh saku dan mengambil semua kunci, setelah terbuka kami berdua langsung masuk.
"Dir, ayo kita masak makan siang. Tanganku gatal jika tak masak, kau mau kan membantuku?" kataku pada Dira.
"Hais kau ini, pastilah aku mau. Ayo!" ajak Dira balik.
***
Terlalu banyak pekerjaan hari ini, kami sudah siap dengan memasak juga membersihkan rumah.
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang, selesai makan siang kami langsung bersiap kembali. Jika disini sudah pukul 1 siang, itu berarti di Indonesia sudah menunjukkan pukul 6 sore.
Setelah selesai mandi dan shalat dzuhur, kami segera keluar dari kamar lalu mengunci semua pintu.
"Selesai kan Dir? Tak ada yang tertinggal?" tanyaku.
"Tak ada, Dil. Berkas yang tadi kita bawa kan sudah di ambil receptionistnya, kita hanya membawa diri dan mempersiapkan diri sekarang." kata Dira panjang kali lebar.
Aku hanya menganggukkan kepalaku saja, sudah kebiasaan Dira jika mengomel panjang lebar.
***
Setelah 20 menit kemudian, kami sampai di kantor Brata Group.
"Permisi, apa sudah datang Managernya?" tanyaku pada Belly.
"Sudah, Nona. Mari saya antarkan ke ruangan Manager!" ajak Belly sambil mengarahkan kami.
Ruang Manager sangatlah tinggi, menaiki lift saja memakan waktu hampir 5 menit kurang lebih. Dan ternyata, ruangan Manager berada dilantai 10. Sangat tinggi menurutku.
"Silahkan masuk, Nona!" kata Belly.
Belly mengarahkan kami ke sebuah ruang, yang dipintunya bertuliskan 'Manager Room'.
"Terima kasih!" ucapku dan Dira bersamaan.
Belly pergi meninggalkan kami berdua, aku dan Dira seakan takut untuk masuk, ada perasaan aneh di dalam sini.
Kuketuk pintu itu dengan sedikit keras, agar penghuni di dalam mendengarnya.
'Tok,, Tok,, Tok,,'
"Masuk!" sahut seseorang di dalam sana.
Kuputar perlahan knop dari pintu besar tersebut, lalu mendorongnya perlahan. Deg-deg an aku membuka pintu tersebut, seakan ada rasa takut.
Kuhilangkan rasa takut ini, dan membuangnya jauh.
"Dil, apa yang kau lakukan hingga selama ini membuka pintu? Kaki ku keram tau menunggumu membuka pintu saja!" omel Dira pelan, bahkan sangat pelan hingga hanya aku saja yang mendengarnya.
"Aku sedikit gugup, Dir!" kataku.
"Cepatlah masuk, atau nan-" belum selesai Dira melanjutkan perkataanya, seseorang yang sangat ku kenal suaranya membuka suara.
"Siapa di sana? Cepatlah masuk, aku tak punya banyak waktu untuk mengurusi kalian!"
ujar seseorang datar yang membuatku terdiam membisu. Tak hanya aku, Dira pun ikut berhenti dan terdiam.
Suara yang hampir setengah tahun ini aku rindukan, akan kah itu dia?
Aku dan Dira saling pandang.
"DIA!" kataku dan Dira serentak, dengan suara pelan.
Bersambung...
Please, dukung karyaku gaes😭..
__ADS_1