Suddenly A Couple

Suddenly A Couple
Episode 8 : Memutuskan


__ADS_3

“Dia berhasil melarikan diri, aku yakin sebentar lagi kami akan membawanya kembaliᅳ”


“Santai saja, tidak usah terburu-buru!” Anna menyela dengan ramah. “Pertahankan kinerja buruk kalian sampai Mas Agung tak tahan lagi lalu memecat kalian. Ingat Sindy memiliki trauma, jadi kalian jangan bertingkah sembrono. Aku pamit.”


Ryeowook berhasil melepaskan cengkraman yang menahannya, ia merasa kesal pada tunangan atasannya itu yang selalu ikut campur dalam pekerjaan mereka. Namun perkataan untuk berhenti dari Eko selalu berhasil menghentikan usahanya.


“Bang Eko kenapa kau membiarkannya begitu saja?” Zumi yang juga tak terima atas perlakuan tersebut berbicara, diberi anggukkan setuju dari Dewo dan Hendri.


Yang ditanya malah tersenyum memperlihatkan gusi, duduk menyilangkan kaki di kursi sang direktur. Eko benar-benar tidak terselamatkan, ia membayangkan akan mengambil alih perusahaan dengan tampang menyebalkan.


♫♫♫


Keesokkan harinya. Setelah mendapat teguran kekesalan dari Rian. Dimas dan Rangga mendengarkan cerita sahabatnya itu dengan seksama, mereka juga menanggapi dengan berlebihan. Paling senang saat dapat menggoda Rian seperti sekarang ini.


“Jadi kau menciumnya dan mengizinkannya tidur di kasurmu bahkan pernah membuatkan mie!” Rangga berkata cepat tanpa jeda.


“Sudah aku bilang ini tentang temanku!” sungut Rian sambil menjitak kepala besar Rangga yang segera saja menggerutu.


“Hubungan macam apa yang temanmu itu jalani, teman bukan, pacar juga bukan. Tapi kenapa sudah berani mencium dan mie?!” ujar Dimas mengalihkan perhatian antusias Rian, ia meneruskan, “Menurutku dia sangat berani, melebihiku yang memang seorang playboy.”


Rian terlihat tak suka dengan perkataan Dimas. Itu berarti ia lebih buruk dari Dimas yang suka mempermainkan wanita.


“Mereka bertetangga!” timpal Rian kemudian.


“Ahhh, romansa antar tetangga,” sahut Rangga manggut-manggut. “Kalau begitu gampang, temanmu yang tidak kau sebutkan namanya itu memiliki ketertarikkan pada wanita yang juga tidak kau beritahu namanya,” lanjut Rangga membuat Dimas mengeryit sembari mencebik mendengar ucapan Rangga yang berbelit.


Detik berikutnya, Dimas menoleh pada Rian yang tengah menatap kosong lalu lalang mahasiswa. Tersenyum tipis dan berbicara dengan nada menyelidik, “Kau juga punya tetangga, Sindy.”


Sungguh tidak bisa dipercaya Dimas mengingat nama gadis yang sedang dibicarakan Rian. Tak berbeda jauh dengan Rangga yang sedang menatap penuh terkaan, akhirnya Rian tersudut.


“Bukan cerita temanmu, tapi ini ceritamu sendiri, iyakan?!” Rangga mencondongkan tubuhnya pada Rian dengan kedua tangan terlipat di dada.

__ADS_1


Dimas juga mengikuti gerakkan Rangga. “Benar kau menciumnya?” imbuhnya.


Terpaksa Rian mengangguk pelan. “Menurut kalian kenapa aku melakukannya?” tanya Rian menelan rasa malunya.


Namun sorakan sekaligus tepuk tangan saling sahut dari mulut kecil Rangga mengagetkan Rian, yang sontak menunduk malu. Berbeda dengan Dimas yang berlarian mengelilingi kedua temannya, sembari berteriak, “Yes, akhirnya!”


Serta ucapan selamat terlontar berulang kali. Membuat Rian semakin ingin pergi saja.


“Rian menyukai seseorang! Yoo ~ hoo~” girang Dimas semakin menambah rasa malu Rian, yang segera saja merutuki diri sendiri, menyesal telah bercerita pada kedua sahabatnya.


♫♫♫


Kantin kampus cukup ramai saat Kwon Yuri datang menghampiri kekasihnya yang selalu saja bersama dua lelaki lain yang dipanggilnya ‘cecunguk’. Rangga menyambutnya dengan riang, dia tidak sabar menceritakan tentang Rian.


“Yuri–ya… kau tahu,-”


“Kim Rangga!” Rian mengancam Rangga dengan tatapan tajamnya, tanpa menyadari kelakuan Dimas di sebelahnya yang mencondongkan badan pada Yuri melewati meja dan berbisik.


“Sudah cukup! Berhenti membicarakanku!” ucap tak tahan lagi Rian ketika ketiga orang itu terkekeh menanggapi obrolan perihal dirinya. “Kalian ingin aku bagaimana?!” serunya meletakkan sumpit.


“Nyatakan perasaanmu,” ucap Rangga dengan serius.


“Katakan bahwa ciuman itu berasal dari hatimu,” tambah Yuri.


“Buat dia menjadi kekasihmu.” Dimas mengakhiri disusul anggukkan meyakinkan.


“Dasar gila!” tukas Rian, baginya tidak mudah untuk mengakui hal semacam itu. “Aku duluan, tetap di tempat dan habiskan makanan kalian!” lanjutnya berseru selagi mendengar pergerakkan dari ketiga orang di belakangnya.


“Bahkan makanannya saja belum habis,” kata Rangga kembali menyeruput Yookgaejang (Sup daging sapi yang menggunakan bahan dasar kochukaru/bubuk cabe).


Tiba-tiba Yuri ingat sesuatu, apalagi kalau bukan masalah Dimas dan kakak beradik yang belum kelar. “Dimas-ya kau sudah memutuskan sesuatu?”

__ADS_1


“Apa?” Dimas balas bertanya ketika Rangga menegak habis minumannya karena sup yang terasa pedas. “Ooh, Jessica atau Krysti.” Ia melanjutkan dan Yuri mengangguk penuh minat.


♫♫♫


Tak biasanya Rian pulang lebih dulu dan untuk pertama kalinya ia menyuruh Rangga dan Dimas mengerjakan tugas mereka sendiri. Membuat kedua sahabatnya itu kebingungan, tumben sekali temannya yang suka sekali belajar malah pamit duluan. Ajakkan untuk mengajari juga ditolak mentah-mentah olehnya.


“Kalian harus belajar mandiri, jangan tergantung padaku terus,” kata Rian sambil membereskan peralatan tulisnya.


“Ya, ya … apa kau akan menyatakan perasaanmu pada Sindy,” tebak Rangga. “Makanya buru-buru pulang,” ia yakin akan ucapannya.


“Bukan, aku ada pekerjaan paruh waktu,” sanggah Rian tak memuaskan pendengarnya. “Kenapa dia?” Rian mengedikkan kepala pada Dimas yang tengah melamun sambil membuat garis zig-zag dengan pulpennya di atas kertas.


Rangga berdecak dan menjelaskan, “Dia sedang bingung dengan masalah Jessica dan Krysti, mereka telah menuduh wanita lain sebagai penggoda kekasih orang. Dan lebih parahnya lagi dia bilang menyukai wanita tersebut,” sambil menduga-duga apa kiranya yang akan terjadi pada Dimas nanti.


Rian tertawa mendapati wajah tertekuk Dimas. Rangga bahkan terbahak-bahak, tapi yang sekarang tidak sehebat pertama kali mendengar Dimas bercerita di kantin siang tadi bersama Yuri yang membuat seisi kantin heboh.


“Sudah aku bilang kau harus mengikuti takdirmu, perasaanku mengatakan bahwa kau benar-benar menyukai wanita bernama Anna itu!” Rangga mulai menebak lagi, tawanya berubah menjadi kekehan kecil. “Dekatilah takdirmu itu,” lanjutnya yang yakin bahwa kali ini pasti Dimas benar-benar jatuh cinta, kalau bukan kenapa sampai bengong seperti sekarang.


“Aku juga akan mulai mendekatinya hari ini!” putus Rian sudah rapih dengan tasnya. “Aku akan memastikan apa benar, aku menyukainya dan mencoba menjalin hubungan.”


Dimas menunjukkan ketertarikannya dengan perkataan Rian dan bertanya, “Maksudmu siapa?”


“Dengan Sindy?” tambah Rangga.


“Lalu siapa lagi."


Rangga dan Dimas membulatkan matanya. Mereka tak percaya akan apa yang Rian ucapkan. “BENARKAH?!”


Tanpa berkata apa-apa lagi Rian melangkah keluar dari kamar Rangga yang kerap kali menjadi tempat tongkrongan mereka bertiga ketika mengerjakan tugas, menonton pertandingan sepak bola, bermain game disela-sela belajar, hingga merayakan pesta hari jadi Rangga dan Yuri dan kegiatan lainnya.


“Semoga kau berhasil!” seru Rangga, dilihatnya wajah murung Dimas. “Kau juga semoga berhasil putus dengan Jessica dan Krysti, jangan menghindari mereka lagi.”

__ADS_1


♫♫♫


__ADS_2