
“Kau sudah bangun?” Sindy bertanya dengan nada ketus.
Seperti tak mengingat apa pun Rian menjawab ‘iya’ dengan enteng. Dia sudah rapih dengan pakaian kasualnya, mendekati Sindy yang sedang menumpuk bekal piknik.
“Ambilkan keranjangnya.” Perintah Sindy datar sungguh menyebalkan karena suaminya itu tidak mengatakan apa pun tentang kejadian semalam, meneruskan dengan pelan, “Dasar menyebalkan.”
Sesampainya di depan gedung Sindy menghentikan langkahnya kemudian berseru, “Aku melupakan tikarnya!”
“Kalau begitu biar aku ambilkan,” sahut Rian.
“Tidak, aku saja,” balas Sindy kembali memasuki gedung flat.
Aldi dengan baju olah raganya menghampiri Rian, dia bilang baru selesai jogging. “Kau mau pergi piknik bersama Sindy ya?” kata Aldi melihat keranjang yang dijinjing Rian.
“Dia telah berbohong padamu, apa kau masih mau pergi juga?” kali ini Rian merespon pertanyaan Aldi. “Kau sudah tahu kalau dia berbohong?” ulangnya menyelidik.
“Iya, sudah … untuk sekarang aku akan tetap pergi dengannya,” balas Rian datar. “Bukankah ada yang kau tutupi juga dariku?” ia sudah lama ingin bertanya namun waktu itu tak cukup tertarik, sementara sekarang gelagat dan tingkah Aldi mengganggunya.
“Selama ini aku tahu bahwa kau mengawasiku, mencoba ikut campur pada keputusanku dan juga masalahku. Apa aku salah tentang itu?”
“Kau tidak salah,” kata Aldi memberi pandangan ramah. “Sampai sekarang pun kau tidak mengingatku. YA! Aladin! Dulu kau memanggilku seperti itu.” Tak ada respon berarti dari Rian, membuat Aldi menghela napas lalu melanjutkan, “Sudahlah tidak apa-apa, lain kali kau pasti bisa mengingatnya.”
“Sayang!” seru Sindy berlari terburu-buru setelah melihat siapa yang sedang berbicara dengan Rian.
“Semoga piknikmu menyenangkan.” Aldi menepuk pundak Rian, melayangkan senyum tipis pada Sindy yang membuatnya terlihat konyol. “Selamat pagi.”
“P, pagi,” jawab Sindy canggung. “Apa yang kalian bicarakan?” tanyanya dengan harap-harap cemas.
“Bukan apa-apa. Ayo kita pergi!” ajak Rian menggandeng tangan Sindy.
“Bukankah kalian saudara sepupu?” tanya Sindy sembari melirik lelaki di sebelahnya yang tampak sedang berpikir keras.
“Siapa yang bilang?”
“Entahlah aku seperti pernah mendengarnya,” kata Sindy berbohong. Sebenarnya ia mengetahui hal itu dari Eko.
__ADS_1
♫♫♫
Hujan turun tanpa peringatan, semua orang yang berada di taman berlarian. Termasuk Rian dan Sindy yang baru akan mengeluarkan bekal mereka. Keranjang dibawa oleh Sindy sedangkan Rian melebarkan tikar kain demi melindungi diri dari air hujan.
Suasana hati Sindy menjadi tidak baik. Ia mengayunkan keranjang lelah, setelah tiga jam lamanya menunggu hujan deras di dalam café tea talent. Selama itu pula tak ada obrolan yang bertahan lama, hanya sepenggal kalimat pendek dan tak ada lagi suara yang keluar dari mulut masing-masing.
Suasana hening ditengah suara rintik hujan. Sindy tidak tahan akan perasaan tak enak itu, apa mungkin tadi Aldi mengatakan sesuatu tentangnya pada Rian. Dia mendesah saat dirasakan seseorang menahan langkahnya.
“Ada genangan air,” kata Rian mengedikkan kepala ke bawah.
“Rencana kita gagal total.” Sindy cemberut.
“Bagaimana kalau kita pergi melihat kunang-kunang saja. Aku tahu tempat di mana mereka sering berkumpul,” usul Rian mencoba membuat mood Sindy membaik.
“Benarkah, aku mau melihatnya.” Mata Sindy bahkan sudah berbinar.
Sebelum pergi mereka memakan kotak bekal di sebuah bangku panjang yang terletak di bahu jalan taman. Siap melanjutkan perjalanan mereka dan menikmati waktu bersama dengan cara lain. Butuh waktu cukup lama untuk sampai ke tempat yang Rian maksud.
Hari berganti malam.
“Benar di sini tempatnya?” ucap Sindy tak yakin sambil mengedarkan pandangan ke sekitar.
“Tunggu dan lihat saja,” kata Rian meyakinkan.
“Kalau mereka tidak muncul, bagaimana?”
Namun tak lama kemudian satu titik cahaya terlihat, makin banyak dan makin terang. Sindy terpukau melihatnya. “Waaah!” kagumnya meletakkan kedua tangan di bagian pagar teratas.
“Sindy,” kata Rian lembut.
“Ya ….” Sindy masih asyik menikmati pemandangan malam yang dipenuhi kunang-kunang.
“Kenapa kau berbohong padaku?” tanya Rian merasa terkhianati.
“Eoh?” Sindy menoleh, mendadak jantungnya berdetak lebih cepat. Apa dia sudah mengetahui, kalau sebenarnya aku putri bungsu dari pemilik Perusahaan Karlite.
__ADS_1
“Aku tahu kau berbohong,” ulang Rian.
Sindy semakin gugup, sementara kunang-kunang terus bermunculan memberi keindahan malam yang mulai terabaikan.
“Aku tahu kau bohong padaku, kau bilang tidak terjadi apa-apa. Buktinya semalam aku ingat telah melakukan kesalahan padamu.”
Haruskah Sindy merasa lega sekarang. Tidak, tidak, lagi pula ia sudah bertekad untuk memberitahukannya malam ini.
“Maafkan aku, lain kali aku tidak akan begitu lagi,” lanjut Rian menatap lekat-lekat Sindy yang tengah mempersiapkan diri untuk mengungkapkan identitasnya.
“Ada yang ingin aku katakan padamu,” kata Sindy gugup. “Sebenarnya aku ….”
Saat itu pandangan Rian beralih ke kumpulan kunang-kunang, seolah tidak ingin mendengar apa yang akan dikatakan Sindy. “Lihatlah mereka semakin banyak!” seru Rian jelas telah mengalihkan pembicaraan, namun sama sekali tidak diketahui oleh Sindy yang ikut melihat ke arah binatang bercahaya itu sembari bersedekap.
Sesekali Sindy mengusap kedua lengan bagian atasnya tanpa mengubah posisi sedekapnya. Uap dingin keluar di setiap hembusan napasnya, memperjelas cuaca malam itu. Rian mundur satu langkah kemudian berdiri di belakang Sindy, ia memeluknya erat dengan meletakkan dagu di bahu kanan.
“Kau kedinginan, jadi aku memelukmu,” kata Rian menghirup aroma tubuh Sindy di sekitar leher gadis manisnya.
Nanti, nanti aku akan mengatakannya. Sindy membatin tak ingin merusak malam indahnya bersama Rian. “Hangatnya.” Seulas senyum terukir di wajah Sindy selagi ia merasakan tubuhnya direngkuh semakin erat.
♫♫♫
Rian dan Sindy sudah menduga akan tertinggal bus terakhir. Sehingga di sinilah mereka berada, di sebuah penginapan sederhana dengan kamar yang kecil. Alas tidur sudah digelar.
“Kau bisa tidur di sini?” tanya Rian meremehkan bersamaan dengan mengedarkan mata ke sekeliling ruangan. “Ukurannya hanya dua kali dua koma lima meter,” decaknya duduk sila di atas alas tipis.
“Aku bisa tidur di mana pun asal bersamamu,” sahut Sindy berbaring lebih dulu. Ia terlalu kenyang setelah makan malam yang diberikan pemilik penginapan tadi. Mungkin sekarang waktu yang tepat untuk memberitahunya. Ucap dalam hati Sindy, melirik hati-hati Rian yang juga berbaring di sebelahnya. “Sayang … begini, tentang aku yangᅳ”
Seperkian detik kemudian Rian menyela dengan gerak cepatnya menarik Sindy ke dalam pelukannya. “Aku mengantuk!”
“Aah, kau sudah ingin tidur?” ujar Sindy dibalas gumaman ‘Hmm’ dari Rian yang memejamkan mata. “Tapi ada yang ingin aku katakan padamu,” ia menambahkan seraya mengusap sayang rambut Rian.
“Besok saja, aku sangat lelah,” tolak Rian tak ingin mendengar perubahan dalam cerita apa pun. Tidak untuk hari ini.
♫♫♫
__ADS_1