
Bukan hanya Zain yang salting, Dira pun ikut salting melihatku yang mengedipkan mata ke arahnya. Lucu sekali mereka ini, heheh. Aku hanya mengedikkan bahuku, ketika keduanya menatapku.
"C'k, sudah-sudah! Jangan menatapku seperti itu, aku sudah seperti maling yang tertangkap basah saja." kataku kesal.
Mereka saling pandang satu sama lain, dan kembali salting hahahh..
"Ayo Dir, kita masuk saja!" ajakku pada Dira.
"Ba-baiklah, Dil." sahut Dira.
Kami berdua masuk dengan tatapan Zain yang tak terlepas dari Dira.
Sesampainya di kamar, aku dan Dira langsung mengemas pakaian. Lalu, memasukkan semua pakaian itu ke dalam lemari yang sudah tersedia disana.
"Hey, Dir! Kenapa kau melamun seperti itu? Apa kau memikirkan Zain?" tanyaku menggodanya
Dira gelagapan, tak tau mau ngomong apa sepertinya. Hahah, biarlah sesekali aku mengerjai si Dira ini.
"Kau ini! Belum puas kah kau menggodaku, Dila?!" kata Dira memelotiku.
Hahahha... Dengan lantang aku tertawa terbahak-bahak.
"Dan sekarang, malah menertawakanku." sahutnya kemudian, dengan wajah yang masam.
"Hey, sayangku! Jangan menunjukkan wajah masam mu itu padaku, aku jadi syedih melihatnya." ucapku melas.
"Hemm." hanya deheman yang keluar dari mulutnya.
"Aku ingin mandi dulu, kau tunggulah disini ya!" kata Dira sambil beranjak berdiri.
Aku hanya menganggukkan kepalaku saja.
Tak berapa lama kemudian, pintu kamar kami ada yang mengetuk.
'Tok.. tok.. tok..'
"Permisi maaf mengganggu, kalian berdua dipanggil oleh Tuan Zain untuk segera turun dan makan malam!" panggil seseorang yang ternyata pelayan disini.
"Ya, baiklah. Terima kasih sudah memanggil kami! Kami akan segera turun sebentar lagi." ucapku sambil tersenyum.
"Sama-sama, Nona. Saya permisi!" sahutnya dan langsung menghilang dari pintu itu.
Heum, apakah si Zain itu kaya? Sampai mempunyai banyak sekali pelayan, batinku terus bertanya-tanya.
Setelah sadar dari lamunanku, aku dengan segera memanggil Dira yang berada di kamar mandi.
"Dira! Cepatlah keluar, pacarmu sudah menunggu dimeja makan tuh!" panggilku sambil menahan tawa.
"Ya, baiklah. Suruh dia untuk menunggu!" sahut Dira santai dari dalam. What! Dia tak menyadari perkataanku atau gimana?
"Hem, baik." jawabku akhirnya.
__ADS_1
***
Selesai Dira mandi, kami segera turun ke meja makan.
Terlihat Zain duduk, sambil memainkan ponsel merk ternamanya. Apalah daya aku dan Dira, yang hanya bisa memakai hp android keluaran tahun 2018 silam, sementara ini sudah tahun 2021.
"Hay, Zain! Maaf sudah menunggu terlalu lama ya. Pacarmu ini terlalu lama berada di dalam kamar mandi, hingga aku menunggunya dengan sabar." ujarku panjang lebar sembari mencairkan suasana.
"Hay, Dila! Hahah, bagaimana bisa kau menyebutnya sebagai pacarku?" tanya Zain sambil terkekeh.
"Dia sendiri tadi yang bilang begitu, Zain!" sahutku antusias.
Sedangkan Dira, dia hanya diam dan matanya menatap tajam ke arahku. Kemudian dia berjalan menuju meja makan, dan duduk berhadapan dengan Zain.
"Lihatlah, dia bahkan duduk saling berhadapan denganmu Zain." kataku sambil berjalan menuju meja makan.
Dira semakin kesal saja kulihat. Dengan geram dia berbicara.
"Hiss kau ini, Dila! Tidak bisa kah kau duduk diam dan memakan makananmu itu, ha?" kata Dira dengan wajah yang kesal.
Zain hanya tersenyum melihat wajah Dira yang kesal itu. Aku hanya menanggapi omongan Dira dengan tertawa.
"Baiklah, mari makan semuanya!" akhirnya Zain membuka suara.
Kami terdiam menikmati makan malam kami, disini hanya ada aku Dira dan Zain. Kami bertiga menyantap makan malam dengan tenang, tak ada keributan setelah Zain membuka suara tadi.
Selang beberapa menit, kami semua selesai makan malam. Zain memanggil kami untuk duduk-duduk bersama dengannya di balkon.
Aku dan Dira saling menatap, antar ikut dengan Zain atau tidak.
Dan akhirnya, aku dan Dira memutuskan untuk ikut duduk dengan Zain.
"Hem, baiklah Zain. Mari!" ajakku balik.
Zain menganggukkan kepalanya pelan, lalu berjalan menuju lantai atas. Aku dan Dira hanya mengikuti dia dari belakang.
***
Sesampainya di atas, aku segera mengambil tempat duduk yang langsung menuju ke pemandangan kota Jerman. Sementara Dira dan Zain duduk saling samping-sampingan.
"Apa kau sengaja, Dila!" ucap Dira kesal.
Hayeeuhh, Diraa!! Aku hanya ingin duduk sambil memandangi kota Jerman dari atas sini, kenapa dia malah berpikiran seperti itu?
"Cih, sok iya kamu Dir! Aku hanya ingin duduk sambil memandangi indahnya kota Jerman dari atas sini." jawabku santai.
Wajah kesal Dira mendadak berubah, sepertinya baru menyadari bahwa dia salah bicara.
"Astaga! Maafkan aku Dila, a-aku terlalu sensitife denganmu. Habisnya sih kamu terlalu senang jika sudah menggodaku." sahutnya cengengesan.
"C'k, sudahlah. Diam kau, aku ingin memandangi indahnya malam hari ini!" sahutku dengan santai dan tenang seperti air laut.
__ADS_1
"Ya ya ya, baiklah tuan putra." balas Dira terkekeh.
"Tuan putra, tuan putra. Tuan putri giblik!" kataku sengit.
"Hadeuh, Dila! Terserahmu sajalah..." suara pasrah Dira.
"Akan lebih baik lagi, jika kau diam dan duduk dengan tenang disitu, Dir." kataku lagi.
"Ya, baiklah DILARA HUMAIRA!" sahutnya kesal dan menekankan dibagian nama panjangku.
Aku tertawa melihat Dira sekesal itu, sedangkan Zain dia hanya memerhatikan kami berdua berseteru.
"Kalian sangat lucu, aku ingin tertawa tapi takut yang disamping jadi lebih marah lagi." sahut Zain tiba-tiba.
Aku hanya menatap wajah Zain yang teduh dan tampan itu.
"Itu hakmu bukan hak kami, Zain. Jadi, tertawalah sepuas hatimu! Jangan takut." kata Dira dengan meminum teh yang ada disampingnya.
"Heum, baiklah. Terima kasih, Dir!" ucap Zain sambil tersenyum manis.
Dira menatap Zain. Lalu pandangan mata mereka bertemu, hingga saling menatap satu sama lain selama beberapa menit. Dan aku lah yang menjadi obat nyamuknya.
"Hem, hem. Sudah belum saling tatap-tatapannya? Aku gerahh sekali, dan aku merasa bahwa aku menjadi obat nyamuk disini." ocehku sengit dengan mengibas-ngibaskan baju yang ku kenakan.
"C'k, mengganggu saja! Bilang saja kau iri, kan kau jomblo kekal." sahut Dira tak kalah sengit.
"Kau yang membuatku ja-" tiba-tiba suaraku terpotong karena Zain memotongnya lebih dulu.
"Hey, sudah-sudah. Kalian ini selalu ribut, baiklah aku pergi dulu ya.. Permisi! Sampai bertemu besok." pamit Zain sambil beranjak bangun.
"Ya, hati-hati Zain." sahut Dira paling pertama, dann parahnya dia tersenyum menatap kepergian Zain.
"Hah? Ya ampun, Dira! Kau benar-benar menyukai, Zain kah?" tanyaku antusias sekali, dengan tanganku yang menggenggam tangannya.
Heheh, hanya tawa Dira yang kudengar. Hem, sudah bisa dipastikan.
"Kau sangat cocok dengannya, Dir!" sahutku.
Dira tersenyum menanggapi ucapanku, lalu dia beranjak memeluk tubuhku.
"Aku sudah dari pertama suka padanya, Dil. Tapi aku tak berani menyatakannya." ucap Dira.
"Baiklah, akan aku sampaikan besok pada Zain!" kataku semringah.
"Ish, kau ini!" kesalnya kemudian.
Aku tertawa, dan akhirnya dia pun ikut tertawa.
Ternyata, bahagia sesederhana itu. Dengan mengerjai sahabatku saja, aku dapat tertawa bahagia.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, beri hadiah, dan komen ya gaess..