Success Is My Dream

Success Is My Dream
Sang Direktur Brata Group


__ADS_3

"Eh, Dira, Dila. Lihatlah ke arah sana, itu dia Direkturnya!" seru Meyra tiba-tiba membuat aku dan Dira terkejut.


"Astagfirullah hal'adzim, Meyra! Bisa gak sih, gausah ngagetin gitu. Ntar kalo kami jantungan gimana?" dan, keluarlah omelan khas dari Dira.


Meyra hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, sambil cengengesan.


"Hehe, maaf Dir. Aku terlalu heboh melihat, Direktur itu." katanya sambil terus terkekeh pelan.


"Hem, baiklah. Oh ya, apa katamu tadi?" tanya Dira.


"Di sana, di sana Direktur yang kubilang tadi malam." tunjuk Meyra ke arah parkiran. Setauku, parkiran itu hanya untuk para staf yang kedudukan/jabatannya tinggi.


"Dan, dimana orang yang kau bilang itu?" tanyaku kemudian.


"Sudah pergi lah, kalian lama sekali, jadinya dia pergi bersama bodyguardnya." kata Meyra.


"Hahhh, sudah lah. Ayo masuk saja, atau kita akan telat nanti!" kata Dira.


"Iya, ayo!"


***


Jam istirahat kini datang, kami beserta para staf yang lain, dengan segera bangun dari kursi dan berjalan menuju arah kantin. Beginilah kondisi perusahaan jika sudah waktunya istirahat.


Aku, Dira dan juga Meyra, segera mencari tempat duduk yang menurut kami nyaman. Selesai memilih-milih tempat, hari ini adalah giliran aku memesankan mereka makanan.


"Kalian, ingin pesan apa? Biar kupesankan!" kataku.


"Eum, aku ingin cappucina dan salad daging saja." sahut Meyra.


"Oh ya, dan kau Dira?" tanyaku beralih ke Dira.


"Aku ingin pizza ukuran kecil saja, dan minumnya jus strawberry." request Dira.


"Hem, baiklah. Kalian tunggu ya!" kataku dan berlalu pergi dari hadapan mereka.


Aku berjalan ke arah meja pemesanan, setelah selesai memesan makanan yang kami request tadi, aku memilih untuk duduk dikursi tunggu sambil memainkan poselku.


"Hay, Dila!" sapa seseorang saat aku tengah mengotak-atik ponselku. Aku dengan segera menengadahkan wajahku menatap orang tersebut,


"Oh, hay Pak Albi!" sapaku balik lalu beranjak untuk berdiri.


Dia menjulurkan tangan kekarnya ke arahku, aku yang mengerti dengan cepat menyambut uluran tangan itu.


"Lama tidak berjumpa, Pak." kataku basa-basi.


Lama dia tidak menjawab perkataanku, matanya terus saja menatap ke arahku tanpa berkedip.


"Pak! Ma-maf, tangan saya." panggilku sambil berusaha melepaskan genggaman tangan.

__ADS_1


"Ohoh, i-iya. Maaf, Dila!" ucapnya sambil melepas genggaman tangan tadi.


"Lama tidak berjumpa ya, Dil." katanya kemudian.


Ya ampun, tadi pun aku juga berkata seperti itu wahai, Pak Albi.


"Hehe, iya, Pak. Apa kabar, Pak?" tanyaku basa-basi.


"Syukur Alhamdulillah, baik. Bagaimana denganmu dan temanmu yang kemarin?" tanya Pak Albi.


"Alhamdulillah, Pak. Semua sehat wal'alfiat," jawabku sambil tersenyum ramah.


Saking asyiknya berbincang dengan Pak Albi, aku baru menyadari jika namaku sedari tadi sudah dipanggil.


"Nona, Dilara. Silahkan ambil pesanan anda!" panggil si pengurus pemesanan.


"Eh iya, sebentar." kataku sambil berjalan terburu-buru ke arah meja pemesanan.


Setelah mengambil semua pesanan, aku kembali ke arah Pak Albi.


"Permisi, Pak. Saya ke sana dulu ya, teman saya sudah menunggu!" pamitku sambil setengah membungkuk, tanda penghormatan.


"Iya, Dila. Silahkan, terima kasih waktunya tadi!" ucap si Pak Albi, sang Manager diperusahaan ini.


Aku hanya menanggapinya dengan tersenyum, lalu berlenggang pergi dari hadapan Pak Albi.


***


"Sudah selesai semuanya?" tanya Meyra.


"Sudah dong, ayo segera pulang!" ajak Dira.


"Ayo!" seru kami bertiga serempak.


Kami berjalan secara perlahan sambil terus berngobrol ringan dan bercanda bersama. Saat sampai di depan gerbang, Meyra memberhentikan jalan kami.


"Stop! Kalian lihatlah ke arah sana!" seru Meyra.


Sontak mataku dan mata Dira melihat ke arah yang ditunjuk, Meyra.


Seorang laki-laki yang berdiri di depan mobil, sambil mendekatkan ponselnya ke arah telinga. Pakaian yang sangat elegant, dan mobil sport putih keluaran terbaru menjadi sandaran punggungnya.


Yang menjadi pertanyaanku sekarang, siapa lelaki tersebut?


"Siapa dia?" tanya Dira mewakiliku.


"Sang Direktur di perusahaan Brata Group. Tempat kita bekerja saat ini, Dir, Dila!" sahut Meyra.


"Oh benarkah? Lalu, kenapa dia berdiri disamping gerbang?" tanyaku penasaran, pasalnya aku sama sekali tak melihat wajah si laki-laki itu. Wajahnya menghadap ke arah samping, sehingga aku tak dapat melihat wajahnya.

__ADS_1


"Mana lah ku tahu, kalian sudah melihatnya bukan? Dia sangat tampan, Dil!" cerca Meyra antusias.


"Biasa saja, itu karena aku tak dapat melihat wajahnya. Dilihat dari bodynya sih bagus, tapi tak tahu dengan wajahnya." kataku.


"Ah sudahlah, ayo pergi. Sebentar lagi sudah gelap, kita harus sampai di rumah dengan cepat!" kata Dira menyadarkan kami.


"Ayo lah!"


***


Adzan maghrib kini menyapa kota Berlin. Aku bersama dengan sahabat-sahabatku segera menuju ke kamar mandi, kami bergantian masuk ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu'.


Selesai mengambil air wudhu', aku ditujukan untuk menjadi imam mereka. Awalnya terkejut, lalu mereka berkata bahwa aku sudah sangat pandai dalam urusan agama.


"Tidak seperti itu konsepnya, Maemunah!" kataku.


"Ahh, sudahlah. Kau saja imamnya, dan kami makmumnya!" kata Dira kemudian.


"Huffft, baiklah!" sahutku.


Akhirnya aku menjadi imam bagi mereka, selesai shalat berjemaah itu, kami bertiga berjalan ke arah dapur dan memasak bersama.


"Kita masak apa ya?" tanyaku.


"Yang enak lah intinya!" sahut Dira.


"Hahah kau benar, apalagi kalau Dila yang masak, beuhh selalu jadi juara." sahut Meyra sambil terkekeh.


"Lebay sekali kalian!" seruku, sambil berjalan ke arah lemari pendingin alias kulkas.


Setelah lamanya kami berkutat dengan pekerjaan dapur, akhirnya selesai makanan spesial yang kami buat bersama-sama.


Kami duduk bertiga diruang makan, lalu kami bercanda dan tertawa di sana. Sangat seru, bahkan diluar ekspetasiku.


"Kau tau Dila, pagi kemarin si Meyra ileran loh!" kata Dira sambil tertawa terbahak-bahak. Aku pun ikut terbahak mendengar obrolan mereka,


"Cihh, kau ini. Lalu bagaimana dengan suara kentutmu di tengah malam hari itu? Aku sampai merinding mendengarnya, Dir." sahut Meyra kemudian, yang membuatku tambah terbahak-bahak.


Sedangkan Dira, dia diam ditempat sambil meminum airnya.


Kami melalui hari-hari kami seperti ini, menurutku ini sudah sangat seru sekali. Ahh ya, aku mengingat sesuatu. Ini sudah sangat lama aku pikirkan, tapi aku lupa untuk menyampaikannya pada Dira dan Meyra.


Meyra, kini sudah tinggal bersama kami. Dia sudah tak mengekost lagi di kost annya itu, dan sekarang kami tinggal bertiga dirumah ini.


"Dira, Meyra. Aku ingin, 2 bulan lagi kita pindah dari rumah ini dan pergi mencari rumah yang baru, atau bisa juga sebuah apartement." aku menyela obrolan mereka.


Tampak wajah mereka terkejut, tanda menanyakan apa maksudnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2