
Entah kenapa, sampai saat ini aku masih terus memikirkan pria itu. Ada apa denganku? Kenapa terus memikirkan pria yang beberapa hari belakangan ini sering ku jumpai? Aku seperti mengenalnya 1 tahun lalu, c'k kenapa aku sepelupa ini ya Allah?
***
Hari ini adalah hari pertama kami berpuasa, sementara Meyra sudah pulang kembali ke kampung halamannya walau pun tidak terlalu jauh dari kampung kami. Kini, tinggallah aku dan Dira di rumahku, bukan rumah Kak Pipit.
Aku dan Dira sudah berbicara pada Kak Pipit, bahwa kami akan tinggal di rumah peninggalan mendiang Ayah dan Ibu. Kak Pipit hanya bisa mengatakan, iya saja. Katanya, dia akan sering-sering berkunjung ke rumah untuk menjenguk kami. Aku tak mempermasalahkannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 16:05, aku dan Dira baru saja selesai shalat ashar. Kini kami sudah berada di dapur, sedang memasak untuk berbuka nanti. Sambil memasak, aku dan Dira saling berbicara.
"Dil, Meyra tidak mengabarimu sesuatu?" tanya Dira sambil terus merajang sayuran itu.
"Tidak, Dir. Mungkin saja dia sedang ada urusan bersama keluarganya, dan kita lebih baik jangan mengganggunya dulu. Biarkan dia berkumpul dengan saudara serta keluarganya!" sahutku dengan terus mengaduk kuah yang ada di panci.
Sejenak kami saling diam, tapi tidak dengan tangan kami yang terus bekerja itu.
"Dil, kemarin Mas Zain mengechatku!" kata Dira. Aku pun berbalik menghadap ke arahnya,
"Oh ya? Ada apa rupanya dia mengechatmu?" tanyaku penasaran.
"Dia meminta maaf atas segala sikapnya pada kita, terus dia bilang bahwa dia akan mengunjungiku tak lama lagi," jelas Dira yang membuatku angguk-angguk saja.
"Kau memaafkannya, Dir?" tanyaku sambil memindahkan masakan ke mangkok.
"Ya mau bagaimana lagi, jika rasa cinta sudah tertanam di dalam hati, rasanya tidak tega jika harus membiarkan kata-kata maaf itu terbuang begitu saja. Memanglah kata-kata itu yang ku tunggu darinya!" jelas Dira panjang lebar.
Aku memang sudah mengetahui, bahwa Dira menyukai Mas Zain. Hanya Meyra seorang yang tidak tau,
"Kau tinggal menunggu ungkapan rasa cinta dari Mas Zain saja, Dir!" sahutku.
Dira hanya menghela nafas saja,
"Iya, Dil. Sebenarnya, dia tak perlu mengungkapkan rasa cintanya itu, dengan dia datang ke sini ku rasa itu sudah di namakan perjuangannya untukku. Tapi, entahlah aku juga tidak tau pasti tentang itu. Itu hanya perkiraanku saja kok!" sahut, Dira balik.
"Jangan dipikirkan, cepat selesaikan pekerjaanmu lalu kita keluar untuk beli takjil!" kataku sambil mencuci piring yang sedikit berserakkan.
"Wokeh, sebentar lagi siap kok," sahutnya bersemangat kembali.
***
Setelah selesai bersiap-siap, aku segera membuka garasi rumahku dan mengeluarkan motor kesayanganku. Sejenak aku memanaskan motorku, agar semakin baik saat berjalan nanti.
5 menit kemudian, kami pun berangkat ke arah pusat jajanan kota yang ramai sekali jika sudah hampir berbuka puasa seperti ini. Aku berhenti di sebuah gerobak yang menjual aneka kue-kuean, dan juga aneka minuman segar.
"Dir, kita beli yang itu mau?" tanyaku pada, Dira.
__ADS_1
Dira tampak berpikir, lalu berkata.
"Boleh, kalo minuman kita beli di ujung sana aja ya?" aku pun mengangguk tanda mengiyakannya.
Setelah selesai membeli perkuean, aku lanjut menjalankan motorku ke arah kanan. Di sana, terdapat berbagai jenis minuman yang dapat menyegarkan tenggorokkanini saat berbuka nanti.
Dan, akhirnya kami selesai dengan urusan membeli. Aku dan Dira memutuskan untuk pulang, karena hari tampak semakin gelap.
Saat hampir sampai di perempatan, motor seseorang menyandingi motor kami dari sebelah kanan.
"Dila,Dira!" panggil seseorang.
Aku dan Dira sontak terkejut dan hampir menabrak tong sampah di depan sana, dan ternyata yang memanggil kami adalah Dewa.
Aku pun memberhentikan motorku di tepi jalan, begitu pun dengannya.
"Astagfirullah, Dewantara Adighuna! Kau nyaris saja membuat kami menabrak sesuatu di ujung sana tadi, untunglah kami selamat. Kalau tidak bagaimana? Sudahlah tak jadi berlebaran nantinya," cerocos Dira panjang lebar, sambil mengelus dadanya.
Dewa hanya tersenyum cengengesan, lanjut dia berbicara.
"Maaf ya, Dila, Dira! A-aku tidak sengaja, hehehe... Ohh iya, kalian ngapain berada di daerah ini? Cari takjil?" tanya, Dewa.
"Iya, Wa. Kami sedang berjalan-jalan sambilan mencari takjil, kau sendiri sedang apa?" tanyaku balik.
Kami mengobrol sekitar 10 menit kurang lebih, lalu kami bubar dan kembali ke rumah masing-masing.
Dewa berkata, bahwa dia akan berbuka puasa bersama kami minggu depan, aku dan Dira mengiyakan. Sesekali berbuka puasa bersama rasanya seru, dan kami berencana untuk memanggil Meyra juga Kak Pipit.
***
Seminggu kemudian...
Tibalah hari dimana kami akan berbuka puasa bersama, aku dan Dira kini sedang sibuk memasak untuk berbuka nanti. Bahkan, tak ada waktu bagi kami untuk mengobrol.
"Dir, hancurkan juga es batunya!" sahutku di sela kesibukan.
"Iya," sahutnya.
Jam kini menunjukkan pukul 17:05, aku dan Dira memutuskan untuk untuk mencari perkuean.
Sesampainya di pasar kue, aku meletakan motorku di parkiran pasar, guna supaya tidak lelah menenteng-nenteng motor itu. Sementara Dira, sudah sedari tadi pergi mencari kue.
Aku turun dari motor, dan berjalan ke arah kanan mengejar Dira yang sudah semakin jauh. Dan tiba-tiba, tanpa sengaja aku menabrak seseorang,
"Aduh!" seruku.
__ADS_1
"Ma-maf, Pak! Saya tidak sengaja, saya sedang terburu-buru mengejar teman saya, maaf sekali lagi!" ucapku tanpa henti sambil menangkupkan tanganku.
Hening?
Aku mendongakkan kepalaku menatap seseorang yang tanpa sengaja ku tabrak.
"Kau tidak apa-apa?" tanya seseorang itu dengan nada dingin. Siapa dia? Sepertinya aku mengenal dirinya.
Tak berapa lama kemudian dia mengulurkan tangannya untuk mencapaiku, aku tak langsung menerimanya. Aku hanya menatap tangan putih, dan juga kekar itu.
Dia berdehem, aku pun langsung tersadar dari lamunanku.
"Hah, oh ya a-aku baik-baik saja. Terima kasih, dan sekali lagi maaf aku telah menabrakmu!" ucapku setelah tersadar.
Setelah aku berdiri dengan sempurna, aku menatap ke arah orang itu.
Dia menggunakan kacamata hitam, persis seperti pria yang aku jumpai di taman.
Saat dia akan pergi, dengan cepat aku menarik lengannya.
"Tunggu! Maaf, siapa namamu, Pak?" tanyaku tanpa sadar bahwa aku sudah sangat lama memegang tangannya.
Pria itu sama sekali tak menoleh ke arahku, dia hanya menjawab tanpa menoleh.
"Aldio! Dan kau,?" tanya pria itu padaku.
Aku yang tersadar bahwa tanganku sudah sangat lama menggenggam tangannya, dengan cepat aku menarik kembali tanganku.
"Maaf, aku sudah lantang memegang tanganmu, Pak. Na-namaku, Dilara Humaira, Pak!" sahutku kemudian.
"Tidak masalah, aku duluan. Sampai jumpa di lain hari, Nona!" kata pria itu sambil menjauh dariku.
"Sampai jumpa di taman, Tuan Aldio!" seruku. Dia hanya berhenti tanpa menatap ke arahku, lalu ia lanjut berjalan.
Suara pria itu, mengingatkanku pada seseorang. Ya, sudah ku yakini, bahwa dia adalah pria yang kemarin duduk di taman. Hanya saja, aku belum mengenal wajahnya. Tapi, namanya aku sudah tau, yesss...
Aku pun mengejar Dira, setelah selesai kami kembali pulang ke rumah.
***
Bersambung...
Jangan lupa untuk selalu mendukung Author melalui, Like, Vote, Favorite, Beri hadiah, dan Komen ya gaess...
Happy Reading All...
__ADS_1