Success Is My Dream

Success Is My Dream
Salam Perpisahan


__ADS_3

Aku terdiam, aku dan Dira sama-sama terdiam. Tak pernah terpikirkan olehku jika Qevin mengatakan cinta untukku lewat, Dira. Apa dia setakut itu hingga tak berani menyampaikan cintanya? Dan sekarang, aku harus bagaiman?


"Oh ya, Vin? Kenapa kau tidak menyatakan langsung pada, Dila? Menurutku kau salah, Vin!" jawab Dira spontan.


Diseberang sana, Qevin terdiam sesaat.


"Iya, Dir. Aku salah besar, karena tak sempat menyatakan perasaanku pada, Dila. Sebenarnya, saat kau meninggalkan kami berdua, aku sudah akan menyatakan perasaanku pada Dila. Tapi, dia perhi begitu saja tanpa mau mendengarkan penjelasan dariku, Dir!" jelas Qevin panjang lebar pada, Dira.


Terlihat Dira menghela nafas panjang.


"Kejarlah Dila, Vin. Sebelum dia pergi jauh dari pandanganmu, jika itu terjadi mungkin akan terasa berat bagimu. Aku hanya menyarankan saja, Vin!" kata Dira mencoba menasehati, Qevin.


"Iya, Dir. Aku salah, aku berani mengaku salahku hanya padamu. Entah apa yang membuatku sampai tak berani untuk menyatakan rasa ini pada, Dila. A-aku bingung, Dir." curhatnya pada, Dira.


"Kejarlah, Dila. Nyatakan perasaanmu padanya, Vin!" sahut Dira prihatin.


"Baiklah, aku akan menjumpainya besok, Dir. Kuharap kau tidak memberitahukan ini pada, Dila ya?" kata Qevin.


Astagfirullah, ya Allah maafkanlah Hamba-Mu ini. A-aku sudah mengetahuinya, bagaimana ini? Apa aku berdosa, ya Allah? Sungguh, aku sedang dilema sekarang.


"O-oh ya, Vin. Insyaallah, tapi aku tidak janji. Ti-tidak pa-pa kan? Maaf jika nanti aku mengecewakanmu, ya. Tapi, aku berusaha agar tak memberitahu, Dila." ucap Dira gugup.


"Jika dia tau, ya sudah, Dir. Jangan beratkan dirimu dengan masalahku, ya. Maaf aku sudah lancang curhat padamu, Dira." ucap Qevin meminta maaf pada, Dira.


"Dir!" panggil Qevin diseberang sana.


"Iya, Vin?" jawab Dira.


"Coba berikan ponselmu ke, Dila sekarang!" suruh Qevin dengan suara yang datar.


Aku dan Dira sontak terkejut mendengar perkataanya. Apa dia tau bahwa aku ada disamping, Dira?


"A-apa maksudmu, Vin? Dila sedang tidak ada disini, Di-dila sedang keluar bersama dengan kakaknya." jawab Dira dengan rasa gugup yang luar biasa. Begitu pun denganku.


"Jangan berkilah, Dira! Sebenarnya aku tau bahwa Dila ada disampingmu sedari tadi, jadi kuharap kau mengerti, Dira." sahut Qevin cepat.


"Ma-maaf, Vin." hanya kata 'maaf' yang dapat disampaikan oleh, Dira.


"Berikan padanya!" kata Qevin datar.


Dengan terpaksa, Dira memberi ponselnya padaku. Dan mengkode dengan matanya, pertanda aku harus berbicara dengan Qevin. Huft, baiklah akan kucoba.


"Ha-halo?" sapaku duluan.


"Dila! Ba-bagaimana kabarmu?" tanya Qevin diseberang sana.


"Aku baik, Pak! Maaf, ada apa ya Bapak mau berbicara sama saya?" ku atur nafas dan mulai berbicara dengan tenang.

__ADS_1


"Dila, bisakah besok kau menemuiku? A-aku ingin menyampaikan sesuatu padamu." kata Qevin padaku.


"Menyampaikan jika kau memcintaiku, begitu?" sahutku cepat dengan ekspresi datar.


Qevin terdiam, lama dia terdiam sampai akhirnya dia menjawabku.


"Biarkan aku menjelaskannya padamu, Dila." Qevin mulai membuka suaranya.


Aku menjauh dari, Dira. Kemudian membalas perkataan, Qevin.


"Ya, baiklah. Katakan!" ucapku ma_ih datar.


"Sudah 1 tahun kurang lebih kau bekerja di cafeku, Dila. Selama itu pula aku sering memperhatikanmu lewat camera CCTV, dan mungkin kau tak menyadari--...." tiba-tiba sambungan telfon diseberang sana terputus.


Kenapa terputus? Apa tidak ada jaringan? Ah, sudahlah. Lebih baik jika sambungan telfonnya terputus, jadi aku tidak terfokuskan dengan pembicaraannya yang tadi.


Aku berbalik dan berjalan menuju meja rias. Dira menatapku aneh, aku yang menyadari ditatapi seperti itu lantas bertanya padanya.


"Ada apa?" tanyaku dengan wajah penasaran.


"Apa dia menyatakan cintanya, Dil?" tanya Dira balik.


"Tidak! Tidak sempat mungkin, karena tiba-tiba saja sambungan telfonnya terputus, Dir." jawabku sekenanya saja.


"Sudahlah, kita tidak ada hubungan dengannya lagi. Jadi, sekarang jangan fokus ke masa lalu. Fokuslah ke masa depan kita, Dir!" sahutku. Aku memang sudah melupakannya, tapi tidak dengan hatiku.


"Ayo!" sahutku antusias.


Entah kenapa, aku seperti bersemangat sekali untuk pergi ke negara itu (Jerman).


Baiklah, Dila! Lupakan masa lalumu, langkah majulah ke masa depannmu. Ingatlah Dila, kesuksesan sedang menantimu di depan sana.


***


Pagi menyapa, dan sekarang aku sudah siap mandi. Sementara Dira, dia sedang mandi, kebiasaan Dira jika sudah masuk ke kamar mandi pastilah lama keluar dari sana.


Tiba-tiba, pintu kamarku diketuk oleh seseorang.


'tok...tok...'


"Dila, Dira! Ayo bangun, jadwal penerbangan pagi-pagi sekali!" panggil Kak Pipit setengah berteriak pada kami berdua.


"Aku sudah bangun, Kak.hanya sedang menunggu Dira yang sedang mandi." sahutku kemudian.


"Oh begitu, jika sudah selesai bersiap segera ke meja makan ya!" jawab Kak Pipit dan dia segera berlalu dari kamarku.


Pintu kamar mandi terbuka dan terlihatlah, Dira yang sudah selesai berpakaian.

__ADS_1


"Kau sudah siap, Dir?" tanyaku.


"Sudah, Dil. Ayo turun dan sarapan dulu!" ajak Dira.


Kami pun segera turun dan menuju ke meja makan.


Sesampainya dimeja makan, terlihat Kak Pipit sedang menikmati sarapannya.


"Hay, Kak! Sudah lama menunggu ya, hingga kau makan terlebih dahulu? Tanyaku sambil terkekeh ringan.


"Iya, kalian berdua seperti siput saja. Lamban sangat, bisa sesak karena kelamaan sarapan Kakak nanti!" sahut Kak Pipit pura-pura kesal.


Aku dan Dira tertawa melihat Kak Pipit.


"Dila, Dira! Maaf ya, Kakak tidak membawa kalian jalan-jalan kemarin!" ucap Kak Pipit pada kami berdua.


"Tidak apa-apa, Kak. Lagi pula kami juga sudah jalan-jalan naik motor kemarin, bosan jika jalan-jalan selalu, Kak." sahut Dira, lalu tersenyum ke arah Kak Pipit.


Akhirnya, kami sudah siap sarapan. Dengan segera aku dan Dira menarik semua koper yang ada di dalam kamar, lalu membawanya ke pintu depan.


Kami akan diantar ke banda oleh, Mas Aan dan Kak Pipit. Hari ini adalah hari perpisahanku dengan kakakku.


***


Akhirnya kami sampai dibandara, dengan cepat aku dan Dira bertindak. Kami segera menurunkan koper-koper kami yang ada di bagasi. Dibantu oleh Mas Aan kami mengangkut semua koper-koper itu.


"Sudah selesai?" tanya Kak Pipit yang baru kembali dari dalam bandara.


"Sudah, Kak. Kakak dari mana?" tanyaku.


"Habis lihat-lihat jam keberangkatan kalian, tadinya." jawab Kak Pipit.


Tak lama kemudian, bell tanda pesawat akan terbang berbunyi. Aku dan Dira segera memeluk Kak Pipit, dan mengucapkan kata selamat tinggal. Begitu pun pada, Mas Aan.


"Sampai di Jerman, tukarlah kartu kalian. Simpan nomor Kakak ya, jika sudah sampai ke apartement segera chat, Kakak!" ingat Kak Pipit.


"Oh ya sampai di Jerman nanti akan ada sahabatnya Mas Aan yang akan membawa kalian ke apartement. Nanti kalian harus saling berdekatan, jangan jauh-jauh dari Dila ya, Dira!" Kata Mas Aan.


"Baik, Kak, Mas. Terima kasih sebelumnya. Kami pamit ya, Assalamualaikum semuanya..." ucapku dan Dira. Aku mengucapkan kata-kata itu, sambil menahan air mataku.


Kami segera menuju ke gerbang, dan melambaikan tangan ke arah Kak Pipit, dan Mas Aan. Air mataku seketika berjatuhan, tak kuat rasanya berpisah dari Kak Pipit. Kakak terbaikku, kini aku sudah tak lagi dekat dengannya.


Aku juga akan selalu menyimpan nama Qevin di dalam sini. Mudah-mudahan sampai di Jerman aku sudah melupakan Qevin dan hanya mengingat namanya saja.


Selamat tinggal masa lalu...


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, beri hadiah, dan berkomentar dengan penuh manfaatnya ya gaess...


__ADS_2