Suddenly A Couple

Suddenly A Couple
Episode 6 : Merasa Aman


__ADS_3

Rian Efendi berdesis kesal karena dua nomor yang dihubunginya tak kunjung menjawab telepon darinya. Dimas yang mungkin sibuk mengejar takdirnya, sementara Rangga yang sedang asyik menonton bersama Yuri memilih mengabaikan panggilan. Rasanya Rian ingin memaki teman-temannya itu, sekarang ini ia sedang butuh masukkan tentang apa yang harus dilakukannya nanti ketika bertemu dengan Sindy.


“Bodoh, apa yang ada di pikiranmu Rian Efendi.” Ia merutuki perbuatannya dan kembali mengingat kejadian di rumah Sindy.


Tak mau diam saja dan terus terbebani dengan pikiran-pikaran aneh, Rian kembali menghubungi Rangga. Sementara itu Rangga mendengus dan dengan terpaksa mengangkat panggilan.


“Aku sedang berada di bioskop jadi nanti saja bicaranya.” Rangga buru-buru melepas baterai ponselnya, sebelum Rian sempat membuka suara.


“Beraninya dia menutup teleponku!” desis Rian mulai merasa tak tenang, berjalan mondar-mandir tampak menerawang.


Tuk, tuk, tuk ~


Seseorang baru saja mengetuk pintu. Rian tersentak, mendadak panik akan orang yang berada di balik pintu.


“Siapa?” tanya Rian.


“Ini aku, Sindy,” sahut Sindy sembari melihat waspada sekitarnya. “Cepat bukakan pintunya,” ia melanjutkan setelah melihat siluet seseorang di ujung koridor, sebelumnya juga ada yang mencoba membuka jendela rumahnya.


Di dalam Rian mengambil napas, mengembuskannya berat. Ia hendak membukakan pintu, sebelum knop ditarik … pintu telah dibuka oleh Sindy, yang memang mengetahui sandi kuncinya.


“Apa yang kau lakukan!” kata Rian melihat gelagat tak biasa dari seorang Sindy yang begitu was-was segera menutup rapat pintu dan menguncinya. “KAU!”


“Jangan berpikir macam-macam,” sergah Sindy memasuki rumah lebih dalam lagi. “Aku rasa ada seseorang yang mencoba memasuki rumahku.” Ia meneruskan dengan tak tenang, jika itu pencuri biasa tidak masalah. Toh tidak ada benda berharga yang dimilikinya di dalam rumah.


Rian mencoba mengintip dari lubang kecil pintunya. Benar, satu sampai tiga orang berdiri di pintu flat Sindy. Mereka tidak terlihat seperti orang jahat, malahan tampak seperti bawahan rentenir yang biasa menagih hutang.


“Kau punya hutang pada mereka?” Rian menyingkirkan pegangan tangan Sindy dari ujung bajunya. “Kalau begitu cepat keluar dan bayarlah.”

__ADS_1


Bagaimana bisa lelaki itu memperlakukannya seperti tidak terjadi apa-apa, bahkan belum ada setengah jam setelah ciuman mereka. Perasaan Sindy seolah terhempas seperti saat menaiki koura-koura, beraninya dia menepis tanganku, kesal Sindy.


“Aku akan tetap di sini sebelum mereka pergi,” tukas Sindy memastikan dari lubang kecil di pintu, tak lama ia mengeryit serasa tak asing dengan tiga pria berjas hitam yang masih setia mengintai tempat tinggalnya.


Tangan besar Rian membalik tubuh Sindy. “Tidak bisa, kau harus keluar!” mengalihkan perhatian ketiga pria di luar sana.


Tak ingin tempat persembunyiannya diketahui, Sindy terburu membekap mulut Rian. Sial… Rian merutuki perbuatannya sampai harus berdiri sedekat itu dengan wanita keras kepala macam Sindy. Ia mengutuk pelan selagi Sindy tersenyum jail. Detik berikutnya wajah Sindy tampak menantang, mengangkat satu sudut bibirnya dan mendorong Rian hingga membentur dinding.


“Apa yang kau lakukan?!” sentak Rian setelah terbebas dari bekapan.


“Seharusnya aku yang bertanya, tadi, tadi … apa yang kau lakukan pada bibirku?” perkataan memalukan itu akhirnya terlontar, walaupun begitu Sindy merasa menang telah membuat Rian mati kutu.


“Hanya karena suasananya, iya, aku melakukannya hanya karena suasananya.” Saat itu juga Rian merasa bersyukur memiliki otak cerdas dan berhasil memberi alasan dengan santai. Orang-orang akan berpikir bahwa dia seorang playboy.


Sindy tak terima. “Yang benar saja!” ia merasa kalah akibat kemarahannya yang muncul.


“Tentu,” singkat Rian. “Aku rasa kau harus segera pergi, karena rentenirnya sudah tidak ada.”


“Bilang saja kalau kau takut suasananya berubah menjadi lebih memungkinkan,” sindir Sindy menghentakkan kaki, berjalan menuju pintu sembari mencebikkan bibir sebal.


♫♫♫


Malamnya Rian berjalan letih menuju flatnya. Bekerja sampai larut malam di restoran yang sedang banyak pengunjung di akhir pekan, mengharuskannya untuk lembur, sehingga Rian mendapatkan gaji lebih atas pekerjaannya. Akibatnya Rian kehilangan pekerjaan di mini market.


Sekarang ia sedang melewati taman dekat flat yang terlihat sepi, sampai ia melihat seorang wanita yang sedang berlari menghindari beberapa laki-laki yang mengejarnya. Awalnya Rian tak peduli, tapi ketika mengetahui siapa wanita yang sedang dalam bahaya itu membuatnya segera berlari menghampirinya. Lari Rian yang begitu cepat, terlebih lagi ia mengambil jalan pintas dengan mudah mengejar Sindy, lalu meraih tangan wanita itu untuk berlari mengikutinya.


Sindy sempat terkejut melihat Rian, entah kenapa ia mengulum senyum tipis menyadari kehadiran tetangganya itu, merasa lebih lega karena ada seorang pria di dekatnya.

__ADS_1


“Rian,” gumam Sindy dengan perasaan aman.


Mereka berlari menyusuri gang-gang sempit yang gelap dengan masih saling berpegangan tangan membuat Sindy merasa lebih aman. Ketika ada persimpangan Rian mengajak Sindy berbelok ke kanan, dan mendapati box-box yang dapat dijadikan tempat bersembunyi. Jarak Rian dan Sindy begitu dekat, apalagi ketika Rian mendengar langkah orang-orang yang mengejarnya berhenti dan salah satu dari tiga laki-laki tersebut mendekati box.


Rian semakin menarik Sindy untuk lebih dekat dengannya, ia pun membekap mulut Sindy dengan tangan kanannya agar napas wanita itu tidak terdengar.


“Sepertinya mereka ke arah sini!” seru yang lain membuat laki-laki yang akan mendekati box mengurungkan niatnya, dan berlari ke arah yang temannya maksud.


Detik kemudian Rian segera mundur, ia melepaskan bekapan tangannya pada Sindy, sehingga wanita itu dapat bernapas lega. Rian mulai melangkah, Sindy segera mengikutinya mencoba mensejajarkan langkahnya dengan laki-laki yang telah menolongnya.


“Terima kasih,” kata Sindy.


“Segera lunasi hutang-hutangmu, jangan terus merepotkanku!” sewot Rian melangkah lebar-lebar.


“Siapa juga yang memiliki hutang, lagi pula aku tidak meminta bantuanmu. Sshh,” gerutu Sindy masih belum bisa mensejajarkan langkahnya dengan laki-laki di depannya itu. Ia melihat sekeliling yang cukup menyeramkan dengan minim pencahayaan. “Rian bisakah kita berjalan bersama, tunggu aku!” ia berseru sembari berlari kecil, tanpa Sindy ketahui ada sebuah lubang kecil yang membuatnya terjatuh.


Barulah Rian memelankan langkahnya, meski begitu ia tak langsung menoleh ke belakang.


Sindy terduduk, merintih merasakan sakit di pergelangan kakinya. “Yak kenapa hariku begitu sial! Dasar pria menyebalkan!”


“Maksudmu aku?” Rian menghampirinya berdiri dengan menaruh kedua tangan ke saku celana.


Sindy mendongak melihat Rian, matanya berkaca-kaca hampir menangis. “Lalu siapa lagi! Apa ada orang lain di sini!” ujar Sindy dengan nada keras, sejujurnya beberapa menit lalu ia sangat ketakutan.


Jelas ini pertama kalinya bagi Rian melihat sisi lain pada diri Sindy. Sorot matanya, ekspresi wajah dan suara bergetar gadis itu … Semuanya terasa menyentuh, membuat lelaki itu tergerak demi berjongkok mensejajarkan pandangan mereka dan merasa bertanggungjawab. Aku ingin melindunginya, batin Rian.


Dengan masih berjongkok Rian berbalik membelakangi Sindy. “Naiklah ke punggungku,” kata Rian berbarengan dengan menepuk pundaknya.

__ADS_1


♫♫♫


__ADS_2