Success Is My Dream

Success Is My Dream
Kabar Mengejutkan


__ADS_3

Apa yang harus ku katakan pada Kak Pipit sekarang? Apa aku harus berterus terang bahwa aku dulunya menyukai CEO tersebut? Tidak, tidak, tidak. Bisa gawat kalau aku memberitahunya, tapi jika aku berbohong pasti mereka berdua mendemoiku. Hem, baiklah akan kuceritakan pada Kak Pipit.


"Hey, Dila! Ada apa denganmu, ha?" tanya Kak Pipit khawatir.


"Hah? Ti-tidak, Kak. Aku baik-baik saja!" jawabku terbata karena terkejut.


"Baiklah, kemari dan duduk disampingku sekarang!" sahut Kak Pipit.


Aku menurut, dan berjalan menuju ke arah Kak Pipit yang sedang duduk dipinggir ranjang.


"Sekarang, ceritakan padaku. Apa lagi yang sedang kau sembunyikan dariku sekarang?" tanya Kak Pipit serius.


Sementara Dira, seperti biasa duduk dan hanya mendengarkan saja. Huh, terpaksa aku mengatakan ini pada Kak Pipit.


"Dulunya, sekitar 1 tahun yang lalu. Sebelum aku mengetahui bahwa Ayah meninggal, aku tinggal dirumah Dira, Kak. Aku tinggal dengannya, dan pergi mencari kerja bersama dengannya juga. Setengah tahun aku bekerja sebagai pelayan cafe, dan aku baru sadar bahwa pemilik cafe itu pemuda yang tampan juga baik hati." sejenak kuhela nafas pelan.


"Lalu, apa kau menyukainya?" tanya Kak Pipit.


Aku sendiri bingung dengan perasaanku saat itu.


"I-iya, Kak. Aku menyukainya, tapi dia tak menyadari hal itu!" jawabku.


Kak Pipit hanya menganggukkan kepalanya, kemudian berkata.


"Dila! Aku ingin kau fokus pada tujuan utamamu, bukan ke hal yang seperti itu." sahut Kak Pipit datar, aku tau watak kakakku seperti apa.


"Dan aku ingin kau menjauhi lelaki itu, ingat! Aku bukannya tidak setuju kau memiliki hubungan dengannya, akan tetapi aku ingin kau menggapai cita-citamu terlebih dahulu." kata Kak Pipit lagi.


"Iya, Kak. Aku mengerti, tapi ada satu hal lagi yang ingin ku katakan padamu!" ujarku.


Kening Kak Pipit berkerut, lalu bertanya padaku.


"Apa itu? Katakan padaku!" sahutnya.


Sejenak kualihkan pandanganku ke arah Dira yang sedang duduk sambil memandangi kuku cantiknya. Dia yang sadar aku tatapi, dengan mengangguk pelan dia meyakinkanku agar menceritakan yang di cafe tadi.

__ADS_1


"Pak Qevin, pemilik cafe tersebut mengajakku dan Dira agar ikut bekerja diperusahaannya, Kak. Apa kau setuju?" tanyaku pelan.


Kak Pipit terdiam, tampak ia sedang memikirkan sesuatu.


"Tidak! Aku tidak menyetujuinya." sahut Kak Pipit galak.


Aku terkejut, apa segitu khawatirnya ia sampai aku tak diperbolehkan bekerja di perusahaan Pak Qevin?


"hem iya, Kak. Aku mengerti!" jawabku.


"Dila! Sekali lagi kuingatkan padamu, agar jangan dekat dengan laki-laki sebelum kau berhasil menggapai apa yang telah lama kau impikan. Dan ya, untuk bekerja di perusahaanya dia aku memang benar-benar tak menyetujuinya, Dila." kata Kak Pipit.


"Karena aku tau, itu akan mempermudahkan kalian untuk saling dekat satu sama lain,"


"Pergilah, ke Jerman! Kau dan Dira akan menggapai cita-cita disana, aku tak ingin adik-adikku terjerat ke dalam suatu hal yang tidak pernah kuinginkan." sambungnya, membuat aku dan Dira terkejut.


"A-apa, Kak? Kau mau kami ke Jerman? Bagaimana bisa kami hidup disana sementara pekerjaan kami disini, pekerjaan itulah yang membuat kami hidup, Kak!" bantahku sedikit tegas.


"Apa kau tak mau lagi menuruti perintahku, Dila?" tanya Kak Pipit yang membuatku tersadar. Tersadar karena secara tidak langsung aku sedang membentaknya.


"Ma-maf, Kak. Bukan mak-" belum siap ku lanjutkan ucapanku, Kak Pipit lebih dulu memutuskan ucapanku.


Aku dan Dira saling pandang, kami sedang dalam kebingungan sekarang. Apa yang harus kami lakukan ya Allah?


"Aku sedang melatihkan kalian berdua agar tak selamanya hidup bergantungan pada orang lain, bukan maksudku kalian hidup terlalu bergantung padaku. Tapi, aku ingin kalian hidup mandiri dan balik ke sini dengan kesuksesan yang terkantongi!" kata Kak Pipit.


Aku dan Dira hanya diam mendengar apa yang dikatakan Kak Pipit. Dia adalah pengganti Ayah dan Ibu, rasanya tidak mungkin jika aku melawan semua perkataannya.


"Kalian akan hidup di Jerman dengan apa yang kalian punyai sekarang! Berprestasilah dengan apa yang kalian punya sekarang, bekerjalah, berusahalah untuk hidup di Jerman. Aku ingin kalian pulang dengan adanya sebuah KESUKSESAN!" lanjut Kak Pipit.


Oke, aku mengerti sekarang. Kak Pipit hanya ingin kami berdua sukses dengan cara kami sendiri, aku menghargai keputusannya itu. Baiklah, aku akan menuruti semua perkataan Kak Pipit.


"Baiklah, Kak. Kami setuju!" sahut Dira mewakiliku.


Kulihat binar bahagia diwajah Kak Pipit, apa dia bahagia kami menuruti perintahnya? Kalau benar begitu aku juga ikut bahagia, setidaknya aku bisa membahagiakannya walau dengan cara aku harus ke Jerman.

__ADS_1


"Baiklah, akan kuurus semua yang kalian perlukan disana. Kecuali satu!" kata Kak Pipit.


Aku bingung, apa yang satu itu?


"Apa yang satunya, Kak?" tanyaku penasaran.


"Pekerjaan! Untuk pekerjaan, kalian harus mencarinya sendiri. Intinya, sesusah apa pun kalian, berusahalah agar bisa hidup bahagia disana." ujar Kak Pipit.


"Dan ingat! Jangan sampai kalian terjerumus ke dalam hal-hal yang berbahaya." sambungnya kemudian.


"Ya baiklah, Kak!" sahutku pasrah.


"Minggu depan, kalian akan berangkat! Persiapkan diri kalian dari sekarang." kata Kak Pipit sambil berlalu pergi keluar.


Dira beranjak dan menghampiriku, kemudian memelukku dengan erat.


"Apa yang dikatakan kakakmu ada benarnya, Dil. Kita harus merantau ke negara orang untuk mengantongi sebuah kesuksesan, dan aku juga menyetujui apa yang Kak Pipit perintahkan pada kita." kata Dira sambil mengusap pundakku lembut.


"Syukurlah jika kau setuju, Dira. Yang aku takutkan adalah kau merasa terberati dengan tuntutan dari kakakku, kau tak merasa terberati kan?" tanyaku khawatir.


"Sama sekali tidak, Dila! Aku sudah berjanji padamu, agar mengikuti kemana pun kau pergi. Kita ini sudah seperti saudara, Dil." sahut Dira.


"Terima kasih, Dira!" ucapku.


"Sama-sama, Dilara." jawab, Dira.


"Emm, Dil! Bagaimana dengan tawaran Pak Qevin?" tanya Dira padaku.


"Kita akan pergi besok ke cafe, Dira. Dan mengatakan jika kita menolak tawarannya. Tapi, satu yang kuinginkan darimu, Dir." kataku.


"Kau menginginkan apa, Dil? Katakan saja padaku!" jawabnya.


"Jangan kau katakan padanya bahwa kita akan ke Jerman, ya?" kataku.


"Itu adalah masalah sepele, Dil. Jangan khawatir, semua akan aman, aku janji!" sahut Dira kemudian kembali memelukku dengan erat.

__ADS_1


Mungkin inilah awal aku mencapai sebuah kesuksesan, aku akan berusaha semampuku. Aku akan mengantongi sebuah kesuksesan, dan membawa pulang kejutan itu pada Kak Pipit nanti. Aku berjanji, Kak. Aku akan berusaha demi kau dan Dira. Aku akan terus berusaha, dan berusaha. Aku berjanji akan membahagiakan mu yang menggantikan peran sebagai Ayah dan Ibu.


Bersambung...


__ADS_2