Suddenly A Couple

Suddenly A Couple
Episode 1 : Ikatan Antara Kita


__ADS_3

HALAMAN KAMPUS tengah dipenuhi oleh mahasiswa yang sedang menghabiskan jam bebasnya sebelum kembali disibukkan dengan jadwal kuliah selanjutnya. Di antara banyak mahasiswa ada tiga sahabat yang sedang asyik mengobrol, dan salah satunya menjadi bahan pembicaraan mereka.


Laki-laki itu terus saja meminta kedua sahabatnya yang bernama Rangga dan Dimas untuk berhenti membicarakannya yang belum pernah jatuh cinta apalagi berpacaran. Tapi mereka enggan menuruti permintaannya, membuat laki-laki itu mendengus kesal dan berekspresi marah, yang tentu berhasil menyita perhatian keduanya untuk berhenti tertawa.


“Akh kau ini, begitu saja marah!” ucap Dimas masih terkekeh pelan.


Dimas Aditya adalah laki-laki yang cukup populer di kampus, ia bahkan di cap sebagai playboy. Tampan, pintar dan jangan lupakan statusnya sebagai penerus Perusahaan IT … pastilah banyak wanita yang tergila-gila padanya. Sehingga tak salah jika ia menjadi yang paling sering berganti pasangan, dan kali ini ia sedang menjalin hubungan dengan Jessica, wanita yang lebih tua dua tahun darinya.


Bahkan semua mantannya masih berharap dapat kembali bersama Dimas. Selain karena ramah, sopan, murah senyum dan tidak pernah menyombongkan diri akan kekayaan keluarganya. Dimas juga sangat perhatian dan penuh kasih sayang. Jangan lupakan wajah tampan rupawannya.


“Rian, aku punya kenalan wanita, dia temannya pacarku! Apa kau mau aku kenalkan dengannya!?” seru Rangga setelah melihat-lihat foto di galeri ponselnya yang lalu diperlihatkan pada Rian.


“Tidak usah,” sahut Rian tetap memasang muka gondok, terlihat enggan melihat layar ponsel Rangga.


“Lihat dulu dong!” seru Rangga menempatkan ponsel di depan wajah Rian.


Rangga Pratama sangat berbeda dengan Dimas. Ia lebih setia hanya pada satu orang, dan wanita beruntung itu adalah Yuri Yunita. Ia selalu membanggakan bahwa pertemuannya dengan Yuri adalah takdir, begitupun dengan hubungan mereka. Rangga ini hobi sekali menonton acara musik, suaranya juga bagus dan sudah sering memenangkan lomba kontes menyanyi semenjak sekolah dasar. Satu lagi, ia adalah pewaris perusahaan agensi hiburan ternama di Indonesia.


“Apa itu artinya kau akan merencanakan kencan buta untukku, tidak … terima kasih!” tolak Rian tegas.


Dimas terkekeh. Perihal mendekati wanita ia jagonya dan selalu dapat memenangkan hati si wanita dengan hanya memberi beberapa pujian. Diikuti sentuhan kecil seperti memegang tangan, membelai rambut, sampai berhasil menempelkan bibirnya pada bibir lawan kencannya. Selalu heran mengapa Rian sama sekali tak tertarik untuk melakukan kontak fisik dengan wanita. Menurut Dimas itu sangat menyenangkan dan membuatnya bergairah.


“Bagaimana kau ini, masa begitu saja kau tidak mau! Seharusnya kau mulai mencoba mengenal wanita, jangan terlalu sibuk dengan soal-soal rumit itu!” kritik Dimas mendapat tatapan tajam dari Rian.

__ADS_1


Rian sendiri merasa ada yang salah dengan dirinya, mengakui perkataan Dimas ada benarnya juga. Haruskah ia mulai menjalin hubungan dengan seorang wanita.


Rangga mengangguk menyetujui perkataan Dimas. “Bagaimana, kau mau? Wanita ini cukup terkenal sebagai model, namanya Victoria Song. Mungkin kau pernah mendengarnya,” terang Rangga.


Rian tak segera menjawab, sepertinya ia tengah berpikir antara menerima tawaran tersebut atau tidak. Dimas terlihat menyuruh sahabatnya itu untuk menyetujuinya saja. Sementara Rangga memilih diam. Sampai akhirnya Rian mengangguk pelan, dengan mantap kembali mengangguk sambil masih mempertahankan wajah enggannya.


“Hanya menjawab seperti itu saja lama,” protes Dimas, ia yang paling gregetan melihat Rian yang banyak berpikir.


Berbeda dengannya, selalu cepat dalam menanggapi ajakkan kencan yang terlontar dari tiap mulut wanita, atau bahkan ia selalu terang-terangan mengajak wanita untuk berkencan dengannya. Dan anehnya belum ada yang pernah menolak ajakkan Dimas, jika ada pasti Rian-lah orang tersenang saat itu. Namun kencan ala Dimas ini tidak sampai naik ke ranjang.


Dimas tetap menjunjung kehormatan atas sebuah jalinan kasih. Jika ada dari salah satu teman kencannya mampu membuat hatinya berdesir hebat, sehingga ia menginginkan percintaan di atas ranjang. Maka itu tanda bahwa ia sudah menemukan cinta sejati dan berjanji akan menikahi wanita tersebut.


“Baiklah, aku akan mengatur jadwal pertemuan kalian.” Rangga yang mengusulkan hal tersebut segera menelepon Yuri, dan meminta kekasihnya itu untuk andil dalam rencana kencan buta Rian dan Victoria.


Melihat bagaimana Rangga berbicara manja pada Yuri, langsung saja Dimas berpura-pura mual. Sahabatnya yang satu ini sangat mempercayai takdir. Rian tidak yakin akan pasangan takdir ini, jika takdirnya bukan Victoria bagaimana? Pikirnya, tak lepas dari pemikiran-pemikiran lainnya.


♫♫♫


Semenjak itu ia mencari pekerjaan untuk menghidupi dirinya sendiri, dan inilah hasil jerih payahnya, rumah kecil yang hanya ada empat ruangan di dalamnya. Kamar yang hanya berukuran 3x3 meter, ruang tamu sekaligus ruang santai, dapur dan kamar mandi yang dirasa cukup untuk dirinya yang hidup sendiri.


Rian pernah merasa hidupnya tak ada artinya lagi, tapi berpikir seperti itu membuatnya semakin semangat bukan malah menyerah pada kenyataan. Nyatanya ia memiliki dua sahabat yang dapat diandalkan. Seperti Dimas yang selalu menyemangati ketika Rian merasa rendah diri. Dimas tidak pernah berpikir untuk mencari teman yang setara dengannya. Dan memilih Rian sebagai salah satu teman terdekatnya.


Rangga yang selalu menawarinya pekerjaan, berbagi barang dengannya, bahkan kini membantunya mencarikan seorang wanita untuk dijadikan kekasih. Mereka bertiga saling melengkapi, terkadang Rian mengajari kedua sahabatnya untuk mengerjakan tugas kuliah. Tak jarang Dimas dan Rangga malah melempar semua tugasnya pada Rian, tapi Rian sama sekali tak keberatan, ia malah senang jika bisa membantu mereka.

__ADS_1


Rian berjalan sepanjang koridor flat yang selalu saja sepi, satu sampai tiga orang menyapanya dan ia hanya berlalu tanpa memperdulikan mereka. Bukannya ia tak ingin bersosialisasi, hanya tidak ingin terlalu dekat dengan mereka yang memandangnya rendah. Tapi ada satu sosok laki-laki yang selalu menyapanya, laki-laki itu bernama Aldi Nugraha, penghuni flat di sebelah kiri flatnya Rian.


“Hai, Rian!” Aldi yang sepertinya seumuran dengannya itu menyapa sambil mencoba mensejajarkan langkahnya dengan tetangganya itu.


Rian hanya diam seperti biasanya bersikap masa bodoh seolah tak mendengar apa pun. Tapi tak ada rasa bosan dari laki-laki yang selalu diabaikannya ini.


“Kau selalu pulang malam sama sepertiku, kau kerja apa?” tanyanya ramah. Apa mungkin laki-laki yang di sebelah Rian ini memang penyabar.


“Apa aku harus menjawabnya,” ucap Rian tanpa memandang lawan bicaranya yang sejak beberapa menit tadi menemaninya berjalan.


Aldi yang baru pindah tiga bulan lalu di sebelah flat Rian ini hanya mengangkat bahu, ia kembali berjalan menuju pintu yang tak jauh dari pintu flat Rian. “Dia selalu seperti itu, apa aku tidak terlalu menyenangkan untuk diajak bicara. Apa dia yang tidak asyik, akh dasar pria aneh!” sungut Aldi berlalu masuk ke flatnya.


♫♫♫


Setibanya di kamar Rian segera membaringkan tubuhnya di kasur. Baru beberapa detik ia bersantai, terdengar suara berisik dari arah dapur. Perlahan tapi pasti ia berjalan menuju dapur, tangannya memegangi pemukul baseball untuk berjaga-jaga siapa tahu kebisingan itu karena seorang pencuri.


Ternyata dugaan Rian benar, dilihatnya seorang berperawakan tinggi tapi masih lebih pendek darinya yang sedang membuka kulkas. Kepalanya ia tutupi dengan tudung hoodie berwarna hitam sehingga semakin meyakinkan dugaan Rian. Ia bersiap-siap dengan pemukulnya, mengayunkan pemukul tersebut. Seketika orang yang menyelinap itu berbalik karena melihat bayangan sang pemilik rumah.


“Ya, tunggu!” sanggahnya yang ternyata seorang wanita. Rian menghentikan ayunan pemukulnya di udara, tak terlalu terkejut melihat siapa orang yang ia anggap pencuri tengah berdiri di hadapannya. “Jangan pukul aku…,” lanjut wanita itu membuka tudung hoodienya.


Selain Aldi yang kerap kali mengusik kehidupan tenang Rian di flat, ada juga wanita yang sering meminta bantuan Rian untuk mengangkatkan barang-barangnya yang berat, mengusirkan kecoa, menggantikan bohlam lampu dan masih banyak lagi. Hal itu sudah berlangsung selama satu tahun lamanya, ketika ia mulai tinggal di seberang flat Rian. Walau Rian terlihat dingin dengan ekspresi tak mau tahunya, tapi wanita itu tetap mengajaknya berbicara demi mendapatkan bantuan.


Dia adalah Sindy Karlita, penghuni salah satu flat tepat di depan tempat tinggal Rian. Tetangga wanita yang selalu merepotkannya dengan meminta segala macam bantuan tanpa mengucapkan kata terima kasih dengan benar.

__ADS_1


“Kau lagi!” ujar Rian sambil menurunkan pemukul baseball.


♫♫♫


__ADS_2