Success Is My Dream

Success Is My Dream
Diusir Secara Halus


__ADS_3

Keesokan harinya...


Pagi menyapa, dan burung-burung berkicauan menyambut pagi yang indah ini. Segera kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi, dan mengambil air whudu'. Selesai berwhudu' segera kupanggil Dira yang masih terlelap di alam mimpi itu.


"Dira! Bangunlah, ayo shalat subuh dulu!" panggilku sedikit pelan.


Jam baru menunjukkan pukul 6 pagi di Jerman. Disini pukul 7:30 baru akan shalat subuh, hanya berbeda 5 jam saja dari indonesia. Bedanya, indonesia sangatlah cepat 5 jam dari Jerman.


Akhirnya, azan subuh berkumandang dengan sangat merdu. Dira segera beranjak bangun, dan menuju ke kamar mandi untuk memgambil air wudhu'. Selesai Dira mengambil air wudhu, aku pun sudah selesai shalat subuh. Memang terbilang cepat, karena hanya 2 rakaat saja.


"Kau sudah siap, Dil?" tanya Dira keheranan.


Aku menganggukkan kepalaku.


"Memang sudah, memangnya kenapa Dir?" tanyaku.


"Kenapa cepat sekali? Seperti dikejar set*n saja kau ini!" sahutnya keheranan.


"Hahah, bukan seperti itu. Lagi pun aku jikalau shalat sendiri, bacaan shalat kupercepat Dir. Beda cerita jika shalat berjamaah di masjid." jelasku.


"Ohhh, ya baiklah. Minggir, aku mau shalat!" perintah Dira.


"Iyaaaa.." sahutku.


***


Matahari sudah menampakkan diri, sangat indah warnanya. Aku dan Dira kini sudah selesai mandi, lalu pintu kamar kami diketuk.


'Tok.. Tok.. Tok'


"Permisi, Nona-nona! Kalian berdua dipanggil Tuan untuk segera turun dan sarapan." panggil asisten Zain, asisten itu bernama Raymond. Zain sudah mengenalkannya pada kami kemarin, saat jalan pulang ke apartement.


Jika dilihat, Raymond juga mengikuti jejak bossnya. Tampan dan mapan.


Dira bangun dari duduknya lalu membuka pintu itu, dan terlihatlah Raymond yang sedang berdiri. Sepertinya hendak mengetuk pintu untuk yang kedua kalinya.


"Tidak usah mengetuk untuk yang kedua kalinya, Tuan! Kami berdua tidak pekak!" kata Dira ngegas.


"Maaf, Nona. Bukan mak-" belum selesai Raymond berkata, Dira sudah lebih dulu memotongnya.


"Sudahlah, jangan memperpanjang muqaddimahmu disini. Langsung saja, ada apa kau mengetuk kamar kami selain memanggil untuk sarapan? Hem, biasa kau memanggil sebentar lalu langsung turun, dan sekarang hal apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Dira beruntun, sedangkan Raymond ternganga melihat sikap bar-bar Dira.


C'k, menurutku itu sudah terlalu biasa.


"Be-begini, Nona. Tuan Zain memanggil kalian berdua, karena Tuan ingin membicarakan hal penting. Kalau begitu, saya pamit Nona. Permisi!" secepat kilat, Raymond langsung pergi dari kamar kami.

__ADS_1


Hahah.. Aku tertawa terbahak-bahak, melihat Raymond yang takut akan kebar-baran Dira.


"Kau ini! Jangan seperti itu Dira, jika dia mengadu pada Zain bagaimana?" tegurku.


"Hahah, biarkan saja. Aku hanya ingin mengerjainya saja kok, Dil!" sahut Dira santai.


"Ayo turun, Zain pasti sudah menunggu kita sedari tadi!" ajakku mempercepat.


"Ya, baiklah." sahutnya kemudian.


***


Kami sedang menikmati sarapan pagi dengan tenang. Tak ada keributan seperti sebelumnya, kali ini aku tidak ingin membuat keributan. Mungkin besok akan kubuat.


"Dira, Dila! Hari ini kalian kulepas, tapi tetap dalam pengawasanku." Zain tiba-tiba membuka pembicaraan.


Aku dan Dira saling tatap, apa maksudnya 'lepaskan'? Apa kami burung?


"Ehm, bagaimana maksudmu itu Zain? 'Lepaskan' bagaimana?" tanyaku penasaran.


"Kalian sudah bisa mencari pekerjaan sendiri sekarang, dan kalian mungkin tidak akan tinggal di apartementku lagi. Maaf sebelumnya, bukan maksudku untuk mengusir kalian. Tapi ini keiinginan Kakak kalian sendiri, jika aku tidak menuruti itu akan berdampak buruk bagiku nanti." sejenak Zain memberhentikan omongannya.


"Jadi, kuharap kalian bisa hidup mandiri diluar sana. Tenang saja, kalian masih tetap dalam pengawasanku, silahkan tanya jika ada yang tak dimengerti nanti!" lanjut Zain panjang lebar, sementara aku dan Dira terbengong.


"Baiklah, terima kasih sudah memberi tumpangan menginap selama 3 hari ini, Tuan Zain. Ayo Dila, kita bereskan barang-barang mulai dari sekarang. Aku kira, kita akan tinggal disini sampai kita mendapatkan pekerjaan, tapi nampaknya tidak. Jangan berlama-lama, cepat Dila!" tiba-tiba saja Dira membuka suara.


Zain dengan cepat menolehkan pandangannya ke arah, Dira. Sepertinya Zain sedih sekarang, karena mungkin ia akan berpisah dari Dira.


"Hey! Apa lagi yang kau tunggu disitu? Mau tunggu diusir untuk kedua kalinya?" panggil Dira menyadariku dari lamunan.


"Dira! Dengarkan dulu penjelasanku, a-aku tidak mengusir kalian beruda dari apartement ini. Aku hanya menjalan perintah dari Pipit, agar melepaskan kalian setelah 3 hari. Maaf jika di dalam kata-kata ada yang membuat hatimu sakit!" jelas Zain mengejar Dira diujung tangga.


Aku hanya menatap mereka berdua dari bawah sini, hemm sulit sekali.


Aku beranjak dari dudukku, lalu menghampiri Dira dan juga Zain.


"Sudahlah! Tak perlu bertengkar, sudah menjadi kesepakatan dari awal bahwa kami harus menjaga diri kami sendiri dan juga mandiri. Tidak perlu merasa bersalah, Zain. Kami akan pergi dari apartement ini sebentar lagi, bisa kau bantu kami untuk mencari kontrakan atau kost-kost an disekitar kota ini?"


Aku mempertengahkan masalah ini, aku tak ingin mereka bertengkar karena hal seperti ini. Ini bukanlah tanggung jawab Zain, ini tanggung jawabku dan Dira sendiri.


"Tentu, aku akan membantu kalian untuk mencari kontrakan disekitar kota ini." jawab Zain pelan.


"Oke, terima kasih Zain." ucapku sekenanya saja.


Aku berjalan melalui Zain, tapi lagi-lagi Zain membuka suara.

__ADS_1


"Maaf, Dila. Bukan mak-" Dira memotong ucapan Zain dengan cepat.


"Ayo, Dila. Cepat kan sedikit gerakanmu itu!" geram Dira.


"Iya-iya.." segera aku menyusul Dira untuk naik ke atas dan membereskan barang-barang.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, dan kami sudah siap membereskan barang-barang semuanya.


"Sudah, Dila?" tanya Dira.


"Sudah, Dir." jawabku.


"Dila, bukan maksudku untuk menyudutkan kakakmu. Aku hanya kesal dengan cara penyampaian, si Zain itu!" cecar Dira emosi.


"Sudah, sudahlah Dira. Biarkan saja, mungkin dia belum mengerti." kataku.


"Ya, kau benar. Orang kaya kebanyakan tak mengerti tata krama, contoh sudah ada di depan mata!" cerocosnya lagi.


"Ayo turun, jangan berlama-lama di apartement ini aku sesak, Dil!" ajak Dira sambil mengangkat kopernya.


"Ya, baiklah. Kau jangan kebanyakan mengomel Dira, bisa-bisa darah tinggi pula nanti." godaku.


"Baiklah, baiklah. Terima kasuh peringatanmu yang tak berguna itu!" kesalnya lalu keluar dari kamar.


Aku terkekeh melihat Dira, dia jauh lebih happy sekarang dibanding dengan yang dulu. Aku bahagia melihatnya bahagia.


***


Sesampainya dibawah, kami langsung menuju ke teras. Disana sudah terlihat Zain yang sedang menunggu kami bersama dengan asistennya, Raymond.


"Kalian sudah siap?" Zain berjalan menghampiri kami yang berada agak jauh darinya.


"Tak usah mendekat, cukup disitu saja. Kami bukan anak kecil yang harus dihampiri!" sahut Dira pedas dengan mata yang tak menatap ke arah Zain.


Seketika, Zain berhenti dari jalannya, mungkin saja dia terkejut dengan ucapan Dira. Matanya terus melirik ke arah Dira yang sibuk membenarkan headseatnya.


"Ma-maf. Baiklah, mari!" pasrah Zain.


"Mari, Nona!"


Bersambung...


Jangan lupa like, vote, beri hadiah, dan komen ya gaes..

__ADS_1


__ADS_2