Suddenly A Couple

Suddenly A Couple
Episode 5 : Kesulitan


__ADS_3

Sementara Rian yang baru keluar dari rumah Sindy mendapat sapaan dari Aldi.


“Rian!” tetangganya itu memasuki rumah secepat yang bisa dilakukan, Aldi menambahkan saat tak mendapat respon, “Wajar saja kalau dia tidak melihatku, tapi apa dia tidak mendengarku.”


Aldi hendak masuk ke rumah Sindy yang pintunya masih terbuka lebar, sebelum akhirnya sang pemilik menutupnya dengan keras.


“Sindy, apa kau sudah selesai bebenah?” tanya Aldi masih agak terkejut dengan pintu yang tiba-tiba tertutup tepat di hadapannya.


“Kau boleh pulang sekarang, terima kasih atas bantuanmu hari ini,” jawab Sindy dari dalam rumahnya.


♫♫♫


Di lain tempat Rangga dan Yuri selalu membuat momen-momen manis, seperti sekarang ini mereka sedang melakukan kencan di bawah bulan. Berbicara tentang gagalnya kencan Rian dan Victoria, tentang Dimas yang sedang bingung dengan Jessica dan Krysti sampai mengingat pertemuan pertama mereka.


“Kau ingat ketika kita bertemu di bioskop?” tanya Rangga.


“Ingat saat itu kau duduk di sebelahku, karena ketakutan dengan filmnya kau sontak memegang lenganku. Apa mungkin kau melakukan itu karena sudah mulai menyukaiku, untuk menarik perhatianku?” Yuri tak kalah antusiasnya seperti Rangga. Jadilah pasangan ini terlarut dalam kenangan indah bersama, yang mereka yakini bahwa itu adalah takdir.


♫♫♫


Yuri yang kesal menunggu Victoria terus saja menoleh ke pintu masuk. Sampai pemutaran film dimulai, Victoria tak kunjung datang. Ia mencoba menikmati film walau sendiri, di sisi kanan kirinya tidak ada orang lain.


Seorang laki-laki dengan memakai pakaian kemeja, berompi biru, dan berjas hitam memasuki ruangan. Pakaiannya lebih terlihat seperti seragam sekolah. Dengan senyum khasnya ia memasuki ruang bioskop, lalu duduk di sebelah kiri Yuri. Mengetahui ada yang duduk di sebelahnya Yuri menoleh sambil tersenyum, melihat yang datang bukan orang yang ia tunggu, ia kembali memandang ke layar. Ia baru ingat kalau Victoria datang, seharusnya berada di sebelah kanannya.


Laki-laki yang baru saja duduk di sebelah Yuri, mengedarkan pandangannya mencoba mencari temannya yang mengajak menonton sehingga ia terburu-buru agar kedua temannya itu tidak marah. Tapi malah temannya itu yang tak terlihat batang hidungnya. Ia mendengus kesal.


“Akh, Rian dan Dimas sama menyebalkannya! Menyuruhku agar jangan terlambat, tapi mereka yang tidak ada!” ujar Rangga yang dapat terdengar jelas oleh Yuri.


Merasa ada yang memperhatikannya, Rangga menoleh ke Yuri. Ia tersenyum sedikit menundukkan kepalanya, takut wanita yang di sebelahnya itu terganggu dengan suaranya. Sementara itu film semakin seru memperlihatkan pemeran utama wanita yang sedang dikejar-kejar oleh seorang pembunuh. Sang wanita bersembunyi, mengambil napas lega. Ketika ia membuka matanya, pembunuh tersebut muncul begitu saja di hadapannya. Membuat beberapa penonton terpekik, termasuk Rangga yang sontak memegangi lengan Yuri. Jadilah mereka saling menatap.

__ADS_1


♫♫♫


Mengingatnya membuat Rangga dan Yuri tertawa. Mereka masih terus berjalan sepanjang Sungai Han. Sesekali mereka saling melirik, dan kembali tertawa. Karena nyatanya Rangga-lah yang salah masuk studio penayangan film saat itu.


“Ketika filmnya selesai kau seperti mengikutiku, benarkan kau mengikutiku?” tanya Yuri malu-malu tapi tetap percaya diri. Rangga perlahan menganggukkan kepalanya.


“Aku ingin sekali menanyakan namamu, makanya aku mengikutimu untuk bertanya, tapi tiba-tiba Rian dan Dimas datang merangkul pundakku dan menanyakan ketidakhadiranku,” jelas Rangga.


“Benar, setelah itu kau baru ingat bahwa kau salah masuk ruangan. Waktu itu aku juga menoleh ke belakang untuk melihatmu, berniat untuk menanyakan hal yang sama. Karena ada kedua temanmu, aku tidak jadi mendekatimu. Itu sungguh memalukan bagiku ….”


“Bagaimana kalau sekarang kita ke bioskop!” tawar Rangga.


Pasangan ini memang suka mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan. Jadi tak ada yang namanya salah paham. Itulah yang membuat mereka langgeng sampai sekarang, hanya tinggal memantapkan diri saja untuk ke jenjang yang lebih serius.


♫♫♫


“Aku Anna Amelia, dan aku bukan kekasihnya,” sahut Anna melirik sejenak ke arah Dimas. “Kau salah paham, aku ….“


“Lalu kau apa? Eoh, wanita penggoda yang sembarangan mendekati kekasih orang!” potong Jessica, tak menyadari Krysti yang mulai kesal juga dengannya.


Dorongan yang kedua kalinya membuat minuman yang sejak tadi dipegang oleh Anna terjatuh. Anna mulai kesal diperlakukan tidak adil oleh kedua wanita yang tidak ia kenal. Dimas malah bingung harus melakukan apa.


“Bagaimana ini?” tanya Dimas pada dirinya sendiri.


“Ya! Wanita tidak punya sopan santun, seharusnya kalian minta maaf padaku! Sembarangan menuduh dan menjatuhkan minumanku!” bentak Anna. Ia balas mendorong Jessica sampai mundur beberapa langkah. Jessica tak terima dengan perlakuan Anna padanya, ia kembali mendekati Anna meraih rambutnya kasar.


Krysti yang kini tak ikut campur, mulai panik melihat keduanya saling jambak. “Kak Dimas! Lakukanlah sesuatu!” desak Krysti.


Dengan sigap Dimas menghampiri Jessica dan Anna. Ia kesulitan untuk memisahkan keduanya, bahkan rambutnya sempat ditarik oleh Jessica. Sampai sebuah ide muncul begitu saja untuk menarik lengan Anna pergi bersamanya. Wanita itu dibuatnya cengo, begitu pun dengan Krysti dan Jessica yang terkejut mengetahui bahwa Dimas malah mengajak Anna berlari.

__ADS_1


Cukup jauh Dimas membawa Anna meninggalkan kafé, ia masih menggenggam tangan Anna erat. Tiba-tiba Anna tertawa membuat Dimas menghentikan langkahnya dan memandang heran ke arah gadis itu. Ekspresi kebingungan Dimas jelas kentara, begitu menggemaskan, sehingga Anna semakin tergelak.


“Kau sangat lucu,” ucap Anna disela-sela tertawanya, “Kau malah membawaku pergi, apa kau tidak bisa membedakan yang mana kekasihmu dan yang mana orang asing?”


Dimas melepas genggaman tangannya pada wanita yang baru ia kenal, pipinya memerah karena malu.


“Namamu Dimas, iyakan?” kata Anna sekedar memastikan.


Dimas mengangguk, menambahkan, “Dimas Aditya, itu namaku. Dan kau?”


“Sebelumnya aku sudah memperkenalkan diri pada kedua kekasihmu itu,” ujar Anna terkekh geli.


Dimas semakin dibuatnya malu, ia menggaruk kepala belakang yang tak gatal sama sekali. Setidaknya dengan melakukan hal itu, ia dapat mengurangi rasa gugupnya.


“Anna Amelia.” Dimas membanggakan ingatannya yang bagus sambil mengayunkan buket bunga mawar, yang kini menjadi pusat perhatian Anna.


“Lalu bunga itu mau kau apakan? Tidak jadi diberikan pada salah satu kekasihmu?” sindir Anna kembali terkekeh.


Dimas menyodorkan sebuket bunga itu pada Anna. “Kalau begitu ini untukmu saja, sebagai tanda maafku atas perbuatan kekasihku.”


“Maksudmu kedua kekasihmu.” Anna membenarkan, ia menerima bunga itu dan meneruskan, “Baiklah aku terima permintaan maafmu.”


Kedua kalinya dering ponsel milik Anna terdengar. Penelepon yang sama dengan sebelumnya. Dimas kembali terpesona, ia baru tersadar saat Anna mengakhiri percakapan singkat melalui ponsel genggamnya. Seperti terhipnotis Dimas hanya mengangguk mengiyakan setiap perkataan undur diri yang ia dengar, sampai sebuah taksi berhenti di sisi bahu jalan.


Anna bergegas masuk, membuka kaca jendela demi berpamitan. Dimas balas melambaikan tangan hingga taksi melaju. Sesaat kemudian benda persegi dalam saku celana Dimas bergetar, ia merogohnya sambil terus menatap kendaraan yang menjauh. Nama Rian tertera di layar, seperkian detik kemudian Dimas berlari mengejar taksi.


“Nomor telepon! Aku lupa minta nomor teleponnya!” sesal Dimas berhenti berlari karena taksi sudah sangat jauh. “Anna Amelia, aku harus bertemu dengannya lagi.”


♫♫♫

__ADS_1


__ADS_2