Success Is My Dream

Success Is My Dream
Menghilangnya Meyra


__ADS_3

Tak membutuhkan waktu lama, sekitar 15 menit kami sudah sampai di kantor. Kami turun diselingi Pak Albi yang juga ikut turun, beliau terlihat sedang membukakan pintu yang di dalamnya ada, Meyra. What! Apa beliau sudah mulai menyukai, Meyra?


Aku menggeleng pelan kepalaku, ahh mana mungkin seorang Manager tingkat atas menyukai bawahan rendah seperti kami-kami ini, mustahil sih itu.


"Loh, Bapak ngapain bukain pintu saya? Saya bisa sendiri kok, Pak. Maaf ngerepotinn, hehe.." nyengir, Meyra.


Pak Albi hanya tersenyum kik-kuk, sepertinya sudah mati kutu.


"Kamu ini, Mey! Ngucapin terima kasih gitu, jangan nyengir kayak kuda nil," oceh Dira dengan suara krempeng khasnya.


"Hah? O-ohohh, hahah iya iya iya, ma-maaf Pak! Saya kelupaan bilang terima kasih, heheh. Terima kasih Bapak Albi Ardiansyah yang paling tampan dan baik yang pernah kutemukan di duniaa inii... Ummaacch" ucapnya panjang lebar, sambil kissbay. Astaga, memalukan sekali, sungguhh..


Pak Albi tertawa hingga memegangi perut sixpecnya, ish gimana sih tulisan sixpec itu???? Duhh, Authornya bingung..


"Sama-sama, Meyra terimutt sejagat kota Berlin.. " sambut Pak Abi sambil tersenyum devil.


"Sudah-sudah, ayo masuk!" setelah sadar akan tertawa yang terbahak-bahak itu, akhirnya Pak Albi menyuruh kami untuk masuk ke dalam ruangan.


"Baik, Pak. Maaf telah membuat kacau hari, Bapak!" ucapku meminta maaf mengatas namakan, Meyra.


"Hahhhhh, tidak masalah. Sungguh ini membuat saya terhibur," kata Pak Albi sembari menarik nafas dalam.


Aku menoleh ke arah, Meyra. Seketika wajah cerianya hilang begitu saja, bak ditelan kota Berlin. Ada apa dengannya? Apa dia tersinggung dengan ucapan, Pak Albi?


Aku mengkode Dira, agar segera mengajak Meyra masuk. Sementara Pak Albi, beliau sudah sedari tadi pergi meninggalkan parkiran.


"Ayo, Meyra!" ajak Dira.


Dia tak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya saja. Sungguh, aku benar-benar tak tau apa yang terjadi padanya.


***


Jam istirahat telah datang, aku dan Dira bingung. Kenapa dengan Meyra? Biasanya jika jam istirahat telah tiba di meja ku begitu pun Dira, tak pernah sekali pun ia terlambat barang 1 detik. Tapi sekarang, kenapa hanya ada Dira saja, dimana Meyra?


Kami menunggu Meyra hampir 15 menit, sementara jam istirahat hanya akan ada 30 menit.


"Dil, Meyra kemana ya? Kok gak jalan ke meja kamu?" tanya Dira terlihat bingung.


"He'em, dimana ya Meyra? Tak biasanya ia seperti ini," sahutku menjawab pertanyaan Dira.


"Eum, coba kita susul ke mejanya aja kali ya? Khawatir aku, jika nanti terjadi yang tidak diinginkan bagaimana, Dil?" kata Dira dan langsung berdiri dari duduknya.


"Iya juga ya, baiklah ayo!" ajakku balik.


Kini, sampailah aku dan Dira di ruangan kerja, Meyra. Aku dan Dira hanya terbengong melihat ruangan kerja ini, kenapa kosong dan tak ada orang sama sekali? Lalu, dimana Meyra sahabat kami?

__ADS_1


"Di-dimana Meyra, Dila?" tanya Dira syock.


Sementara aku hanya diam menatap ruangan sunyi ini, lalu berbalik menghadap, Dira.


"Kalo dia tak ada disini, dimana kini Meyra berada ya, Dir?" tanyaku pelan.


"Hem, apa mungkin dia ke WC,?" jawab, Dira.


"Ayo, coba saja kita cari. Siapa tau dia ada disana!" usulku pada Dira.


"Baiklah!"


***


Dan, akhirnya jam istirahat kami usai akibat mencari, Meyra. Bahkan aku dan Dira belum sempat meneguk segelas air putih, apa lagi makan siang. Sungguh, kami sedang gundah akibat menghilangnya, Meyra.


"Dilaa, bagaimana ini?" tanya Dira, terlihat sudah pasrah.


"Jangan khawatir dulu, Dir. Siapa tau dia ada dirumah, itu akan lebih baik." kataku menenangkan Dira.


"Iya, baiklah. Ayo masuk ke ruangan!" ajak Dira.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 17:03, jam kerja kini telah selesai. Aku dan Dira masih dalam keadaan yang sama, yaitu gundah akibat menghilangnya sahabat kami, Meyra. Hampir saja aku dan Dira menangi, tapi kutahan dengan kuat.


"Kita pulang saja dulu, Dil. Seperti yang kau bilang, mungkin dia ada dirumah!" sahut Dira menenangkanku.


"Baiklah, ayo pulang!"


Kami pulang menggunakan taxi, tujuannya agar cepat sampai dan memcari Meyra dirumah.


Beberapa menit kemudian, sampailah kami dirumah sederhana nan anggun ini.


"Ini ongkosnya, dan terima kasih, Pak!" ucapku menggunakan bahasa inggris.


"Yes," sahut Bapak supir tadi.


Aku dan Dira buru-buru turun dari mobil dan langsung masuk kerumah tanpa mengucapkan salam. Astagfirullah, lupa.


"Dira, ucapkan salam dulu!" kataku.


"Ohoh, iyaa ya lupa aku, Dil. Assalamualaikum!" ucap Dira mengeraskan suaranya.


Tak ada yang menjawab, apa mungkin Meyra tak ada dirumah?

__ADS_1


Kami masuk lalu mencari Meyra di semua kamar, alhasil tak ada siapa pun di rumah ini.


"Hahhhhhh, bagaimana ini, Dilara?" suara putus asa Dira terdengar sangat menyedihkan.


Sudah 8 jam kami tak berkomunikasi atau bahkan berjumpa dengan, Meyra. Terakhir kami berjumpa di pagi hari, saat ada Pak Albi. Ah iya, Pak Albi. Apa mungkin mereka bersama?


"Dir, coba kau telfon terus ke nomor ponsel, Meyra!" tegasku.


"Baiklah," sahutnya.


Aku kembali berfikir, apa mungkin mereka benar-benar sedang bersama sekarang? Apa aku harus menelfon Pak Albi untuk menanyakan keberadaan, Meyra?


Tak ada cara lain, feelingku terasa ke arah, Pak Albi. Coba saja kutelfon kali ya,?


Aku merogoh tas selempangku, dan mengambil ponsel sederhanaku. Ku scroll ponselku untuk mencari nomor ponsel Pak Albi. Akhirnya, setelah menscroll 5 menit, aku menemukan nomor ponselnya. Lantas aku menekan tombol menelfon.


Setelah menunggu, akhirnya telfon pun di jawab oleh, Pak Albi.


"Iya, halo Assalamualaikum!" sapanya dari arah sana.


"Waalaikumussalam, Pak!" jawabku.


"Oh, Dila. Ada apa,?" tanya Pak Albi.


"Pak, apa Meyra bersama denganmu sekarang?" tanyaku balik.


"Meyra? Denganku? Tidak, dia tidak bersamaku. Aku sedang berada di luar kota saat ini. Memangnya, ada apa dengan gadis imut itu?" tanya Pak Albi.


"Meyra hi---" belum sempat aku mengatakan, terlihat Dira menyuruhku agar diam.


"Maksudmu, Dila? Hi apa?" tanya Pak Albi berubah mengintrogasi.


"Ti-tidak, Pak. Baiklah kalo begitu, saya matikan ya telfonnya, Assalamualaikum!" ucapku.


"Tunggu, Dila! Ada apa dengan Meyra? Apa dia menghilang, atau tersesat?" tanya Pak Albi dingin.


Aku terdiam, dan sekarang aku harus mengatakan apa? Jika sudah seperti ini, mau mengkilah dengan cara apa? Lantas aku menghadap ke arah Dira, meminta persetujuan darinya. Aku pun meningkatkan volume ponselku, agar Dira dapat mendengar.


"Dila! Katakan padaku, jangan membuatku khawatir seperti ini!" kesal Pak Albi, beliau pun menaikkan tingkat suaranya.


Aku terkejut, ahhhh mau tidak mau aku akan mengatakannya.


"Me-meyra menghilang Pak, sejak jam istirahat di kantor tadi!" kataku pelan. Sungguh, entah kenapa aku merasa takut sekarang. Dira sudah terduduk lemas di kursi makan itu,


***

__ADS_1


Bersambung...


Jangan pernah bosan untuk selalu ngedukung Author ya, Gaess... jangan lupa vote, komen, hadiah, dan likenya...


__ADS_2