
Hari ini adalah hari kedua kami bekerja, ternyata Meyra juga anak baru diperusahaan itu. Meyra gadis yang ceria dan baik, tak kalah sama dengan Dira. Sekarang, mereka berdua adalah sahabatku, Dira dan Meyra.
Jam istirahat telah tiba, waktunya makan siang. Kami semua berbondong-bondong berjalan ke arah kantin, untuk makan siang bersama.
"Dira, Dila. Kalian mau pesan apa?" tanya Meyra.
"Aku ingin bubur aja, Mey!" jawab Dira.
"Dan kau, Dila?" tanyanya kemudian padaku.
"Aku mie pasta aja, Mey." sahutku sambil tersenyum. Sudah lama rasanya aku tidak makan mie pasta.
"Oke, baiklah. Tunggu, aku kesana dulu!" katanya.
Aku dan Dira hanya menganggukkan kepala, lalu tersenyum.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, dan itu artinya 5 menit lagi kami akan pulang. Aku dengan cekatan menyiapkan semua tugas yang diberi, tidak terlalu banyak sih tugasnya. Aku, Dira, dan Meyra satu angkatan juga satu ruangan. Pas banget kan..
Sudah waktunya pulang, Meyra dan Dira berjalan menghampiriku yang sedang membereskan meja.
"Ayo, Dil!" panggil Dira.
"Sip, ayo." ajakku balik.
Kami berjalan dengan serentak, sambil bercanda dan tertawa bersama. Meyra tak seburuk yang kubayangkan, dia sangat baik padaku dan Dira. Dia selalu datang kerumah kami untuk sekedar bercerita dan berbagi makanan. Indahnya persahabatan..
"Ehh Dila, Dira itu bukannya Pak Aldio?" langkahku terhenti kala Meyra menyebutkan nama 'Aldio'.
"Siapa Aldio, Mey?" tanyaku.
"Itu loh, Direktur perusahaan kita." jawab Meyra antusias.
"Oohh, terus? Kenapa?" kataku sambil mencari ponselku di tas.
"Gak pa-pa, siapa tau kalian mengenalnya. Apa kalian melihat wajahnya tadi?" katanya kemudian.
"Tidak sempat," jawab Dira.
"Yahh, sudah pergi dianya." keluh Meyra.
"Yasudah lah, mari kita pulang. Aku sudah gerah sekali," kataku.
"Ayo!"
__ADS_1
***
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, aku, Dira, dan Meyra sedang duduk santai di teras. Selepas shalat maghrib tadi, kami memutuskan untuk duduk di teras rumah sekedar berbincang hangat.
"Eh, kalian tau gak kalo Direkturnya itu ganteng banget loh. Aku aja sampai pangling liatinnya." celoteh Meyra antusias.
"Kami tidak mengenalinya, Mey. Dan kau, dari mana kau tau bahwa dia Direkturnya? Mungkin saja kan dia bukan Direktur." kataku sambil mengunyah remahan biskuit.
"Tadi, dikantin mereka pada omongin tu orang, dan lagi, tu orang ngelewatin kantin dong." jelas Meyra.
"Kamu liat?" tanyaku.
"Iya aku liat, Dil. Pas aku mesen makanan, mereka tunjuk-tunjuk gitu ke arah dia, aku penasaran dong dan langsung liat ke dia. Ya ampun Dil, sama persis dengan yang aku liat diloby kantor." jelas Meyra panjang lebar.
Aku dan Dira hanya mendengarkannya sambil meminum teh yang aku buat tadi.
"Kau suka dengannya, Mey?" tanya Dira.
"Siapa sih yang tidak suka pada pria seganteng dan semapan itu?" omel Meyra.
"Hahah, iya ya. Coba besok kau tunjukkan pada kami, yang mana orangnya. Siapa tau kami pun suka padanya." kekehku.
Malam sudah larut, jam juga sudah menujukkan pukul 10 malam. Tapi kami tetap melanjutkan obrola kami, sampai akhirnya Meyra ikut menginap dirumah kami.
"Apa tidak kalian keberatan?" tanya Meyra sungkan.
"Ya ampun, Meyra. Kau bicara apa sih? Mana mungkin kau menyusahkan kami, kau itu sahabat kami dan pasti kami akan membantumu dalam kesulitan apa pun. Jadi, menginaplah disini malam ini, besok pagi kita akan berangkat bersama ke kantor." jelasku panjang lebar.
"Baiklah, terima kasih sahabat-sahabatku sayang!" ucap Meyra seperti terharu, lalu dia memeluk aku dan Dira.
"Sama-sama, mari masuk. Udara disini semakin lama semakin dingin!" kataku.
***
Pagi yang hangat kini menyapa, lantunan ayat-ayat suci Allah merdu berkumandang dimasjid-masjid. Aku terbangun pada pukul setengah 6, itu artinya 30 menit lagi akan berkumandang suara adzan yang juga tak kalah merdu.
Sebenarnya, hidup di megara orang tak sesulit yang kita bayangkan. Cukup bekerja, menghormati orang sekitar, dan mematuhi aturan setempat. Kehidupanku yang sekarang, jauh berbeda dengan kehidupan yang aku pikirkan jauh-jauh hari sebelumnya.
Aku menikmati hidup di negara ini, sama halnya dengan Dira. Rencananya, kami berdua beserta dengan Meyra, akan pulang ke Indonesia pada tahun berikutnya. Rindu akan kampung halaman, sudah bernari-nari dibenak kami.
Lama aku bersenandung dengan lamunanku, tiba-tiba saja suara adzan yang merdu berkumandang secara lantang. Aku bergerak dari kasur dan segera menuju ke kamar mandi, guna mengambil air wudhu.
Selesai berwudhu, ku bangunkan kedua sahabatku dengan perlahan.
"Dira, Meyra! Bangun cepat, sudah adzan subuh, ayo shalat subuh dulu!" panggilku pelan sambip terus menggoyangkan tubuh mereka.
__ADS_1
Hanya suara lenguhan yang terdengar. Tak ingin membuang waktu terlalu lama, aku segera melaksanakan kewajibanku sebagai umat islam, yaitu shalat 2 rakaat ( subuh ).
'Assalamualaikum warahmatullah'
'Assalamualaikum warahmatullah'
Aku duduk dihadapan sajadah sekitar 20 menit, mulutku terus berkomat-kamit melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an Allah. Berzdikir, juga tak lupa kulantunkan.
Terlalu bersemangat berzdikir, sampai aku lupa jika pagi sudah menunjukkan si bintang utama. Matahari, matahari lah bintang utama di pagi hari.
"Hey, kalian berdua. Tak ingin bangunkah? Ini sudah terang!" sungutku dengan tangan yang sibuk melipat mukenah.
"Hehehe, iyaa Dil. Ini juga udh bangun kok, cuma lagi ngumpulin nyawa aja." jawab Meyra cengengesan.
"Ya, baiklah. Bangunkan juga yang satunya, Mey!" kataku lagi.
"Siap!" jawabnya antusias.
Meyra tipe orang yang ceria, dia selalu menjawab perkataanku dengan semangat yang berkobar. Hehe, lebay ya..
***
Setelah selesai dengan drama pagi kali ini, aku bersama dengan sahabat-sahabatku sudah siap untuk berangkat mengais rezeki. Tepat pada pukul 7, kami semua sudah siap untuk berangkat.
"Siap?" tanyaku bersemangat.
"Siap dong, Dil!" seru mereka berdua tak kalah semangat dariku.
"Baiklah, jangan lupa untuk selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah pada kita, dan jangan pernah mengeluh dengan segala tantangan yang sedang kita hadapi. Aku ingin, kita selalu seperti ini. Bersemangat disetiap pagi."
Nasehatku, dengan senyum yang terus mengembang dibibir ini. Sementara sahabatku, menanggapi perkataanku dengan senyum manis mereka.
"Ayo, kita berangkat! Ya, hitung-hitung olahraga pagi lah." kataku terkekeh.
"Hahah, kau benar Dila. Kalau seperti ini terus, tubuh kita akan selalu sehat dan kuat." sahut Dira.
Setelah berbincang-bincang, kami akhirnya mengakhiri obrolan itu dan langsung melangkahkan kaki ini dengan perlahan.
20 menit kemudian, kami bertiga sampai diloby perusahaan Brata Group. Perusahaan yang sukses diberbagai bidang Entertaiment, sangat exotis bukan.
"Eh, Dila, Dira. Lihatlah ke arah sana, itu dia Direkturnya!" seru Meyra tiba-tiba.
Bersambung...
Ayo gaes, dukung saya agar lebih bersemangat untuk Up..
__ADS_1