Success Is My Dream

Success Is My Dream
Apa Maksud Perkataannya ?


__ADS_3

"Baik, Pak. Silahkan, saya permisi!" jawab Dira sambil berlalu keluar dari ruangan, Qevin.


Ya ampun, Dira!


Bagimana ini? Akan canggung jika aku berdua dengannya dan lagi, aku malas untuk berdua-dua dengannya. A-aku takut, ini akan memproses tumbuhnya kembali perasaan itu. Ini tidak bisa terjadi, aku tak ingin seperti dulu lagi.


"Eum, Pak! Saya permisi, dan saya rasa tak ada yang perlu dibahas kembali kan ya?" canggung aku mengatakan itu.


"Tidak, Dila! Kau harus berada disini sampai aku menyuruhmu keluar dari sini!" sahut Qevin tegas.


"Pak! Mana bisa seperti ini, saya sudah menyerahkan surat pengunduran diri saya dan itu artinya saya sudah tidak ada urusan lagi dengan, Bapak Qevin yang terhormat ini!" sahut tak kalah tegas darinya.


Qevin terkejut, dia mungkin takkan menyangka aku akan berbicara seperti ini, tapi inilah kenyataannya. Aku hanya tak ingin terjerumus ke limbah masa laluku.


"Dila, a-aku ingin bicara denganmu sebentar saja! Beri aku kesempatan untuk bicara, Dil." melasnya padaku. Harus apa aku sekarang? Mendengarkan omongannya?


"Baiklah, silahkan. Aku tak punya banyak waktu sekarang!" kata pelan.


"Dil, kau mau kemana? Katakan padaku, Dila. A-aku tak bisa jauh darimu k-kau tak mengerti itu, hah?" dia memulai obrolannya dengan sangat pelan nyaris tak terdengar, dan aku tercengang mendengar obrolan konyol ini. Apa ini? Tak bisa jauh dariku? Dan apa? Aku harus mengerti akan dirinya?


"Apa maksud, Bapak 'Tak bisa jauh darimu'?" tanyaku.


Gugup. Itulah yang ada pada diri Qevin saat ini, aku dapat melihatnya. Karena kegugupan itu sangat jelas tergambarkan diwajah tampannya itu.


"Ti-tidak! Mungkin kau salah dengar tadi, Dil. Aku hanya menanyakan kenapa kau menolak tawaranku? Dan apa kau akan pergi dari kota ini?" elaknya. Jelas-jelas telingaku masih berfungsi dengan baik.


"Kau tak punya hak untuk bertanya seperti itu padaku, Pak! Yang pasti aku akan pergi meninggalkan seseorang yang sama sekali tak bisa merasakan perasaan yang aku berikan padanya selama satu tahun ini, hanya itu saja!" sahutku sambil memalingkan pandanganku ke arah luar.


Apa dia sadar, jika aku sedang menyindirnya? Ah, itu tidak penting bagiku, mau dia merasa atau tidak, itu terserah padanya.


"Dila, jawablah pertanyaanku, kau ingin kemana sampai-sampai menolak tawaranku kemarin?" sahut Qevin dengan rasa penasarannya. Harus jawab apa aku ini, Ya Allah?


"Ti-dak! Itu privasiku, Pak!" seruku gugup sambil berlalu pergi darinya.


"Dila!" teriaknya.


Aku harus segera pergi dari sini! Aku tak ingin bertemu dengannya lagi.


Dengan cepat aku berlari meninggalkan lantai dua, dan langsung menyambar tangan Dira yang sedang berdiri disamping tangga.

__ADS_1


"Hey, Dila! Ada apa ini hah?" tanya Dira heran. Alhasil langkah kami berhenti sebentar.


"Tak usah banyak bicara, Dira! Ikut aku cepat, jangan berlama-lama disini!" kembali kutarik tangan mulusnya.


"Baiklah, ayo cepat!" sahutnya sambil ikut berlari denganku. C'k, sudah seperti dikejar hantu saja seperti ini!


Beberapa menit setelah berlarian, kami sampai dilantai dasar dan langsung saja aku menstatar motorku.


"Cepatlah naik, ASDIRA!" teriakku kesal. Bagaimana tidak, dia berdiri tercengang melihatku yang tengah menstatar motor.


"Ada apa, Dila? Kenapa kau lari-lari seperti ini? Apa ada hantu di cafe ini?" tanyanya penasaran.


"Sudah, ayo naik dulu! Akan kuceritakan nanti padamu." sahutku. Akhirnya Dira naik, dan aku langsung menancapkan gas motorku.


"Dila, Dira. Tunggu!" panggil seseorang yang ternyata adalah, Qevin. Hufft, untunglah kami cepat.


"Dila! I-itu Pak Qevin memanggil kita, kenapa kau tak berhenti bodoh???" sahut Dira kesal.


Aku hanya tersenyum lega.


"Tak ada hal penting yang ia obrolkan tadi, dan dengan bodohnya kau meninggalkan aku di dalam sana berdua dengannya!" kataku berteriak kesal.


"Hah? A-apa kau terluka, Dila? Apa terjadi sesuatu padamu, Dila?" tanya Dira bertubi-tubi sambil menggoncangkan tubuhku dan alhasil, motorku ikut bergoyangan dengan tubuhku.


"Astaga, Dila! Maaf aku tak tau, hehe." sahutnya dengan kekehan yang paling kubenci itu.


"Heheh, kekehanmu itu bagai suara burung yang mati tertabrak tiang listrik saja! Sudahlah, jangan goyang-goyang saat aku sedang menyetir. Itu akan berbahaya bagi kita dijalan nanti." sahutku dengan wajah kesal.


"Baiklah-baiklah sahabat cerewetku! Sekarang kita mau kemana? Apa langsung pulang?" tanyanya.


"Kita mampir ke cafe seberang sana saja dulu, ya?" sahutku.


"Oke deh, ke sana dulu kita!" kata Dira.


***


Kami tiba di cafe yang tadi kuberitahu pada, Dira. Kami memilih untuk duduk agak jauh dari keramaian, tujuannya untuk mempermudah kami saat berbicara.


"Cepatlah duduk disini, Dira!" suruhku pada Dira yang berdiri seperti orang yang kebingungan.

__ADS_1


"Iya-iya, Dilara cerewet!" sahutnya kesal.


Aku memanggil pelayan cafe untuk memesan minum untukku dan untuk Dira juga. Selesai memesan, kami memulai obrolan.


"Hm, baiklah. Sekarang mulailah bercerita padaku, Dira! Kau dengan Pak Qevin ngapain saja di dalam sana?" tanya Dira tak sabaran.


"Jangan kau sama kan aku dengan wanita mura*an di luaran sana, Dir! Aku tak seburuk itu, aku tidak mgapa-ngapain di dalam sana dengannya." sahutku cepat. Aku tau arah tujuan pembicaraan si Dira sok tau ini. Ada-ada saja pikirannya itu.


"Heheh, sebenarnya itu termasuk juga sih, Dil!" sahutnya kemudian tanpa beban.


"Sudahlah! Apa kau tak ingin tau cerita sebenarnya?" tanyaku membuat dia penasaran.


"Pastilah aku ingin tau, kau ini yaa," katanya.


"Di dalam sana, aku dan dia sangat canggung, kau tau itu? Bahkan untuk memulai obrolan saja aku tak berani, dan terpaksalah dia duluan yang membuka obrolan." jelasku.


"Kelanjutannya?" tanya Dira.


"Dia bilang 'Dila, kau mau kemana? Sampai-sampai menolak tawaranku kemarin? Kau tau bahwa a-"


Baru aku ingin mengatakn setengahnya lagi, tiba-tiba datanglah seseorang.


"Permisi! Ini pesanannya, Mbak-Mbak." sahut pria itu.


'C'k, pengganggu!' batin Dira.


"Ya, letakkan saja di sana!" jawab Dira kesal sambil menunjuk arah depanku.


"Permisi, Mbak saya tinggal dulu!" sahutnya lagi. Kebanyakan permisi ni orang.


"ehh, sudah-sudah! Jangan kesal pada orang yang tak bersalah, mari kita lanjut bercerita." kataku.


"hm, baiklah! Bagaimana kelanjutannya, Dil?" wajahnya seketika berubah berbinar.


"Dia bilang 'Aku tak bisa jauh darimu, Dil. Apa kau tak mengerti itu?' katanya begitu, Dir. Tapi suaranya itu seperti dibawa angin, nyaris tak terdengar sama sekali." lanjutku.


"Aku tak bisa jauh darimu" Apa maksudnya itu, Dila?" tanyanya.


Ha, itu dia yang sedang menjadi pertanyaan bagiku.

__ADS_1


Bersambung...


Terus ikuti kisah selanjutnya ya gaes..


__ADS_2