
Sepanjang perjalanan Sindy yang tengah digendong di punggung Rian, selalu mengajak Rian berbicara. Sesekali ia dekatkan wajahnya pada Rian membuat laki-laki itu merasakan hembusan napasnya. Sedang yang diajak bicara mencoba mengatur perasaannya. Rian begitu dekat dengan Sindy sehingga membuat jantungnya berdetak tak wajar.
“Kau berisik sekali!” kata Rian baru membuka mulutnya setelah mendengarkan ocehan Sindy mengenai banyak hal sewaktu sekolah dulu. Otomatis membuat Sindy diam, tak lupa mengeratkan pegangan tangannya di sekitar leher Rian.
“Apa kau ingin mencekikku!” pekik Rian, perlahan Sindy melonggarkan kembali pegangannya.
“Aku merepotkanmu, ya … maaf,” sesal Sindy.
Untuk kesekian kalinya Rian membenarkan posisi Sindy. “Tidak usah minta maaf, kau tidak merepotkan kok,” balas Rian dengan gugup dan menambahkan, “Kenapa tadi kau lari?”
Mendengar pertanyaan Rian, Sindy kembali mendekatkan wajahnya pada Rian dengan antusias. “Hanya ingin bermain-main denganmu,” sahut Sindy asal.
“Jawaban macam apa itu.”
“Kau percaya tidak kalau aku adalah anak orang kaya yang kabur dari rumah, dan bekerja keras untuk dapat hidup mandiri.”
Perkataan Sindy dianggap sebagai candaan atau hanya khayalan belaka. Rian mana percaya, kalau terlahir kaya mengapa repot-repot bersusah payah, pikirnya.
“Mana ada orang yang kabur dari rumah mewah dan menjauhi keluarganya! Aku pikir itu hanya terjadi di drama saja.” Meski begitu Rian menanggapi andaian Sindy dengan balik melontarkan pertanyaan. “Kalau memang benar begitu, apa alasanmu pergi dari rumah?”
Jalanan begitu sepi membuat suara Rian terdengar jelas, apalagi dengan jarak yang begitu dekat. Bagi Sindy ini adalah pembicaraan sensitif mengenai kelanjutan hubungannya kelak bersama Rian.
“Alasanku pergi karena kesepian, mungkin tertekan juga oleh keadaan, keluargaku seperti bukan keluargaku.”
“Katakan sesuatu yang lebih mudah dimengerti.” Seperti sebuah skenario percakapan mereka berlanjut, “Jadi maksudmu meski hidup kaya dengan segala kemewahan, kau merasa tak bahagia. Maka kabur adalah pilihan terbaik?”
“Bisa dibilang seperti itu,” sahut Sindy sambil mengangguk.
“Alasanmu bisa diterima.” Rian dapat mengerti maksud Sindy, ia mengakui kebahagiaan adalah alasan terbesar.
Memunculkan harapan bagi Sindy. “Benarkah!?” seru Sindy, matanya berbinar senang, ia menaruh kepalanya di pundak sebelah kiri Rian. “Aku mencintaimu.”
Rian semakin dibuat gugup, perasaannya seakan membuncah, sehingga ia tidak dapat menyembunyikannya lagi. “Aku lebih mencintaimu.”
“Punggungmu begitu hangat, sangat nyaman,” kata Sindy sebelum merasakan tubuhnya terhempas ke aspal.
“HEI! RIAN EFENDI!” pekik Sindy.
“Maaf, maaf, suruh siapa kau menggodaku tadi,” bela Rian.
“Siapa yang menggodamu!”
♫♫♫
Sesampainya di flat. Rian dan Sindy terperanjat melihat Aldi yang berdiri sambil bersandar, ia bilang telah menunggu mereka selama hampir setengah jam. Mungkin tidak terlalu lama, tapi tetap saja ia merasa kakinya pegal.
__ADS_1
“Kenapa kau menunggu kita?” tanya Sindy sambil diliriknya Rian yang nampak tak menyukai keberadaan Aldi.
“Ada sesuatu yang ingin aku beritahu padamu, bahwa akuᅳ”
“Kami sudah menikah!” potong Sindy mengira Aldi akan menyatakan cinta padanya. “Dia suamiku.” Ia menunjuk Rian yang kontan mengangkat kedua sudut bibirnya, tersenyum simpul.
“TIDAK BISA! KALIAN TIDAK BOLEH MENIKAH!” sentak Aldi begitu tegas.
“Memangnya kau siapa meninggikan suara dan melarang pernikahan kami?” ucap Rian tak terima. “Menyerahlah, dia sudah punya suami.”
“I, iya,” tambah Sindy semakin mendekatkan dirinya pada Rian.
“Bukan itu maksudku, tapi Sindy telah berbohong padamu. Sebenarnya dia …,” sebelum Aldi bisa meneruskan kalimatnya Rian sudah menarik Sindy untuk segera masuk ke rumah.
“Tidak ada alasan untuk kami mendengar penjelasanmu,” ujar Rian.
Bersamaan dengan pintu yang tertutup, Aldi berteriak frustrasi, kemudian menatap sedih. “Rian, kau menikahi wanita yang telah membuat hidupmu hancur. Aku tidak bisa membiarkannya,” kata Aldi tangannya mengepal.
♫♫♫
“SINDY!”
Mendengar namanya dipanggil, Sindy menoleh ke sumber suara. Ada perasaan canggung menjalar ketika melihat siapa yang tengah menghampirinya. Tidak mungkinkan Aldi bersikukuh mengejarnya setelah mengetahui bahwa ia sudah menikah.
“Tidak, Rian belum pulang kerja,” balas Sindy.
Memang lebih baik suaminya itu tidak bersamanya sekarang, sehingga Sindy tidak perlu repot menangani kecemburuan Rian.
“Dia bekerja di mana?”
Kenapa juga Aldi ingin tahu, tunggu … Aldi memang tipe orang yang suka ikut campur. Maka dengan terpaksa Sindy menjawab, “Karlite, dia bekerja di Perusahaan Karlite.”
“Apa aku tidak salah dengar! Sindy Karlita, suamimu hebat juga!” pekikan Aldi mampu mengalihkan beberapa pandang mata ke arah mereka. “Sebenarnya sejak kapan kalian berpacaran, tiba-tiba sudah menikah saja dan tidak mengundangku.”
Sindy mengambil sebungkus paprika, ia juga memilih tomat sembari menyahut, “Kita memutuskan untuk menikah setelah saling mengenal, hanya itu … lagi pula upacara pernikahannya cuma dihadiri oleh teman saja.”
“Aku kira kita berteman, tapi sepertinya tidak.” Aldi terus mengikuti Sindy. “Lalu bagaimana dengan keluargamu?”
Lama-lama Sindy mulai jengah, ia dibuat semakin cemas saja. “Apa aku tidak pernah mengatakan padamu bahwa aku tinggal sebatang kara.”
“Ehhh, kau bohong!”
Detak jantung Sindy mendadak berpacu lebih cepat, mungkinkah Aldi tahu tentangnya.
“Sekarang kau tidak sendiri, ada Rian bersamamu,” ujar Aldi menaruh satu semangka ke troli belanjaannya. “Selamat, aku tidak sempat mengatakannya kemarin. Semoga pernikahan kalian langgeng. Aku akan ke kasir lebih dulu,” lanjutnya terasa janggal.
__ADS_1
“Langgeng, dia bicara apa sih, tentu saja kita akan menua bersama!” sungut Sindy tak suka.
♫♫♫
Kali ini Dimas tidak menikmati kencannya bersama Anna. Masalahnya ada orang lain yang ikut bergabung, seorang lelaki, namanya Kiki dikenalkan sebagai teman sekelasnya Anna dulu.
“Apa aku tidak terlihat,” decak Dimas menegak minumnya kesal.
Dari satu setengah jam lalu Anna asyik mengobrol dengan Kiki, hampir tak mengajaknya berbicara. Begitulah akhirnya Dimas hanya duduk sambil minum, sesekali menoleh ingin tahu penampilan lelaki yang baru saja dapat mengungkapkan perasaannya.
“Kau tahu bukan, kalau aku menyukaimu.”
Biasanya orang akan tersedak, tapi tidak dengan Dimas yang menelan minumannya seraya mendelik.
“Seluruh murid di sekolah mengetahuinya,” imbuh Anna membanggakan dirinya yang sangat populer saat sekolah dulu.
“Apa aku terlambat jika menyatakan perasaanku sekarang?” Anna mengangguk sambil berkata ‘ya’. Tentu saja Kiki mengerti, ia mengedikkan kepala pada Dimas. “Karena kau sudah punya pacar.”
Anna memutar tubuhnya. “Dimas?”
“Benar, aku ada di sini dan kau melihatku,” sahut Dimas. “Jadi tidak seharusnya kau mengabaikanku.”
“Pacarku sepertinya sedang cemburu,” kata Anna berbisik tepat di telinga Kiki.
Dimas hanya bisa berdesis, benar-benar cemburu dengan kedekatan Anna dan Kiki. Berikutnya dering ponsel menyeruak, Kiki segera mengangkatnya dan menanggapi dengan serius sebelum berpamitan. “Sepertinya aku harus pergi,” kata Kiki.
“Bagus kalau begitu!” tukas Dimas.
Anna merasa malu mendengar perkataan Dimas. “Oh, kenapa? Masalah pekerjaan?” tanya Anna melirik Dimas, takut lelaki itu berbicara lagi.
“Iya, ada rapat mendadak.” Kiki meneruskan dengan suara pelan, “Aku rasa kekasihmu cemburu karena kita terlalu banyak mengobrol.” Ia bangkit dari duduknya. “Nikmati hari kalian dan sampai bertemu lagi,” lanjut Kiki sembari tersenyum manis.
Sepeninggalnya Kiki suasana menjadi hening. Anna bersedekap tangan, menatap Dimas seakan sedang mencibir tingkah kekanakkan yang keluar akibat rasa cemburu. Yang ditatap mulai kikuk, sibuk mengalihkan pandangannya sampai ….
~Chupp
Sebuah ciuman ringan menyentuh pipi Dimas. Anna berhasil membuat pasangan kencannya salah tingkah. “Dimas kau sangat menggemaskan,” kata Anna tertawa renyah melihat kegugupan orang yang dipujinya. “Tidak usah cemburu lagi seperti tadi, karena kau tidak berhak melakukannya.”
“Siapa juga yang cemburu, aku tidak pernah cemburu pada siapa pun!” sanggah Dimas. “Kenapa juga aku tidak berhak melakukannya?” sungutnya memainkan pinggiran gelas.
“Itu …,” namun Anna tidak bisa menjawabnya, ia menunduk sedih. Jadi begini rasanya ada orang yang tak suka bila sang kekasih dekat dengan orang lain. Anna menghela, jujur ia merasa bahagia sekarang.
“Aku takut tidak ingin putus denganmu.” Pengakuan Anna menyita semua perhatian Dimas yang kini menoleh ke arahnya.
♫♫♫
__ADS_1