
Kami naik ke dalam mobil, lalu sang asisten langsung menancapkan gas.
"Kita akan kemana, Tuan Zain?" tanya Raymond.
Zain hanya diam, tak menjawab pertanyaan dari sang asisten.
"Tuan!" panggil sang asisten.
"Tuan!" kali ini, sang asisten mengeraskan suaranya.
Zain pun terkejut, lalu menatap tajam ke arah Raymond.
"Kau mengagetkanku, Ray!" sahut Zain geram.
"Ma-maf, Tuan! Saya sudah memanggil anda sedari tadi, tapi anda tak meresponnya." ucap sang asisten menciut.
"C'k, sudahlah! Ada apa kau memanggilku?" astaga! Ternyata Zain tak mendengar apa yang dikatakan Raymond sedari tadi, apa dia melamun?
"Kita akan kemana, Tuan Zain?" tampaknya Raymond sudah naik darah, terbukti dari suaranya yang sedikit menggeram.
Aku yang dibelakang hanya menonton mereka berdua, boss galak dan si asisten. Sementara Dira, dia asyik dengan lagu dan headseatnya.
"Cari kost-kost an, sekitar kota ini. Suruh bodyguardmu itu!" sahut Zain datar. Sepertinya Zain sedang kesal sekarang, entahlah karena apa.
Ehm, apa mungkin karena kejadian tadi ya? Entah, aku pun tak tau!
"Baik, Tuan!" patuh sang asisten, Raymond.
Detik itu juga, Raymond menelfon bodyguard (anak buahnya).
***
Zain menyuruh asistennya untuk berhenti disebuah rumah makan. Rumah makan yang terbilang sedikit mewah, tapi sangat istimewa bagi rakyat kecil seperti kami.
"Dila, Dira. Ayo turun, kita makan siang terlebih dahulu. Setelah selesai makan siang, aku akan mengantarkan kalian ke kost!" ajak Zain dengan suara ramah.
Mendadak, Zain merubah suaranya ketika berbicara padaku dan Dira.
"Baik!" jawab Dira ketus, dan dia yang lebih dulu turun.
Si Dira ini, marah-marah tapi merespons dengan baik apa yang dikatakan Zain.
Ku rasa, sudah tumbuh benih-benih cinta di dalam hati mereka masing-masing. Walau baru beberapa hari bertemu, tapi setauku tak sedikit orang yang baru bertemu langsung jatuh hati. Semua itu dapat kulihat dari gerak-gerik mereka berdua, kalian tak bisa berbohong dariku.
"Dila! Kau mau berapa lama dalam lamunanmu itu? Setahun? Dua tahun? Kau sungguh membuatku kesal hari ini, Dil!" omel Dira panjang lebar dan aku lah yang harus mendengarnya.
Tak kuhiraukan omelan Dira. Aku langsung mengikuti Dira yang lebih dulu jalan di depanku.
Aku, Dira dan Zain duduk di satu meja. Zain memanggil pelayan resto dan langsung memesan makanan.
"Kau ingin makan apa, Dira?" tanya Zain lembut.
__ADS_1
"Apa saja yang penting bisa dimakan!" sahut Dira tak ubah ketus.
"Hem, baiklah." suara pasrah dari Zain.
"Dan kau, Dila?" tanyanya padaku.
"Aku ingin steak daging saja." jawabku dengan nada sedikit datar.
Zain mengangguk dan si pelayan langsung mencatat pesanan kami.
"Minumnya, Tuan?" tanya si pelayan resto.
"Dira?" panggil Zain. Selalu yang teruma memanglah, Dira.
"Jus mangga saja." jawabnya cuek sambil terus memainkan ponselnya.
Pandangannya terarah padaku, aku mengerti dan langsung menjawab.
"Sama kan dengan, Dira!" ujarku.
***
Makan siang selesai, dan kami langsung di arahkan untuk berjalan menuju mobil. Aku kurang hafal jalan disini, walau pun baru tadi aku berjalan. Kota yang besar, dan yang pasti ramai sekali orang susah jadinya untuk menandai.
"Selesai?" tanya Zain.
"Cepat jalankan mobilmu, aku sudah sesak!" kata Dira kesal.
Mobil Zain menembus indahnya kota Berlin, mau itu siang, pagi, atau pun malam, kota Berlin tetaplah sangat indah.
Sekarang, jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Dari jam setengah 10 pagi, dan sekarang sudah menunjukkan pukul 3 kami tak kunjung sampai. Sebenarnya Zain ingin membawa kami kemana? Kenapa banyak sekali jalan, ini membuatku sangar pening.
Tak berapa lama, sampailah kami disebuat rumah sederhana yang hanya terbuat dari kayu. Sempat bertanya-tanya, ini rumah siapa?
"Sudah sampai, ayo turun!" ajak Zain.
Kami pun turun dari mobil, dan Raymond langsung membuka bagasi lalu menurunkan semua koper-koper kami.
Sekarang aku yakin, bahwa ini adalah kontrakan atau kost-kost an kami. Ini sangatlah dekat dengan perkantoran, itu artinya aku bisa melamar kerja disalah satu kantor tersebut tanpa harus membawa motor.
Rumah sederhana ini, terletak dipertengahan kota Berlin. Bahkan, perkantoran saja hanya selang 7 sampai 10 rumah. Menurutku sangatlah dekat, ini akan sangat memudahkanku.
'Puk..'
"Mau berdiri berapa lama? Setahun? Lima tahun?" tanya Dira datar sambil menatap rumah sederhana itu.
"Setengah detik saja! Sudahlah, ayo masuk!" ajakku.
Sesampainya di dalam, interior rumah ini sama sekali tak mirip dengan sebuah kost-kost an, tapi mirip dengan sebuah rumah. Apa Zain membelikan ini untuk kami?
"Zain, ini bukanlah sebuah kost-kost an atau pun sebuah rumah kontrakan. Kenapa ini mirip seperti rumah?" tanyaku sambil terus memandang setiap inci rumah tersebut.
__ADS_1
"Ini adalah rumah bawahanku, mereka menawarkan padaku dan aku membelikannya untuk kalian berdua. Maaf, jika tidak semewah yang di indonesia!" ucap Zain.
"Kau salah, Zain. Ini bahkan melebihi rumahku yang ada di indonesia." sahutku.
"Seharusnya kau tak usah repot-repot, Tuan Zain. Kami bisa mencarinya sendiri, keberadaan kami hanya akan menyusahkanmu nantinya!" sahut Dira yang sedang mengangkat kopernya juga koperku.
Zain berbalik menatap, Dira. Kemudian menjawab perkatan Dira barusan.
"Tak ada yang merepotkan disini, Dir. Aku hanya membantu sebisaku." jawab Zain yang terus memandang Dira.
Dira tak menjawab, dia kembali mengambil semua barang-barang kami yang ada di mobil, Zain.
"Ini rumah sederhana, dan hanya terdapat 3 kamar di rumah ini Dil. Apa kau keberatan?" jelas Zain dan pasti berujung ke pertanyaan.
"Bahkan aku ingin satu kamar saja, lalu kau datang dan memberikan 3 kamar untuk kami. Menurutku itu terlalu berlebihan, Zain." kataku.
"Asalkan kau dan Dira nyaman, Dil!" sahutnya kemudian berjalan mengitari rumah tersebut.
Zain, bukanlah pria yang jahat atau pun angkuh atau semacamnya. Dia terlihat baik di mataku, mungkin begitu juga jika di mata Dira.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malm, sangat lelah rasanya membereskan semua ini.
Aku dan Dira baru dapat beristirahat sekarang, terlalu banyak pekerjaan yang harus kami kerjakan tadi.
"Dil!" panggil Dira.
"Iya?" sahutku.
Saat ini kami sedang berbaring diruang tamu yang berhadapaan langsung pada jendela. Terlihat jelas dijendela itu terdapat sebuah taman disamping rumah ini, dan dilangit sana bulan tengah bersinar dengan terangnya.
"Kenapa Zain sebaik itu pada kita? Aku rasa itu terlalu berlebihan, Dil!" kata Dira.
Kan benar, aku yakin bahwa Dira pasti akan mengatakan hal yang sama denganku.
"Kau sependapat denganku, Dir. Dia terlalu baik, tak seharusnya dia memberikan rumah sebesar ini pada kita." jawabku.
"Bagimana jika besok kita mencari pekerjaan? Disini sangatlah dekat dengan perkantoran, Dil. Kau ada membawa ijazahmu kan?" tanya Dira.
"Tentu saja ada, Dir. Lalu bagaimana dengan kau, apa kau ada membawanya?" tanyaku balik pada, Dira.
"pastilah ada. Itu hal penting yang tak boleh terlupakan!" sahut Dira.
Aku tersenyum menanggapi ucapan, Dira.
Baiklah, besok aku akan memulai hidup baruku. Dengan pekerjaan baruku, dan juga dengan keuanganku yang baru. Heheh, sudah tak sabar menunggu besok.
Bersambung...
Jangan lupa like, vote, beri hadiah dan berkomentar yaa gaess... Jika berkenan saja.
__ADS_1