Success Is My Dream

Success Is My Dream
Si Mulut Ember


__ADS_3

Untuk beberapa saat aku terdiam, bagaimana caranya aku memulai pembicaraan ini? Aku tak tau apa yang terjadi pada Kak Pipit, setelah aku menceritakan ini.


"Dila? Kenapa kau mendadak diam? Kau mau mengatakan apa?" tanya Kak Pipit beruntun padaku.


Aku menarik nafas panjang, lalu menghembusnya pelan. Dira mengelus pundakku lembut, pertanda bahwa dia sedang menguatkanku.


"Kak, a-aku kemari ingin menyampaikan bahwa ibu tiri dan Ayah sudah tiada!" akhirnya aku bisa mengatakan ini pada Kak Pipit.


Raut wajah Kak Pipit berubah dengan cepat, awalnya wajahnya terlihat bingung. Aku tak tau itu perasaan senang atau sedih, yang jelas wajahnya terlihat berbeda dari sebelumnya.


Setitik air dipelupuk matanya lolos begitu saja. Apa Kak Pipit sedih? Astagfirullah, bagaimana bisa aku berpikiran seperti itu.


"K-kau bercanda, Dila?" tanyanya dengan nada tak percaya.


"Tidak, Kak. Seminggu sudah kepergian keduanya, aku bahkan belum sempat meminta maaf pada Ayah!" ucapku terisak.


Kak Pipit berdiri menghampiriku, lalu ia memelukku erat. Rasanya sangatlah hangat dipeluk oleh seorang Kakak, apalagi seorang Kakak yang benar-benar menyayangi kita. Aku sangat nyaman dengan pelukkan Kak Pipit.


"Kakak benar-benar tidak mengetahui kabar ini, Dila. Lalu, kenapa kau tak memberitahukan pada Kakak lewat WA, Dil?" tanyanya padaku sambil melepaskan pelukkan erat yang sangat hangat itu.


"Kesibukanku dalam jadwal kuliah mau pun kerja sangatlah padat, Kak. Hingga aku lupa untuk mengabarimu tentang ini, maaf Kak!" ucapku pada Kak Pipit.


"Baiklah, Dila. Tidak masalah, tapi lain kali kau harus mengabari tentang segala hal. Aku tak mau hal seperti ini terulang kembali, kau mengerti, Dil?" sahutnya.


"Iya, Kak. Dila mengerti!" jawabku patuh pada Kak Pipit.


Panggilan Dila, kerap sekali disematkan padaku. Dila adalah nama kesayangan dari Ayah, Ibu, dan Kak Pipit untukku. Dan nama asli Kak Pipit itu bukan lah Pipit, melainkan Fitria. Itu juga nama kesayangan kami, yang kami sematkan padanya.


"Kau akan menginap disini kan, Dila? Kau juga kan Dira?" tanya Kak Pipit pada kami berdua.


"Tapi kami tak membawa pakaian ganti, Kak. Apa sebaiknya kami pulang dulu untuk mengambil pakaian ganti?" kataku.


"Tidak, tidak perlu, Dila. Kalian berdua bisa memakai bajuku yang sudah agak kekecilan ditubuhku." usul Kak Pipit.


Kami berdua tersenyum melihat, Kak Pipit. Dialah Kakak terbaikku, bahkan sangat baik. A-aku, bahkan tak bisa berkata apa-apa lagi. Sungguh, dialah Kakak terbaik didunia ini. Terima kasih ya Allah, kau telah memberikan sosok Kakak yang sangat menyayangiku dengan sepenuh hatinya.

__ADS_1


"Baiklah, ini sudah pukul setengah 1 siang. Mari kita makan siang terlebih dahulu, Dila, Dira." ajak Kak Pipit pada kami berdua.


"Oh iya, Kak. Apa kau tak ingin berkunjung ke makam Ayah dan Ibu tiri?" tanyaku padanya.


Tampak, Kak Pipit sedang berpikir.


"Tentu saja, Dila. Aku akan pergi bersama kalian besok pukul 3 sore, oke?" jawab Kak Pipit.


Aku tersenyum lega pada, Kak Pipit. Kukira ia takkan mau berkunjung ke makam Ayah, tapi ternyata ia sangat berminat untuk ke sana.


"Baiklah, Kak. Dengan senang hati kami berdua akan menemanimu ke sana besok." jawab Dira tiba-tiba saja.


Kami bertiga tersenyum bersama. Beginilah, arti kebahagian sesungguhnya. Dekat dengan orang yang menyayangi kita, ternyata sangatlah nyaman dan kita juga bisa merasakan bahagia.


"Oke, oke. Ayo kita makan siang dulu, lalu kalian berdua silahkan istirahat di kamar kamu nanti ya, Dila." kata Kak Pipit.


Aku dan Dira, hanya menganggukkan kepala secara bersamaan. Arti dari kami menyetujui permintaan dari Kak Pipit.


***


Sekarang aku dan Dira sudah berada di kamarku, yang ukurannya lumayan besar. Rumahnya Kak Pipit hanya memiliki 3 kamar saja, 1 untuknya, 1 untukku, dan satu lagi untuk ART disini. Lihatlah, bahkan Kak Pipit membangunkanku sebuah kamar disini. Sungguh, aku merasa tersanjung.


Segera aku beranjak dari ranjang dan menuju kekamar mandi. Hari sudah sore dan aku harus ke cafe terlebih dahulu, karena tadi Pak Qevin menge-chatku lewat aplikasi hijau bergambarkan telepon.


Flashback...


Aku sudah siap makan siang, dan tiba-tiba saja dering pesan terdengar di ponselku. Gegas ku melihat siapa yang menge-chat disiang bolong seperti ini.


Tidak ada nama? Apa ini nomor asing yang baru saja mendapatkan nomor ponselku? Isi pesan.


"Assalamualaikum, Dilara!" ucap si pemilik nomor tersebut.


Aku pun membalas ucapan salamnya tadi.


"Ya, waalaikumussalam! Dengan siapa ya?" kutekan send pada ponselku.

__ADS_1


Tak berselang lama, dering di ponselku kembali terdengar.


"Ini saya Qevin, Dil." balas orang tersebut.


Astaga! Pak Qevin? Bagaimana bisa ia mendapatkan nomor ponselku? Dia seperti mengetahui segalanya tentangku, apa dia mempunyai mata-mata disini?


"Eh iya, Pak Qevin. Maaf saya tidak tau kalau itu, Bapak!" ucapku dengan menyandingkan pesan tersebut dengan emoji tangan menangkup.


"Tidak apa-apa, Dilara. Saya dapat nomor ponselmu dari, Aldi. Maaf kalau saya lancang!" balas Pak Qevin.


"Iya, Pak. Tidak apa-apa, selagi itu menyangkut masalah pekerjaan maka simpan saja nomor ponsel saya!" kutekan send, dan terkirim.


"Baiklah, Dila. Terimakasih!" dia menyandingkan emoji senyuman dipesannya.


"Oh iya, Dila. Apa kau bisa ke cafe hari ini? Aku tau kau sedang ambil izin cuti 3 hari, tapi ada hal penting yang harus kubicarakan padamu." dering pesan ponselku kembali berbunyi.


"Baik, Pak. Pukul berapa?" jawabku singkat.


"Kalau bisa, pukul 4 sore ya." balas Pak Qevin yang pesannya, hanya kuread saja.


Flashback Off...


Aku sudah siap, begitu pun dengan Dira. Ya, kami pergi berdua. Sebelumnya aku sudah mengatakan hal ini pada Dira dan dia minta untuk ikut bersamaku. Mau tak mau, aku menyetujuinya.


"Kalian berdua sudah rapi dan wangi seperti ini, mau kemana?" tanya Kak Pipit yang tiba-tiba membuka pintu kamarku.


"Kami ada acara undangan ke cafe sebentar, Kak. Pukul 6 kami segera pulang." jawabku.


"Apakah sepenting itu, Dila? Padahal, aku ingin mengajak kalian berdua jalan-jalan hari ini." sahut Kak Pipit.


"Masih ada besok, Kak. Lagi pula yang memanggil kami ke cafe itu pemiliki cafe tersebut. Orangnya ganteng tajir pula, namanya Pak Qevin. Iya kan, Dil?" sahut Dira menyenggol bahuku. C'k, apa dia sedang menggodaku?


Terlihat Kak Pipit seperti terkejut.


"Wahh, apa kalian berdua saling menyukai?" tanya Kak Pipit.

__ADS_1


Astaga, bagaimana ini?


Bersambung...


__ADS_2