
Akhirnya, jam makan siang kini menghampiri. Dengan tergesa-gesa, kulihat Dira dan Meyra berlari kecil ke arah mejaku. Sepertinya, mereka sudah tak sabar ingin bertemu dengan, Pak Albi. Sedangkan aku biasa saja, tidak se-antusias mereka.
"Hey Nona Dilara! Apa melamunmu sudah selesai? Kakiku pegal menunggumu sedari tadi, apa kau tau hah?" ucap seseorang dengan kesal.
Ternyata Meyralah yang berdiri di depanku sambil berkacak pinggang. Aku terkejut, sejak kapan mereka sudah berdiri di depanku? Sedangkan aku? Sejak kapan aku melamun? Astaga! Ada apa denganku, Ya Tuhan....
"Eh, maaf-maaf, Mey. Aku tak tau, heheh." kataku sambil terkekeh cengengesan. Mereka menatapku malas, ya ampun sungguh aku tak menyadari kedatangan mereka.
"Cepatlah, Dila!" sahut keduanya kesal.
Aku hanya terkekeh hanya melihat keduanya, dengan segera aku bangun dari dudukku lalu mengikuti jejak keduanya.
Tak berapa lama kemudian, sampailah kami di kantin. Mata kami sibuk menelusuri seluruh kantin, guna mencari keberadaan, Pak Albi.
Tiba-tiba, Meyra memecahkan kesibukan kami.
"Hey, Dila, Dira! Lihatlah ke arah kiri sana, Pak Albi ada disana!" seru Meyra heboh sekantin. Ya ampun Meyra, aku jadi malu dengan perlakuannya yang terlalu heboh.
Pak Albi yang semula duduk dengan tenang, jadi menghadap ke arah kami bertiga. Lalu beliau melambaikan tangannya ke arah kami, beliau menyuruh kami untuk segera ke sana.
Aku hanya berdiri tak enak disamping, Dira. Dengan tangan di dahi, aku pura-pura mengurut keningku. Padahal, sebenarnya aku samgat malu.
"Ya ampun, Meyra Astanti! Tidak bisakah kau mengecilkan volume suara cemprengmu itu?" sahut Dira menggunakan suara kecil, dan penuh dengan kata-kata penekanan.
Meyra menghadap ke arahku dan Dira, lalu menyengir seperti kuda poni yang ada di film-film. Dia cantik sih, tapi suaranya mengalahkan semua kecantikan yang ada pada dirinya.
"Ahh, sudahlah. Ayo kita ke sana saja!" kataku menengahi.
"baiklah." sahut keduanya.
Akhirnya kami berjalan ke arah Pak Albi dengan wajah tak enak. Rasanya malu sekali dengan tindakan Meyra tadi, bagaimana jika Pak Albi merasa malu karena perlakuan Meyra tadi?
"Silahkan duduk, Mey, Dira, Dila!" suruh Pak Albi dengan suara sedang.
Kami menganggukkan kepala kami, lalu menjawab
"Baik, Pak!" sahut kami bertiga serentak.
Setelah mengobrol sebentar dengan Pak Albi, tak lama seorang pelayan dari meja pemesanan datang menghampiri.
"Tuan, ingin pesan apa?" tanya sang pelayan tadi.
__ADS_1
"Oh, iya sebentar!" sahutnya.
"Kalian, ingin memesan apa? Hari ini, saya akan mentraktir kalian semua." katanya sambil tersenyum manis.
"Wahh, Alhamdulillah, terima kasih Pak Albi! Beruntungnya diajak makan siang bersamamu." tiba-tiba saja suara Meyra kembali mucul, suaranya setengah menggelegar disekitaran meja kami.
"Oh hahah, iya Mey. Makanlah sepuasmu, saya traktir!" jawab Pak Albi terkekeh. Sungguh, demi apa aku dan Dira merasa sangat tidak enak dengan, Pak Albi.
Kulihat Dira menarik baju Meyra untuk segera duduk kembali, tadinya dia berdiri sambil mengucapkan kata-kata membagongkan itu. Aku dan Dira hanya tersenyum kecut ke arah, Pak Albi.
Selesai memesankan makanan, kami kembali mengobrol dengan, Pak Albi.
"Bagaimana dengan kalian selama bekerja disini? Apa semua baik-baik saja,?" tanya Pak Albi kepada kami semua, sambil menyeruput kopi susunya.
"Baik, Pak. Alhamdulillah, semua baik-baik saja!" jawab Dira mewakili kami.
"Syukurlah, apa kalian betah bekerja disini?" tanya Pak Albi lagi.
"InsyaAllah betah, Pak." jawab kami serentak.
Pak Albi menganggukkan kepalanya dan kembali tersenyum.
Sesaat setelah itu, pelayan yang tadi kembali dan membawa nampan berisi makanan ke meja kami. Selesai menaruh, pelayan tersebut permisi untuk kembali ke ruang pemesanan.
"Terima kasih, Pak Albi. Atas traktir makan siang hari ini, maaf jika ini terlalu merepotkan, Bapak!" kini giliranku bersuara.
"Iya, sama-sama. Bila ada waktu nanti, bolehkah saya berkunjung main ke rumah kalian? Oh ya, apa kalian satu kost an?" tanya Pak Albi.
"Iya benar, Pak. Kami serumah." kataku.
"Hem, di mana rumah kalian? Jika ada waktu senggang aku akan main ke rumah kalian." kata Pak Albi.
Setelah selesai memberikan alamat, kami langsung pamit undur diri untuk masuk ke dalam ruangan.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 16:30, ini sudah masuk jadwal pulang untuk para karyawan. Aku segera bangun dari dudukku, lalu beranjak membereskan semua barang-barangku.
Meyra dan Dira menghampiriku, lalu tersenyum ke arahku. Ada apa dengan mereka?
"Heh, ada apa senyum-senyum seperti itu padaku?" tanyaku sambil terus membereskan barang.
__ADS_1
"Terlalu PD dirimu itu, baru senyum saja sudah ditanyakan!" kesal Dira.
Aku tertawa melihat wajahnya yang seketika kusut itu, dan Meyra hanya terkekeh pelan melihatku.
"Apa kalian ingin pulang?" tanya seseorang tiba-tiba dari arah belakangku.
Aku berbalik ke arah belakang, dan ternyata yang bertanya itu adalah, Pak Albi.
Ohohh, ternyata mereka tersenyum ke arah Pak Albi, bukan ke arahku. Astaga, benar kata Dira, aku terlalu PD. Malunya, ya ampun..
"Iya, Pak. Kami mau pulang," sahut Meyra sambil tersenyum.
"Mau saya antar?" tanya, Pak Albi.
"Eh tidak usah, Pak. Kami tidak ingin merepotkan Bapak lagi, terima kasih tawarannya!" kataku menolak dengan halus.
"Hey, dari mana kalian merepotkanku? Justru, dengan kalian tidak menerima tawarankulah aku jadi merasa tersinggung!" sahutnya.
Aduh, kami seketika menjadi bingung. Ada apa dengan Pak Albi, kenapa dia jadi dekat sekali dengan kami seperti ini?
"Sudahlah, ayo pulang denganku! Sekalian, agar aku bisa tau di mana rumah kalian." katanya, lalu memutar tubuhnya dan keluar dari ruangan.
"Ahh, sudahlah. Terima saja, lumayan dapat menaiki mobil bagus!" seru Meyra antusias.
Hadeuhh...
"Heh, Bambang Sugiono! Kau ini, taunya buat kami malu saja. Suaramu itu, c'k ingin rasanya ku matikan saja. Suaramu selalu bisa bikin orang lain jantungan setengah mati, tau?" dan seperti biasa, terdengarlah repetan dari Asdira Miranda.
Aku hanya tertawa melihat Meyra yang diceramahi oleh, Dira.
"Iya-iya, aku minta maaf! Habisnya tuh, aku senang sekali jika bertemu dengan, Pak Albi." kata Meyra sambil tersenyum cengir.
"Sudah-sudah, ayo keluar! Tidak enak nanti, bagaimana jika Pak Albi menunggu kita terlalu lama?" sahutku menengahi obrolan mereka berdua.
"Ahh, iya iya iya. Ayo, Dira! Jangan mengoceh selalu, cepat jalan nanti kita ditinggal oleh, Pak Albi loh!" hahah aku tertawa melihatnya, dengan cepat Meyra menarik tangan Dira agar segera meninggalkan ruangan.
Alhasil, aku ditinggal oleh mereka berdua..
Bersambung..
***
__ADS_1
*Jangan lupa untuk selalu like, komen, beri vote dan hadiah buat ceritanya Author yaa gaess..
Supaya Author lebih semangat lagi Updatenya*...