
Surat resign sudah selesai yang artinya besok harus kuantar ke cafe. Berat sekali rasanya jika harus mengantarkan surat ini, aku benar-benar tidak kuasa. Bagaimana jadinya ini nanti?
"Dila!" panggil seseorang.
Aku tersentak dari lamunan panjangku ini, ternyata yang memanggilku adalah Dira.
"Ya, Dira? Ada apa?" tanyaku pelan.
"Apa kau benar-benar sudah siap, Dila? Apa kau takkan berubah pikiran setelah ini?" tanya Dira.
"Aku harus bagaimana lagi, Dir? Aku tak bisa menentang keiinginannya! Aku benar-benar tak bisa, Dir. Demi dirinya aku harus merelakan rasa sakit yang berlabuh dihatiku, dia adalah segalanya bagiku dibanding Qevin, Dir!" sahutku terisak.
Dira beranjak mendekatiku lalu memelukku dengan erat. Dia berusaha menguatkan hatiku, dia memang seorang wanita yang baik.
"A-aku harus benar-benar siap demi dia, Dir. Mau tidak mau, siap tidak siap, aku akan ke negara itu demi dirinya, Dira!" sahutku lagi.
"Kau tenanglah, Dila! Aku akan selalu ada disampingmu dan dimana pun kau berada. Kau tak perlu meragukanku lagi, jika kau sudah menganggapku sebagai sahabat sejatimu, maka jangan ragukan aku lagi oke?" kata Dira lembut.
Aku menganggukkan kepala mendengar perkataan, Dira. Dia tak salah, kenapa dia harus ikut terseret dalam masalah hidupku, Ya Allah? Apa kau sudah menakdirkan dia agar selalu hadir di dalam hidupku?
"Oh ayolah, Dila! Jangan selalu termenung seperti orang linglung, kau bukan tipe orang yang seperti itu. Ingatlah, bahwa tidak akan pernah ada di dalam kehidupanku dan kehidupanmu kata untuk terlambat. Dikamusku itu tidak ada Dila, begitu pun dengan kau oke," sahut Dila.
"Baiklah sahabat cerewetku! Kenapa kau sekarang semakin cerewet saja?" tanyaku terkekeh.
"Karena kau, aku menjadi cerewet seperti ini, Dil! Oke, sekarang tak ada kata-kata sedih lagi yang terdengar dari mulutmu itu. Kau dan aku harus bisa melawan semua rasa sakit ini, kita akan berjuang bersama-sama." sahut Dira menyemangatiku.
"Siap, Komandan!" sahutku cepat yang membuat Dira terkekeh pelan.
***
Pagi menyapa dengan hangat, burung-burung pun saling bersahutan di luar sana. Tak ada pemandangan yang indah selain pagi dan malam. Dan hari ini, di hari senin ini aku akan mengantarkan surat resignku ke cafe. Sebelumnya aku sudah mengatakan ini ke Dira, dan dia mengangguk bersedia untuk menemaniku.
"Diraa! Diraa! Oo, Diraa!" panggilku dengan sedikit berteriak.
"Ya, ya, baiklah. Tunggu sebentar!" sahutnya. Ternyata dia mengerti kode-kodeku.
"C'k, cepatlah sedikit siput lamban!" sentakku pura-pura kesal.
Dia hanya tertawa terbahak-bahak melihatku kesal, lalu dia menghampiriku.
"Hm, ada yang ingin cepat-cepat bertemu sang kekasih nih!" sahutnya dengan nada meledek.
__ADS_1
Puk!
Kutepuk bahu belakangnya dengan sedikit keras. Kena batunya aku hari ini, niat ingin membuatnya kesal malah aku sendiri yang kesal.
"Adeuh bener kan, Dilara Humaira? Kau rindu kan dengan, Pak Qevin? Hayo, ngakuu!" cecarnya lagi.
"CEPATLAH BERSIAP, ASDIRA MIRANDA!" teriakku tepat dikuping sebelah kirinya.
"C'k, baiklah nenek lampir sial*n!" sahutnya kesal. Yes, kubuat kesal juga kau akhirnya.
***
Setelah melewati drama-drama permandian, aku dan Dira kini sudah berada dimeja makan untuk sarapan. Kak Pipit sudah duduk disana, terlihat beliau menunggu kami berdua.
"Kak!" sapaku tersenyum.
Dia membalas senyumanku dengan lembut.
"Mari kita sarapan bersama, Adik-adikku!" sahutnya diseberang sana.
"Baik, Kak!" balasku dan Dira.
Kami menikmati sarapan pagi dengan tenang, tak ada keributan sedikit pun. Tiba-tiba, Kak Pipit membuka obrolan.
"Sudah, Kak! Kemarin kami sudah berbicara secara baik-baik dengannya, dan dia mengerti itu." jawabku dengan tenang.
"Lalu, apa tanggapan dia padamu, Dila?" tanya Kak Pipit lagi.
"Dia menghargai keputusanku dan keputusanmu, Kak. Aku sudah mengundurkan diri dari cafenya itu, hanya saja dia terlihat sedikit bingung mungkin melihat sikapku yang tiba-tiba berubah begitu saja." kataku.
"Oh ya? Baiklah, itu yang kuinginkan darimu, Dil! Apa kau mengatakan bahwa kau akan kemana?" introgasi masih berlanjut.
"Tidak! Aku tak mengatakannya pada dia, begitu pun dengan, Dira." kataku lagi.
"Dira! Kakak mohon padamu, agar kau merahasiakan kepergianmu dan Dila dari Qevin, apa kau mengerti Dira?" sahut Kak Pipit sembari menatap Dira.
"Insyaallah, Kak. Aku akan menjaga rahasia kepergianku dan Dila dari Pak Qevin!" jawab Dira.
"Baiklah, cepat habiskan sarapan kalian!" kata Kak Pipit dan kami hanya menganggukkan kepala.
***
__ADS_1
Kini aku sudah sampai di Cafe Lestari. Cafe ini akan menjadi kenangan indahku bersama dengan Qevin. Mulai sekarang, Qevin bukanlah Bossku lagi, dan Bu Lestari bukanlah pemimpinku lagi. Kini aku akan pergi meninggalkan mereka berdua, Ibu dan Anak itu.
Akan kukenang masa-masa indah bersama dengan mereka dulu. Saat bertabrakan dengan anaknya, saat anaknya mengajakku makan malam bersama, dan saat si Ibu mengajakku untuk bekerja di cafe miliknya ini, semua akan kukenang.
Aku terkekeh pelan saat mengingat kejadian-kejadian lucu itu.
"Hey, belatung tanah! Apa tak ada pekerjaanmu selain termenung dan melamun seperti itu?" tanya seseorang disampingku dengan sadisnya. C'k, siapa lagi kalau bukan, ASDIRA MIRANDA.
"Baiklah, baiklah. Ayo, masuk dan setelah memberikan berkas ini, kita akan segera keluar!" sahutku.
***
Kuketuk pintu yang bertuliskan 'Ruang Direktur Cafe' itu. Sembari mengucapkan salam, aku terus mengetuk pintu itu.
"Permisi, Assalamualaikum!" ucapku dari luar.
Beberapa menit kemudian, terdengarlah suara sahutan dari salamku.
"Waalaikumussalam, masuklah!" sahut dia 'Qevin'.
Kubuka pintu dengan pelan, dibaringi Dira yang mengikuti langkahku.
"Permisi, Pak Qevin! Saya datang untuk memberi surat resign saya dan Asdira Miranda." sapaku, lalu memberikan 2 tumpuk berkas yang tak terlalu itu.
Terlihat sangat jelas sekali raut terkejut diwajahnya. Mengapa dia seterkejut itu mendengarku me-resign dari cafe ini? Apa dia tidak mengikhlaskannya? Ah, mana mungkin.
"Pak! Kenapa denganmu?" tegur Dira.
"Hah? I-iya? Ada apa, Dila, Dira?" aku tercengang mendengarnya bertanya seperti itu. Apa sedari tadi aku berbicara dengan patung?
"Saya kemari, ingin memberi surat resign, Pak Qevin yang terhormat!" sahutku sedikit membesarkan suara.
"Apa tak ada jalan lain selain me-resign dari sini, Dila?" tanyanya pelan padaku. Raut wajah itu sangat jelas terlihat sedih, yang pasti aku tak bersalah apa-apa disini.
Aku terdiam, tak tau harus menjawab apa dengan pertanyaan yang dia lontarkan.
"Em, Dira! Bolehkah kau meninggalkan kami berdua sebentar saja? Aku ingin mengobrol secara pribadi dengan, Dila." ujar Qevin yang membuat aku juga Dira terkejut.
"Silahkan, Pak. Dengan segala hormat, permisi!"
Asdira!!!
__ADS_1
Bersambung...