
Tak sengaja, aku bertabrakan dengan Pak Qevin. Ahh ya ampun, bagaimana bisa jadi seperti ini? Kejadian seperti ini sama sekali tak pernah kuharapkan, pastilah berakhir hidupku hari ini ya Allah.
Bismillah...
Wajah Pak Qevin, tepat didepan wajahku. Detak jantungku seolah berhenti, wajahnya yang tampan membuatku tak bisa menoleh kemana pun. Astagfirullah hal'adzim, sadar Dil, sadar.
"Ma-maaf Pak, kalau saya salah!" ucapku menurunkan pandanganku.
"Bagus, kalau kau mengerti. Sekarang naiklah ke ruanganku Dilara, TIDAK PAKAI LAMA!" ucap Pak Qevin menekan kata-katanya.
"Hah? Ba-baik Pak." sahutku gugup.
Pak Qevin melangkah pergi meninggalkanku, ya ampun rasanya malu sekali. Aku sudah menerka, joka tidak ditegur dengan cara baik-baik pastilah ditegur dengan cara begini. Ah sudahlah, lebih baik aku naik ke ruanganya sebelum dia emosi lagi.
***
'Tok,,Tok,,Tok'
Aku mengetuk pintu pelan tapi, dari dalam belum juga terdengar sahutan. Kukeraskan ketukan pintuku, sampai terdengar sebuah sahutan.
"Masuk!" sahutnya, siapa lagi kalau bukan Pak Qevin.
Kubuka pintu, dan terlihatlah Pak Qevin yang sedang duduk sambil memegang laptopnya. Dia bahkan sudah mengganti baju sekarang. Kenapa dia tampan sekali ya Allah? Sungguh indah ciptaan-Mu ini.
"Permisi, Pak! Ada apa Bapak memanggil saya? Em untuk masalah yang tadi saya minta maaf, Pak." ucapku.
"Hem, baiklah. Sekarang sudah hampir mendekati waktu makan malam dan kau, harus menemaniku makan malam. Anggap saja sebagai tanda permintaan maafmu padaku." kata Pak Qevi dengan sangat santai.
Aku terkejut mendengar penuturan Pak Qevin. Apa-apaan ini? Mengajakku untuk makan malam bersamanya?
"Saya ikut makan malam dengan, Bapak?" tanyaku memastikan.
"C'k, apa aku setua itu hingga kau memanggilku dengan sebutan 'Bapak'?" tanya padaku.
"Pak Qevin adalah atasan saya, gak mungkin kalau saya panggil Qevin kan?" sahutku.
"Sepertinya bagus jika kau memanggilku dengan sebutan 'Qevin' saja. Hem baiklah, sekarang beritahu aku kenapa kau tidak masuk kerja selama seminggu lebih? Apa kau sakit Dilara?" tanyanya padaku.
"Begini Pak Qevin, saya kemarin mengambil cuti karena kedua orang tua saya meninggal. Dan tadi pagi, saya mendapat panggilan dari Aldi bahwa saya dipanggil oleh Bapak." jelasku pada Pak Qevin.
"Kedua orang tuamu? Bukannya kau hanya memiliki seorang Ayah dan ibumu sudah meninggal beberapa tahun yang lalu?" tanya Pak Qevin, membuatku terkejut. Bagaimana bisa dia tau bahwa aku cuma memiliki seorang Ayah?
"Bapak mengetahuinya? Darimana Bapak tau?" tanyaku kebingungan.
__ADS_1
Kulihat Pak Qevin sedang gelagapan, ada apa dengannya? Gelagatnya aneh, seperti sedang tertangkap basah saja.
"Pak? Apa kau baik-baik saja?" tanyaku lagi padanya.
"Em-hm ya, a-aku baik-baik saja." sahutnya gugup.
"Boleh saya keluar?" tanyaku.
"Baiklah. Segera keluar dari ruanganku!" kata Pak Qevin.
Aku segera melangkahkan kakiku menuju pintu, belum sempat aku membuka pintu Pak Qevin kembali memanggilku.
"Dil!" panggilnya.
"Ya, Pak Qevin?" sahutku.
"Jangan lupakan omonganku tadi, datanglah ke restoran Melati Indah pukul 7 malam nanti!" kata Pak Qevin.
"Baik, Pak. Saya permisi, Pak!" ucapku sambil berlalu keluar.
***
Jantungku berdetak tak karuan, saat ini aku sedang berada tepat direstoran yang dikatakan oleh Pak Qevin tadi. Dan dimeja nomor berapa dia duduk?
Sebelumnya, aku sudah berpesan pada Dira agar menungguku saat pulang kerja nanti dan Dira mengiyakannya. Sebenarnya dia tadi menanyakan kemana aku akan pergi, aku hanya menjawab bahwa aku ada urusan dengan keluarga ayahku.
Entah berapa lama aku berkeliling direstoran ini, sampai akhirnya handphoneku berdering nyaring ditengah keramaian ini.
Tak ada nama? Dan ini juga nomor asing. Aku penasaran siapa yang menelfonku, terpaksa aku mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo?" sapaku diseberang telfon.
"Apa kau tak melihatku sama sekali, Dilara?" tanya suara orang diseberang telfon, yang ternyata adalah suara Pak Qevin.
"Bapak dimana? Saya sudah mengelilingi restoran ini sedari tadi dan saya tidak melihat Bapak." kataku mengeluh.
"Aku ada dibelakangmu, Dilara." sahutnya yang membuatku terdiam.
Benarkah ia dibelakangku? Perlahan kuputar tubuhku mengarah kebelakang, dan benar saja Pak Qevin ada dibelakangku sekarang. Aku terbengong menatapnya dan dia tersenyum menatapku.
Degh! Senyuman yang sama sekali belum pernah kulihat. Apa itu Pak Qevin? Seperti mimpi aku ini.
"Hey, kenapa kau bengong seperti itu, Dil?" tanyanya pas didepan wajahku. Aku terkejut dan langsung mundur beberapa langkah.
__ADS_1
Pak Qevin seperti kebingungan melihatku mundur beberapa langkah, dia pun bertanya padaku.
"Ada apa, Dilara? Apa kau baik-baik saja?" tanyanya padaku.
"Hah? Ti-tidak Pak, aku baik-baik saja kok." sahutku gelagapan.
"Oh, baiklah. Ayo duduk!" ajaknya menarik tanganku.
Aku mengikutinya saja, sampai dia mendudukkanku disebuah kursi yang sangat cantik.
Kami mengobrol banyak hal malam itu, hingga akhirnya jam menunjukkan pukul 9 malam. Astaga! Aku melupakan janjiku pada Dira.
"Pak, saya mohon izin untuk kembali ke cafe ya?" kataku.
"Kenapa cepat sekali, Dil? Cafe sudah tutup sedari tadi." katanya membuatku terkejut.
"Maaf, Pak! Saya sudah janjian dengan Dira agar kami pulang bersama." kataku menunduk.
"Tak masalah, ayo balik! Pasti temanmu sudah menunggumu sedari tadi." ucap Pak Qevin sambil tersenyum, manis sekali.
"Baiklah, Pak. Tapi, saya membawa motor saya Pak." jawabku.
"Letakkan saja disitu kunci motormu, nanti ada orang yang akan mengambil motormu lalu membawanya ke cafe." jelas Pak Qevin.
Sebenarnya aku tak ingin satu mobil dengan lelaki yang belum terlalu kukenal. Tapi, Pak Qevin memaksaku agar ikut pulang bersamanya ke cafe. Aku merasa tak enak, dengan terpaksa aku menyetujui ajakannya.
***
35 menit kemudian, aku dan Pak Qevin sampai di cafe Lestari. Pak Qevin memberhentikan mobilnya tepat didepan cafe. Aku pun segera turun dan berjalan ke dalam cafe, tanpa kusangka Dira melihatku turun dari mobil Pak Qevin.
"Loh? Kau pergi bersama Pak Qevin Dil?" tanya kebingungan.
"Iya, Dir. Nanti aku ceritain ya, ayo pulang ini sudah larut." kataku sambil menariknya ke arah Pak Qevin.
"Pak bagaimana motor saya?" tanyaku.
"Oh iya, Dil. Motormu sedang dalam perjalanan kok, tunggu sebentar ya." kata Pak Qevin padaku.
"Baiklah, Pak." jawabku, lalu menarik tangan Dira agar ikut duduk bersamaku dikursi taman cafe.
Beberapa menit kemudian, motorku datang. Aku dan Dira berpamitan pada Pak Qevin yang telah setia menemani kami sedari tadi.
"Maaf, Pak. Kami berdua permisi ya." kataku padanya.
__ADS_1
"Kau selalu minta maaf, salahmu sudah sedari tadi kumaafkan, Dilara Humaira." sahut Pak Qevin sambil terkekeh, apa? Dia juga menyebut nama lengkapku?
Bersambung...