Success Is My Dream

Success Is My Dream
Berkunjung Ke Makam


__ADS_3

Tak butuh waktu lama, kami berdua sampai kembali dirumah Buk Inur. Aku pun segera mengetuk pintu kayu jepara bercorak indah itu.


'Tok..Tok..Tok..'


"Assalamualaikum, Buk Inur. Permisi!" ucapku setengah berteriak.


"Waalaikumsalam, Dil. Ada apa Nak, kok kembali? Apa Ibu salah kasih kuncinya ke kamu?" katanya kebingungan.


"Emm, maksud saya balik lagi kemari itu mau nanya sesuatu, Buk. Apa ibu tau dimana Ayah dan Ibu tiri saya dimakamkan?" tanyaku pada Buk Inur.


"Oalah, Nak. Maaf ya, Ibu lupa bilang ke kamu alamat makamnya. Alamatnya ada di jalan sy*ah*ua*a, Aceh barat TPU dekat pengkolan ya, Nak." jawabnya kemudian, membuatku lega.


"Buk, nanti tolong ceritakan ke saya bagaimana tragedi kejadian ini ya?" kataku yang diangguki sekaligus diberi senyuman oleh Buk Inur.


"Kalau begitu, saya dan Dira pamit ya, Buk. Maaf mengganggu, jika ada waktu nanti malam saya akan datang ke rumah Ibu ya." ujarku sambil menyalimi tangan yang sudah mulai berubah warna dan keriput itu.


"Iya, Nak. Jikalau kamu ada waktu, datanglah nanti malam. Ibu tunggu dirumah ya, Nak Dila, Dira." sahut Buk Inur.


"Baik, Buk. Assalamualaikum Buk Inur." ucap aku dan Dira serentak.


"Waalaikumussalam, Dila, Dira." sahut Buk Inur.


***


Kali ini Dira lah yang mengendarai sepeda motorku dengan kecepatan sedang. Tak kuasa kutahan air bening ini, tanpa izin dariku dia turun begitu saja. A-aku, bahkan tak sempat mengucapkan kata maaf atau sepatah kata pun pada Ayah. Tapi, beliau sudah meninggalkanku begitu saja.


Perjalanan dari rumahku ke TPU yang dikatakan oleh Buk Inur, lumayan jauh. Kira-kira harus sekitar 30 menit kami mengendarai motor ini agar sampai ke TPU tersebut. Aku hanya duduk dibelakang Dira yang sedang mencoba untuk menghiburku tapi, apalah daya, aku sama sekali belum termakan dengan hiburan Dira.


"Hemm, Dilara! Jangan bersedih lagi ya, kamu harus kuat Dil. Jangan lemah ya, kalo kamu lemah dan tak berdaya seperti ini  bagaimana dengan cita-cita dan kesuksesanmu?" kata Dira yang membuatku sadar.


"A-aku hanya sedih saja, Dira. Hanya tidak menyangka bahwa Ayah dan Ibu meninggalkanku secepat ini, perasaan baru kemarin aku bermain dan bercanda bersama mereka." sahutku pelan.


"Sudahlah, yang terjadi biarlah terjadi. Allah sudah memilihkan jalan yanh terbaik untukmu Dil, jadi jangan pernah khawatir dengan kehidupan ini. Karena semua sudah diatur oleh Allah, kita cukup menjalaninya saja, oke?" nasehat Dira.

__ADS_1


"Baiklah, Dir. Aku tak akan seperti ini lagi, tak seharusnya aku selalu nangis." jawabku sambil memeluk Dira dari belakang.


"Ini hampir sampai, Dil. Kita langsung kesana terus kan?" tanya Dira. Em, apa orang yang sudah meninggal harus dibawakan bunga kuburan? Sebaiknya aku pergi beli dulu.


"Dir, kira belok ke kanan dulu ya. Aku mau beli bunga kuburan dulu, baru setelah itu kita ke TPU." kataku pada Dira, dan Dira mematuhi perintahku.


***


Selesai membeli bunga, kami kembali berbelok ke arah kanan menuju TPU. gerbang TPU masih buka, ya memang masih buka. Karena ini masih jam 2 siang lewat. Batas masuk ke dalam TPU hanya sampai jam 6 sore saja.


Aku dan Dira turun dari motor, dan segera mencari nama orang tuaku dibatu-batu nisan yang tersusun rapi ini.


Nah, ketemu. Disana tertulis nama ayahku *Husein Bin Ayyub*, aku berjongkok lalu mengeluarkan plastik berisi bunga kuburan yang sangat wangi itu. Disamping makam ayahku, terdapat makam ibu tiriku.


Aku dan Dira, mulai membaca surah pendek dan surah yasin untuk 2 orang sekaligus. Ya, satu lagi untuk ibu tiriku yang bernama *Anita Binti Agus*. Selesai membaca yasin dan surah pendek, aku dan Dira menyebarkan bunga yang wangi itu ke kedua makam tersebut.


Jam 3 lewat, kami beranjak dari TPU dan mengendarai motor untuk kembali ke rumah Dira.


***


Beberapa menit kemudian sampailah kami dirumah Buk Inur, terlihat beliau sedanh duduk didepan rumahnya sambil menyesap teh hangat. Kami berjalan menghampiri Buk Inur yang sedang duduk itu.


"Assalamualaikum, Buk!" ucap kami bersamaan.


"Waalaikumsalam, Nak Dila, Dira." sahut beliau lembut sambil tersenyum.


"Mari masuk, kita ngobrol didalam saja. Disini banyak nyamuknya, hehe." kata Buk Inur sambil terkekeh pelan.


Kami pun mengekori Buk Inur agar masuk ke dalam rumahnya yang sederhana namun sangatlah asri ini. Sesampainya diruang tamu, kami tak melihat Buk Inur. Kemana beliau pergi?


Tak lama tampaklah sosok beliau, yang keluar dari arah dapur sambil membawa 2 cangkir teh hangat. Lalu, meletakkan kedua cangkir itu tepat didepan kami berdua.


"Diminum dulu, Nak!" suruh Buk Inur.

__ADS_1


"Baik, Buk." sahutku.


Kami menyesap teh hangat itu sejenak, lalu menatap kedua mata sendu milik Buk Inur.


"Bagaimana tragedinya, Buk?" tanyaku To The Point.


Tampak Buk Inur menarik nafas panjang, lalu mengeluarkannya dengan pelan. Beliau membetulkan posisi duduknya, setelah itu membuka suara.


***


Aku dan Dira kini berada didepan rumahku, lebih tepatnya rumah Ayah dan Ibu. Tampak sangat sepi sekali, seperti tak ada penghuninya. Apa yang harus kulakukan sekarang? Kesepian yang sebenarnya telah datang.


Aku merogoh kantong celanaku, lalu mengambil seronggok kunci berupa besi itu. Dengan langkah gontai, aku memasuki rumahku sendiri. Bahkan Dira, sempat mengatakan.


"Apa sebelum kau pergi rumah ini masih terlihat ramai, Dila?" tanya Dira padaku.


Sejenak aku menghentikan kegiatanku yang sedang mengelap foto-foto keluargaku didalam kamarku yang pengap ini. Lalu, aku membalikkan tubuhku untuk menatap Dira yang sedang duduk di kasurku.


"Sebelum kepergian, Ibu." jawabku singkat.


"Em-em, maaf Dil, bukan maksudku untuk mengingatkanmu tentang itu. Aku hanya ingin tau saja, maaf sekali lagi." sahut Dira pelan.


"Hey, ada apa denganmu Dira? Aku tak marah padamu, aku hanya kepikiran apa Kak Pipit sudah mengetahui kabar meninggalnya Ayah?" kataku sambil terus melap foto-foto itu.


"Ahh, iya. Benar, apa Kak Pipit sudah mengetahui perihal ini? Aku rasa belum Dil, bagaimana jika besok kita berkunjung ke rumah Kak Pipit?" usul Dira membuatku kembali berfikir.


"Boleh juga saranmu, Dir. Baiklah, besok kita berkunjung ke rumah Kak Pipit, ya?" kataku sumringah.


"Oke, Dil. Apa kau mau menginap disini untuk malam ini Dil?" tanya Dira, karena kebetulan besok aku dan Dira sedang libur kerja.


"Iya, Dira. Kita menginap disini ya, aku masih merindukan rumah ini." sahutku sambil menatap seluruh penjuru kamar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2