Success Is My Dream

Success Is My Dream
Awal Kehidupan Baru


__ADS_3

Aku awalnya sangat terkejut saat Kak Pipit bilang bahwa dia bekerja. Semasa Ibu hidup, tak ada diantara kami yang bekerja kecuali Ayah dan Ibu. Kami bahkan dilarang untuk memegang peralatan dapur dan rumah.


Kami hanya berdua dirumah, jadi Ibu dan Ayah dulunya sangat memanjai kami. Ibu adalah orang tua terbaik didunia ini, begitu pun dengan Ayah.


"Lalu apa keputusan Kakak selanjutnya?" tanyaku sambil menatapnya.


"Entahlah, yang pasti aku akan membalas semua apa yang mereka lakukan pada kita berdua." ucapnya sambil beranjak berdiri dan masuk ke kamarnya.


"Baiklah." sahutku pelan.


***


Flashback Off...


Sekarang, aku sudah duduk dibangku kuliah. Dan aku dibantu oleh Kak Pipit dan calon suaminya, mereka berdua sangat baik padaku. Kak Pipit tak sepenuhnya membantuku, aku mengerti bahwa Kak Pipit juga membutuhkan biaya untuk pernikahannya nanti.


Aku pun memutuskan, untuk mencari pekerjaan paruh waktu. Tak mungkin rasanya jika aku harus terus bergantung pada Kak Pipit dan Mas Aan. Mereka cukup membantuku sampai disini saja, aku akan memulai hidup yang baru dan hidup tanpa kedua orang tua.


Asdira, kini dia satu kampus denganku. Kemana pun aku pergi, dia pasti ikut bersamaku. Asdira adalah sahabatku satu-satunya, dia dan Kak Pipitlah penguatku. Kami berdua bertekad akan memulai hidup baru dan bertekad takkan menyusahkan orang lain.


Satu kota Aceh kami mencari pekerjaan paruh waktu, kami belum menjumpai satu pekerjaan pun. Tak putus asa sampai disitu, aku dan Dira terus berusaha. Dengan bermodalkan motor dari almarhumah Ibu, aku pergi mencari pekerjaan.


***


Akhirnya kami mendapatkan pekerjaan yang memang sedang mencari 2 pekerja wanita. Tak sia-sia usahaku dan Dira, kami sangat senang. Semenjak kuliah, aku jarang pulang kerumah. Aku menginap dirumahnya Dira, dan bibi Dira 3 bulan yang lalu sudah meninggal dunia. Dia hanya tinggal sendirian dirumah itu, rumah yang tak terlalu besar.


Besok adalah awal kehidupan kami. Pekerjaan kami tidaklah berpangkat, kami hanya bekerja sebagai pelayan cafe dikota Aceh. Sebulan, kami akan menerima gaji sebesar 1,3jt. Lumayan untuk menabung bayar biaya kuliah. Ayah tak pernah menelfon atau sekedar menanyakan kabarku, walau begitu dilubuk hatiku, aku sangat merindukan Ayah.


Apakah Ayah baik-baik saja disana selama tidak ada aku? Apa Ayah makan dengan teratur? Apa Ayah juga memikirkan ku disini?


Pertanyaan itu terus berputar dikepalaku, aku rindu Ayah. Tapi, aku tak akan pulang sebelum aku sukses. Mungkin aku pulang sebentar hanya untuk menjenguk Ayah, lalu kembali ke rumahnya Dira.


***

__ADS_1


Pagi menyapa, aku terbangun karena silauan matahari memasuki kamar kami. Segera kubangunkan Dira untuk bersiap dan berangkat kuliah, lalu pulang dari kampus kami akan bekerja. Untunglah kami satu pekerjaan, jadi tak perlu khawatir.


Kak Pipit sering menjengukku dirumah Dira, kadang dia membawakan makanan untuk kami berdua. Aku dan Dira hanyalah gadis sederhana, tak ada kecantikan berlebihan di diri kami. Kami hanya gadis sederhana yang sedang melawan pahitnya kehidupan. Sekejam-kejamnya hidup, Allah Swt masih memberikan kami rezeki berupa makan.


Makan saja kami sudah sangat bersyukur, aku dan Dira bertekad akan sukses. Dengan izin Allah Swt, semoga kami berdua akan sukses di kemudian hari. Aamiin...


***


Mata kuliah sudah selesai semua, dan sekarang adalah waktunya bekerja. Untunglah jadwal kuliah tak begitu padat, jadi kami bisa bekerja mencari uang. Aku dan Dira satu fakultas, satu jurusan. Kami kemana-mana selalu berdua, dia memang sahabat terbaikku.


Aku dan Dira segera berangkat ke cafe tempat kami bekerja, ini masih pukul 2 siang dan cafe terlihat sangat sepi. Cafe itu sudah biasa buka dari pukul 3 sore lalu tutup dipukul 22:00 malam.


Si pemilik cafe adalah seorang pemuda yang tampan, aku masih mengingat wajahnya. Pria muda yang tinggi, putih bersih, dan tampan. Dira juga sudah mengetahui bahwa aku menyukai sang pemilik cafe tapi, rasanya tak mungkin jika si pemilik cafe membalas rasa itu.


"Kau tak perlu mengejarnya, Dil. Jika dia menyukaimu juga, pasti dia akan mendekatimu. Tapi, jika itu tidak terjadi, kau jangan putus asa ya?" nasehat Dira.


"Kau tenang saja, Dira. Hal itu tak mungkin terjadi, Pak Qevin mana mungkin menyukaiku. Aku ini tak sepadan dengannya, aku akan berusaha membuang perasaan ini, Dir." sahutku sambil tersenyum ke arahnya.


"Ya, itu pasti Dir. Aku akan membuang perasaan ini dan kita akan berusaha untuk menuju kesuksesan. Mungkin, untuk saat ini bukanlah waktunya untuk kita memikirkan para lelaki ya, Dir." ujarku.


"Semangat, Dilara." ucapnya menyemangatiku.


"Semangat untuk sukses!" seruku dan Dira.


***


Keesokkan harinya, aku dan Dira sudah siap untuk berangkat ke kampus. Hari ini hanya ada satu pelajaran dan kami menyempatkan untuk berkunjung ke rumahku sebentar sebelum ke cafe.


"Dira, kita ke rumahku dulu ya?" kataku pada Dira.


"Oke, Dil. Apa kau siap untuk pulang kesana?" tanyanya.


"Siap, Dir. Aku hanya ingin menjenguk Ayah dan mengambil sisa pakaianku saja." sahutku.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, kami sampai dirumah. Rumahku terlihat sepi sekali, seperti tak ada orang. Sebelumnya aku sudah izin ke Kak Pipit untuk berkunjung kesini dan Kak Pipit mengiyakannya.


"Dil, rumahmu sepertinya tidak ada orang." kata Dira sambil memperhatikan rumahku.


"Iya, ya Dir. Kayanya gak ada orang, apa kita coba ketuk dulu kali ya?" tanyaku sambil melangkah ke arah pintu depan.


"Iya, coba diketuk dulu Dil." kata Dira.


'Tok...Tok...Tok...'


"Assalamualaikum." ucapku terus mengetuk.


Tiba-tiba salah tetanggaku datang, dan menghampiriku.


"Dilara?" tanyanya. Nama tetanggaku itu adalah Buk Inur.


"Iya, Buk. Ayah dan Ibuk ada dirumah?" tanyaku pada Buk Inur.


Raut wajah Buk Inur tiba-tiba saja berubah sendu. Aku dan Dia menatap heran Buk Inur, ada apa dengan Buk Inur hingga raut wajahnya seperti sedih.


"Ada apa, Buk? Kenapa Ibu menatapku seperti itu?" tanyaku.


"Apa kau belum mendapatkan kabarnya, Dil?" tanyanya kembali.


"Kabar? Kabar apa Buk?" tanyaku lagi, Buk Inur sangat membuatku penasaran.


Sementara Dira, dia hanya duduk dan memerhatikan kami dari teras rumah.


"Sebaiknya kita duduk dirumah Ibuk dulu yuk, Dil. Oh iya, untuk kunci rumahmu ada ditempat Ibu ya." kata Buk Inur sambil berlalu ke arah rumahnya.


"Ayo, Dir!" ajakku.


Kami sampai dirumah Buk Inur, beliau sudah menunggu kami diruang tamu rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2