Success Is My Dream

Success Is My Dream
Saling Melepas Rindu


__ADS_3

Aku terkekeh mendengar Pak Qevin menyebut nama lengkapku. Bagaimana bisa dia tau segalanya tentangku, mulai dari keluargaku dan sekarang? Nama lengkapku pun dia tau.


"Bapak ini, seperti peramal saja. Apa sih, yang Bapak tidak ketahui tentang saya?" tanyaku sambil terkekeh pelan bersama dengan Dira.


Pak Qevin terdiam sangat lama, ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba diam?


"Pak! Kau baik-baik saja?" tanyaku khawatir, karena dia tiba-tiba saja seperti orang kelinglungan.


"Hah? I-iya, aku baik-baik saja, Dil. He'm baiklah, segera pulang sebelum malam semakin larut nantinya!" kata Pak Qevin.


"Baiklah, Pak Qevin. Saya dan Dira pamit dulu ya, assalamualaikum!" ucapku sambil berlalu dari hadapannya.


"Waalaikumsalam, Dilara." jawab Pak Qevin dengan sangat lembut.


Jujur, aku sudah tak ada perasaan apa-apa lagi dengan Pak Qevin. Hanya saja, hatiku berdetak tak karuan jika berdekatan dengannya. Tapi, itu bukan berarti cinta bagiku.


"Hati-hati, Dilara, Dira!" sahut Pak Qevin, ketika kami sudah agak menjauh darinya.


***


Keesokan paginya, kicauan burung bernyanyi secara bersahutan untuk membangunkan aku dan Dira yang masih tertidur dengan pulasnya. Aku terbangun ketika suara alarm ikut membangunkanku juga, mau tidak mau kubuka mataku dan berlalu dari ranjang.


Selesai membersihkan diriku, aku bergegas membangunkan Dira. Siap membangunkan Dira, segera ku siapkan sarapan untukku dan untuk Dira juga.


Saat sarapan, aku dan Dira sempat berngobrol ringan pasal semalam.


"Dil! Kamu ada hubungan dengan Pak Qevin?" tanya Dira, saat aku tengah menyantap sarapanku.


"Tidak, Dir! Aku hanya diajak makan malam bersama tadi malam, tidak lebih kok." kataku memastikannya.


"C'k, jujur saja padaku, Dil! Aku takkan marah padamu." ujarnya.


"Memangnya aku ngapain sama Pak Qevin selain makan malam? Dir, aku kan sudah bilang jika aku hanya diajak makan malam saja. Dia mengajakku makan malam, karena aku tak sengaja menumpahkan coffe milk latte dibajunya kemarin siang, dan dia mengajakku makan malam sebagai tanda permintaan maafku padanya. Tidak ada yang istimewa disana!" jelasku panjang lebar pada Dira.


Kulihat dia menganggukkan kepalanya dan seperti sedang memikirkan sesuatu, lantas aku bertanya padanya.


"Ada apa denganmu, Dir?" tanyaku.

__ADS_1


"Hah? Tidak, tidak apa-apa kok. Oh iya, apa kau tak merasa aneh dengan perlakuan Pak Qevin, Dil?" tanya Dira padaku.


"Tidak! Memangnya ada apa? Dan apa yang aneh itu?" tanyaku balik.


"Apa jangan-jangan dia suka padamu, Dil?" sahut Dira semringah.


Aku langsung menepuk pundaknya, si Dira ini kalo ngomong suka nyasar kemana-mana deh..


"Shutt! Kau ini bicara apa sih? Kalau pun dia suka padaku, apa itu berarti dia akan membalas perasaanku yang dulu? Tidak kan Dir." jawabku, kesal.


"Ohh, oke baik-baiklah. Sudahi cemberutmu Dil, ayo kita kerumah Kak Pipit untuk mengabari tentang meninggalnya Ayah dan ibu tirimu. Hari ini jadwal kuliah tidak ada, jadi kita bisa pergi kerumah Kak Pipit dan berlama-lama disana." ajak Dira.


Astagfirullah, mengapa aku bisa melupakan hal ini kemarin? Andai saja Pak Qevin tidak mengajakku makan malam, pasti aku sudah kerumah Kak Pipit kemarin.


"Ya ampun, aku lupa Dir. Baiklah segera bersiap, aku akan membersihkan ini dulu." kataku, Dira bangun lalu mengutip semua piring kotor dan mencucinya.


"Dilara! Kau jangan terlalu memanjakan diriku ini, nanti lama kelamaan aku yang ada akan menyusahkanmu selalu." sahut Dira sambil menelungkupkan piring-piring itu di raknya.


"Kau ini, Dir. Baiklah, aku akan ke depan untuk memanaskan motor dulu."


***


Aku juga belum sempat berkomunikasi dengannya, mau itu dari HP mau pun secara langsung. Aku sengaja tidak ingin mengabarinya dengan sangat cepat, aku ingin aku lah yang berbicara langsung padanya. Aku sangat merindukan Ibu, Ayah, dan Kak Pipit.


Setengah jam kemudian, sampailah kami dirumah Kak Pipit. Sederhana tapi, sangat indah dan nyaman bila dipandang. Aku dan Dira memarkirkan motor disamping rumah Kak Pipit.


Sebelumnya aku sudah menge-chat Kak Pipit, dan mengatakan jika aku ingin kerumahnya hari ini. Dia membalas pesanku, katanya.


***


"Assalamualaikum, Kak. Aku ingin kerumah Kakak hari ini, apa kau ada dirumah?" isi pesanku. Setelahnya kutekan send dan, terkirim. Tak lama HP ku berdering tanda pesan masuk, rupanya Kak Pipit langsung membalas pesanku itu.


"Waalaikumussalam, Dila. Kenapa lama sekali tak berkomunikasi dengan Kakak, Dila?" tanyanya, saat aku menge-chat dia lewat aplikasi hijau bergambarkan telefon.


"Maaf, Kak. Dila akhir-akhir ini sibuk dicafe terus juga sibuk dengan mata kuliah Dila, Kak. Dan sekarang, Dila baru ada waktu untuk berkomunikasi dengan Kakak. Dila juga ingin bermain kerumah Kakak, bolehkan?" isi pesanku, aku mengetiknya dengan panjang kali lebar.


Kak Pipit tau, bahwa aku bekerja sambilan kuliah. Dia tak mempermasalahkannya, malahan Kak Pipit mensupportku.

__ADS_1


Tak berselang lama, masuklah pesan dari Kak Pipit.


"Ya ampun, Dilaa.. Segitunya ya kamu giat belajar dan mencari uang, sampai-sampai melupakan Kakakmu ini!" jawabnya, disambung dengan emot malas.


"Baiklah, Kakakku sayang. Jangan marah ya, aku ingin ke rumahmu sekarang. Pokoknya kau harus ada dirumah titik!" balasku.


"Ya, ya baiklah. Hati-hati dijalan ya, Dilaraa.." balasnya.


***


Kutekan bel rumahnya, sebanyak 3x. Beberapa menit kemudian terbukalah pintu bercorak merpati tersebut. Dan terlihatlah Kakak yang selama ini aku rindukan, dengan cepat aku memeluknya dengan sangat erat.


"Assalamualaikum, Kak!" ucapku sambil terus memeluknya.


"Waalaikumussalam, Dilaa," sahutnya dengan suara parau.


"Kau baik-baik saja, Dil? Kau sehat kan disana?" tanya Kak Pipit sambil melepaskan pelukan erat kami.


"Alhamdulillah, Kak. Aku sehat, m-hm a-aku ingin bicara denganmu Kak!" kataku.


"Baiklah, silahkan masuk, Dila. Ayo Dira kita masuk ke dalam saja!" ajak Kak Pipit padaku dan Dira.


"Baik, Kak." sahut kami berdua.


Sesampainya didalam, Kak Pipit memanggil ART dirumahnya untuk membuatkan kami minum. Biasanya Kak Pipitlah akan membuatkan kami minum, tapi ini mungkin saja Kak Pipit masih merindukanku.


"Oh ya, Dira! Apa kabarmu?" tanya Kak Pipit pada Dira.


"Aku baik, Kak. Aku selalu baik bersama dengan, Dilara." jawab Dira sambil menyentuh pundakku.


"Syukurlah. Apa kalian mengalami kesusahan disana?" tanya Kak Pipit.


"Tidak, Kak. Kami baik-baik saja disana." sahutku.


"Kau ingin berbicara tentang apa, Dila?" tanya Kak Pipit.


Aku bingung harus memulai pembicaraan ini dari mana?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2