
Tak berapa lama kemudian, sampailah kami di perusahaan. Aku dan Dira segera pamit pada Pak Albi, dan mengucapkan terima kasih.
Aku dan Dira langsung kembali ke ruangan kami masing-masing, untunglah ini belum masuk jam istirahat. Jika sudah masuk, pastilah Meyra mencari-cari kami.
Aku kembali ke ruanganku, dan kembali berkutat dengan berkas-berkas perusahaan ternama ini. Uhh, sungguh melelahkan jika bekerja ya..
***
Jam istirahat sudah tiba, seperti biasa Dira dan Meyra menghampiriku ke meja. Lalu, mereka mengajakku untuk makan siang ke kantin.
"Hay, Kakakku! Ayo, ke kantin!" sapa Meyra dengan suara sok imutnya.
"Hay, Adekku! Baiklah, ayo!" ajakku.
Kami jalan serentak bertiga, orang-orang berpikir jika kami adalah kembar tiga, padahal beda Bapak dan Ibu.
Setelah sampai di kantin, kami segera mencari tempat duduk yang membuat kami nyaman. Lalu, kami memesan makanan yang kami inginkan. Perut sudah teriak-teriak minta makan, mau tidak mau aku harus memesan makanan dengan porsi lumayan.
"Dila, kenapa kau makan banyak sekali?" tanya Meyra padaku.
"Hem, aku sangat lapar makanya pesan yang porsi besar." jawabku seadanya.
"Ihh, kalau gendutan gimana?" tanya Dira kemudian.
"Ya biarkan saja! Yang gendut juga aku bukan kalian," sahutku.
"Ish, bercanda lo Dila!" kata mereka bersamaan.
"Hahah, tenanglah! Aku juga hanya bercanda, lagi pun memang perutku ini sangat lapar kok," jawabku sambil tertawa.
Akhirnya kami sengap saat makanan datang, kami makan dengan tenang. Hingga beberapa menit kemudian, seseorang datang lalu menyapa kami.
"Hay, Dila, Dira, dan Meyra!" sapa seseorang,
Ternyata itu teman kami yang bernama, Dewantara. Setelah dia menyapa kami, kami pun menyambutnya dengan senyuman kecil lalu menyapa kembali.
"Hay, Dewa!" sapa kami bersamaan.
"Em, boleh aku duduk?" tanya, Dewa.
"Boleh kok, silahkan!" kata, Dira.
Kami pun duduk berempat, lalu kami bercerita dan bercanda bersama hingga waktu istirahat telah habis. Kami bubar, dan kembali ke ruangan masing-masing.
***
Jam kini sudah menunjukkan pukul 16:04. Itu artinya 10 menit lagi, kami akan keluar dari ruangan dan pulang ke rumah masing-masing.
__ADS_1
Bell pulang pun berbunyi...
Tak lama, Meyra dan Dira datang. Mereka mengajakku pulang.
"Dila, ayo pulang!" ajak Dira.
"Iya, sebentar!" sahutku.
Lantas aku beberes, dan menutup ruanganku serta menguncinya.
"Ayo?!" ajakku.
Kami keluar dari perusahaan, kami berjalan santai karena ini masih sore. Aku pun berinisiatif mengajak Dira dan Meyra untuk jajan makanan ringan.
"Dira, Meyra! Jalan-jalan sambil jajan makanan ringan yuk?" kataku sambil tersenyum.
"Em, boleh. Udah lama juga gak jajan, bosan dirumah mulu!" sahut Dira. Meyra juga menyetujuinya.
Kami jalan-jalan dengan langkah yang santai, lalu mencari jajanan kaki lima di pinggir jalan. Disini jarang ada orang yang berdagang kaki lima, kebanyakan restaurant. Kami terus berjalan hingga akhirnya kami menjumpai pedagang kaki lima yang menjual bermacam makanan ringan.
"Eh, Dira, Meyra. Sini, disini kayaknya enak deh!" ajakku pada mereka.
"Boleh tuh," sahut Meyra.
Akhirnya kami menghampiri penjual makanan ringan itu. Terdapat banyak jenis makanan ringan yang tersedia, dari mulai roti panggang pedas, sostel roti panggang, burger, pizza rumahan, dan juga segala macam jus buah.
Aku mencari tempat duduk yang nyaman, tepat di bawah pohon rindang aku duduk sambil menunggu kedua sahabatku yang sedang memesan makanan.
Tiba-tiba, mataku menangkap sosok pria yang sangat tampan tengah berada ditempat duduk yang tak jauh dariku. Badannya atletis, rambutnya sangat macho, dan juga kulitnya yang putihnya hampir sama denganku.
Terlihat dia sedang duduk sambil memainkan ponsel mahalnya, tampaknya orang berkelas atas. Tapi, kenapa dia mau duduk ditepi jalanan ibu kota seperti ini? Dan lagi, kenapa dia sedang duduk sendirian disana?
Aku sebenarnya ingin menghampiri, tapi tiba-tiba saja kedua sahabatku datang lebih dulu dan menghampiriku.
"Sudah pesannya?" tanyaku sambil mengalihkan pandanganku ke arah mereka berdua.
"Sudah, ini! Pesananmu, Dil!" kata Meyra sambil menyodorkan bungkusan makanan yang masih panas itu.
"Thank you, Mey!" ucapku.
Mataku teralih lagi ke si pria tampan tadi, dan aku baru menyadari bahwa dia memakai masker di wajahnya hingga aku tak tau wujud asli wajahnya yang tampan itu. Dia menatap ke arahku sebentar, lalu kembali terfokus pada ponselnya.
"Dila!" teriak Meyra kesal.
"Kau ini, sudah tuli kah?" tanya Meyra kesal.
"C'k, ada apa sih? Ganggu aja deh," kataku malas.
__ADS_1
"Lagian, sudah sedari tadi aku memanggilmu, memang sudah dasarnya kau tuli sih." cerocos, Meyra.
"Eheheh, maaf. Aku sedang tidak fokus tadi," kataku sambil terkekeh menatap, Meyra yang tengah kesal itu.
"Memangnya ada apa?" tanyaku pada, Meyra.
"Bagaimana dengan makananmu, apa enak rasanya?" tanya Meyra antusias.
"Em, enak kok. Bagaimana juga dengan makananmu?" tanyaku balik sambil mengintip makanan, Meyra.
"Iniii sangat-sangattt enak, Dilaaa... Oohh, Dilaa thank you sudah mengajak kami berdua kemari!" ucap Meyra lebay.
"Tidak usah selebay itu, Mey. Lagian aku juga baru pertama kali kok, makan disini!" kataku sambil melahap makanan hangat yang menggiurkan itu.
"Hehehe, abisnya enak, Dil" sahutnya.
Mataku kembali menatap ke arah pria yang duduk tak jauh dari kami itu, tampak dia sedang menelfon seseorang. Aku terus menatapnya, a-aku seperti mengingat seseorang jika melihatnya. Tapi, siapa ya?
Beberapa menit kemudian, datanglah mobil sport keluaran terbaru berwarna putih dengan gaya mewahnya menghampiri pria tampan tersebut. Hem, sudah ku duga dia orang kaya.
Bagaimana ya rasanya naik mobil mahal dan mewah seperti itu?
Eh, eh, eh. Sebentar, bukankah mobil itu sama persis dengan mobil yang kulihat di kantor waktu itu? Sontak, aku memanggil Meyra dan mengarahkan pandangan Meyra ke arah mobil sport putih itu.
"Meyra! Coba kau lihat mobil di sebelah kiriku ini, apa mobil itu sama dengan mobil yang kita lihat dikantor waktu itu?" tanyaku sambil menunjuknya menggunakan dagu.
"Hah? Tidak ah, tidak mungkin. Setauku itu mobil Sang Direktur Brata Group. Tapi, tidak mungkin hanya dia saja yang menggunakan mobil mewah seperti itu. Oh ya, apa kau melihat orang yang naik ke mobil itu?" tanya Meyra,
Ternyata saat aku menunjukkan ke arah mobil itu, si pria tadi sudah masuk ke dalam mobil itu. Pantas saja, Meyra mengira bahwa itu bukan mobil yang kami lihat di kantor waktu itu.
"Lihat, tapi aku tak bisa menandakan wajahnya bagaimana." kataku.
"Ahh sudahlah, ayo makan terus ini sudah hampir gelap!" sahut Dira tiba-tiba, padahal sedari tadi dia diam saja menyimak obrolan kami.
"Hem, baiklah!" sahutku bersamaan dengan, Meyra.
Akhirnya jam sudah menunjukkan pukul 17:24, kami pun sudah selesai dan kami langsung berjalan kaki untuk pulang. Tak sedikit orang yang berjalan kaki disini, mereka rata-rata lebih suka berjalan kaki dari pada naik kendaraan yang mereka punyai.
Kami pulang dengan perasaan yang bahagia dan juga perut yang kenyang, sambil berjalan kami terus bercanda dan tertawa bersama.
***
Bersambung...
Jangan lupa untuk selalu mendukung Author, melalui Like, Vote, Beri hadiah, dan juga Komen ya gaes...
Supaya Author lebih bersemangat dalam meng-Update cerita.
__ADS_1