Success Is My Dream

Success Is My Dream
Akhirnya Kembali Juga


__ADS_3

Jujur, saat ini diriku sedang masa tegang-tegangnya. Sungguh demi apa aku sangat merasa takut, takut kalau Pak Albi akan menyalahkan aku dan Dira atas insiden ini. Terdengar dari suaranya, Pak Albi sangat marah. Entahlah, ini sungguh sulit untuk dipercaya.


"Astaga, Dila! Saat ini bukanlah saat yang tepat untuk bercanda, jika kau ingin bercanda sebaiknya putuskan saja sambungan telfon ini! Sungguh, ini membuatku kesal, Dila," oceh Pak Albi sedikit panik.


"Ti-tidak, Pak. Saya sedang tidak bercanda, Meyra kami benar-benar hilang. Kami sudah mencarinya diseluruh penjuru kantor, dan hasilnya nihil, Pak!" sahutku tak kalah kesal.


Sejenak diseberang sana, Pak Albi terdiam membisu.


"Ba-baiklah, Dila. C-cepat, berikan lokasimu sekarang!" sambungan pun terputus, suara itu jelas terdengar khawatir.


Aku pun mengirimkan pesan pada Pak Albi, bahwa aku sekarang sedang berada dirumah. Beliau hanya melihat pesanku saja, tanpa membalas.


"Assalamualaikum warahmatulla! Dila, Dira... Kalian dimana?" tak lama, seseorang masuk ke rumah dengan mengucapkan salam, serta memanggil namaku dan Dira.


Wait! Apa itu Meyra kami? Su-suaranya, sangatlah mirip..


Aku dan Dira saling 0andang, lalu berjalan dengan tergesa-gesa ke arah ruang tamu. Dan,, terlihatlah Meyra yang baru pulang entah dari mana. Di kedua tangannya terdapat berbagai macam aneka sayuran dan belanjaan lainnya. Sontak saja, aku dan Dira berhambur ke arah Meyra.


"Ya ampun, Meyra! Kenapa kau menghilang secara mendadak dikantor tadi? Kami-- kami sungguh lelah mencarimu tau? Apa kau terluka? Apa kau baik-baik saja? Katakan pada kami, Meyra!" oceh Dira panik bukan main.


"Shutttt, kalian kenapa sih? Aku baik-baik saja, Dila, Dira! Lihat, aku baik-baik saja, dan sehat wal'afiat." sahut Meyra santai.


"He eleh, nada bicaramu sangatlah santai bak air laut dikota seberang. Tidakkah kau tau kami kalang kabut mencarimu kesana-kemari? Dasar bocah aceh!" sahutku kesal.


"Ehehe, maaf sahabat-sahabatku!" ucapnya kemudian sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Dari mana saja kau?" tiba-tiba saja suara bariton nan dingin seseorang membuat kami terkejut. Kami bertiga membalikkan tubuh, dan diambang pintu terlihatlah muka datar dan lelah Sang Manager kami, Pak Albi Ardiansyah.


Kami diam tanpa berkata-kata, dan sekarang yang akan menjawab adalah Meyra.


Pak Albi terus menatap tajam ke arah, Meyra. Orang yang di tatap, hanya menatap balik dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Aku bertanya Meyra! Dari mana saja kau?" sekali lagi suara dingin dan tatapan menusuk itu bertanya ke arah, Meyra.


Sekian lama tidak menjawab, akhirnya Meyra menjawab dengan suara yang dingin pula.


"Itu urusanku, bukan urusanmu!" sahutnya.


Kulihat aura wajah Pak Albi seketika membuncah mengeluarkan sebuah amarah yang tersirat dalam dirinya, tampaknya beliau sangat marah kali ini.


"AKU BERTANYA! DARI MANA KAU?" kali ini terdengarlah teriakan bariton dari, Pak Albi.

__ADS_1


"Bukan urusanmu, peduli apa kau pada hidupku?" dengan santai dan mata yang berbalik menatap Pak Albi, Meyra menjawabnya.


"Tidakkah kau peduli dengan temanmu 2 orang ini yang terus mencarimu hingga larut malam seperti ini? Aku rela pulang dari kota sebelah, hanya untuk di--" omongan pun terputus, aku tak tau kata-kata apa yang selanjutnya akan disampaikan oleh Pak Albi.


"Meyra, jelaskan pada kami disini. Jujurlah, dari mana saja kau sampai-sampai setelah jam istirahat kau sudah tidak ada dikantor?" tanyaku lembut.


Meyra menarik nafas dalam, dan membuangnya secara perlahan.


"A-aku, pergi dari kantor dan pulang ke rumah, D-dila. Aku pulang sebab tubuh sedang tidak enak, aku sudah izin juga ke teman-teman diruangan sebelahku, Dil!" jelas Meyra tergugup-gugup.


"Seharusnya kau izin padaku, bukan mereka!" ujar Pak Albi dingin dan datar.


Aku dan Dira menatap ke arah Pak Albi untuk sesaat, kemudian beralih ke Meyra kembali..


"Lalu, kenapa tadi kau tidak ada dirumah?" tanyaku pelan.


"A-aku, eemm berbelanja kebutuhan dapur, Dil" jawab Meyra menunduk.


"Apa kau tidak punya ponsel untuk menghubungiku dan Dira?" tanyaku lagi.


"Maaf Dila! Ponselku lowbet disaat aku sudah keluar dari kantor," katanya.


"Kenapa sangat lama jika hanya ingin berbelanja bahan makanan?" kali ini suara Pak Albi bertanya.


Wajah Pak Albi seketika seperti orang yang tertangkap basah, dia terkejut sekaligus merasa di pojokkan. Entahlah apa maksudnya ini..


Sesaat kami diam, kami larut dalam pikiran masing-masing..


"Baiklah, jika tak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku pamit. Aku lelah, ingin tidur!" kata Meyra sambil berlalu masuk ke kamar.


"M-meyra!" panggil Pak Albi, tapi Meyra tak menghiraukannya.


Beliau terduduk di sofa ruang tamu dengan kepala yang menunduk.


"Di luar perkantoran, aku tak harus bersikap formal sangat kan, Pak?" kata Dira santai sambil berjalan ke arah Pak Albi dengan wajah yang tersenyum tipis.


Pak Albi menatap ke arah Dira yang sedikit maju ke arahnya.


"Maksudmu?" tanya Pak Albi keheranan, jangankan dia aku sendiri pun begitu. Ada apa dengan sikap Dira?


"Apa yang sudah kau perbuat pada, Meyraku?" tanya Dira dingin.

__ADS_1


Pak Albi sedikit terkejut keheranan, mungkin beliau bertanya apa maksud dari perkataan Dira.


"Aku? Melakukan sesuatu ke, Meyra?" tanyanya pada diri sendiri.


Aku dan Dira mengangguk pelan,


"Ingatlah seperti apa perlakuanmu sebelum Meyra menghilang!" cecar Dira kemudian.


"Katakan pada kami jika kau menyukainya, kami disini tidak suka kebohongan. Jika kami bisa, kami akan membantu menyelesaikan!" oceh Dira selanjutnya.


Pak Albi terlihat semakin menunduk, ada apa sebenarnya ini?


Beliau berdiri dari duduknya, dan kemudian berpamitan dengan kami.


"Besok, besok temui aku di belakang gedung kantor! Aku pamit, Assalamualaikum!" pamit Pak Albi.


"Dan ya, jangan bawa dia!" sambungnya lagi.


Aku dan Dira saling menatap, serta menganggukkan kepala kami.Akhirnya, beliau pulang dan kini tinggallah aku juga Dira, di ruang tamu ini.


"Ayo, masuk ke kamar, eh tutup pintu depan dulu yuk!" ajakku pada, Dira.


Dira menatapku dan berkata,


"Kau tidak ada niat memasukkan semua bahan makanan itu ke dalam kulkas? Nanti busuk loh.." ucapnya sambil terkekeh.


Mataku teralih ke arah tumpukan belanja yang di beli Meyra tadi.


"Ohohh, iya ya. Aku lupa, ayo bantu aku memasukkan ini semua!" ujarku sambil tertawa pelan.


"Ayo!"


"Em, Dila! Aku belum makan malam, ayo masak dulu, perutku sangat lapar sekarang!" ajak Dira merengek.


"Ahhh baiklah-baiklah," jawabku malas.


Setelah semua kegiatan kami di malam hari ini selesai, akhirnya kami masuk ke kamar menyusul Meyra yang sudah ke alam mimpi.


***


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu mendukung Author, melalu Like, Vote, Komen, Dan beri hadiah yaa gaess.... Happy Reading!!


__ADS_2