
Wajah mereka sudah menjelaskan, bahwa mereka sedang mempertanyakan apa maksud dari perkataanku tadi. Aku sudah memikirkan hal ini sejak aku dan Dira pindah kesini, aku tak mau jika harus tinggal dirumah Zain sampai bertahun-tahun.
Tujuanku jelas disini, ingin sukses bukan malah menerima bantuan orang. Memang benar menerima bantuan orang lain itu baik, tapi aku tak ingin jika terus-terusan berada diposisi itu.
"Kau, mau pindah, Dila?" tanya Dira tak percaya dengan omonganku.
"Iya, Dir. Aku tak mau jika terus-terusan bergantung pada, Zain. Cukup dia membantu kita dengan mengasihkan rumah ini, selebihnya kita akan berusaha sendiri. Kurasa itu tidak akan berat, Dir!" jelasku.
"Aku pikir itu ide yang bagus, Dil! Aku setuju dengan idemu, kita memang tak bisa jika terus bergantung pada orang, tujuan kita disini sudah mutlak, yaitu sukses." sahut Meyra.
"Baiklah, jika itu memang yang terbaik untuk kita bersama, aku mau!" kata Dira kemudian, sambip tersenyum kepada kami.
"Alhamdulillah, Dira. Aku takut jika kau tak menyetujui hal ini, sudah sejak lama aku memikirkannya, takut kau tak akan mau." ocehku panjang lebar.
"C'k, kau ini. Terlalu berlebihan sekali, iya kan Mey?" katanya pada, Meyra.
"Hahah, iya tuh, Dila. Kami akan menghargai setiap keputusanmu, Dil. Jangan sungkan menceritakan apa pun pada kami, ya?" tegur Meyra lembut padaku.
"Hem, iya para sahabat-sahabatku yang baik hatiii..." ucapku sambil berpelukan dengan mereka berdua.
Untuk sementara kami terdiam hingga beberapa saat, sampai akhirnya Dira membuka obrolan kembali.
"Dila, lalu kita akan pergi mencari tempat tinggal dimana?" tanya Dira padaku.
Sejenak, aku memikirkan sesuatu.
"Aku akan mencoba menelfon temanku yang ada disini, Dir. Teman kerja yang ada disebelahku, namanya Reyhan. Mungkin dia, bisa membantu kita mencari tempat tinggal yang baru." kataku.
"Oh ya, Dir, Mey! Jangan sampai Zain mengetahui hal ini, biarlah dia yang mencari tau tentang ini, kalian tak perlu mengatakan apa pun padanya. Entahlah, rasanya hatiku masih sakit terhadapnya. Astagfirullah hal'adzim..." ucapku sambil beristigfar, karena telah membicarakan orang yang baik padaku dan Dira.
Rasanya, aku emosi jika mendengar nama Zain. Entah apa sebabnya, mungkin karena dia mengusir kami sebelum kami mendapat kerja, atau mungkin karena hal lain, aku pun bingung dengan pikiranku.
"Ya, Dil. Baiklah, semoga rahasia ini terus tersimpan ya!" sahut Meyra.
Sejak aku menyebut nama Zain, Dira mulai terdiam dan tidak membuka suara lagi.
Dia terlihat melamun, seperti memikirkan sesuatu.
"Dira, kau tak apa-apa?" tanyaku,
Dia hanya diam, tak menyahuti perkataanku.
__ADS_1
"Dira! Kau kenapa?" panggil Meyra kemudian yang ternyata membuat Dira terkejut.
"Hah? Ada apa, Mey? Kau mengagetkanku saja!" ujarnya kesal karena terkejut.
"Hey, Bambang Sugiono! Sedari tadi, aku dan Dila memanggil-manggilmu, tapi telingamu itu sepertinya bermasalah. Hufft, kau ini!" oceh Meyra kesal.
Aku hanya tertawa melihat kelakuan mereka, bisa-bisanya Dira memarahi Meyra.
"Ish, kalian ini! Memangnya ada apa kalian memanggilku?" tanyanya kemudian.
"Apa kau sedang memikirkan sesuatu? Atau kau tersinggung mungkin dengan ucapanku." kataku.
"Tidak, Dil. Aku tidak tersinggung dengan ucapanmu, hanya saja aku sedang memikirkan Zain." ujarnya.
"Kau? Memikirkan, Zain? Untuk apa kau memikirkannya, Dira?" tanya Meyra panjang lebar, yaa dia mewakiliku.
"A-aku tak tau bagaimana kabarnya sekarang, aku sama sekali tak pernah kontakan dengannya. Aku hanya berpikir, apa dia baik-baik saja disana?" jelas Dira dengan wajah yang murung.
"Ehem, atau jangan-jangan kau sedang merindukannya ya? Hayoo, ngaku aja, Dir!" sahut Meyra, aku terkekeh dengan perkataan Meyra.
"C'k, kalau iya kenapa? Toh, dari dulu aku sudah menyukainya kok. Mungkin dia belum tau bagaimana perasaanku padanya," curhat Dira.
"Ahh, sudahlah. Lupakan saja, dia masa laluku, lagi pun ini sudah berjalan 3 bulan aku tak pernah berjumpa dengannya." kata Dira.
Akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan makan, sepertinya sudah cukup obrolan malam hari ini.
Setelah selesai makan, kami beranjak melakukan shalat wajib, yaitu sjalat isya. Selesai shalat isya, barulah kami tidur dengan tenang. Menurutku, shalat dan mengajilah yang bisa membuat kita menjadi tenang dan damai.
***
Malam berlalu, dan kini pagi yang dingin telah menyapa. Suara kicauan burung lucu, terus terdengar di telingaku. Aku beranjak dari tempat tidur, lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri. Aku sedang tidak bisa shalat, di karenakan sedang datang bulan.
Selesai aku mandi, aku membangunkan mereka, agar segera melaksanakan shalat subuh. Mereka bangun setelah aku memanggilnya.Selesai memanggil mereka, berjalan ke arah dapur, guna menyiapkan sarapan untuk kami bertiga.
Waktu terus berjalan, kini kami sudah selesai dengan pakaian kerja kami. Kami pun sudah selesai sarapan, dan sekarang kami akan berangkat ke kantor.
"Kalian sudah siap?" tanya Meyra.
"Sudah, Mey. Ayo, kita berangkat!" ajakku kemudian.
***
__ADS_1
Tak membutuhkan waktu lama, kini kami sudah sampai di loby kantor. Saat hendak masuk ke dalam kantor, tiba-tiba suara seseorang memanggilku terdengar dari ujung sebelah kananku.
"Dilara!" panggil sosok itu, sepertinya aku mengenal suara itu.
Aku berbalik ke arah kanan, dan terpampanglah sosok Manager muda yang bernama, Albi Ardiansyah. Nama yang bagus, menurutku.
"Oh hay, Pak Albi. Selamat pagi, Pak!" ucapku padanya sambil tersenyum.
"Pagi, Dila. Pagi, Dira, Meyra!" ucapnya juga pada kedua sahabatku,
"Pagi, Pak Albi!" sambut kedua sahabatku dengan senyum yang manis.
"Apa kalian sudah sarapan? Ini masih terlalu pagi untuk masuk ke ruang kerja." kata Pak Albi kemudian.
"Sudah kok, Pak. Kami sudah sarapan," jawab Dira mewakili.
"Eum, baiklah. Bagaimana jika jam makan siang nanti, kita makan bersama?" tanya Pak Albi sambil menatapku.
"InsyaAllah, Pak!" sahut kami bertiga.
Pak Albi hanya menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum manis.
Albi Ardiansyah, yang kukira orangnya sangat sombong dan juga arogant. Tapi, siapa sangka dia terlihat sangat baik dan juga ramah di mata kami. Mungkin, menurut pandangan orang berbeda-beda.
Tiba-tiba, seseorang menelfonnya.
"Ya, hallo? Oh ya, baiklah, Pak Aldio. Aku segera ke sana!" sahutnya.
"Baiklah, aku duluan ya. Ingat lah, nanti siang jam makan siang!" katanya lagi sebelum pergi dari hadapan kami.
Kami hanya mengangguk sambil tersenyum menatap kepergian, Manager baik hati tersebut.
"Hem, ternyata orang yang asik juga ya, Dil, Dira!" sahut Meyra sambil terus menatap ke arah Pak Albi.
"Ya, Mey. Dia orangnya sangat baik kok." kataku.
"Tapi tidak denganku, Dil! Kemarin, waktu interview dia adalah orang yang sangat irit dalam berbicara. Aku sampai tak menyangka, kini dia terlihat sangat ramah dan juga baik hati." ucap Meyra, sambil terus memandang ke arah Pak Albi pergi.
"Pandangan setiap orang itu berbeda-beda, Mey!" tegurku, lalu langsung mengajak mereka agar masuk ke dalam ruangan.
Kami sudah sepakat, agar siang nanti cepat berkumpul di mejaku. Kata mereka, agar kami bisa bersama-sama ke kantin untuk menemui, Pak Albi.
__ADS_1
Bersambung...
Selalu mendukung Author ya, agar lebih semangat untuk Update. Jangan lupa vote, like, beri hadiah, dan komen yang berfaedah ya gaess...