Success Is My Dream

Success Is My Dream
Akhirnya Sampai


__ADS_3

2 hari kemudian, pagi yang indah kini menyelimuti kota Berlin. Suara burung yang berkicauan membangunkanku dari alam mimpi, rasa tak ingin bangun kini menghinggap. Dan ya, aku lupa jika hari ini aku akan kembali ke tanah air.


Dengan wajah bantal, aku bangun dengan terburu-buru, lalu membangunkan kedua sahabatku.


"MEYRA, DIRA! Ayo bangun cepat, kita kesiangan," panggilku berteriak.


Dengan rasa terkejut yang luar biasa, mereka bangun dan langsung berlari ke arah kamar mandi, alhasih berebutan.


Aku melihat diriku sendiri, dan aku baru ingat jika aku juga belum mandi. Tiba-tiba aku teringat dengan kamar mandi dekat dapur, dengan cepat aku berlari membuka pintu kamar dan berlari ke arah dapur lalu masuk ke dalam kamar mandi tersebut.


Tak ku hiraukan kedua sahabatku yang terus-terusan berebut kamar mandi, tak membutuhkan waktu lama sekitar 20 menit aku siap dengan acara mandiku. Rasanya lega, kalau sudah siap mandi seperti ini..


Aku kembali masuk ke dalam kamar, lalu aku melihat kedua sahabatku yang sudah rapi dan juga wangi.


"Waw, cepat sekali kalian mandinya!" kataku sambil memilah-milah baju.


"Iya dong, kami mandi bersama, agar menghemat waktu. Dila, apa kita tidak berkemas? Hari ini kan kita mau pulang!" sahut, Dira. Astaga! Aku lupa, jika aku dan mereka berdua sama sekali belum berkemas.


"Astagfirullah, lupa aku. Baiklah, ayo segera berkemas! Jadwal penerbangan kita hari ini, jam 12:00 siang." kataku.


"Oke!" sahut mereka berdua.


Kami pun mulai berkemas, hingga semua barang tidak ada yang terlupakan. Syukurlah, ini masih jam 9 pagi. Masih banyak waktu kami untuk memasak,


"Sudah selesai semua kan? Jika sudah, ayo masak. Kita belum sarapan soalnya," kataku.


"Baiklah!"


Akhirnya kami memutuskan untuk memasak sarapan terlebih dahulu, sahabatku bilang ini namanya bukan sarapan, melainkan makan siang.


***


Kini jam sudah menunjukkan pukul 10:50, dalam waktu 30 menit kami harus sudah sampai di bandara. Beruntungnya, alhamdulillahnya, kami sudah memesan tiket pesawat jauh-jauh hari, itu pun berkat bantuan Pak Albi.


Kami bertiga sibuk mengangkat barang-barang yang akan kami bawa pulang ke Indonesia. Sampai, tak lama kemudian seseorang menekan bell rumah. Dengan tergesa-gesa aku berlari pelan ke arah pintu depan.


Setelah pintu terbuka, dan terlihatlah teman kantor kami.


"Hay, Dila! Assalamualaikum," sapanya.


"Waalaikumussalam Warahmatullah, Dewa! Mari masuk," aku menyuruh Dewa untuk masuk dan duduk di ruang tamu.


Aku meninggalkannya sebentar untuk membuatkannya kopi, dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


Sesampainya aku di dapur, kedua sahabatku langsung bertanya


"Siapa Dil? Zain lagi?" tanya, Dira.

__ADS_1


"Tidak! Itu si Dewa datang, aku juga tidak tau dia mau apa datang ke sini," sahutku sambil membuat kopi.


Beberapa menit kemudian, aku kembali ke ruang tamu. Terlihat Dewa sedang memainkan ponselnya, aku pun memanggilnya.


"Wa! Diminum dulu," kataku.


Dia pun menoleh dan langsung terkekeh,


"Maaf Dil, merepotkanmu. Terima kasih ya, kopinya enak!" ucapnya sambil terus menyesap kopi panas itu.


"Sama-sama, Wa. Ada perlu apa datang kemari?" tanyaku.


"Kamu dan kedua sahabatmu itu akan pulang ke Indonesia ya?" tanya, Dewa.


Kenapa semua orang jadi tau bahwa kami bertiga akan pulang ke Indonesia? Aneh!


"Iya, Wa. Kami pulang hari ini, dan kau, apa kau juga pulang ke Indonesia tahun ini?" tanyaku.


"Pulang, hari ini jadwal penerbanganku, Dil!" sahutnya yang membuatku terkejut. What? Kenapa sama, atau mungkin ini hanya kebetulan saja?


"Wahh, sama nihh!" sahut Meyra tiba-tiba dari arah dapur, dia datang menghampiri kami dengan membawakan sepiring biskuit.


"Kalian pulang hari ini juga? Pukul berapa jadwal penerbangannya?" tanya, Dewa.


"Pukul 12 deh kayanya, Wa. Kamu?" tanya, Meyra.


Aku hanya tersenyum saja,


"Memangnya pesawat kamu, boing berapa?" tanyaku memastikan.


"AIR AS*A, BOING 7X8X. Kalian?" tanyanya pada kami.


"Wahhh, sama lagi!" sahutku sambil menyomot biskuit itu.


Entah kenapa di dalam hatiku rasanya sangat bahagia, tapi aku menutupinya, saat tau bahwa Dewa satu pesawat dengan kami.


Kami pun melanjutkan obrolan kami, sampai akhirnya jam menunjukkan pukul 11 siang. Dewa pulang, dan kami segera bersiap-siap.


***


Tepat pada pukul 11:40, kami sampai di bandara, Jerman. Tak lama kemudian, panggilan pesawat akan terbang, berbunyi. Kami segera menyuruh penjaga bandara untuk membantu kami membawa barang-barang ini.


Setelah semua barang sudah di bagasi, aku beserta kedua sahabatku dengan cepat masuk ke dalam pesawat. Akhirnya kami duduk juga, rasanya lelah sekali membawa para barang itu.


Dan aku terkejut, ketika seseorang tiba-tiba datang dan duduk disampingku.


"Wa? Kamu duduk denganku?" tanyaku merasa aneh.

__ADS_1


"Iya, memangnya kenapa, Dil?" tanyanya balik.


Aku menggelengkan kepalaku, dan sekarang Dewa pun duduk bersamaku.


Lalu dia merogoh sesuatu dari kantongnya dan memperlihatkan padaku. Ahh, ternyata dia benar-benar duduk denganku. Lihat, kartunya bersebelahan denganku. Hem, sepertinya akan susah bagiku untuk tidur setelah ini.


Pesawat pun terbang, berbagai macam pengumuman sudah terlewatkan.


***


Dan, tepat pada pukul 9 malam kami berempat sampai di tanah air tercinta. Kami sedang tidak bertiga sekarang, karena ada Dewa di sini.


Setelah selesai dengan urusan mengangkat barang, kami berempat memilih untuk duduk di salah satu kursi di dalam bandara.


Aku sudah menukar kartu SIM ku dengan kartu Indonesia. Segera saja aku menelfon Kak Pipit untuk menjemputku, dan Kak Pipit menjawabnya dengan antusias.


Hingga 30 menit kemudian, Kak Pipit juga Mas Aan datang menghampir kami berempat.


Mata Kak Pipit langsung terarah ke Meyra dan Dewa. Aku bahkan lupa memberitahu Kak Pipit bahwa aku sudah mempunyai sahabat juga di, Jerman.


"Assalamualaikum, Kak!" ucapku sambil memeluk tubuh, Kak Pipit. Kak Pipit pun membalas pelukan hangat dariku, dan mengawab salamku.


"Waalaikumussalam Warahmatullah, Dekku!" sahutnya sambil terus memeluk tubuhku dengan erat. Sementara Dewa, Dira, Meyra, dan juga Mas Aan hanya memperhatikan kami.


Aku melepaskan pelukan erat itu, lalu beralih menyalami punggung tangan,Mas Aan.


"Apa kau sehat-sehat saja di sana, Dila?" tanya, Mas Aan.


"Alhamdulillah, sehat dan juga bahagia kok, Mas!" jawabku seadanya sambil tersenyum.


"Dek, siapa wanita dan pria ini??" tanya, Kak Pipit penasaran sambil menunjuknya dengan lirikan mata.


"Oh iya, Dila lupa. Ini namanya Meyra Astanti, Kak. Dia sahabatku di Jerman, dan pria ini teman kantorku yang kebetulan jadwal keberangkatannya sama dengan kami. Namanya, Dewantara Adighuna!" jelasku panjang lebar.


"Perkenalkan Kak, saya Meyra sahabatnya, Dilara!" ujar Meyra sambil menyalami punggung tangan, Kak Pipit dan Mas Aan.


Kak Pipit tersenyum menatap ke arah, Meyra. Selanjutnya, Dewa menyalami punggung tangan, Kak Pipit dan Mas Aan.


"Perkenalkan, saya Dewa, Kak! Teman kantornya Dilara dan juga sahabatnya," jelas, Dewa. Kak Pipit menggosok pelan punggung, Dewa. Selesai dengan Kak Pipit, Dewa beralih ke, Mas Aan.


Setelah selesai dengan urusan perkenalan, kami semua segera meninggalkan bandara dan pulang ke rumah masing-masing. Sementara, Meyra menginap di rumahku, begitu pun Dira. Dan Dewa, sudah sedari tadi dia pulang ke rumahnya.


***


Bersambung...


*Jangan lupa untuk selalu mendukung Author melalui, Like, Vote, Beri Hadiah, dan Komen ya Gaes... Sorry loh, telat Update, di karenakan sedang banyak kesibukan hehehe...

__ADS_1


Happy Reading All*...


__ADS_2