
Aku dan Dira sudah berada di dalam pesawat, pesawat yang akan membawa kami terbang ke Jerman. Jika ditanya apa aku senang, jawabannya tentu aku senang bisa berkarya di negara orang. Dengan berbekal ilmu dan juga jago bahasa inggris, aku berangkat ke Jerman bersama Dira.
"Dil! Kau kenapa termenung?" tanya Dira tiba-tiba mengagetkanku.
"Ish kau ini! Tidak apa-apa, aku hanya senang saja." jawabku sekenanya saja.
"Ouh ya? Kau tau Dila, aku sangat senang. Karena akhirnya yang aku impi-impikan terwujud juga walau bukan dengan usahaku sendiri." Dira mengutarakan isi hatinya saat ini.
"Apa kau senang, Dila?" tanya Dira padaku yang tengah fokus pada jendela.
"Sangat, Dir. Akhirnya, aku akan berkarya di negara orang. Dan sama juga denganmu, walau bukan dengan usaha sendiri!" ucapku mengikuti perkataan Dira, yang membuatnya terkekeh pelan.
"Dibawa hoky aja ya, Dir!" kataku mengusap pelan bahunya.
"Beres itu, Dil. Apa aku bisa satu pekerjaan bersama denganmu, Dil?" tanya Dira.
Sejenak aku berpikir, bagaimana caranya kami mencari pekerjaan disana?
"Ehem, kau tenang saja Dira. Kita bisa minta tolong pada sahabatnya, Mas Aan disana nanti. Kau jangan terlalu banyak pikiran ya, Dir! Tidak sehat bagi tubuhmu nantinya." nasihatku pada Dira.
Dira tersenyum menanggapi ucapanku, lalu dia memelukku erat.
"Kau sungguh sahabat terbaikku, Dilaa!!" ucapnya setengah berteriak, tapi tidak terlalu besar suaranta.
"Hey sudah-sudah, malu tau diliatin banyak orang. Kau ini, selalu saja bar-bar." kataku sambil tertawa renyah.
***
Kami tertidur untuk beberapa saat, kata Kak Pipit perjalanan ke Jerman memakan waktu kurang lebih 9 jam. Dan dari Indonesia kami berangkat pukul 9:00 pagi, itu artinya kami akan sampai pada pukul 6:00 sore. Aku tak tau bagaimana kehidupan disana, mungkin aku bisa mengambil sedikit pelajaran disana.
Aku terbangun dari tidurku pada pukul 1:00 siang, dan para pramugari di pesawat ini membagikan makan siang pada kami.
"Selamat siang, Mbak. Ini makan siangnya, berdua dengan temannya kan?" sapa pramugari itu.
"Iya, Mbak. Berdua dengan sahabat saya!" jawabku pada pramugari yang bernama Sindy itu.
"Ini ya makan siangnya, Mbak. Jika ada perlu panggil saya aja, Mbak. Saya permisi!" pamit si pramugari tersebut.
"Iya terima kasih!" ucapku pada pramugari itu.
Lekas, aku membangunkan Dira yang masih bermain di alam mimpi itu.
Ku toel-toel pipi gemoinya Dira, lalu memanggilnya pelan.
"Tukang tidur, cepatlah bangun lalu makan siang bersamaku!" panggilku pas di telinganya.
Terdengar lenguhan di bibirnya, disambut dengan menguap.
"C'k, tutup mulutmu bodoh! Bau sekali." kataku pura-pura kesal.
__ADS_1
"Heheh, maaf Dila. Kamu sih, bangunin aku kan jadi kecium tu bau, hahaha.." sudah tau salah masih kelihatan anteng ni si, Dira.
"Sudah, ayo makan siang dulu. Ini sudah menunjukkan pukul 2 siang, sebenarnya aku sudah bangun dari tadi tapi kau lama sekali bangunnya, lelah aku menunggumu, Dira." omelku panjang kali lebar, yang membuat Dira tertawa.
"Hemm, baiklah-baiklah. Sekarang aku sudah bangun, dan ayo cepat habiskan makananmu itu, Dila!" jawabnya kesal.
***
Akhirnya, setelah lama menempuh dengan pesawat kami pun sampai di FrankFurt AirPort. Sangat besar bandar udara disinin, aku sampai ternganga melihatnya. C'k, aku terlalu norak ya..
"Sudah ternganganya, Dil?" tanya Dira yang rupanya sedari tadi memerhatikanku.
"Mengganggu saja kau ini, Dir!" ucapku kesal.
Bell tanda penurunan berbunyi,
"Kepada seluruh penumpang, kalian sudah bisa turun dari pesawat. Kami memohon maaf sebesar-besarnya, jika perjalanan kalian tidak nyaman. Silahkan ambil barang-barangnya di bagasi bagian belakang!" seperti itu kurang lebih suara si pramugaranya.
"Ayo, kita ambil barangnya!" ajakku pada Dira.
"Baiklah."
20 menit kemudian, aku juga Dira sudah siap mengambil barang dan sekarang kami sudah berada di dalam bandara.
Aku dan Dira juga sudah bertukar kartu sim, tinggal menghubungi nomor Kak Pipit saja.
Ku tekan nomor Kak Pipit, dan tak berapa lama kemudian langsung diangkat oleh Kak Pipit.
"Hallo, Kak! Ini Dilara, kami sudah sampai dibandara Jerman. Lalu, dimana sahabatnya Mas Aan?" tanyaku.
"Oh ya, Dila! Kau sampai dengan selamat ya, Alhamdulillah kalau begitu. Em, sebentar Dila, Kakak sms Mas Aan dulu, ya." sahut Kak Pipit diseberang sana.
"Baik, Kak!" jawabku.
"Bagaimana, Dil?" tanya Dira.
"Itu, lagi di tanya ke, Mas Aan Dir." kataku.
"Btw, indah juga ya pemandangan di Jerman. Kalah sih ini Indonesia kita, hahah.." canda Dira membuatku terkekeh pelan.
Tak berapa lama, Kak Pipit kembali menghubungiku.
"Dek, kamu lagi nunggu dimana? Biar sahabatnya Mas Aan kesana!" tanya Kak Pipit.
"Dila dekat pintu keluar, Kak. Dan dimana sahabatnya Mas Aan?" tanyaku balik.
"Tunggu saja disitu ya! Sebentar lagi dia datang nyamperin kalian berdua." kata Kak Pipit.
Aku menganggukkan kepala, lalu mematikan sambungan telfon tadi.
__ADS_1
Tiba-tiba, dari arah berlawanan terlihat seorang laki-laki berjas hitam datang ke arah kami berdua. Apa itu sahabatnya Mas Aan? Tampan!
"Hay! Apa kalian berdua saudarinya, Aan?" tanya laki-laki tampan itu.
"Eh, iya nih Pak!" sahut Dira duluan. Kalo yang ganteng dan bening aja, langsung tu mata.
"Oh oke, ayo kita jalan ke sebelah sana!" ajak lelaki tersebut.
Aku dan Dira berjalan mengikutinya dari belakang, barang-barang kami semuanya sudah di bawakan oleh kawanan si lelaki tersebut.
Sesampainya di mobil kami duduk dikursi belakang, sedangkan si lelaki duduk dikursi samping kemudi.
"Oh iya, aku belum sempat berkenalan dengan kalian berdua. Siapa nama kalian? Perkenalkan padaku!" tiba-tiba si lelaki membuka obrolan ditengah canggungnya kami.
"Namaku, Dira!" sahut Dira cepat.
"Disampingmu?" tanya lelaki itu menatap ke arahku.
"Dilara, namaku Dilara!" jawabku sedikit tenang.
"Oh ya Dilara, adiknya Fitria kan?" tanya lelaki itu.
Aku menganggukkan kepalaku memgartikan iya.
"Em, namaku Zain. Zain Reyhand!" sahut Lelaki yang bernama Zain itu.
Bagus namanya, sama seperti orangnya.
"Nama yang bagus" jawabku.
"Heheh, iya terima kasih, Dilara." ucapnya.
***
30 menit kemudian, sampailah kami disebuah apartement yang lumayan indah bagiku. Sangat sejuk dan asri pemandangan disini, sangat-sangat indah.
"Bagus sekali apartement ini, milik siapa?" tanya Dira.
"Oh, ini apartementku. Kalian akan tinggal disini, tanpa membayar apa pun. Cukup menikmati fasilitasnya saja." sahut Zain santai.
"Oohhh, begitu. Terima kasih atas partisipasinya, Mas" aku dan Dira mengucapkan terima kasih pada Zain. Kami berdiri di pinggiran sambil menikmati pemandangan malam yang sangat indah.
"Tidak masalah, kalian adalah adik dari sahabatku. Sudah seharusnya aku membantu sahabatku sendiri." sahut Zain tersenyum ke arah Dira.
"Hem, hem, hem.. Ada yang diam-diam memerhatikan sahabatku sedari tadi nih!" kataku sambil berdehem. Aku terkekeh sendiri melihat salting keduanya.
Baiklah, disini awal mula hidup kesuksesanku...
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like, beri hadiah, vote dan berkomentar yang bermanfaat ya gaess..