
Astaga! Dira, Dira. Kenapa kau memberitahukan itu pada Kak Pipit? Demi apa, aku sudah tak berdaya berbicara lagi sekarang. Apa yang harus ku katakan pada Kak Pipit sekarang?
"Dila! Apa kalian saling menyukai? Jawab saja yang jujur, Kakak takkan marah padamu." kata Kak Pipit mengelus pundakku.
"Hem-m, aku pergi dulu, Kak. Nanti setelah sampai dirumah, aku akan menceritakan semuanya padamu, oke?" pamitku, lalu menarik tangan Dira agar segera keluar dari rumah.
***
Sesampainya diluar rumah, aku langsung saja melotot ke arah Dira.
"Dira! Kenapa kau mengatakan itu didepan, Kak Pipit?" tanyaku pura-pura kesal.
Mana mungkin aku akan marah betul-betul pada sahabatku satu ini, yang ada tidurku malah tak nyenyak nanti malam.
"Heheh, maaf Dila. Keceplosan tadinya, lagian gak apa-apa lah kalo kakakmu juga tau. Kau sudah berjanjikan untuk tidak berbohong tentang apa pun lagi sekarang pada, Kak Pipit?" kata Dira.
Memang, aku sudah berjanji pada, Kak Pipit. Aku berjanji tidak akan berbohong padanya tentang apa pun, tapi apa ini juga perlu diketahui oleh, Kak Pipit?
"Baiklah, terserahmu saja. Ayo, kita berangkat sekarang. Jika terlambat, maka bersiaplah kalau kita kena hukuman." kataku menakuti Dira.
"Kau menakutiku, Dila? Hem, baiklah-baiklah ayo kita berangkat sekarang." jawabnya santai. Kukira dia akan merasa takut, tapi ternyata tidak.
"Hem, ayo!" kutarik tangannya agar segera menaiki motor kesayanganku ini.
***
30 menit berlalu, kini kami sampai di Cafe Lestari. Kulihat dari bawah, ternyata Pak Qevin sudah menunggu di lantai 2 ruangannya. Segera kulangkahkan kaki ku dan diikuti juga oleh Dira dibelakangku.
5 menit berlalu, sampailah kami diruang Pak Qevin. Setelan Pak Qevin hari ini sangatlah casual, apa dia sedang tidak bekerja?
"Silahkan duduk, Dila, Dira." suruh Pak Qevin.
"Baik, Pak. Terimakasih!" ucap kami berdua.
"Hem, baiklah. Saya sebenarnya hanya memanggil, Dila saja. Tapi ternyata kalian datang berdua, tidak masalah." kata Pak Qevin.
Kulihat, Dira duduk dengan tidak nyaman. Apa dia tersinggung? Kuelus tangannya, dan berusaha untuk meyakinkannya.
"Maaf, Pak. Ini bukan salah, Dira. Ini salah saya yang mengajaknya kemari, apa bermasalah, Pak?" tanyaku pada Pak Qevin.
"Ohh tentu tidak, Dil. Mari kita mulai pembicaraannya sekarang!" ajak Pak Qevin dan hanya kuangguki saja.
__ADS_1
"Sebenarnya, tempat kerja saya yang asli itu bukan disini. Saya punya perusahaan sendiri, dan tujuan saya memanggil kamu kesini, untuk mengajak kamu bekerja sama di perusahaan saya. Kamu kuliah dibidang Akutansi kan. Dil?" jelas Pak Qevin, dan berakhir pada pertanyaan.
"Iya, Pak. Saya kuliah dibidang Akutansi, sama dengan Dira." jawabku sekenanya saja.
"Ouh, oke. Ayo Dira, sekalian bekerja dengan saya dan, Dila." sahut Pak Qevin mengajak Dira untuk ikut bersamaku dan dia.
Kulihat raut wajah Dira berubah, apa dia sangat senang sekarang? Syukurlah, Allah Swt mengirimkan kami seseorang yang akan membantu kami untuk kedepannya.
Kuelus punda Dira dengan lembut. Kemudian aku membuka suara.
"Apa, Bapak sedang bercanda?" tanyaku pada Pak Qevin.
"Tidak, Dila. Apa wajahku terlihat sedang bercanda?" tanyanya balik.
"Kalian tinggal berapa semester lagi, Dila, Dira?" tanya Pak Qevin kemudian.
"Kami berdua, tinggal 2 semester lagi, Pak. Insyaallah, 3 bulan lagi sudah selesai S1!" ucapku sambil tersenyum.
"Apa aku tidak dianggap disini? Tega sekali kalian, tidak mengajakku mengobrol!" kata Dira tiba-tiba. Dengan muka imutnya, dia berpura-pura kesal. Aku tau bagaimana sifat, Dira sahabatku ini.
"Hey, apa yang kau katakan? Hem, baiklah-baiklah. Mulai senin nanti, kalian berdua datang ke kantorku. Nanti akan kukirimkan alamatnya ke ponselmu, Dila." sahut Pak Qevin.
"Pak! Apa kau seorang CEO diperusahaanmu?" tanya Dira penasaran.
Aku menepuk pahanya Dira, kenapa bisa muncul pertanyaan seperti itu dikepalanya? Tapi memang iya sih, kalo Pak Qevin hanya seorang karyawan biasa kenapa bisa seenak jidatnya saja memasukkan orang ke kantor itu? Apa dia benar-benar pemilik perusahaan tersebut?
"Iya, Dira. Aku pemilik perusahaan tersebut, apa ada masalah?" akhirnya, setelah lama terdiam Pak Qevin membuka suaranya. Apa dia segan memberitahu pada kami, bahwa dia pemilik perusahaan tersebut?
Kulihat ekspresi Dira berubah dengan drastis, dia ini terkejut atau terperangah sih?
"Hem, baiklah Pak Qevin. Senin nanti, kami berdua akan menemui Bapak di perusahaan. Terimakasih atas informasinya, Pak!" kataku sambil berdiri dan mengulurkan tangan untuk berjabat dengannya.
Dira, dan Pak Qevin pun ikut berdiri. Pak Qevin menerima uluran tanganku dengan wajah yang semringah, ada apa dengannya? Kenapa seperti orang kesenangan, padahal ini hanya berjabat tangan biasa.
"Baiklah, saya tunggu di perusahaan pukul 9 pagi." jawabnya sambil menjabat tanganku, kemudian tangan Dira.
"Kami permisi, Pak. Assalamualaikum!" ucapku padanya.
"Waalaikumussalam, Dila. Hati-hati dijalan ya." jawabnya.
***
__ADS_1
Kami sedang berada disebuah warung sekarang. Perut ini sudah minta asupan, dan mau tidak mau kami singgah ke warung nasi terdekat.
"Dil! Menurutmu Pak Qevin itu baik atau tidak?" tanya Dira disela-sela makan.
"Lumayan sih, Dir. Tidak ada salahnya kan kalau kita menerima tawarannya? Siapa tau ini adalah jalan menuju kesuksesan kita." kataku pada Dira.
Dira tersenyum dan berkata.
"Dila! Aku senang jika kalian berdua makin hari makin akrab, apa aku harus ikut juga denganmu ke perusahannya Pak Qevin dan menerima tawarannya?" tanya Dira.
"Harus! Kau harus ikut kemana pun aku pergi, Dira. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian dirumah, intinya kau harus ikut kemana pun aku pergi, titik!" jawabku tegas.
"Baiklah, sahabatku. Aku akan ikut kemana pun kau pergi!" kata Dira sambil tersenyum manis, aku pun membalas senyumannya.
"Baiklah, ayo kita pulang, Dir. Hari sudah semakin larut, Kak Pipit pasti menunggu kita dirumah!" ajakku pada Dira.
"Ayo!"
***
45 menit kemudian, sampailah kami dirumah Kak Pipit. Aku menekan vell rumah, dan pintu terbuka. Terlihatlah seorang ART dirumah Kak Pipit.
"Masuk, Mbak!" ajak ART tersebut.
"Oh iya, Buk. Kakak dimana?" tanyaku.
"Buk Fitria sedang dikamarnya, Mbak." jawab ART tersebut.
"Ouh, baiklah. Terima kasih, Buk!" ucapku pada ART itu.
Segera aku dan Dira masuk ke kamarnya Kak Pipit. Terlihat Kak Pipit sedang berkutat dengan laptopnya.
"Kau sedang sibuk ya, Kak?" tanyaku.
"Ehh, kalian berdua sudah pulang? Dari mana saja, hm?" tanyanya balik pada kami berdua.
"Biasalah, Kak. Habis dipanggil CEO tadi, hehehe." jawab Dira cengengesan. C'k, pastilah setelah ini Kak Pipit menanyakan siapa CEO itu?
Mempunyai sahabat yang baik dan Kakak yang penyayang. Beginilah kehidupanku seterusnya, semoga seperti ini selamanya.
Bersambung...
__ADS_1