
Flashback...
Aku sudah duduk diruang tamu bersama dengan Dira tapi, kenapa Buk Inur tak juga kunjung datang? Perasaan tadi beliau ke ruang tamu.
Dan ternyata Buk Inur, membuatkan kami 2 cangkir teh hangat. Beliau menyuruh kami untuk minum terlebih dahulu. Kami pun menganggukkan kepala tanda mengiyakan.
Selang beberapa menit, aku bertanya pada beliau.
"Buk! Tolong ceritakan padaku, bagaimana kejadiannya? Dan bagaimana bisa Ibuk memgetahuinya?" tanyaku pada Buk Inur.
"Hufftt, Dila. Sebenarnya sangatlah berat Ibu menceritakan ini ke kamu. Ibu tak mau kamu merasa sedih, Dil. Hmm, apa kamu siap mendengarkan ceritanya, Nak?" kata Buk Inur sambil menatapku.
Aku menarik nafas sebentar, lalu mengeluarkannya dengan sedikit berat.
"Baiklah, Buk. Ceritakan padaku!" ucapku.
"Kemarin, Ibu melihat Ayah dan Ibu tirimu sudah selesai bersiap-siap. Ibu tidak tau mereka akan kemana, dan Ibu memberanikan diri untuk bertanya pada ayahmu, Dil. Ibu bertanya 'Permisi, Pak Husein! Hendak kemana Pak?' dan tiba-tiba ibu tirimu keluar lalu mencaci maki Ibuk, Dil." Buk Inur memulai bicaranya, lalu berhenti sejenak menarik nafas dalam.
Lama sekali beliau terdiam seperti termenung. Aku pun menegurnya pelan.
"Setelahnya, Buk?" tanya penasaran.
"Ibu tirimu berkata 'Hei janda tua! Gausah kegatalan deh, ganggu-ganggu suami orang'. Tapi, Ibu tak ambil hati dengan perkataan ibu tirimu, Dil. Alhamdulillah, Ibu sudah memaafkan semua kesalahan ibu tirimu. Tak lama ibu tirimu memaki Ibu, ayahmu menarik tangan istrinya dan masuk ke dalam mobil. Setelahnya Ibu tak mengetahui kemana mereka pergi tapi, sebelumnya ayahmu mengirimi Ibu pesan." Buk Inur melanjutkan ceritanya.
"Lalu, Buk?" tanyaku lagi.
"Kata beliau 'Buk, jika Pipit atau Dilara pulang, tolong berikan kunci rumah ya ke mereka. Kunci rumahnya ada di bawah keset kaki, Buk' begitu kata ayahmu, Dil." sambung Buk Inur kemudian.
Aku meneteskan air mata, ternyata Ayah masih mengingat akan kehadiranku. Maafkan aku Ayah, maaf jika aku ada salah padamu Ayah. Semoga kau tenang di alam sana ya Ayah...
__ADS_1
Tak berselang lama, Buk Inur kemudian melanjutkan ceritanya.
"Sekitar 40 menit kemudian, ayahmu menelfon Ibu. Awalnya Ibu tak tau, bahwa itu bukan ayahmu. Lalu, Ibu mengangkat panggilan tersebut dan ternyata yang menelfon adalah polisi, Dil." Buk Inur berkata.
"Polisi tersebut berkata bahwa Ayah dan ibu tirimu kecelakaan dijalan k*nc*n*e Aceh barat. Mobil ayahmu rusak parah, Dil. Mereka berdua tewas ditempat, tak berselang lama mereka tertabrak, mobil mereka mengeluarkan bensin dan kemudian mobil itu meledak yang memgundang banyak orang. Beruntungnya jenazah dan juga barang-barang mereka seperti HP, dan lainnya berada sedikit jauh dari mobil. Mereka terlempar dari dalam mobil, menuju sebuah pohon yang besar dan rindang." kata Buk Inur.
Aku sudah tak bisa lagi berkata-kata, tubuhku sudah tak berdaya. Dira langsung menarik tubuhku ke dalam pelukannya, terasa sedikit lebih baik di dalam pelukan Dira.
Detak jam dinding dirumah Buk Inur, terdengar sangat nyaring di tengah kesunyian kami. Jam sudah menunjukkan pukul 8:25 malam, dan Buk Inur juga kelihatannya sudah mengantuk. Aku pun mengajak Dira untuk segera berpamitan pada Buk Inur.
"Baiklah, Buk Inur. Terimakasih atas waktunya ya. Saya dan Dira pamit balik kerumah ya, Buk." ucapku sambil menyalim tangan keriputnya, yang termakan oleh usia itu.
"Baiklah, Nak Dila, Dira. Hati-hati dijalan ya." sahut Buk Inur dari dalam.
***
Malam berganti pagi, dan begitu juga sampai seterusnya. Mataku terasa berat sekali, padahal aku tidur sangat awal, mungkin saja efek kecapean. Aku bergegas bangun dan membersihkan tubuhku agar terlihat lebih segar.
Setelah selesai, langsung saja aku memanggil Dira dikamar Kak Pipit, agar dia segera bersiap. Ya, kami pisah kamar, karena itu kemauanku. Aku sedang ingin menyendiri makanya mengungsikan Dira dikamar Kak Pipit. Setelah selesai Dira bersiap, kami berdua sarapan bersama.
"Apa kamu sudah biasa memasak setiap pagi begini, Dil?" tanya Dira sambil mengunyah makanannya.
"Iya, Dir. Setiap hari malahan, karena aku memasak hanya untuk aku dan Kak Pipit. Tugas aku adalah memasak dan mencuci baju, dan tugas Kak Pipit adalah membersihkan rumah juga menggosok pakaian kami berdua." jelasku panjang lebar, pada Dira.
Tampak Dira hanya menganggukkan kepalanya sambil mengunyah kembali sarapan paginya. Setelah selesai, kami kembali ke kamar untuk segera bersiap. Rencananya kami akan segera pergi ke rumah Kak Pipit tapi, kami sudah harus kembali bekerja.
Sudah 1 minggu aku dan Dira tak bekerja, dan tadi pagi kami berdua ditelfon oleh pihak cafe agar segera masuk kerja. Sebelumnya memang kami sudah minta izin untuk tidak masuk kerja tapi, kelihatannya tak boleh lebih dari 3 hari.
Dan kami, akan terlebih dahulu masuk kuliah baru setelahnya ke cafe. Jadwal kuliah sangatlah padat, aku dan Dira sama-sama ketinggalan pelajaran. Apa boleh buat sekarang? Mau tidak mau harus menyelesaikan tugas-tugas ini semuanya.
__ADS_1
***
Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, hmm masih sempat kok ke cafe. Sebenarnya tubuhku sangatlah lelah, begitu pun dengan Dira. Kami sama-sama kecapean dan mungkin malam nanti baru bisa beristirahat.
Kami segera berangkat menuju cafe Lestari. Nama yang indah, sama dengan pemiliknya, Ibu Lestari. Ah ya, juga anaknya yang tampan dan yang paling manis itu. Kok aku jadi kepikiran Pak Qevin terus sih? Bisa gila aku ini.
Beberapa menit kemudian, aku dan Dira sampai di cafe Lestari. Terlihat banyak karyawan yang sudah memulai pekerjaannya. Aku dan Dira gugup saat masuk ke dalam cafe, kami takut sekali, takut karena kena tegur Pak Qevin.
Dengan tergesa aku dan Dira masuk ke ruang ganti, untuk mengganti pakaian kami. Selesai berganti pakaian, aku langsung menuju ke meja salah satu pelanggan.
Kami berpencar.
Dan tanpa sengaja, aku menabrak seseorang, aku tak tau siapa orang tersebut.
"Aduh, maaf. Saya salah!" ucapku sambil menangkup tanganku.
"****! Dilara. Kenapa kamu seceroboh ini, hah?" sahut orang tersebut sedikit berteriak, aku langsung mendongakkan kepalaku dan astaga...
"Pak Qevin?!" kataku pelan.
Kulihat mata Pak Qevin menatapku tajam, dan aku mengalihkan mataku menatap bajunya yang kotor karena ketumpahan kopi susu yang dipegangnya. Astagfirullah, bagaimana bisa jadi seperti ini? Untunglah disini sedikit sepi.
"Em, ma-maaf. Maaf banget, saya bener-bener gak sengaja, Pak!" sahutku gugup sambil menurunkan pandanganku.
Pak Qevin, hanya menatapku tajam. Aku gugup sekali, ya ampun malah Dira tak ada disampingku lagi.
Perlahan wajahnya mendekat ke arahku. Pelan tapi pasti, wajahnya akan mendekat ke wajahku. Tubuhku sedikit pendek, jadilah dia sedikit membungkuk.
Bersambung...
__ADS_1