Success Is My Dream

Success Is My Dream
Drama Di Mobil Mewah


__ADS_3

Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya kami sampai tepat di depan mobil, Pak Albi. Beliau sudah menunggu kami di depan kap mobilnya, mendengar kami datang dia langsung membalikkan tubuhnya.


"Ehm, baiklah mari! Hari sudah semakin gelap," kata Pak Albi. Kami pun naik ke mobil mewah Pak Albi dengan sangat hati-hati.


Sebenarnya, jauh di lubuk hatiku, aku sedang bertanya-tanya. Apa mobil yang kunaiki ini sekelas dengan mobil Kak Pipit?


"Apa kalian lapar?" tiba-tiba saja lamunanku terbuyarkan oleh suara bariton, Pak Albi.


Kami bertiga saling bertatap-tatapan, sedang mempertimbangkan jawab yang benar.


"Hey, kenapa diam? Aku sedang bertanya, apa kalian lapar, Nona-nona?" Pak Albi mengulangi perkataannya sambil terkekeh ringan.


"Sebenarnya sih iya, Pak. Tapi, kami takut merepotkan Bapak lagi." jawab Meyra mewakili.


"Hahaha.. Harus berapa kali aku katakan, bahwa kalian sangat-sangat tidak merepotkanku sama sekali. Jadi, stop berkata MEREPOTKAN!" sahut Pak Albi kesal.


Aku tertawa melihat interaksi antara Meyra dan Pak Albi. Mereka, seperti Ayah dan Anak, hahaha..


"Hoy, kenapa denganmu? Tertawa sendiri seperti orang gila saja," tiba-tiba saja lengan kiriku di senggol, Dira.


"Hah? Ish kau ini, beraninya mengatakanku gila ya!" sahutku sambil mencubit pinggang ramping, Dira.


"Auwww, DILARAA HUMAIRAAAAA!!!!" teriak Dira begitu menggelegar sejagat mobil mewah, Pak Albi.


Astaga! Ini sangat-sangat memalukan, astagfirullah..


"Ya ampun, ada apa dengan Dira? Apa kau sakit, Dira? Apa kita harus ke rumah sakit?" panik Pak Albi, sontak memberhentikan mobil mewahnya.


"Hah? Ti-tidak, Pak! A- em maksudnya saya tidak apa-apa, heheh." jawab Dira dengan menunjukkan gigi putih rapinya.


"Fiuuuhh, astagfirullah. Kau begitu membuatku panik, Dira!" lega Pak Albi.


Sedari tadi, aku hanya menonton interaksi antara anak Adam dan Hawa ini, seharusnya di dalam mobil ini menyediakan popcorn agar menjadi semakin nikmat. Ahhh, sayangnya tidak ada popcorn disini.


"Ahhh, sudahlahh. Jalankan saja lagi mobilnya, Pak. Aku sudah sangat lapar," kesal Meyra, yang notabennya memang sudah benar-benar lapar.


Bukan berarti ia cemburu dengan perhatian Pak Albi, aku tau bagaimana sifatnya. Persahabatan terjalin selama 3 bulan terakhir ini, membuatku menghafal tabi'atnya.


"Oh, yaa ma-maafkan aku, Meyra. Baiklah, mari kita cari restorant terdekat." sahut Pak Albi.


***


Setelah melewati banyaknya dramatis di dalam mobil mewah tadi, akhirnya kami sampai di sebuah restoran mewah. Tempat ini adalah tempat kedua yang terbilang mewah setelah restoran yang kukunjungi kemarin dengan, Dira.

__ADS_1


"Ahh, akhirnya sudah sampai. Ayo, kita turun!" kata Pak Albi.


Kami bertiga turun dari mobil, dan langsung berjalan mengikuti Pak Albi. Kami sudah seperti 3 anak gadis, Pak Albi. Setelah berjalan hingga 10 menit, akhirnya kami sampai di meja pengunjung. Aku dan Dira duduk berdampingan, sedangkan Pak Albi dan Meyra masih diam berdiri menatap kursi mereka.


"Kenapa tidak duduk? Apa kursinya bermasalah?" tanyaku pura-pura tidak tau.


"Eh, tidak bukan begitu, baiklah Meyra mari duduk!" sargah Pak Albi sembari menarikkan kursi untuk, Meyra.


Aku merasa di dalam hati Pak Albi pasti berkata  'Ya ampun, tak ada pilihan lain selain duduk dengan gadis cakrawala ini!', membayangkan itu membuatku tertawa.


"Dira, Dila. Pesanlah makanannya, aku ikut kalian saja!" kata Meyra.


"Ohohh, iya iyaa aku hampir lupa. Cepatlah, pesan makanannya!" sahut Pak Albi, seperti merasa tak enak.


Setelah bersendawa dan bercanda bersama, kini jam sudah menunjukkan pukul 19:00, wahh secepat ini ya waktu berjalan.


"Baiklah, hari sudah gelap dan kita kembali ke rumah! Cepat, bersiaplah!" perintah, Pak Albi.


Kami dengan cepat berdiri dari duduk, dan membereskan barang yang sempat kami keluarkan dari tas. Setelah selesai, kami pergi mengikuti Pak Albi yang berjalan menuju parkiran mobil.


Setelah melakukan perjalanan selama 30 menit, akhirnya kami sampai dirumah sederhana ini.


"Sangat sederhana, indah, dan juga asri. Aku suka dengan rumah yang seperti ini, oh ya apa setelah ini aku boleh untuk berkunjung ke rumah kalian jika ada waktu?" tamya Pak Albi panjang lebar.


Kami bertiga saling pandang, lalu tersenyum manis.


Beliau terkekeh


"Terima kasih," ucapnya.


"Terima kasih, Pak. Atas makan malam hari ini, maaf jika merepotkan Bapak!" kata Meyra mewakili aku dan, Dira.


"Tidak masalah, kalau begitu aku pamit, sampai jumpa besok," sahut Pak Albi, lalu membalikkan tubuhnya menuju mobil mewah itu.


"hati-hati, Pak!" kata kami bertiga.


Beliau tersenyum sambil menatap kami satu persatu.


"Baiklah, Pak Albi sudah pulang dan sekarang ayo masuk lalu istirahat!" kata, Dira.


"Ayo," sahutku dan Meyra.


Hari ini sangat menyenangkan, ku harap kami bisa seterusnya seperti ini...

__ADS_1


***


Pagi menyapa, kini jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Aku segera bangun lalu berjalan ke kamar mandi, guna mengambil air wudhu'. Selesai berwudhu', lekas aku bangunkan kedua permaisuri kayangan ini.


Akhirnya shalat sudah, mandi sudah dan sarapan pun kini sudah terhidang. Sudah pukul 6:50 pagi, itu artinya 20 menit lagi kami berangkat bekerja.


"Dira, Meyra, cepatlah keluar dan sarapan bersama!" teriakku dari meja makan.


"Iya, Ibu! Sebentar, kami sedang berdandan," sahut keduanya, astaga! Mereka memanggilku dengan sebutan 'Ibu'?


Aku terkekeh pelan, ya beginilah jika punya sahabat yang bar-bar skuy.


***


Semua sudah selesai, kami bertiga sudah rapi dengan pakaian kerja kami, dan kini kami sedang duduk sambil memakai sepatu.


"Oke, perfect. Sudah siap semuanya? Tidak ada yang tertinggal lagi kan?" tanyaku.


"Tidak, Madam!" sahut keduanya tegas.


"Baiklah anak-anak, mari kita keluar!" kataku kemudian.


Kami berjalan sembari bersenda gurau, saat sampai di depan pagar rumah, mata kami tertuju ke arah mobil mewah yang terparkir demgan elok. Bukankah itu mobilnya, Pak Albi? Kenapa pagi seperti ini sudah ada di depan rumah kami?


Tiba-tiba beliau menurunkan kaca mobilnya, dan tertampaklah wajah tampan nan menawan Pak Albi.


"Kalian menunggu apa? Apa menunggu bintang jatuh disitu?" tanya Pak Albi bercanda.


"Assalamualaikum, Pak! Bapak, kenapa bisa ada disini?" tanya Meyra terheran-heran.


"Waalaikumsalam, Meyra. Aku menunggu kalian disini," jawab Pak Albi sambil tersenyum.


Kami terkejut, kenapa Pak Albi menunggu kami di depan rumah seperti ini? Jika beliau mau, beliau bisa masuk ke dalam rumah sederhana kami itu.


"Kenapa Bapak menunggu disini? Jika berkenan, Bapak bisa masuk ke rumah kami." kataku sopan.


"Aku hanya belum terbiasa saja, jadi aku menunggu kalian disini. Ayo, berangkat bersamaku menuju kantor! Mobilku sepi jika tak ada ocehan Meyra, dan tidak ada perkelahian antara Dila dan Dira, So cepatlah naik!"..


Jelas Pak Albi panjang lebar kali tinggi. Kami hanya terpelongo menatap, Pak Albi. Sungguh ini diluar dugaan kami bertiga, c'k c'k..


Akhirnya kami pun naik ke mobil mewah Pak Albi, untuk kesekian kalinya.


Bersambung...

__ADS_1


*Jangan lupa untuk selalu ngedukung Author dengan cara like, Vote, Beri hadiah dan Komen ya gaesss....


Agar Author Lebih Semangat Lagi Buat Nge-Update Ceritanya...😊😍*


__ADS_2