Success Is My Dream

Success Is My Dream
Berita Kehilangan Seseorang


__ADS_3

Kami berdua dibuat bingung dengan Buk Inur. Kenapa beliau lama sekali membuka pembicaraan, tidakkah beliau tau kalau kami sedang dilanda rasa penasaran? Aku mencoba untuk duduk dengan tenang sekarang, dan akhirnya aku memberanikan diri bertanya pada Buk Inur.


"Buk, ada apa sebenarnya? Dan, dimana Ayah saya?" tanyaku dengan hati-hati.


Lama sekali beliau tak menjawab pertanyaanku, Dira yang geram langsung saja bertanya dengan nada tinggi.


"Hello, Buk. Kenapa anda bengong? Temen saya dari tadi nanyain keberadaan orang tuanya loh. Dijawab kek atau apa!" seru Dira kesal.


Buk Inur menatapku, kulihat matanya basah.


Flashback...


Buk Inur ini adalah teman dekat Ayah dan Ibu dulu, ibuku sangat akrab dengan beliau. Usia Buk Inur juga sudah menginjak lansia, usianya sekitar 56 tahun kurang lebih.


Saat itu Ibu dan Ayah sedang dilanda kesusahan, dimana Ayah dan Ibu sedang tidak memiliki beras seliter pun. Ibu memberanikan diri untuk meminta pinjam beras Buk Inur barang seliter saja untuk makan kami. Buk Inur sudah tak memiliki anak atau suami, beliau hanya hidup sendirian di rumahnya itu.


Buk Inur memberikan 3 bambu beras untuk Ibu, dengan haru ibuku mengucapkan banyak terima kasih pada Buk Inur. Menurut Buk Inur, ibuku sangat berarti di hidupnya. Begitu pun Ayah dan Ibu, mereka berkata bahwa Buk Inur sangat baik pada Ayah dan Ibu.


Cerita singkat tentang kebaikan Ayah dan Ibu pada Buk Inur kembali kuingat.


Pada saat itu, Buk Inur sedang kemalingan. Beliau yang sudah menjadi janda kepala 4 sering dipantau oleh maling setempat, maling tersebut tau bahwa Buk Inur tinggal sendirian disitu. Barang Buk Inur tak ada yang tersisa, tv, kipas dan emasnya telah diambil.


Ibu tidak tega melihat keadaan Buk Inur yang sangat memprihatinkan itu, begitu pun dengan Ayah. Mereka berdua sepakat akan membantu keadaan Buk Inur yang memburuk ini agar terlihat lebih baik. Ibu memberikan sembako berupa makanan pada Buk Inur, dan Ayah memberikan uang sebesar 3jt.


Ibu dan Ayah sudah jaya akan bisnisnya. Mereka membangun sebuah bisnis rumah makan yang memang tidak terlalu besar tapi, itu cukup untuk membantu tetangga kami yang sedang kesusahan. Tanpa sungkan, ibuku memberikan sebagian dari hasil berbisnis untuk membantu keuangan Buk Inur.


Dari dulu hingga kini, hubungan kesaudaraan antara Ayah, Ibu, dan Buk Inur tak pernah pudar. Ayah dan Ibu merasa bahwa selama mereka berdua bersedekah pada tetangga, tak habis-habisnya rezeki lain datang menghampiri mereka. Itulah yang dikatakan rezeki bisa datang lewat mana saja.

__ADS_1


Suami Buk Inur, Pak Ali sudah meninggal semenjak 10 tahun yang lalu. Beliau bisa dikatakan tidak terlalu miskin atau kaya tapi, beliau adalah orang yang sederhana akan kehidupan. Harta yang ditinggalkan oleh sang suami cukup untuk melanjutkan kehidupan di masa depan.


Beliau terkenal akan keramahan dan kebaikannya dikampung kami. Dengan kebetulan, rumahnya dan rumah kami bersampingan tapi, tidak sedinding. Sudah terlalu banyak beliau membantu keuangan kami, tanpa pamrih beliau mengeluarkan uangnya untuk keluarga kami.


Ayah dan Ibu berhutang budi pada Buk Inur. Bahkan mereka berkata "Kita tak akan melupakan kebaikan Buk Inur, bahkan sampai mati sekali pun!" ucap Ayah dan Ibu.


***


Flashback Off...


Beliau melirik ke arah kami berdua, Buk Inur sudah terlalu membuat kami berdua panasaran. Ada apa sebenarnya ini? Kenapa beliau jadi seperti ini?


"Buk! Tolong ceritakan padaku ada apa sebenarnya? Dan, apa ini? Kunci rumahku kenapa ada sama Ibuk?" tanyaku bertubi-tubi.


"Dil-dilara! Kuharap kau tidak akan patah hati mendengar kabar ini. Dan kuharap, kau tetap bersemangat menjalani hidup tanpa ada kedua orang tuamu." ucapnya sambil terisak.


Bahkan, beliau sendiri tau bagaimana kehidupanku selama ibuku tiada dan ayahku menikah lagi.


"Maksudnya Ibuk apa ya? Saya tidak ngerti." sahutku.


"Ayah dan Ibu tirimu sudah tiada dari 3 hari yang lalu, Dil." kata Buk Inur sambil menatap mataku.


Hah? Apa maksudnya ini? Meninggal? Ayah dan Ibu tiri? Rasanya tak masuk akal.


"Apa yang Ibu katakan? Mana mungkin Ayah meninggal. Kemarin, sekitar 4 hari yang lalu aku melihat Ayah di kantornya. Lalu, kenapa tiba-tiba aku mendapat kabar seperti ini? Ini tidak benar bukan?" ucapku setengah berteriak, embun bening yang kutahan selama ini luruh seketika.


Dira beranjak memelukku yang sedang buntu pikiran ini. Bagaimana bisa ini terjadi? Memang betul, aku melihat Ayah 4 hari yang lalu di kantornya, dan aku melihat bahwa dia sangatlah sehat juga tak ada gerak-gerik yang mencurigakan dari tubuhnya.

__ADS_1


Ini bagaikan bunga tidur, yang biasa disebut Mimpi. Aku masih tak bisa mempercayai ini, aku yakin Buk Inur hanya sedang bercanda.


"Maafkan Ibu, Dil. Sebenarnya Ibu sudah mencoba untuk memberitahukan ini padamu tapi, Ibu tak tahu dimana keberadaanmu." ucap Buk Inur sedih.


Aku bahkan tak bisa berkata apa pun lagi saat ini. Pikiranku tidak sejernih kemarin-kemarin, bagaimana mungkin Ayah juga turut meninggalkanku sendirian didunia ini?.


"Terima kasih Buk Inur, atas pemberitahuannya. Saya permisi dulu, oh iya bolehkah saya ambil kunci rumah saya?" kataku pada Buk Inur.


"Eh iya, sebentar ya Nak." sahut beliau. Dengan tergopoh-gopoh, kulihat beliau bangun dan berlari pelan masuk ke kamarnya untuk mengambil kunci.


Beberapa menit kemudian, beliau balik dengan segantung kunci besi ditangannya. Itu kunci rumahku.


"Saya pamit, Buk. Assalamualaikum!" ucapku pada beliau, begitu pun dengan Dira.


Sesampainya dirumah, depan teras. Aku menangis segugukan, bagaimana hidupku tanpa kedua orang tua sekarang? Apa aku bisa hidup sukses tanpa dukungan keduanya?


Dira memelukku, sungguh dialah sahabat yang baik. Dia bahkan selalu mensupportku agar selalu sabar dan tabah dalam menjalani hidup.


"Kau harus sabar dan tabah, Dil! Kau tidak sendirian didunia ini, masih ada aku dan kakakmu disisimu. Jangan pernah kau tak menyadari kehadiran kami, Dil." kata Dira menenangkanku.


"Terima kasih, Dir. Sudah mensupportku agar selalu sabar dan tabah dalam menjalani hidup yang penuh kepahitan ini. Aku percaya pasti akan ada cahaya setelah ini." ucapku sambil tersenyum ke arah Dira.


"Baiklah, cepat buka pintu untuk mengecek sebentar. Lalu, kita kembali ke rumah Buk Inur untuk bertanya dimana Makam ayahmu." kata Dira yang untung saja mengingatkanku.


"Baiklah, Dir." ucapku.


Aku datang Ayah...

__ADS_1


__ADS_2