
"Hey, siapa di sana? Apa kau tak niat melamar kerja, hah?" suara bariton itu datar tapi setengah berteriak, lagi-lagi mengejutkan aku dan Dira.
"Tony, periksa!" perintah Dia.
Posisi aku dan Dira saat ini sedang berada di balik pintu, sementara ruangan Manager akan memasuki sebuah ruangan lagi.
"Baik, Pak!" jawab sang asisten.
Suara tapak kaki terdengar seperti mendekat ke arah kami berdua, ya Salam bagaimana ini?
"Hey, Nona. Apa kalian yang ingin melamar kerja?" tanya asisten yang di panggil Tony itu. Dia bertanya padaku dan Dira, dalam menggunakan bahasa inggris.
Aku terkejut, tiba-tiba saja asisten itu sudah sampai tepat di depan mataku.
"Be-benar, Pak!" jawabku dan Dira sedikit gugup.
"Oh ya, baiklah. Silahkan masuk, jangan membuat kami menunggu terlalu lama!" datar suara pria itu mengatakannya.
"Hem, ba-baiklah." kataku.
Berulang kali aku menarik nafas dalam, begitu juga dengan Dira. Tapi, Dira tak separah diriku.
"Silahkan duduk, Nona!" ucap si asisten dengan bahasa inggris juga.
Sang Manager belum menampakkan wajahnya, di karenakan dia duduk membelakangiku. Aku tak tau pasti, itu Dia atau bukan.
"Pak, mereka sudah berada di hadapanmu!" panggil asistennya.
"Hem, baiklah. Siapa nama Nona-nona sekalian?" tanyanya Pria tersebut tanpa membalikkan tubuhnya. Suaranya, benar-benar sangat mirip.
"Perkenalkan Pak, saya Dilara Humaira!" jawabku.
"Perkenalkan juga, Saya Asdira Miranda, Pak." lanjut Dira.
Sang Manager, dengan segera membalikkan tubuhnya.
"Oh iya, baiklah." sahutnya datar.
Akhirnya aku dan Dira bernafas dengan lega, karena sang Manager itu bukanlah Dia.
"Baiklah, Nona-nona. Saya akan mewawancarai kalian dengan sedikit pertanyaan." kata si Manager tersebut.
"Baik, Pak. Silahkan!" kataku dan Dira kompak.
"Apa kalian pernah bekerja sebelumnya?" tanya Manager tersebut.
"Sudah, Pak. Kami pernah bekerja diindonesia, tapi bukan diperkantoran. Kami sudah mencoba melamar, tapi tidak ada lowongan." jelasku.
"Hem, begitu ya. Baiklah, bagaimana denganmu Nona?" tanya Manager tersebut ke arah Dira.
"Saya sama seperti Dila, Pak. Pernah bekerja sebagai barista, disebuah cafe." sahut Dira.
Setelah melewati banyak pertanyaan dari sang Manager, kami diputuskan untuk memulai pekerjaan Besok. Karena, kebetulan diruang Bendahara sedang membutuhkan 2 orang karyawan.
"Baik, wawancara hari ini saya tutup. Selamat bekerja besok, Nona-nona." kata Manager yang bernama Albi. Usianya sama seperti Zain, tidak terlalu tua.
"Alhamdulillah, terima kasih Pak!" ucapku dan Dira.
Sang Manager muda itu hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada kami.
"Sekali lagi terima kasih, Pak. Kalau begitu, kami pamit keluar." kataku kemudian.
"Iya, Nona." sahutnya.
"Hem, Nona-nona!" panggil Manager itu saat aku dan Dira sudah hampir sampai pintu.
__ADS_1
"Iya, Pak?" jawab kami serentak.
"Bagaimana jika nanti malam kita makan bersama?" tanya Manager itu sembari menatapku.
Aku dan Dira saling pandang, bingung mau kasih jawaban apa.
"Terserah padamu saja, Pak!" sahut Dira mendahuluiku.
Manager itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Baiklah, nanti malam pukul 19:35 kita berkumpul di restaurant XXX." kata Manager itu sambil tersenyum ke arahku.
"Baik, Pak. Terus berkabar saja nanti, saya izin keluar!" pamitku.
"Ya, silahkan Nona." sahutnya santai.
***
Kini, aku dan Dira sudah berada dirumah. Tepat pada pukul 4 sore, kami sampai dirumah. Rasanya hari ini lelah sekali, seperti habis berlari-lari saja.
"Dila, ayo istirahat dulu!" ajak Dira yang kelihatannya sudah sangat lelah.
"Baiklah." jawabku.
Kami istirahat selama 2 jam kurang lebih, karena tubuh yang kelelahan kami jadi terlalu banyak beristirahat.
Tepat pada pukul 6 sore, aku terbangun. Rasa lelah sedikit berkurang, diganti dengan rasa kantuk yang masih melanda.
Segera aku berjalan menuju kamar mandi, lalu mengguyur tubuh ini dengan air dingin agar segera menghilangkan rasa kantuk.
20 menit kemudian, aku selesai mandi. Aku memanggil Dira yang masih tertidur, mungkin efek kelelahan jadi dia terlalu enak tidur.
"Dir, Dira! Ayo bangun cepat, malam ini kita kan ada janji!" panggilku sedikit berteriak pada Dira.
"Hem, yaa baiklah. Tunggu sebentar!" sahutnya.
***
Tak terasa, maghrib sudah lewat dan sekarang malam menggantikan sore. Jam sudah menunjukkan pukul 19:10, itu artinya tinggal beberapa menit lagi waktu kami.
"Dira, apa kau sudah siap?" panggilku dari teras rumah.
"Sudah!" sahutnya sambil berlari ke arahku.
Kami berangkat menggunakan taxi, dan kami menunjukkan alamat yang diberi Manager itu tadi ke Pak supir.
45 menit perjalanan, kami sampai ditempat tujuan. Terlalu jauh jalan menuju ke restaurant ini, jika dari rumah kami.
Selesai membayar, aku dan Dira masuk ke dalam resto ini. Restaurant yang sangat mewah dan elegant, mungkin saja hanya orang-orang kalangan atas yang berada disini.
Tiba-tiba saja, ponselku berbunyi dan masuk notifikasi dari nomor yang tak dikenal.
"Ruang VVIP nomor 10, aku disana, Nona!" isi pesan tersebut.
Aku langsung tau ini siapa, pasti Manager itu. Tapi, bagaimana bisa dia tau nomor ponselku?
"Ayo, Dir!" aku menarik tangan Dira agar segera mengikutiku.
Restaurant ini terlalu besar, lelah aku mencari keberadaan ruangan itu, hingga akhirnya aku memutuskan untuk bertanya.
"Hay, apa kau tau dimana ruang VVIP nomor 10?" tanyaku pada seorang Barista.
"Ya, lurus saja ke arah sebelah kanan sana, dan belok ke arah kanan lagi. Ruangan nomor 10 ada disana!" jawab si Barista.
"Oh ya, terima kasih. Permisi!" ucapku, lalu kembali meneruskan langkahku.
__ADS_1
10 menit kemudian, sampailah aku diruangan yang Manager itu katakan.
"Apa ini ruangan yang Pria itu bilang, Dil?" tanya Dira dengan wajah terkejut.
"Iya, Dir. Ruangan VVIP nomor 10, aku rasa memang ini ruangannya." kataku.
Ruangan ini samgat mewah, interiornya sangatlah klasik. Aku dan Dira tiada henti memandang ruangan VVIP ini.
"Selamat malam, Nona-nona semua!" sapa seseorang dari arah belakang kami.
Aku dan Dira berbalik, menatap orang itu. Dia adalah Albi sang Manager.
"Malam, Pak!" sahutku.
Manager itu tak henti-hentinya memandangku, bukan aku terlalu PD.
"Mari, silahkan duduk." Albi mengajak kami untuk segera duduk.
Manager itu menarikkan kursi untuk aku duduki, awalnya aku terkejut tapi aku mencoba mengontrol diriku.
"Silahkan!" kata Manager itu.
"Te-terima kasih, Pak. Tidak perlu repot-repot seperti ini, kami merasa tidak enak." ujarku merasa risih dengan pandangannya.
"C'k, jangan memanggilku Bapak. Aku belum terlalu tua untuk dipanggil, Bapak. Ini di luar kantor, panggil Albi saja." katanya.
Aku hanya memandang Dira, sedangkan Dira hanya memandang makanan yang ada di depannya.
"Ayo, dimakan!" kata Albi kemudian.
Aku menganggukkan kepalaku, lalu menyantap pelan makanan yang ada di depanku. Begitu pun dengan Dira, dia mulai menyantap makanannya dengan tenang.
***
Entahlah berapa lama kami berada di restaurant ini, sampai akhirnya kami berpisah diteras restaurant.
"Terima kasih Pak, atas jamuannya malam ini!" ucapku.
"Terima kasih juga, Pak." sahut Dira.
"Tidak masalah, oh ya mulai besok kalian sudah boleh bekerja. Datanglah tepat pada waktunya, aku akan mengontrol setiap karyawan pada hari-hari tertentu." jelas Albi sambil tersenyum lembut.
"Baik, Pak. Sekali lagi, terima kasih." lagi-lagi aku mengucapkan kata-kata 'Terima Kasih'.
"Saya duluan, hati-hati dijalan ya, Nona-nona." kata Albi, lalu menaiki mobilnya.
Aku hanya menatap kepergiannya dari jauh, begitu pun dengan Dira.
"Sudah menatapinya?" tanya Dira yang membuatku terkejut.
"His, sudahlah mari kita pulang! Aku sudah mengantuk, lagi pula ini sudah jam berapa?" sahutku, sambil melirik jam tangan yang melingkar ditangan kiriku.
"Astagfirullah! Sudah jam 10 malam, Dir. Ayo, segera pulang cepat!" teriakku sedikit besar.
"Ya ampun, Dila. Jangan berteriak seperti itu, kau mengganggu orang sekitar!" sahut Dira kesal.
Banyak orang yang melihat ke arahku, aku jadi kik-kuk dibuatnya.
"Heheh, maaf Dir. Baiklah, ayo kita pulang!" kataku cengengesan melihat wajah kesal, Dira.
Selesai memesan taxi, kami langsung pulang menuju rumah.
Bersambung...
Jangan lupa like, vote, dan komen yang berfaedah ya..😍
__ADS_1
Ayo dukung aku, biar kembali bersemangat untuk Up gaes...