Success Is My Dream

Success Is My Dream
Kenapa Dia Di Sini?


__ADS_3

Ya, sahabatku kini bertambah satu, yaitu Dewa. Sebenarnya dia adalah pria yang baik, namun sifatnya saja yang sangat tertutup. Tak sembarang orang bisa masuk begitu saja ke dalam hatinya, mungkin hanya orang-orang yang terpilih saja.


Saat jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, dan matahari juga sudah terlalu panas, aku serta kedua sahabatku pamit pada, Dewa.


"Eh, Wa. Sudah kesiangan, dan matahari juga sudah panas sekali, kami pamit ya. InsyaAllah, kapan-kapan kami kembali berkunjung ke rumahmu lagi!" kataku sambil beranjak dari duduk.


"Eh iya, terima kasih ya udah mau berkunjung ke rumah kecilku, walau pun secara tidak sengaja bertemu, hehehe..." kekehnya. Aku dan sahabatku hanya tersenyum melihat tingkah, Dewa.


Dan tiba-tiba saja, Meyra berbicara dengan suara yang histeris.


"What! Kamu bilang rumahmu kecil begini? Kamu buta, Wa? Rumahmu bahkan lebih bagus dari rumahku, kau tau?!" histeris Meyra sambil menunjukkan rumah, Dewa. Kami bertiga sontak tertawa melihat tingkah bar-bar, seorang Meyra Astanti.


"Kau ini, Mey. Selalu saja bar-bar dalam berbicara, untunglah Dewa tidak jantungan mendengar suara krempengmu itu," sahut, Dira.


Hahaha, kami semua tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Dira barusan.


Setelah selesai dengan urusan saling tawa, akhirnya kami benar-benar pergi dari rumah, Dewa.


***


20 menit kemudian, sampailah kami di rumah Kak Pipit. Aku beserta kedua sahabatku pun masuk, dan mengucapkan salam.


"Assalamualaikum,!" ucap kami serentak.


"Ya, Waalaikumussalam Warahmatullah. Dari mana kalian? Kenapa lambat sekali baliknya?" tanya, Kak Pipit yang ternyata sedang duduk bersama Mas Aan, di depan tv.


Aku hanya tersenyum tidak jelas, lalu menjawab.


"Habis dari rumah Dewa, Kak! Ternyata rumahnya lumayan dekat dengan rumahmu, Kak," kataku.


"Oh ya? Baguslah, jadi kalian tidak terlalu suntuk berada disini!" sahut, Mas Aan.


"He'em, bener, Mas." sahutku balik.


Selesai berbicara bersama, Kak Pipit dan Juga Mas Aan kami pun naik ke kamar lalu mandi. Setelah selesai mandi, aku menekan tombol pada remot AC dan menyala lah AC tersebut. Kami merebahkan diri, akibat lelah. Dan, akhirnya tertidur.


***


Pukul 12, Kak Pipit mengetuk pintu kamarku.

__ADS_1


"Dila, Dira, Meyra! Ayo bangun, kita makan siang dulu," panggil Kak Pipit dari luar sana. Dengan nyawa yang masih belum terkumpul sepenuhnya, kami bangun dan berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci wajah kami.


Dan setelah siap, kami turun dan berjalan ke arah meja makan. Di sana sudah terdapat Mas Aan, Kak Pipit dan juga Buk Nita yang stand bay berdiri di sebelah kiri, Kak Pipit.


Aku duduk, di susul dengan sahabatku yang juga ikut duduk. Kami makan siang bersama, hanya dentingan sendok yang terdengar.


***


Pada sore harinya, Dira dan Meyra mengajakku untuk jalan-jalan ke kota, aku pun menyetujuinya karena aku juga bosan jika terus menerus duduk di dalam rumah.


Kami meminta izin pada, Kak Pipit. Setelah selesai meminta izin, segera kami berjalan ke arah jalan raya. Rencananya hanya ingin mencari makanan ringan atau cemilan saja di sekitar jalan raya ini. Tapi, pada akhirnya kami duduk di sebuah taman yang dekat dengan pusat jajanan kota.


Kami duduk bertiga, setelah membeli makanan ringan. Tak bosan-bosan aku beserta sahabatku untuk selalu tertawa, dan bersenda gurau.


Meyra dan Dira sedang membeli air minum, sementara aku hanya menunggu mereka di taman. Aku duduk sendirian, sambil melirik kanan-kiri. Dan tanpa ku duga, aku melihat seorang pria tampan di sebelah kiriku, dia sedang duduk sendirian.


Pria itu mengingatkanku pada pria yang kusukai, ya pria Jerman itu. Aku terus memerhatikan pria itu, sosok yang sangat familiar di penglihatanku. Apa dia, pria yang di Jerman itu? Atau aku yang salah orang ya?


Pria itu duduk sendirian, ponsel yang mahal berada di tangan putih itu, dan juga kacamata hitam yang terus bertengger di hidung mancungnya itu. Hatiku terus bertanya-tanya, siapa pria ini?


Tiba-tiba saja kedua sahabatku mengejutkanku, dengan cara menepuk pundakku.


"Kau melihat apa, Dil?" tanya, Meyra dengan santainya.


Aku pun menunjuk daguku ke arah kiri, dan mata mereka mengikutinya.


"Kalian lihat pria itu? Kalian kenal siapa dia? Dia selalu ada jika aku duduk di sebuah taman, mau itu di Jerman atau pun di Indonesia!" kataku sambil terus memandanginya.


Beruntungnya dia duduk sedikit berjauhan denganku juga sahabat-sahabatku, jadi tidak terlalu terlihat jika kami sedang mengamatinya.


Kulihat mata Meyra menyipit, lalu berkata,


"Sepertinya dia mirip dengan seseorang!" sahut, Meyra.


"Siapa?!" tanyaku serentak dengan Dira.


Meyra menatap ke arahku dan Dira, lalu dia mengeryit heran.


"Heran deh, masa sama Direktur sendiri gak ingat!" kesal, Meyra.

__ADS_1


Hah? Direktur? Direktur mana yang Meyra maksud?


"Direktur mana yang kau maksud? Direktur Brata Group? Perusahaan tempat kita bekerja? Atau perusahaan lain?" tanyaku bertubi-tubi.


Meyra pun mengambil nafas dalam, di lanjut dia duduk tepat di sampingku.


"Menurut kalian bagaimana rupanya? Ya sudah jelas lah, bahwa dia itu Direktur perusahaan tempat kita bekerja!" jelas Meyra.


Aku dan Dira hanya saling menatap satu sama lain.


"Lalu, kenapa dia ada di Indonesia? Dia Aceh pula," sahut Dira.


Meyra pun tampak berpikir,


"Entah, tanya saja sana!" sahut Meyra tak mau tau.


Kami pun terdiam beberapa saat, tak lama Meyra kembali membuka mulut krempengnya itu.


"Dan kalau kalian tidak percaya bahwa dia Direktur yang kalian lihat pertama kali di Jerman, tepatnya di parkiran kantor kita. Maka lihatlah saat dia dijemput nanti, apakah mobil yang dia pakai itu adalah mobil keluaran terbaru di Indonesia?" jelas Meyra, sepertinya anak ini sangat yakin bahwa itu Direktur perusahaan Brata Group.


"Juga, kalau kalian berdua melihat dia dijemput pakai mobil mewah, jangan lupa beritahu aku!" lanjutnya lagi, banyak cakap rupanya anak ini.


Kami pun serentak menarik nafas dalam-dalam, menetralkan rasa aneh di dalam diri masing-masing.


Aku kembali melirik ke arah pria yang dikatakan sebagai Direktur itu, apa benar ya dia Direkturnya? Ahh, pusing kepalaku memikirkannya.


Dan, tanpa ku duga, pria tampan itu menatap ke arahku. Sontak membuatku terkejut, lalu mengalihkan pandanganku ke sembarang arah. Ahh, kenapa dengan hati dan jantungku ini? Kenapa hatiku mengatakan bahwa dia pria yang sangat ku kenal? Dan jantungku, kenapa berdebar seperti ini ketika di tatap balik olehnya???


Aku pun mengajak mereka berdua untuk pulang, kalau aku berlama-lama di sini yang ada jantungku bakal copot.


Akhirnya kami pulang, aku tak menatap lagi ke arah pria tersebut. Langsung saja aku menjauh dari pria itu, takut sewaktu-waktu jantungku akan copot nantinya.


***


Bersambung...


Jangan lupa untuk selalu mendukung Author melalui, Like, Vote, Beri hadiah, dan Komen ya gaess...


Happy Reading All...

__ADS_1


__ADS_2