
Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang dan itu artinya sudah masuk jam makan siang. Kak Pipit baru saja pulang dari bandara, sekitar 15 menit yang lalu dia sudah pulang. Aku dan Dira keluar dari kamar lalu berjalan menuju meja makan.
Terlihat, Kak Pipit sudah menunggu kami berdua diujung meja sana. Aku berjalan menghampiri Kak Pipit.
"Hay, Kak! Sudah lama menunggu kami?" tanyaku basa-basi padanya.
"Tidak! Baru sekitar 30 menitan kok!" jawabnya santai sambil terus memainkan ponselnya.
Astaga! Dia sudah lama menungguku dan Dira disini? Ya ampun!
"Maafkan kami, Kak. Karena sudah membuat kamu terlalu lama menunggu!" ucapku.
"Hahah, Kakak hanya bercanda, Dila. Kemari dan duduklah!" sahut Kak Pipit tiba-tiba.
Aku dan Dira duduk bersebelahan, dihadapan Kak Pipit.
Kak Pipit mengeluarkan sesuatu dari dalam tas mahalnya itu,dan ternyata isinya adalah sebuah kertas.
"Itu kertas apa, Kak?" tanyaku penasaran sambip terus menatap si kertas.
"Ini, tiket kalian berdua untuk keberangkatan ke Jerman besok!" semringah Kak Pipit lalu menyuruh kami untuk mengambil tiket tersebut.
"Wahh! Jadi kami benar-benar akan berangkat, Kak?" binar wajah Dira jelas mengatakan bahwa dia sangat senang sekarang.
"Tentu saja, Diraa!" sahut Kak Dira antusias.
"Baiklah, Kak. Terima kasih untuk tiketnya, ya." sahutku sambil berjalan memeluk Kak Pipit.
"Sama-sama, sayangku. Kalian adalah penyemangat hidupku ingat, jangan kecewakan kepercayaanku ini!" kata Kak Pipit.
"Baiklah, kami janji!" ucapku bersamaan dengan Dira.
"Ayo duduk kembali, dan habiskan makanan kalian. Lalu, kembalilah ke kamar dan berberes pakaian. Aku yang akan mengantarkan kalian ke bandara esok pagi!" jelas Kak Pipit kemudian.
"Baik, Kak,"
***
Pukul sudah menunjukkan jarum ke angka 21:05. Hari sudah malam, dan di malam hari ini tak ada duduk-duduk berkumpul di balkon. Kak Pipit sedang keluar dengan Mas Aan, jadi dia tidak bisa duduk berkumpul dengan kami.
Aku dan Dira sedang melipat pakaian yang akan dibawa ke Jerman nanti. Rasa kantuk seakan tak menyerangku malam ini, begitu pun dengan Dira. Biasanya kami akan tidur jika jam sudah menunjukkan pukul 20:30, tapi entah kenapa malam ini seakan menjadi malam terakhir bagi kami.
__ADS_1
"Sate cicak satu ini! Tiada hari tanpa melamun, bisakah kau berhenti melamun, Dila? Aku sedih melihatmu selalu seperti itu tau," cecar Dira tanpa berhenti, sudah seperti pesawat tempur.
"Suka-suka hatiku lah, sate biawak! Dira, kau jangan sedih melihatku melamun seperti ini, karena itu tak ada hubungannya kau paham?" sahutku yang tak kalah, sudah seperti kereta api.
"Hem, ya ya ya. Ehh, ngomong-ngomong si Pak Qevin apa kabar ya?" tanya Dira padaku.
Aku hanya memutar bola mataku malas. Si Dira ini, selalu saja membahas si Qevin.
"Mana ku tahu. Kau harus ingat Dira, bahwa aku dan dia tidak pernah memiliki hubungan apa pun!" kataku padanya.
"Aku jadi penasaran padanya, Dil," kata Dira kemudian.
"Penasaran bagaimana, Dir?" tanyaku.
"Aku penasaran, sebenarnya dia itu melarangmu pergi karena apa? Apa karena dia menyukaimu, atau karena apa?" Dira memberiku pertanyaan dengan sangat beruntun. Dira, Dira.
"Aku tidak tahu, Asdira! Kau tanya saja padanya sana!" sahutku sambil memasukkan baju ke dalam koper berukuran besar.
"Baiklah, akan kutelfon!" kata Dira, lalu berdiri dari duduknya dan berjalan menuju meja rias.
"Hah? Apa yang kau lakukan, Dira? Jangan aneh-aneh!" panikku sambil berdiri dan mengejar Dira.
"Apa kau tak ingin tau jawabannya, Dil? Mungkin saja, dariku dia akan memberikan jawabannya!" saran dari Dira. Ada benarnya juga jika Dira yang menelfon, jadi aku bisa mengetahui alasan Qevin.
Dira menganggukkan kepalanya pertanda setuju. Sebenarnya Dira sudah lama memiliki nomor ponselnya Qevin, hanya saja dia tak berani menghubungi Qevin jika tak ada keperluan mendadak.
Klik' Dira menekan nomor ponselnya, Qevin. Dan kami sedang menunggu terhubungnya ponsel Dira ke ponsel Qevin.
Beberapa saat kemudian telfon Dira diangkat oleh Qevin. Jujur aku sebenarnya sangatlah senang kala dia mengangkat telfon dari, Dira. Walau bukan dari ponselku, tapi aku tetap bahagia sekali. Ahh, sebegitu kah rasanya jatuh cinta? Tapi, aku tak yakin bahwa rasa itu masih ada di dalam hatiku. Ahh, sudahlah bikin pusing saja!
"Hallo?" sapa orang diseberang. Ya, itu suara Qevinku.
"Assalamualaikum, Pak Qevin!" ucap Dira.
"Iya, Dira. Waalaikumussalam! Ada keperluan apa menelfonku malam-malam seperti ini?" tanya Qevin datar.
"Em, ma-maaf Pak jika mengganggu!" sahut Dira gerogi.
"Hahah, tidak apa-apa, Dira! Santai saja, jangan gerogi seperti itu. Aku sudah bukan bossmu lagi, jadi jangan panggil aku Pak ya!" kata Qevin terkekeh pelan.
Ternyata dia bisa terkekeh juga ya, aku baru tau. Yang selalu kulihat, dia orangnya sedikit angkuh, dan dingin.
__ADS_1
"Vin, apa kau menyukai, Dilara ku?" tanya Dira yang membuatku terkejut.
"Hah? Kenapa kau bertanya seperti itu, Dir?" tanya Qevin terkejut sama seperti aku.
"Aku hanya bertanya, karena saat pengantaran surat resign kau menyuruhku untuk meninggalkanmu berdua dengan, Dila." jawab Dila.
"Hemm, hemm..." suara Qevin seperti berdehem diseberang sana. Apa dia mau batuk?
"Kau sakit, Vin?" tanya Dira pura-pura.
"Ti-tidak! Aku tidak sakit, hanya tenggorokkanku saja yang sedikit bermasalah, Dir." sahutnya sedikit gugup.
"Ouh, ya baiklah. Sekarang jawablah pertanyaanku, Vin! Apa kau menyukai, Dilara ku?" tanya Dira sekali lagi.
Untuk beberapa saat, Qevinku terdiam. Apa dia sedang dalam keadaan dilema? Apa dia mencintaku sama seperti aku mencintainya? Hahah, mana mungkin itu terjadi. Qevin dan aku berbeda kasta, aku miskin dan dia kaya. Pastilah Buk Lestari tak merestui hubungan kami nantinya.
"Apa kau sedang bersama dengan, Dila?" tanya Qevin tiba-tiba. Setelah lama diam, akhirnya dia membuka suaranya.
Dengan cepat Dira menjawab.
"Dia sedang keluar bersama kakaknya, kau bisa curhat denganku, Vin. Kau bisa mengatakannya padaku, aku berjanji tidak akan memgatakannya pada, Dila!" kata Dira sambil menatapku.
Aku sedari tadi hanya mendengarkan obrolan mereka, tanpa berniat membuka suara.
"Dira! Apa aku salah mencintai seseorang yang sudah lama aku dambakan?" tanya Qevin sendu.
"Hufft, kau salah. Seharusnya kau mengatakan langsung perasaanmu kepada orang tersebut, hingga bayangan orang tersebut tidak selalu menghantuimu, Vin." jelas Dira.
Qevin hanya diam.
"Katakanlah perasaanmu itu, sebelum dia pergi meninggalkanmu, Vin. A-aku hanya memberikan saran saja, tidak ada maksud lain." sambung Dira.
Qevin masih terdiam, seperti tadi.
"Dira, apa aku salah telah mencintai, Dilara?"
apa? Mencintaiku?
Bersambung...
Terus ikuti kisah selanjutnya yaa gaess..
__ADS_1
jangan lupa like, vote dan komen yang bermanfaat yaa..