
Sayup-sayup, terdengar suara audio mengaji dari masjid sana. Aku menggeliat pelan, setelah itu aku bangun dan duduk di pinggir ranjang, lalu aku duduk sambil melamun. Entah kenapa, suara audio itu sangat-sangat membuat diriku tenang, bahkan sangat tenang seakan kejadian semalam sejenak terlupakan.
Suara kicauan burung-burung yang menghinggap diloteng, sangat nyaring dan juga ribut. Serasa ramai jika burung-burung itu terus berkicauan secara bergantian. Tak lama aku termenung, suara Adzan yang merdu dan lantang kini menghampiri kota kami, kota Berlin.
Segera aku beranjak dari pinggiran ranjang, lalu berjalan ke arah kamar mandi guna membersihkan tubuh dan berwudhu'. Selesai berwudhu' dan bebersih tubuh, aku langsung menunaikan shalat 2 rakaat, yaitu shalat subuh.
'Assalamualaikum Warahmatullah...'
'Assalamualaikum Warahmatullah...'
Shalat tak memakan waktumu terlalu banyak, shalat hanya memakan waktu sekitar 15 menit. Dulu, aku sangatlah malas untuk beribadah kepada Allah SWT, tapi InsyaAllah untuk sekarang dan seterusnya aku akan berusaha semaksimal mungkin dalam beribadah.
Tak lupa juga, aku menyenandungkan shalawat merdu untuk baginda kita Nabi Muhammad SAW. Setelah selesai dengan urusan ibadah, aku beranjak membangunkan kedua sahabat malasku.
Ku goyangkan kaki keduanya, lalu meneriakinya.
"Assalamualaikum Ya Ahlal Kubur! Bangun, shalat subuh!" teriakku sedikit kencang.
"Eh ayam eh ayam bakar?!"
"Pak Albiiiiikuuu??!!"
Lah? Ini kenapa satu panggil ayam bakar, dan yang satu panggil Pak Albi?
Mereka sejenak menatap ke arahku, lalu mereka dengan terburu-burunya bangun dan berlari pelan ke arah kamar mandi. Aku tak sanggup menahan tawaku, sungguh ya Allah mereka sangat lucu, hahaha...
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, dan tanganku terus bergerak membuka ikatan tali mukena di kepalaku. Setelah selesai aku berjalan keluar kamar untuk memasak sarapan pagi hari ini.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 7:03, kami bertiga sedang sarapan bersama sekarang di meja makan. Setelah mereka selesai mandi dan shalat subuh, aku juga lekas mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.
"Mey!" panggilku.
Dia menoleh ke arahku, lalu bertanya.
"Ada apa, Kakakku sayang?" tanyanya santai sambil melanjutkan makannya.
"Ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi padamu kemarin setelah mendengar kata Pak Albi?" kataku To The Point.
"Kata yang mana?" tanyanya bingung.
"Dikantor, tepat setelah kita sampai dikantor bersama dengan Pak Albi." sahutku.
Dia terkejut, lalu menundukkan kepalanya menatap makanan yang ada di depannya. Aku mengerti bagaimana persaannya sekarang.
"Ceritakanlah, bahwa kau memang menyukainya. Jangan memendam sendirian, kami disini untuk mendengar curhatanmu!" kata Dira sambil menepuk pelan pundak, Meyra.
Aku pun menganggukkan kepalaku.
"A-aku, memang pergi dari kantor setelah jam istirahat tiba. Aku pergi menenangkan pikiranku, Dil, Dira." sahutnya pelan.
__ADS_1
"Lalu, apa maksud perkataanmu yang ini 'Aku pergi menenangkan pikiranku dari orang yang tak pernah menganggapku ada!', aku ingin tau apa maksudnya. Apa kau sedang menyindir, Pak Albi?" tanyaku mengintrogasi.
Dia menatapku nanar, mencoba untuk menceritakan tapi seakan sulit.
"Jangan bertele-tele, cepat ceritakan. Aku tak mau sahabatku sakit sendirian, tanpa mengajakku!" kataku dingin.
"Se-sebenarnya, a-aku... Menyukai, Pak Albi. Tapi, aku ragu untuk menyatakannya, dan aku merasa bahwa Pak Albi seperti sudah mulai dekat denganku. Saat dia mengatakan 'Sungguh saya merasa terhibur', saat mengatakan itu matanya menatap ke arahku. A-aku merasa, dia menganggapku seperti hiburan baginya, Dila, Dira!" keluhnya panjang lebar.
"Dan aku juga sempat berpikir, bagaimana bisa seorang Manager tingkat dewa sepertinya mau berpasangan dengan bawahan rendah sepertiku. Seperti mimpi belaka bukan? Hahaha.." lanjutnya sambil terkekeh, lalu melanjutkan makannya.
C'k, sudah kutebak. Pastilah kejadian perbincangan itu melibatkan semuanya.
"Haaeehh, sudahlah. Ikuti prinsipku saja, 'Jika dia menyukai kita, kita haruslah merasa bahagia. Tapi jika dia tak menyukai kita, bukan berarti tak akan pernah ada yang menyukai kita'. Itu prinsipku, Mey!" kataku santai.
"Ya, Dila. Kau benar. Baiklah, mulai sekarang aku mengikuti prinsipmu saja. Kurasa itu tak akan menyesatkan bukan?" sahut Meyra sambil terkekeh.
"Hey, kau bilang itu menyesatkan? Sungguhh, ku jamin TIDAK AKAN!" jawabku menekankan kata-kata 'TIDAK AKAN', sambil tertawa senang.
Dira hanya menyimak obrolan kami sembari tertawa ringan, lalu dia berkata.
"Apa kalian tidak ingin ke kantor? Lihatlah, sudah pukul berapa?" tanya Dira.
Aku melihat ke arah jam tangan arlojiku, dan sekarang sudah menunjukkan pukul 7:30. Aku menatap ke arah Dira.
"Ayo berangkat, kalau tidak kita akan terlambat nanti!" kataku sambil beranjak dari duduk, lalu membereskan alat-alat untuk ke kantor.
Mereka juga ikut bangun dan membereskan barang-barang mereka.
Aku tersenyum senang jika melihat mereka senang, tapi di kala mereka sedih entah kenapa hatiku ikut merasa sedih. Mungkinkah ini yang di namakan 'Sahabat Sejati'???
Kami pun berangkat dengan berjalan kaki, tak membutuhkan waktu lama bagi kami untuk sampai di loby perusahaan ternama di kota ini.
***
Sekarang, kami sudah duduk di ruangan masing-masing. Lalu tak lama, dering pesan di ponselku terdengar.
Isi pesan...
'Dila, aku menunggu kau dan Dira di loby kantor. Cepat kemari! Ingat, jangan bawa Meyra!' ternyata itu pesan dari, Pak Albi.
Aku pun membalas pesan itu
'Baik, Pak. Kami segera sampai,' balasku singkat. Lantas aku pun menge-chat, Dira.
'Dira, cepat ke ruanganku! Jangan bawa Meyra, karena kita akan bertemu dengan, Pak Albi!' isi pesanku.
***
Dan, disilah kami. Kami saat ini sedang duduk di sebuah Cafe ternama di kota Berlin. Aku, Dira, dan juga Pak Albi. Pak Albi membawa kami ke Cafe, aku mengira dia akan membawa kami ke belakang kantor seperti yang dia bilang kemarin.
"Dila, Dira. A-aku ingin meminta maaf soal kejadian semalam!" ucap Pak Albi sambil menyesap kopi panasnya.
__ADS_1
Aku dan Dira saling pandang,
"Saya juga minta maaf Pak atas sikap saya yang non-formal kemarin!" ucap Dira sambil menunduk.
"Tidak masalah, Dira. Oh ya, aku membawa kalian kesini, karena aku ingin memberitahu kalian bahwa aku se-sebenarnya...." Pak Albi sejenak memutuskan perkataannya.
"A-aku menyukai, Meyra!" lanjutnya kemudian dengan gugup.
Dira terkejut, sementara aku tidak. Aku hanya menatap nanar, Pak Albi. Sepertinya sahabatku akan segera menikah..
"Ba-bapak serius dengan ucapan Bapak barusan??" tanya Dira saking terkejutnya.
Beliau menatap ke arah Dira, lalu mengangguk mantap.
"Ba-bagaimana bisa seorang atasan Manager seperti anda mau mempunyai pasangan bawahan rendah seperti kami?? I-itu sangat-sangat tidak mungkin, Pak!" cecar Dira kebingungan.
Pak Albi menahan nafasnya sejenak.
"Saya dan keluarga saya tidak memandang status dari seseorang yang kami sukai, aku menyukainya dan aku sudah berniat akan melamarnya!" sargah Pak Albi, sambil menatap Dira.
"Ma-maaf, Pak. Bukan maksud saya..."
"Tidak masalah, Dira. Saya juga mengerti," jawab Pak Albi.
"Mereka saling menyukai, Dira! Apa kita harus menentangnya?" kataku sambil menatap ke arah, Dira.
"Tidak sih, tapi seriusan loh aku terkejut mendengar ucapan Pak Albi barusan, heheh. Maaf, Pak!" ucap Dira sambil nyengir.
Pak Albi terlihat menahan senyumnya,
"Tolong, jangan sampaikan tentang ini padanya. Dan saya tau bahwa dia sedang menyindir saya semalam, mungkin karena saya mengatakan kata 'Terhibur' sambil menatap ke arahnya, makanya dia jadi tersinggung seperti itu!" dann yaa, tanpa kuberitahu dia mengatakan sendiri.
Aku tersenyum penuh kemenangan, ternyata tanpa di duga mereka saling menyukai dalam diam.
"Ya, saya sudah menduga sejak kemarin, Pak. Lain kali jagalah kata-kata, Bapak! Jika tak ingin menyakitinya," kataku kemudian.
Dia mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah, terima kasih atas masukkan dari kalian. Oh ya, jika saya ingin meminta bantuan kalian apa kalian bersedia?" tanya Pak Albi ragu.
"Tentu saja, selagi kami bisa kami akan membantu!" ucapku sambil tersenyum.
"Pak Albi, Dila, ayo kembali ke kantor! Aku khawatir nanti Meyra mencari kita," sahut Dira.
"Baiklah!" sahut Pak Albi.
Kami pun pergi dari Cafe ternama itu, dan menuju kembali ke Perusahaan Brata Group.
***
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu mendukung Author melalui, Like, Vote, Beri hadiah, dan Komen ya gaesss.. Happy Reading All..