
Tepat pada pukul 10 pagi kurang, Kak Pipit dan Mas Aan tiba di rumahku. Aku mempersilahkan mereka masuk, lalu menyuruh mereka duduk.
Puluhan menit kemudian ...
"Mas, Kak! Kalian tidak ada kunjungan ke tempat lain?" tanyaku, saat mereka sudah duduk lebih dari 30 menit. Bukan maksudku untuk mengusir mereka, hanya saja hari ini mereka berdua terlihat sangat aneh.
Biasanya, mereka hanya akan duduk selama kurang lebih 15 menit. Kenapa hari ini berbeda?
Mereka berdua pun menghadap ke arahku,
"Tidak, kami hanya ingin menunggu seseorang disini. Apa kau keberatan, Dil?" sahut Kak Pipit sambil menyenderkan tubuhnya.
"Hari ini, hari raya idul fitri yang pertama, Dil! Dan kami, sudah ada janjian dengan orang tersebut untuk bersilaturrahmi dirumah mendiang Ibu dan Ayah." sambung Mas Aan kemudian.
Aku mengeryit heran, siapa orang itu? Aku tidak mengerti,
Setelah 15 menit berbincang-bincang, tepat pada jam 10 lewat satu mobil berwarna silver bermerk kan Alphard masuk ke halaman rumahku. Siapa itu?
Aku, Kak Pipit, Mas Aan dan juga Dira segera bangkit dari duduk lalu menuju ke pintu depan.
Aku pun membuka pintu, dan tertampaklah seorang pria yang sangat berwibawa. Yah, siapa lagi jika bukan Pak Albi Ardiansyah sang Manager perusahaan ternama itu?
"Assalamualaikum, Dil, Dir!" ucap Pak Albi sambil tersenyum,
Aku dan Dira membalas salam tersebut, lalu tersenyum juga.
"Waalaikumussalam, Pak. Silahkan masuk!" sahutku.
Beliau pun masuk, sementara Mas Aan dan Kak Pipit hanya memerhatikan kami dari sofa ruang tamu.
"Pak, Buk! Perkenalkan saya, Albi Ardiansyah, teman kerja Dila dan Dira di Jerman!" sapa Pak Albi sembari menjabat tangan Kak Pipit dan Mas Aan.
"Ohoh, ya. Perkenalkan, saya Kakak iparnya Dilara, Aan Wijaya. Dan ini istri saya Fitria, Kakak kandungnya, Dilara." jelas Mas Aan. Mereka pun berjabat tangan sebentar, lalu kembali duduk.
Aku dan Dira gegas berjalan ke arah dapur, untuk membuatkan minuman. Aku hanya membuatkan kopi panas untuk Pak Albi, karena aku tau dia sukanya kopi panas.
"Dila, apa Meyra belum berangkat juga?" tanya Dira sambil menuangkan bubuk kopi ke dalam gelas.
Aku menggeleng,
"Belum tau tuh, Dir. Sebentar ya, aku cek dulu!" sahutku, lalu aku berjalan ke arah cabinet mengambil ponselku.
Ku cek satu per satu pesan yang ada di ponselku, aku membuka pesan dari Meyra.
Isi Pesan :
__ADS_1
"Dila, aku otw ya!" isi pesan dari, Meyra.
Aku hanya meng-read pesan dari, Meyra. Sebentar lagi pasti mereka akan segera sampai, lalu aku mengirimkan pesan untuk Dewa.
"Wa, kamu jam berapa otw nya?" tanyaku,
Tak berapa lama kemudian, Dewa membalas pesan dariku.
"Sudah otw kok, Dil. Sabar dong, haha.." balas Dewa dengan emot ketawa ngakak. Ya ampun, Dewaaa!
Aku kembali ke dapur, terlihat Dira sedang mengaduk kopi yang akan dibawa untuk Pak Albi.
"Sudah, Dir?" tanyaku.
"Sudah, oh ya aku buatkan lebih nih! Duanya lagi untuk Kak Pipit dan Mas Aan ya," sahut Dira. Dia memang wanita yang pengertian, hehe walaupun aku tak dibuatkan olehnya.
"Oke," lalu aku mengangkat nampan itu untuk berpindah ke tanganku. Lalu, aku dan Dira jalan berdampingan ke arah ruang tamu.
"Permisi, ini minumannya!" kataku, di sela-sela obrolan mereka.
"Oh ya, terima kasih ya, Dila!" sahut Kak Pipit,
"Iya, Kak sama-sama," selesai menaruh minuman, aku dan Dira kembali duduk di sofa. Mendengarkan obrolan mereka, ya seputar bisnis pastinya.
***
Aku menghentikan mereka lewat jendela, yang tembus pandang. Untungnya, mereka melihat ke arahku yang melambaikan tangan. Kurang lebih gitu ya, gaes...
"Eum, Kak! Aku keluar sebentar ya, ada yang ingin kuambil!" kataku pada, Kak Pipit. Kak Pipit pun mengiyakannya,
Aku keluar rumah, lalu berjalan ke arah mereka berdua.
"Wa, kamu masuk duluan ya! Biar Meyra masuk belakangan," kataku.
"Loh, kok gitu Dil? Kelamaan tau nunggu-nunggu lagi," sahut, Meyra.
"Di dalam ada, Pak Albi. Kau mau dia salah sangka padamu??" sudah sedari awal aku memberitahu Meyra tentang kami dengan, Pak Albi. Dia pun mempercayainya,
Dan dengan sepengetahuan Pak Albi pula, aku memberitahu pada Meyra. Pak Albi berkata, tidak keberatan. Di saat aku memberitahu Meyra, dia hanya mendengar dan menyimak saja.
Singkat cerita pada saat itu ...
Aku, Dira, dan Meyra kini sedang berada di sebuah Cafe. Tepatnya Cafe Lestary, yah Cafe favoritku.
Kami pun memulai obrolan, aku menceritakan semuanya pada Meyra.
__ADS_1
"A-aku pun mencintainya, Dil. Jujur, saat mengetahui hal ini aku menjadi semakin percaya diri untuk memulai hubungan dengan, Pak Albi. Bagaimana menurut kalian?" tanya Meyra saat itu.
Aku dan Dira saling bertatap-tatapan,
"Kalian berdua cocok, aku dan Dira mendukung kalian. Mulailah hubungan baik dengannya, Mey. Kudengar, keluarga Pak Albi itu tidak memandang rendah tingginya kasta seseorang. Kurasa kalian berdua berjodoh," jelasku panjang lebar sambil menyomot kue kering itu.
"Hah? Benarkah?" tanyanya tak percaya. Aku mengangguk, mengiyakan.
"Kau harus bersyukur, Mey. Mungkin, tak semua orang seberuntung dirimu saat ini," ucap, Dira.
"Iya, Dira, Dila. Ucapan rasa syukur selalu ku panjatkan atas apa yang sudah diberi-Nya." sahut, Meyra.
Kami pun diam sejenak,
"Pak Albi mengirimkanku pesan kemarin, dia berkata akan mengunjungiku Lebaran nanti!" kata, Meyra.
"Oh ya?" sahutku bersamaan dengan, Dira.
"He'em, rasanya seperti ingin terbang tau. Sungguh, aku sangat senang, Dil!" ucap, Meyra.
"Dia juga sudah mengatakannya padaku, Mey." cecarku.
"Oh ya? Tidak masalah kali," katanya.
"Tetaplah senang seperti ini terus, Mey. Oh ya, apa kalian sudah memulai hubungan?" tanya, Dira.
"Sudah, Dil. Tanggal 27 february kemarin!" jawabnya cengengesan.
Aku dan Dira terkejut, what? Sudah lama mereka menjalin hubungan, kenapa kami baru tau sekarang? Astaga, Meyra!
"Kau tak memberitahu pada kami? Astaga!" kataku masih tak percaya.
Sementara ini, sudah bulan Mei. Sebentar lagi juga sudah mau Lebaran, bahkan mereka sudah berhubungan sebelum kami pulang ke Indonesia.
"Aku lupa memberitahu kalian berdua, maaf ya Dila, Dira. Tapi sekarang sudah kuberitahu kan, hehe?" balas Meyra dengan wajah sok imutnya.
"Ahh, sudahlah. Yang terpenting kita sudah mengetahuinya, dan jika ada sesuatu yang kau sembunyikan lagi maka siap-siaplah dirimu itu, Mey!" sahut, Dira dengan tatapan tajamnya itu .
Kami pun tertawa bersama, sungguh Meyra membuat darah tinggiku kumat.
Dan kembali ke masa sekarang ...
***
Jangan lupa untuk selalu mendukung Author melalui Like, Vote, Favorite, Beri Hadiah, dan Komen ya gaess...
__ADS_1
Happy Reading, All...