Success Is My Dream

Success Is My Dream
Meski Tak Seindah Yang Dulu


__ADS_3

Hahhhh, hari yang melelahkan kini sudah terlewat. Aku, Meyra dan juga Dira, saat ini sedang duduk-duduk santai di depan tv. Kak Pipit dan Mas Aan, sedang keluar katanya mau membeli sesuatu.


Beberapa menit kemudian, dering pesan di ponselku berbunyi nyaring, pertanda 3 pesan sekaligus masuk. Aku pun mengambil ponselku lalu, mengeceknya.


Yang pertama pesan dari, Pak Albi. Yang kedua pesan dari seseorang tanpa nama, dan yang ketiga pun seperti itu.


Dari Pak Albi :


"Assalamualaikum, Dila. Sudah sampai? Kalian baik-baik saja kan?"  tanya, Pak Albi. Aku pun dengan segera membalasnya,


"Waalaikumussalam Warahmatullah, Pak. Alhamdulillah kami sampai dengan selamat!" jawabku.


Aku beralih ke pesan yang kedua,


"Assalamualaikum, Dilara! Ini aku, Dewa. Apa kau sudah sudah sampai dirumah? Maaf jika aku terlalu kepo ya, Dil . Heheh.." hemm, ternyata pria tampan asal Bandung ya mengechatku.


Dewantara Adighuna, pria tampan asal Bandung yang kini menetap di daerah kami. Katanya dia lebih suka berada di daerah orang, dari pada ditempat sendiri, ya hitung-hitung berpetualangan. Ada-ada saja, memangnya dia kuat atau sanggup apa jauh dari keluarga tercintanya?


Aku membalas pesan dari, Dewa.


"Waalaikumussalam, Dewa! Ya, aku sudah sampai di rumahku, bagaimana denganmu?" tanyaku.


Aku melihat Dewa sedang mengetik, cepat sekali membacanya.


"Syukurlah, emm jika lain waktu aku berkunjung ke rumahmu apa boleh?" tanya, Dewa. Astaga! Mimpi apa aku dia mau datang ke rumahku?? Ahh, senangnya.


"Boleh banget, Wa. Datanglah kapan pun yang kamu mau, pintu selalu terbuka untukmu!" kataku sambil menyematkan emot ketawa.


Dia pun membalas


"Wahhh, terima kasihh nihh! Baik banget sih, jika besok aku ke rumahmu? Apa bisa?" tanya Dewa.


"Silahkan, Wa. Kutunggu!" jawabku sambil menyematkan emot senyum manis.


Setelah selesai membalas pesan, Dewa, aku beralih ke pesan berikutnya.


"Assalamualaikum, Dila! Ini saya Zain, apa kalian sudah sampai?" isi pesan tersebut.


Ternyata ini nomor, Mas Zain. Aku membalas singkat, padat dan jelas saja.


"Waalaikumussalam Warahmatullah, alhamdulillah kami semua sampai dengan selamat, Mas!" balasku.


Kemudian aku melihat dia sedang mengetik, sama cepatnya dengan Dewa.

__ADS_1


"Ohh baiklah, em Dila! Apa Dira marah jika aku mengechatnya?" tanya, Mas Zain.  Aku tampak berpikir sesaat, lalu membalasnya. Kurasa dengan Mas Zain mengechat Dira, mungkin saja akan membawa sesuatu yang membuat Dira senang.


"Dicoba dulu, Mas! Dira sedang duduk di sampingku, sambil memainkan ponselnya, kemungkinan besar dia akan membalas." kataku mengusulkan.


Mas Zain pun mengucapkan


"Baiklah, terima kasih, Dil! Akan kucoba," katanya, aku pun tak membalas lagi ucapan dari Mas Zain.


Aku melirik ke arah, Dira dan Meyra. Mereka berdua duduk, sambil menikmati acara tv pada malam hari ini. Aku pun ikut menikmatinya, apa lagi ini adalah sinetron kesukaanku, yaitu 'Suara hati istri'.


"Hahaha, baru ditabrak sedikit saja langsung mati!" tawa Dira dan Meyra meledak, aku terkekeh melihat sinetron di depanku ini.


Tak berapa lama kemudian, sampailah Kak Pipit dan Mas Aan. Oh iya, aku lupa memberitahu jika Kak Pipit dan Mas Aan audah menikah sejak 2 bulam yang lalu. Aku pun tak diberitahu oleh mereka berdua, entahlah sengaja atau apa aku tidak tau.


"Assalamualaikum, Dila, Meyra, Dira!" sapa Kak Pipit.


Kami bertiga pun berdiri, dan menyahut salam dari, Kak Pipit.


"Waalaikumussalam, Kak!" jawabku sambil membantunya membawa barang belanjaan turun ke karpet bawah.


"Kakak, beli apa?" tanyaku sambil mengintip sedikit ke arah, belanjaan tersebut.


"Hanya makanan ringan untuk kalian, dan bahan makanan untuk besok!" sahut Kak Pipit sambil duduk, kelihatannya dia lelah.


Kami pun kembali duduk, dan melanjutkan obrolan seputar kehidupan kami di Jerman.


Aku pun mengangguk mantap, memang benar jika aku sudah menabung lebih dari 1 tahun sejak aku tinggal disana.


"Ahhh, alhamdulillah sekali. Syukurlah, tetap menabung untuk masa depanmu ya, Dil!" nasehat, Kak Pipit.


Kasih sayang dari keluarga, apa lagi Kakak/Abang kandung, memang tak pernah bisa diragukan. Apa yang di do'akan oleh mereka, selalu menjadi kenyataan. Pikirku seperti itu.


"Bagaimana dengan kalian berdua? Apa kalian juga ikut menabung?" tanya, Kak Pipit ke arah Dira dan Meyra.


"Iya, Kak. Kami menabung juga, mengikuti jejak, Dilara!" sahut mereka sambil terkekeh pelan.


Aku selalu menasehati mereka, untuk selalu menabung karena suatu saat nanti pasti uang itu akan kita butuhkan.


Jika dihitung-hitung jumlah tabunganku saat ini, bisa mencapai puluhan juta. Gajiku di sana, sangatlah lumayan, jika dihitung menggunakan uang rupiah, itu sekitar 7 juta perbulan. Begitu juga dengan kedua sahabat-sahabatku ini,


Impianku sekarang adalah, selalu menabung dan jika tabunganku sudah mencapai dengan hasil yang kuinginkan, maka aku akan membangun suatu usaha nantinya. Dan InsyaAllah, semoga dipermudahkan oleh-Nya, Aamiin...


***

__ADS_1


Keesokannya harinya, aku Meyra dan juga Dira, bangun di pagi hari pada pukul 6:00. Terlalu cepat memang, kami berencana untuk memasakan Kak Pipit dan Mas Aan sarapan pagi khas Jerman. Sebenarnya ada pembantu rumah tangga disini, tapi aku menyuruhnya untuk istirahat lagi saja.


Kami memasak dengan segala senda gurau, lalu tak lama kemudian masakan kami siap juga. Kami sarapan duluan, lalu aku mengajak mereka untuk keliling kompleks, hitung-hitung olahraga pagi kataku.


Aku dan sahabatku pamit pada, Buk Nita.


"Buk, jika Kakak sudah bangun, bilang padanya jika aku dan sahabatku keluar rumah sebentar. Hanya jalan pagi saja!" kataku.


"Baik, Mbak!" sahut, Buk Nita.


***


Kami pun jalan-jalan pagi menggunakan kaki. Malas rasanya jika harus menggunakan motor, lagi pula motorku belum di cuci oleh, Kak Pipit.


Kami berjalan dengan santai, kompleks ini tak lah begitu kecil, bahkan bisa dikatakan jika ini sangatlah luas. Kami bertiga berjalan sambil mengeksplor rumah-rumah di kompleks 'PELITA INDAH' ini.


Hingga beberapa menit kami berjalan, saat melewati sebuah rumah yang sederhana namun terlihat elegant. Dari jauh aku sudah mengira bahwa ini pasti rumah seorang pria, karena interiornya menuju ke arah sana.


"Dila, Meyra, Dira!" suara itu sedikit berteriak


Seseorang memanggil kami, dan suara itu sangat familiar sekali ditelinga kami. Kami menatap ke arah rumah tersebut, dan


"Dewa!" sahut kami terkejut.


Dia pun berlari ke arah kami bertiga, lalu mengajak kami untuk duduk di rumahnya terlebih dahulu.


Setelah sampai di rumahnya, dia masuk lalu keluar dengan 4 gelas minuman. Lalu, dia ikut duduk bersama kami di sebuah taman mini di depan rumahnya.


"Kalian, kenapa berada di kompleks ini?" tanya, Dewa.


Aku menjawab mewakili kedua sahabatku,


"Kami tinggal disini, Wa. Lalu kau? Kenapa berada di kompleks ini?" tanyaku.


Terlihat dia terkekeh sebentar sambil menatapku,


"Ini rumahku, Dila! Aku tinggal sendirian di sini," sahutnya sambil menyuruh kami untuk minum.


Kami pun melanjutkan obrolan kami, dengan santai dan tenang. Dan, kini sahabatku bertambah satu...


***


Bersambung...

__ADS_1


*Jangan lupa untuk selalu mendukung Author melalui Like, Vote, Beri Hadiah, dan Komen ya gaess.. Hehhe sorry, telat Update


Happy Reading All*...


__ADS_2