Success Is My Dream

Success Is My Dream
Hari Yang Ditunggu-tunggu


__ADS_3

Sesampainya di rumah, kami langsung mengeksekusi kue kue yang kami beli tadi. Aku juga sudah mengabari Meyra juga Kak Pipit, sementara Dewa dia berkata akan datang 30 menit lagi.


"Dil, ini sudah siap semua. Ayo keluarkan gelas-gelasnya dulu!" kata Dira.


"Oke," sahutku, dan kami masuk ke dapur untuk mencari gelas.


Selesai dengan kegiatan berberes makanan, aku dan Dira beranjak lalu masuk ke kamar guna mengganti pakaian kami.


Sekitar 20 menit kemudian, suara deru mobil bersamaan dengan 2 motor menggema di teras rumahku. Gegas aku dan Dira melihat ke arah luar, ternyata mereka semua sudah sampai. Aku langsung saja membuka pintu depan, dan mempersilahkan kan mereka masuk.


"Assalamualaikum, " ucap mereka bersamaan.


Aku dan Dira pun menjawab salam dari mereka


"Waalaikumussalam Warahmatullah,"


"Ayo, semuanya mari duduk! Sebentar lagi sudah waktunya berbuka," kataku sambil tersenyum. Sementara Dewa, dia hanya diam terpaku sambil menatap ke arahku,


"Apa ada yang salah dengan penampilanku, Wa?" tanyaku pada, Dewa. Dia pun tersadar dengan ucapanku,


"Hah? T-tidak kok, kamu cantik banget hari ini, hehe.." kekehnya salah tingkah.


Mereka yang melihat langsung tertawa dengan salah tingkahnya, Dewa.


"Kamu bisa aja, Wa!" sahutku tak enak sambil terkekeh.


Dan akhirnya, gendang di masjid kini berbunyi. Kami semua berdo'a, lalu berbuka puasa. Lanjut, setelah selesai shalat maghrib kami duduk-duduk sambil bercerita. Karena beberapa menit lagi, kami akan bubar untuk shalat tarawih.


***


3 minggu kemudian, aku dan Dira juga Meyra kini sedang membuat banyak aneka kue. Karena 3 hari lagi, sudah lebaran idul fitri. Tak terasa, sudah hampir 2 bulan aku Dira dan juga Meyra berada di Indonesia.


"Dil, kita gak lama lagi ya di Indonesia? Tak terasa, sebentar sekali liburan kali ini!" oceh Meyra sambil menggiling adonan.


"He'em, hampir 2 bulan saja kita disini. Berarti dalam seminggu ke depan kita sudah harus balik lagi deh ke Jerman," kata Dira yang sedang memanggang kue.


Aku pun berdehem,


"Sudah masanya, mau dibuat bagaimana lagi? Kalian mau jika kita di pecat, Pak Albi nanti?" sahutku sambil menimbang-nimbang takaran kue.


Mereka serentak menggeleng,


"Ya tidaklah, pekerjaan itu sangat ku butuhkan. Mana mungkin aku melepas begitu saja," sahut Meyra, begitu pun Dira.


Kami pun sejenak melanjutkan aktivitas kami yang tertunda karena mengobrol,


"Oh iya, kemarin waktu kita ke pasar Dir, aku bertemu dengan pria yang kita lihat di taman kemarin!" sahutku.


Mereka sontak melihat ke arahku, aku pun keheranan.

__ADS_1


Aku pun menatap malas ke arah mereka,


"Apa?!" tanyaku masih dengan tatapan malasku.


"Kau serius? Dalam rangka apa kalian bertemu? Kenapa tak mengajakku?" tanya Dira dan disambut anggukan dari, Meyra.


"Hey, dengarkan dulu! Ku ceritakan, tapi tangan kalian terus bekerja, oke?" sahutku. Mereka pun mengangguk setuju.


"Jadi tu ceritanya gini..." aku pun menceritakan kejadian 2 minggu yang lalu pada mereka, dan mereka hanya mengangguk-angguk sesekali membuka pembicaraan.


"Sudah ku duga, dia memang CEO kita di Jerman!" sahut Meyra sambil membulat-bulatkan adonan.


"What?! Are you crazy, Mey?" tanya, Dira tak percaya.


Meyra mengangguk, dan berkata


"Kenapa kalian berlagak dungu begitu sihh? Apa selama bekerja di sana kalian tidak mengetahui nama Pemimpinnya?" tanya, Meyra.


Aku dan Dira serentak menggelengkan kepala.


"Memangnya kau tau?" tanyaku dengan tangan yang terus menimbang adonan.


"Siapa sih yang gak tau, kurasa hanya kalian yang tidak tau! Nama lengkapnya itu, Qevin Aldio Brata!" sahut, Meyra.


Aku dan Dira hanya angguk-angguk saja, walau pun nama awalnya sama tak mungkinkan itu dia? Karena setauku dia mempunyai perusahaan di Indonesia, ya entah apa nama perusahaannya.


"Tidak, dia asli orang Indonesia yang berhasil membangun perusahaan di negara orang!" sahut Meyra,


"Oh ya? Dimana desa pria itu? Dan kenapa dia bisa berada di Aceh?" tanyaku.


"Entahlah, mungkin saja disini desanya," kata, Meyra.


Beberapa kejanggalan dapat ku temukan. Pertama suaranya sangat mirip, kedua dia tinggal di Aceh, dan ketiga Aldio itu sepertinya suka duduk di taman sama sepertiku. Apa mungkin Aldio adalah dia? Ya ampun, pikir apa sih aku ini!


Samgat susah di tebak, karena aku sama sekali tak melihat wajah pria itu kemarin, semua sebab kacamata hitamnya itu.


Singkat cerita, dulu aku dan dia suka dengan taman. Sebelum aku pergi ke Jerman, terakhir kali kami berjumpa di taman, taman mempunyai keindahan tersendiri bagi kami berdua.


"Dilara!" sontak aku terkejut.


"Sedang melamunkan apa hayo?" tanya Meyra.


Aku pun jadi salah tingkah, langsung aku membuka oven dan memanggang kue.


"Hayoo, memikirkan apa dirimu itu hah?" tanya, Dira.


"Pastilah memikirkan Pak Aldio!" dan mereka pun tertawa. Aku hanya tersenyum saja, sambil geleng-geleng mendengar ucapan mereka.


***

__ADS_1


Dan, hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang...


Lantunan takbir terus berkumandang di seluruh desa kami, hari yang bahagia kini datang. Inilah saat yang tepat untuk kita saling maaf-maafan sesama umat muslim.


Aku dan Dira sedang sibuk meletakkan barang-barang di tempat semestinya, dan juga kami membersihkan debu-debu yang ada di meja ruang tamu. Semalam, kami tak sempat membersihkannya di karenakan lelah membuat kue yang terlalu banyak.


"Dil, sudah kan? Ayo mandi, kita ke masjid dan shalat Ied ya.." kata, Dira. Aku pun menganggukkinya,


***


Kami pulang setelah selesai shalat berjamaah di masjid. Aku membuka pintu rumahku, dan kami pun masuk ke dalam.


Ting,


Dering ponselku berbunyi, tanda jika seseorang mengechatku melalui WhatsApp. Aku pun mengambil ponselku, lalu mendudukkan diri di sofa ruang tengah.


Ternyata yang mengechatku Pak Albi, kenapa dia selalu mengechatku? Aku kan sudah memberi nomor ponsel, Meyra.


Isi Pesan :


"Assalamualaikum, Dila. Sharelok denah rumahmu padaku!" katanya.


Aku pun membalas "Waalaikumussalam Warahmatullah, baik, Pak!" balasku, dan langsung saja aku mengirimkannya.


Mungkin ia ingin menanyakan alamat rumah, Meyra.


Setelah aku membalas pesan Pak Albi, Dira datang menghampiriku.


"Dil, Mas Zain mengechatku. Dia meminta Sharelok rumah ini, apa perlu ku kirim? Ya ampun, kenapa hatiku merasa deg-deg an gini, Dil!" oceh, Dira.


"Si Pak Albi juga mengechatku dan meminta aku untuk mengirimkan denah rumah ini, ya ku kirimkan saja. Mungkin, dia mau datang bersilahturrahmi sama halnya dengan Mas Zain, Dir." jelasku, dia mengangguk paham.


Dia pun kembali mengotak-atik ponselnya, lalu kembali duduk di sofa seberangku.


Tak lama, Meyra pun mengechatku.


Isi Pesan :


"Assalamualaikum, Dila. Jam 10 aku otw rumahmu ya!" katanya,


"Waalaikumussalam, wokeh, Mey!" balasku singkat.


Aku hanya akan menantikan drama pada hari ini, ketika Zain Albi dan Dewa bertemu pada satu rumah, haihhh, entahlah apa yang terjadi. Meyra, dan juga Dira sudah memiliki pasangan masing-masing pastinya, sementara aku? Apa kabarr gaesss?


***


Jangan lupa untuk selalu mendukung Author melalui Like, Vote, Beri Hadiah, dan Komen ya gaesss...


Happy Reading All...

__ADS_1


__ADS_2