Success Is My Dream

Success Is My Dream
Kedatangan Tamu Yang Tak Diundang


__ADS_3

Demi apa, aku sangat terkejut dengan sifat jahil kedua sahabat bar-barku ini. Dan dengan rasa kik-kuk, aku menurunkan tanganku cepat. Lalu menatap tajam ke arah mereka berdua, dan menetralkan rasa malu ini.


"Mengganggu saja! Mana makananku?" ucapku kesal.


"Ini, makanlah tanpa melamun dan tersenyum seperti orang gila!" sahut Dira sambil memberikan makanan di tanganku.


C'k, aku hanya berdecak kesal ke arah mereka. Lagi dan lagi, mataku menatap ke arah pria itu, dan anehnya dia sudah tak ada di kursi itu, kemana dia?


"Haiss, Dila, Dila. Baru saja ku bilang, kau melihat apa dih hah?" kesal Dira padaku.


"Bukan apa-apa!" jawabku dan melanjutkan makanku.


Kini jam sudah menunjukkan pukul 17:35, hari pun sudah mulai gelap. Kami bertiga pun beranjak pergi dari kursi taman itu, dan berjalan ke arah barat. Kami berjalan dengan santai.


***


20 menit kemudian, akhirnya kami sampai dirumah. Kami segera masuk ke dalam, setelah membuka pintu. Aku berjalan ke arah kamar, lalu menaruh semua barang-barangku, gegas aku mengambil handuk dan mandi.


Sore-sore begini, paling segar kalau kena air dingin. Alhasil aku mandi dengan air dingin, untuk menetralkan gerahnya tubuhku ini. Tak memakan waktu lama, sekitar 15 menit aku mandi.


Aku kembali ke kamar, dan dikamar terdapat kedua sahabatku yang sedang duduk sambil bermain ponselnya masing-masing. Aku pun membuka pembicaraan.


"Kalian tidak mandi?" tanyaku sambil mengeringkan rambutku dengan hairdyer. Mereka pun menatap ke arahku,


"Mandi kok, aku dulu ya, Mey?" sahut, Dira sambil berdiri lalu menyambar handuknya.


"Hemm, jangan lama-lama ya, Bunn!" kata, Meyra.


Setelah semua selesai dengan kegiatan mandi dan juga shalat maghrib, aku serta sahabatku beranjak dari kamar dan berjalan menuju dapur.


Kami sedang berdiskusi, berdiskusi untuk makan malam hari ini.


"Mey, Dir! Kita masak apa malam ini?" tanyaku pada mereka berdua.


Mereka tampak berpikir,


"Bagaimana jika kita masak ayam lada hitam, dan sayur capcai saja?" usul, Meyra.


"Boleh, tuh!" sahutku bersamaan dengan, Dira.


Kami pun bergerak cepat, memasak makan malam yang spesial. Tiba-tiba, bell rumah berbunyi, dan kami semua saling pandang.


Tak biasanya ada orang yang bertamu malam-malam begini, paling tidak siang dan itu pun teman hanya kantor kami.


Gegas aku langsung membukakan pintu, aku berjalan ke arah pintu depan.


Dan saat kubuka, ternyata yang datang adalah temannya, Mas Aan. Siapa lagi temannya Mas Aan jika bukan, Zain?


"Hay, Dil!" sapanya.


Tumben datang dia, mau ngapain ke sini ya? Oh, astagfirullah aku lupa bahwa ini adalah rumahnya. C'k, ya ampun kenapa aku lupaa??


Aku hanya menatap biasa ke arahnya, lalu menangkup tanganku dan mengucapkan,


"Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatu. Silahkan masuk, Mas!" sahutku. Dia pun hanya tersenyum tidak nyaman.


"Terima kasih, Dil." ucapnya sambil tersenyum.


Dia pun berjalan mengekoriku dari belakang, aku mempersilahkan kan dia untuk duduk.

__ADS_1


"Sebentar, saya buatkan teh hangat!" kataku sambil tersenyum tipis. Dia hanya menganggukkan kepalanya,


Belum sempat aku kembali ke dapur, tiba-tiba Dira datang menghampiriku.


"Dilaa! Siapa yang bertamu malam-malam se---" kata-kata Dira terputus, ketika dia melihat seseorang yang duduk dikursi tunggal ruang tamu.


Kulihat, mereka berdua hanya saling tatap-tatapan saja. Aku pun menyadari, Dira.


"Aku ke belakang dulu, kau duduklah disini menemaninya!" kataku sambil melangkah pergi.


"Tidak, Dila. Kau saja yang disini, aku yang ke belakang," sahut Dira. Aku pun hanya mengangguk saja.


Aku duduk berseberangan dengan, Zain. Dia menatapku, tapi aku tidak membalas tatapannya.


"Maaf, ada apa ya Mas Zain datang malam-malam begini? Apa ada urusan mendadak?" tanyaku tak enak padanya.


Zain Reyhand, pria tampan yang juga berasal dari Indonesia. Hanya berbeda daerah saja, dia di Jakarta, dan kami di Aceh.


"Tidak ada urusan yang mendadak, Dil. Aku hanya ingin bertanya, apa kalian akan pulang ke Indonesia 2 hari lagi?" tanya Zain. Aku menatap ke arahnya, tau dari mana dia bahwa kami akan pulang ke Indonesia? Apa Kak Pipit yang memberitahu?


"Iya, benar. 2 hari lagi," sahutku seadanya.


Tak lama datang Meyra dari arah dapur sambil membawakan 2 cangkir teh hangat. Lah, tadi kan katanya Dira yang membuat, sekarang kok malah Meyra yang mengantar?


"Mey, Dira mana?" tanyaku pada, Meyra.


Meyra meletakkan kedua cangkir tersebut di atas meja.


"Dira di belakang, Dil. Mau kupanggilkan?" tanya Meyra.


"Tidak usah!" jawabku.


"Apa Mas gak pulang ke Indonesia?" tanyaku memecahkan keheningan.


"Belum tau, pekerjaanku disini sangatlah padat, Dil. Oh ya, apa kau dan Dira serta temanmu yang satu tadi satu rekan dalam bekerja?" tanya, Mas Zain.


Aku mengangguk,


"Iya, kami satu rekan dalam bekerja. Kami bekerja di perusahaan Brata Group." jawabku.


Tampak dari raut wajahnya, dia seperti terkejut saat aku mengatakan dimana kami bekerja.


"Kau serius, Dila?" tanyanya.


"Iya, apa raut wajahku tidak serius?" tanyaku dingin.


"Oh, em baiklah. Dila, bolehkah aku mengatakan sesuatu?" ucapnya.


Aku mengangguk


"Silahkan!" sahutku.


"Bolehkah aku meminta nomor ponselmu, dan juga, Dira?" tanya, Mas Zain.


Aku pun beranjak dari duduk dan berjalan ke arah kamar, lalu mengambil ponselku.


"Ini nomor ponsel, Dira!" kataku sambil meletakkan ponselku di depannya.


Dengan segera dia merogoh sakunya, untuk mengambil ponselnya. Setelah itu dia mengetik sesuatu disana, lalu aku mengambil sebentar ponselku dan mengetik nomor ponselku.

__ADS_1


"Dan ini, nomor ponselku!" sahutku lagi. Dia hanya mengangguk dan kembali mengetik sesuatu disana,


"Baiklah, terima kasih!" ucapnya.


Aku menyuruhnya untuk minum terlebih dahulu sebelum pergi, dia menyesap teh itu dengan nikmat.


Selesai meminum teh hangat itu sampai habis, dia kembali berkata.


"Berapa nomor rekeningmu, Dila?" tanya, Mas Zain. Aku menatap penasaran ke arahnya, kenapa dia meminta nomor rekeningku?


"Untuk apa, Mas?" tanyaku.


"Jika boleh, kirim ke nomorku!" katanya, dan langsung bangun dari duduknya.


"Terima kasih sekali lagi, Dila. Aku pamit, Assalamualaikum!" pamitnya.


Aku pun ikut berdiri, dan mengantarnya sampai ke depan pintu. Setelah dia benar-benar pergi, aku pun menutup pintu.


Aku berjalan ke arah dapur, dan sampai di sana aku melihat kedua sahabatku masih sibuk memasak. Aku berjalan menghampiri keduanya.


"Sangat wangi, apa belum siap, Mey, Dir?" tanyaku sambil menghirup dalam-dalam wangi harus masakan mereka.


Mereka terkekeh pelan, lalu berkata,


"Sabar, Dil. Hampir masak kok, kau duduk dulu di kursi!" sahut, Dira.


"Hemm, oke oke baiklah!" sahutku lalu duduk di kursi ruang makan.


Dira kembali mengajakku berbicara,


"Mau apa dia datang, Dil?" tanya Dira padaku.


"Hanya bertanya, kapan kita pulang ke Indo! Sekalian, tadi dia meminta nomor ponselmu, Dir," sahutku.


Dira mendengus kesal, lalu menghadap ke arahku.


"Mau apa lagi tu anak, pake acara minta-minta nomor ponselku segala? Dan kau, kenapa kau kasih?" tanyanya dengan sebal.


"Aku tidak tau dia untuk apa meminta nomor ponselmu, aku kasih karena mungkin nanti dia memerlukan nomormu," sahutku seadanya sambil memakan buah yang ada dimeja.


"Hahhh, baiklah-baiklah!" akhirnya Dira melanjutkan masakannya.


***


Setelah menunggu hingga 10 menit, makanan pun siap terhidang di meja makan. Kami semua duduk di meja dan mengambil masing-masing piring untuk diri sendiri.


"Eummm, sangat-sangat lezat, Dir, Mey!" kataku sambil terus mengunyah makanan yang ada di hadapanku.


Mereka terkekeh menatap ke arahku, lalu berkata.


"Makanlah sepuas hatimu, Dil!" sahut, Meyra dengan senyuman manisnya.


Kami pun melanjutkan makan malam bahagia itu dengan santai dan tenang.


***


Bersambung...


*Jangan lupa untuk selalu mendukung Author melalui Like, Vote, Favorite, Beri Hadiah, dan Komen ya gaess...

__ADS_1


Happy Reading All*...


__ADS_2