Success Is My Dream

Success Is My Dream
Berencana Pulang Ke Indonesia


__ADS_3

27 april 2020, itu artinya 5 hari lagi sudah mulai berpuasa di Indonesia. Alhamdulillah sekali kami bertiga bisa pulang ke Indonesia, rencananya aku Dira dan Meyra akan berangkat pulang ke Indonesia 2 hari lagi atau bisa jadi besok. Kami sudah izin 2 bulan cuti ke Pak Albi, karena beliau boss kami.


Sebelumnya...


'Tok...Tok...Tok...'


"Masuk!" sahut seseorang dari dalam ruangan. Aku, Dira, dan Meyra segera masuk ke dalam ruangan tersebut.


Dan disinilah kami, kami sedang berada di ruangan Pak Albi.


"Oh hay! Kalian rupanya, mari silahkan duduk," ucap Pak Albi antusias.


Kami hanya mengangguk sambil tersenyum canggung, sedangkan Meyra hanya memasang wajah biasa saja.


"Ada apa? Tumben ke ruangan saya," sahut Pak Albi membuka obrolan.


Aku menarik nafas sejenak, lalu memulai obrolanku.


"Begini, Pak. Saya, Meyra dan juga Dira berencana akan pulang ke kampung halaman kami, yang berada di Indonesia. Em, apa boleh kami mengambil cuti sampai bulan Ramadhan dan Hari raya idul fitri selesai? Eum, kira-kira sekitar 2 bulanan, Pak!" ujarku panjang lebar pada Pak Albi.


Pak Albi tampak berpikir, aku dapat melihat jika wajah Pak Albi sedikit murung, jauh berbeda ketika aku belum mengatakan niat kami.


Kami menunggu sekitar 5 menit untuk memberi waktu Pak Albi berpikir. Tak lama kemudian beliau membuka obrolan kembali...


"Baik, saya izinkan!" sahutnya kemudian sambil menatap ke arah, Meyra.


"Alhamdulillah syukurlah! Terima kasih, Pak!" ucapku sambil tersenyum senang, begitu pun dengan Meyra dan Dira.


"Eum, Pak! Apa Direktur mengizinkan kami untuk cuti?" tanya Dira ragu.


"Jangan pikirkan itu, saya yang akan mengurusnya!" sahut Pak Albi.


"Ohh, oke. Baiklah," sahut Dira.


Aku pun bertanya lagi pada, Pak Albi.


"Apa Bapak tidak ada niat untuk pulang ke Indonesia? Bukankah kampung Bapak di Indonesia juga?" tanyaku penasaran.


Beliau kembali menatap ke arahku.


"Pulang! Saya akan pulang ketika 5 hari lagi akan Hari raya idul fitri," sahut Pak Albi.


Kukira, Pak Albi akan pulang sebelum bulan Ramadhan. Selesai berbicara, kami pun pamit kembali ke ruangan masing-masing.


***


Jam istirahat pun datang, aku Meyra dan juga Dira berjalan bersama ke arah kantin. Sampai di kantin, kami langsung memesan makanan yang kami inginkan. Selesai dengan urusan memesan makanan, aku kembali duduk di meja.


Tak lama, dering pesan pada ponselku berbunyi nyaring. Aku merogoh ponselku di saku celana, lalu melihatnya.

__ADS_1


Isi pesan..


"Dila, boleh saya minta nomor ponsel, Meyra?" ternyata Pak Albi, dia meminta nomor ponsel Meyra? Untuk apa?


Aku pun membalasnya, semoga saja dengan memberikan nomor ponsel Meyra, hubungan mereka bisa semakin dekat.


"Boleh, Pak. +967xxx78, itu nomor ponselnya, Pak!" balasku.


Detik berikut, ponselku kembali berbunyi. Kali ini dua pesan masuk,


"Assalamualaikum, Dilara! Dek, kamu ada rencana pulang ke Indonesia tidak tahun ini??" dan ternyata ini pesan dari kakakku tersayang, Kak Pipit.


Dengan semangat aku membalas pesan dari, Kak Pipit.


"InsyaAllah, Kak. Tahun ini Dila pulang, dan sudah dapat izin juga dari boss, Dila!" balasku sambil menyematkan emot senang.


Ponselku berbunyi,


"Syukurlah, kapan kamu pulang?" tanya Kak Pipit.


"Do'akan saja, Kak. Mudah-mudahan bisa pulang dalam 2 hari lagi," kataku.


"Oke baiklah, sehat-sehat ya disanaa!! Assalamualaikum," ucap Kak Pipit. Aku tak membalasnya lagi, aku melihat pesan lainnya yang masuk ke ponselku.


Pesan dari Pak Albi :


"Terima kasih, Dilara! Oh ya, kalian berencana akan pulang ke Indonesia kapan? Apa dalam waktu dekat ini?" tanya Pak Albi.


"Oke, baiklah. Apa Meyra sedang bersamamu?" tanya Pak Albi.


"Iya, Pak. Dia sedang bersamaku dan Dira!" balasku.


Dan percakapan kami lewat pesan pun berakhir, aku terkejut ketika melihat kedua sahabatku.


"A-ada apa? Kenapa menatapku seperti itu, apa ada yang salah denganku?" tanyaku gemetaran.


"Hem, sepertinya kau tak membutuhkan makananmu yang sudah melempem ini. Baiklah, aku yang makan!" sahut Meyra kesal.


"Hey, apa yang kau lakukan Meyra? Itu punyaku, enak saja!" sambarku sambil menarik kembali makanan yang ada di depannya.


"Makanya, kalo lagi makan siang itu jangan main ponsel terus. Lagi chat siapa sih, kayanya seru ya?" cerocos, Dira.


"Tadi Kak Pipit, chat aku. Dia tanya, kapan aku pulang, aku jawab 2 hari lagi!" sahutku sambil memakan makananku yang sudah agak dingin itu.


Mereka berdua hanya ber-oh ria, aku pun tak menghiraukannya.


***


Akhirnya, selesai juga semua pekerjaanku ini. Sekarang sudah jam pulang, dan Meyra juga Dira sudah sedari tadi menungguku di depan pintu ruangan. Mereka berdua sudah menungguku selama 15 menit, dengan wajah masam mereka memanggilku.

__ADS_1


"Dila! Kau ingin aku patah kaki menunggumu disini hah?" cecar Meyra kesal.


"Iya nih, Dila! Jika terus-terusan begini, bisa-bisa kita tidak jadi pulang ke Indonesia." sahut Dira kemudian.


Hahah, aku pun tertawa terbahak-bahak.


"Oke oke, baiklah. Ayo pulang, aku sudah selesai. Lagian, ini hari terakhir kita masuk kerja, Mey, Dir. Aku tak ingin, jika aku sudah kembali masuk, aku sudah dihadapkan dengan tugas-tugas kantor yang menggunung ini!" sahutku menggerutu kesal.


"Ya ya baiklah, ayo cepat. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku sering kelaparan jika sudah pulang kerja," oceh Meyra.


"Kita makan ditempat yang kemarin yuk, Dil, Dir?" ajak Meyra antusias.


"Eum, boleh deh. Ayo!" ajakku dan Dira serentak.


Entah kenapa, aku merasa sangat senang jika sahabatku mengajakku ke sana lagi. Rasa apa ini? Deg-deg an,


Kami pun berjalan santai saat itu, karena jam baru menunjukkan pukul 15:50. Hari ini cepat pulang, entah kenapa aku pun tidak tau.


Butuh waktu 20 menit untuk sampai ke pedagang kaki lima yang kemarin, soalnya kami berjalan kaki bukan dengan motor atau taxi.


Sesampainya disana, kami pun langsung memesan makanannya. Kali ini, ada corndog kesukaan Meyra, dan langsung saja Meyra memesan 2 untuk dirinya sendiri. Sementara aku dan Dira hanya memesan roti panggang sosis.


Aku pun pergi mencari tempat duduk yang nyaman, dan lagi-lagi aku menjumpai tempat duduk tepat di bawah pohon rindang yang kemarin, entahlah ini sebuah kebetulan, atau pun disengaja.


Tiba-tiba aku teringat pada pria misterius kemarin, dan langsung saja aku mengedarkan pandanganku ke arah tempat duduk yang tak jauh dariku. Sayangnya, dia tak ada disana. Aku tak menyerah, kembali aku mengedarkan pandanganku ke sembarang arah,


Dan, dapat! Itu dia, pria itu sedang duduk dibawah pohon rindang yang sama rindangnya dengan pohonku. Dia duduk di sebuah kursi di taman ini, taman ini sangatlah luas. Lumayan jauh duduknya, sampai aku harus menyipitkan kedua mataku untuk melihatnya.


Lagi-lagi dia duduk sendirian dibawah pohon yang rindang itu, pohon itu tepat dipinggir jalan sama dengan tempat yang aku duduki. Dia duduk dengan menggunakan kacamata hitamnya, dan sebuah Handphone keluaran terbaru ditangan putihnya itu. Oh ya, kenapa dia tidak memakai masker ya? Ah, entahlah. Yang terpenting, aku sangat menikmati pemandangan ini.


Pria itu mengenakan kemeja hitam yang lengan bajunya ditarik hingga sebatas siku, dan celana kantoran berwarna abu-abu gelap. Astaga! Sangat-sangat tampan sekali ya Allah, makhluk seperti apa yang kau ciptakan ini?!


Dan dan dan, jangan lupakan headseat bluetooth yang terpasang di kedua daun telinganya itu. Sangat menambah kadar ketampanannya.


Tanpa sadar, aku memandangnya dengan tersenyum manis. Untunglah, tak ada yang melihat.


***


Entahlah berapa lama aku sibuk menatap pria ciptaan tuhan yang sangat tampan itu, hingga kedua sahabatku berteriak tepat dikedua telingaku.


"DILA!!" teriak mereka berdua, bersamaan pula satu dikiri dan satu dikanan.


"Astagfirullah!!" saking terkejutnya, aku sampai mengangkat tanganku ke udara hingga beberapa menit aku melambungkannya.


Hahaha, dan terdengarlah suara dua kuntilanak Indonesia ini tertawa dengan terbahak-bahaknya.


***


Bersambung...

__ADS_1


*Jangan lupa untuk selalu mendukung Author melalui Like, Favorite, Vote, Beri Hadiah, dan Komen ya gaes...


Happy Reading All*...


__ADS_2