Success Is My Dream

Success Is My Dream
Sebenarnya Tidak Rela


__ADS_3

Tak terasa, setelah berdebat panjang dengan Kak Pipit, kini jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Aku sudah terlihat lebih segar sekarang, karena aku sudah mandi tentunya. Aku tak keberatan dengan keputusan sepihak yang ditegaskan oleh, Kak Pipit. Hanya saja, aku merasa tak enak pada Dira.


"Kalian sudah makan malam?" tanya Kak Pipit yang kebetulan baru keluar dari kamarnya. Dan berpapasan dengan kami berdua yang ingin ke meja makan.


"Belum, Kak. Ini aku dan Dira ingin makan, mari makan bersama, Kak!" ajakku. Apa Kak Pipit masih marah padaku soal tadi siang?


"Baiklah, ayo!" ajaknya dengan tersenyum sekilas.


Beberapa menit berlalu, kini kami sedang duduk-duduk santai di balkon kamar Kak Pipit. Dengan ditemani camilan berupa biskuit juga minuman hangat, aku, Kak Pipit, dan Dira sangat menikmati malam ini. Ditambah dengan udara malam yang sejuk dan menenangkan, sungguh aku menyukainya.


"Sudah berpikir dengan matang atas keputusanku, Dila, Dira?" tanya Kak Pipit disela-sela aku memakan biskuit itu.


"Insyaallah sudah, Kak. Kami siap!" sahutku dengan mantap.


"Baiklah, aku senang dengan penghargaan yang kalian berikan padaku. Terimakasih, Adik-adikku!" ucap Kak Pipit sambil memelukku dan Dira.


"Sama-sama, Kak. Kau adalah panutan kami sekarang, dan pastinya kau tau apa yang terbaik bagi kami. Kami sangat-sangat menghargai keputusanmu, Kak." jawabku.


"Ayo istirahat dulu! Ini sudah larut malam, dan besok kalian datangi boss kalian. Katakan padanya aku tak merestui kalian bekerja di perusahaannya, mengerti?" kata Kak Pipit.


"Bicarakan hal itu baik-baik padanya, Dila!" sambungnya lagi.


"Iya, Kak. Kami mengerti!" sahut aku dan Dira.


***


Pagi menyapa, burung-burung saling bersahutan dalam bernyanyi dipagi hari ini. Cahaya matahari yang indah, dapat menembus tirai yang ada dijendela kamarku. Aku terbangun, sejenak aku memgumpulkan nyawaku. Lalu, bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selang beberapa menit, aku keluar dari kamar mandi. Badan ini terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya, gegas aku langsung membangunkan Dira.


"Dira! Ayo bangun, kita harus temui Pak Qevin hari ini juga!" panggilku padanya.


Dengan berat, dia membuka matanya lalu tersenyum. Ada apa dengannya? Apa dia sudah gila?


"Kenapa denganmu, Dir?" tanyaku.


"Tidak! Aku tidak apa-apa. Kau tunggu disini, aku ingin mandi terlebih dahulu." jawabnya.


"Jangan lama-lama, Dir!" sahutku.


Tak lama kemudian, pintu kamarku diketuk oleh seseorang.


"Dila! Apa kau sudah bangun?" tanya seseorang itu, yang ternyata adalah Kak Pipit.


"Sudah, Kak! Apa kau ada keperluan?" sahutku seraya membuka pintu kamar.


"Tidak! Aku hanya ingin mengajak kalian untuk sarapan bersama." kata Kak Pipit.

__ADS_1


"Baik, Kak. Aku sedang menunggu Dira yang tengah mandi." ujarku.


"Baiklah, aku tunggu kalian berdua dimeja makan ya!" sahut Lalu Pipit sambil berlalu dari kamarku.


Aku kembali duduk di depan jendela kamarku, sambil memandang alam semesta yang ternyata, jika pagi terlalu indah untuk dipandang oleh manusia.


"Ayo, Dil! Aku sudah siap!" kata Dira yang tiba-tiba sudah ada di belakangku.


"Ayo!"


***


Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, dan aku juga Dira harus menemui Pak Qevin hari ini. Hari ini adalah hari sabtu dan mungkin, hari Rabu aku sudah berangkat ke Jerman.


"Kau sudah siap, Dila?" tanya Dira yang sedang becermin dikaca rias.


"Sudah, Dir. Hanya tinggal memanaskan motorku saja." jawabku


"Baiklah, ayo! Aku sudah siap." sahut Dira.


Diperjalanan menuju cafe, aku terus memikirkan bagaimana caranya membuka obrolan dengan Pak Qevin nanti.


"Dila! Apa kau siap bertemu dengan, Pak Qevin?" tanya Dira padaku.


"Aku harus bagaimana lagi, Dir? Siap tidak siap, mau tidak mau,aku harus bertemu dengan, Pak Qevin." sahutku dibelakangnya.


"Tenang saja, aku akan membantumu membuka obrolan." kata Dira.


***


Sebelumnya aku sudah memberitahukan ini pada Pak Qevin, bahwa aku akan datang ke cafe untuk membicarakan hal yang penting.


Flashback...


"Assalamualaikum, Pak Qevin!" kutekan send pada ponselku.


Tak berselang lama, balasannya menghuni ponselku.


"Waalaikumussalam, Dila! Apa ada keperluan denganku?" tanya beliau.


"Iya, Pak. Saya ingin bertemu dengan Bapak hari ini, apa bisa?" tanyaku.


"Insyaallah bisa, Dila! Pukul berapa?" tanyanya lagi.


"Sekitaran pukul 10 atau 9 pagi ya, Pak. Saya menemui Bapak dimana?" tanyaku.


"Di cafe saja, Dil. Saya sedang di cafe hari ini" jawabnya

__ADS_1


"Baiklah, Pak. Terimakasih!" ucapku.


"Sama-sama, Dila!" balasnya sambil menyandingkan emoji senyum.


***


Flashback Off...


Kami kini telah sampai di cafe, Lestari. Aku langsung mengajak Dira untuk masuk ke dalam, kami menaiki tangga dengan sangat hati-hati.


"Apa kau sudah siap, Dil?" tanya Dira disaat tengah menaiki tangga.


"Memangnya atas dasar apa aku tidak siap, Dir?" tanyaku balik. Aku rasa tak ada yang harus disayangkan disini, karena sudah tak memiliki perasaan apa pun pada, Pak Qevin.


"Tidak apa-apa, Dil!" sahut Dira.


Akhirnya kami sampai di ruangan Pak Qevin. Perlahan kuketuk pintu itu, dan mengucapkan kata 'Permisi'.


"Silahkan masuk!" sahut seseorang yang tak lain adalah Pak Qevin.


"Assalamualaikum, maaf mengganggu waktunya Pak!" ucapku.


"Tidak masalah, Dil. Langsung saja, apa yang ingin kamu bicarakan dengan saya?" tanya Pak Qevin masih bersikap formal.


"Saya dan Dira, mohon maaf sebesar-besarnya kepada Anda, Bapak Qevin. Saya menolak tawaran Anda kemarin!" kataku spontan.


Kulihat raut wajah Pak Qevin, berubah terkejut. Lantas beliau bertanya pada kami berdua.


"Apa ada permasalahan dengan kuliahmu, Dil?" tanyanya masih dengan raut wajah terkejut.


"Tidak ada yang bermasalah, Pak. Kakak kandung saya tidak merestuinya, sebab karena itu saya menolak tawaran Bapak!" sahutku.


"Tidak merestui? Bagaimana bisa? Ini hanyalah masalah pekerjaan, Dila!" kata Pak Qevin bingung.


"Maaf, Pak! Saya tidak bisa menentang keinginan kakak saya, beliau adalah panutan kami. Sekali lagi, kami berdua minta maaf pada, Bapak!" sahutku menangkupkan kedua tanganku di depan dada.


"Baiklah, aku mengerti, Dil. Tapi, tolong beritahu aku kenapa kau tak ingin bekerja disana? Apa kau ingin request kedudukanmu dan Dira? Katakan saja padaku, Dila!" raut wajah Pak Qevin susah ditebak.


"Bukan karena suatu kedudukan, Pak! Mohon maaf, kami resign dari sini, dan besok akan saya antarkan suratnya!" ucapku, ada sesuatu yang sesak di dada ini. Ada apa dengan dadaku? Akankah rasa itu masih tersimpan, disini?


"Permisi, assalamualaikum!" ucapku sambil menarik Dira.


Wajah Pak Qevin, terlihat sedih dan murung. Dia seakan seperti orang yang sedang kehilangan arah dan tujuan.


Samar kudengar, suara sahutannya menyahut salamku.


"Waalaikumussalam!" sahutnya bergumam pelan.

__ADS_1


Maafkan aku, Qevin. Mungkin besok adalah hari perpisahan kita, dan kau akan selalu ada dihatiku. Ingatlah itu, Qevinku!


Bersambung...


__ADS_2