Success Is My Dream

Success Is My Dream
Persiapan Keberangkatan


__ADS_3

Kami berdua sibuk dengan pikiran masing-masing, sambil menikmati makanan dan minuman yang kami pesan tadi. Masih terpikirkan maksud dari kata-kata Qevin, aku jadi penasaran.


"Dila! Sudahlah, gausah dipikirkan. Hanya dia dan Tuhan yang tau maksudnya itu. Ayo kita pulang dan berberes pakaian!" ajak Dira yang menyadarkanku dari lamunan.


"Baiklah, ayo!" sahutku.


Akhirnya kami pergi dari cafe tersebut. Kami menancapkan gas dengan cepat agar sampai dirumah.


20 menit kemudian, sampailah kami dirumah, Kak Pipit. Selama ini, aku tak pernah pulang ke rumah Ayah dan Ibu. Kunci rumah itu, selalu ku titipkan pada Buk Inur. Beliau lah yang merawat rumahku.


"Ayo cepatlah masuk, Dila! Kau menghayal saja kerjaanmu." panggil Dira.


"Ya ya ya, baiklah!" sahutku.


***


Siang berganti malam, aku dan Dira kini sedang duduk di meja makan menunggu Kak Pipit keluar dari kamarnya. Kami akan makan malam bersama dalam 2 hari ke depan ini, karena 2 hari lagi aku dan Dira akan berangkat ke Jerman.


"Hay! Sudah lama menungguku?" sapa seseorang yang termyata adalah Kak Pipit.


"Tidak kok, Kak. Baru 15 menitan gitu." sahut Dira.


"Ouh ya, baiklah. Mari makan!" kata Kal Pipit.


Kami makan dengan hening, tak ada suara, yang ada hanyalah suara dentingan sendok dan garpu.


"Selesai makan, kita berkumpul dibalkon kamarku ya, Dila, Dira!" sahut Kak Pipit tiba-tiba.


"Iya, Kak!" sahut kami berdua.


***


Selesai makan, aku dan Dira segera menemui Kak Pipit dibalkon kamarnya. Sesampainya dikamar Kak Pipit, aku dan Dira langsung menuju balkon.


"Kak!" panggilku.


"Ya, Dila. Sini duduk denganku!" suruhnya.


"Baiklah. Em, apa kau sudah lama menunggu kami disini?" tanyaku basa-basi.


"Tidak! Baru 10 menit. Oh iya, bagaimana dengan surat yang kau antarkan itu, Dila?" tanya Kak Pipit.

__ADS_1


"Berjalan dengan semestinya, Kak!" jawabku sekenanya.


"Tak ada penolakan darinya?" tanya Kak Pipit lagi.


"Ada! Tapi aku tak terlalu menanggapinya, aku bersikap dengan semestinya, Kak." jawabku.


"hem, oke. Ingat, hari rabu kalian sudah berangkat ke Jerman. Itu artinya kalian harus bersiap mulai dari sekarang, kalian mengerti?" kata Kak Pipit.


"Ya, Kak. Kami mengerti!" sahutku dan Dira.


Kami terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing. Menikmati semilir angin di malam hari, adalah hal yang takkan terlupakan. Aroma udara khas malam, sangat menyengat. Aku terbuai dengan angin malam, semudah itukah aku terbuai?


"Minumlah, Mbak, Bu!" tiba-tiba saja Buk Anye mengantarkan kami minuman hangat.


"Eh iya, Buk. Makasih minumnya ya!" sahutku.


Dimana udara sangat dingin, disitu harus ada minuman yang bisa menghangatkan tubuh kita. Seperti malam ini, ada sepiring biskuit dan 3 cangkir minuman hangat yang dibuatkan Buk Anye untuk kami bertiga.


Inilah, malam sesungguhnya. Pemandangan terindah yang pernah kulihat, dari atas kamar ini aku melihat sebagian kota asalku. Akankah aku kuat meninggalkan kota kelahiranku ini? Wallahu'alam...


"Ayo masuk, ini sudah larut malam. Jika kelamaan di luar, itu akan menyebabkan penyakit bagi tubuh kalian!" suruh Kak Pipit.


"Baiklah, Kak. Ayo masuk, Dil! Kau ini, tiada hari tanpa menghayal." sahut Dira meledekku.


"Bahkan kau tak sadar jika kami berdua selalu memandangimu sedari tadi," sahut Dira tak mau kalah dariku.


Aku terkejut, benarkah mereka sedari tadi memandangiku? Astaga!


"Kau ini, ya!" sahutku mencubit pinggang ramping Dira.


"Aduh, aw! Tangan kau seperti besi, Dila, hahah." kata Dira.


"Hey! Sudah-sudah, kalian ini seperti anak kecil saja." kekeh Kak Pipit melihat kami bertengkar seperti anak-anak.


"Ayo cepat, kita masuk!" kata Kak Pipit.


Akhirnya kami masuk ke dalam dan berpencar ke kamar masing-masing.


***


Pagi menyapa, kali ini pagi tak secerah dari pagi yang sebelumnya. Hari ini mendung, sepertinya cuaca sedang tak mendukung. Dengan malas bin males, aku bangun dari ranjang yang empuk ini. Aku berjalan sempoyong menuju kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.

__ADS_1


Selesai mandi, gegas aku memanggil Dira yang sedang ngorok kenikmatan itu.


"Dira, bangunlah cepat!" panggilku setengah berteriak.


"Hemm??" terdengar suara lenguhan dari mulutnya.


"C'k, bangun lah pemalas! Sudah hampir maghrib, apa kau tidak mau bangun juga hah?" dengan lihainya aku mengerjai Dira. Padahal ini masih pukul 6:35 pagi, heheh gak pa-pa lah sesekali ngerjai Dira.


"Hah??? Kau tak bercanda kan, Dila!" teriaknya kepanikan dan berlari ketar ketir.


"Hahah.. Kau lucu sekali!" seruku sambil tertawa terbahak-bahak.


Sejenak Dira berhenti, dan membuka gorden kamar lalu membuka jendela. Aku yang tau pasti akan terjadi sesuatu, dengan pelan aku berlari menuju meja makan.


"Astagfirullah, Dilaaaaaa!!!" teriaknya bahkan sampai terdengar ke meja makan.


Tiba-tiba, keluarlah Kak Pipit dari kamarnya. Kak Pipit seperti orang kepanikan, mungkin dia terkejut mendengar teriakan Dira yang sangat nyaring itu. Beliau sudah rapi dan wangi sekali, tapi mau kemana dia ya?


"Dila! Ada apa dengan Dira? Kenapa dia sampai berteriak seperti itu?" tanya Kak Pipit panik.


"Hahah, biarkan saja, Kak. Aku sedang mengerjainya tadi, aku bilang bahwa ini sudah maghrib lalu dia, bangun dan ketar ketir di dalam kamar seperti orang kebingungan gitu!" sahutku sambil terus tertawa nyaring.


"Ya ampun, Dila! Kamu jangan gitu dong, sayang Dira. Pasti nyawanya sangat terguncang apa lagi baru bangun." kata Kak Pipit ikut tertawa.


Tak lama aku berbincang dengan Kak Pipit, keluarlah Dira yang sudah wangi dan pastinya menggunakan baju daster ala emak rumah tangga.


"Hay, sahabatku sayang!" sapaku mirip seperti meledek.


"Kau, Dila! Heh, suka sekali mengerjai orang!" dengusnya kesal sambil memarik kursi dan duduk disampingku.


Walau bagaimana pun Dira, dia tak bisa marah terlalu lama padaku. Dia memang sahabat sejati yang luar biasa, tak ada dendam sedikit pun dihatinya untukku mau pun untuk yang lainnya.


Dira bukan tipe orang yang pendendam dan suka mendiami orang yang telah membuatnya jengkel, aku sangat tau sifatnya.


"Halo, Kak Pipit. Mau kemana, Kak?" sapa Dira ramah.


"Kakak ada urusan sebentar, urusan untuk keberangkatan kalian besok. Kalian dirumah saja jagain, Buk Anye ya. Kakak gak akan lama, setelah selesai dibandara Kakak langsung pulang. Nanti sore kita akan keliling-keliling kota untuk yang terakhir kalinya, oke?" jelas Kak Pipit panjang lebar.


Aku dan Dira hanya mengangguk-anggukkan kepala saja. Pertanda mengerti akan ucapan yang dilontarkan, Kak Pipit.


"Baiklah, aku sudah siap. Kakak berangkat ya. ingat, kalian tetap dirumah jangan kemana-mana!" kata Kak Pipit.

__ADS_1


"Iya, Kak. Hati-hati dijalan ya." sahutku dan Dira bersamaan.


Bersambung...


__ADS_2